Aisyah pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Raka akan bertahan selamanya. Selama lima belas tahun, mereka membangun keluarga sederhana dari nol, melewati susah dan senang hingga dikaruniai dua anak yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.
Sampai suatu hari, suaminya mengaku telah jatuh cinta pada Nabila, sahabat Aisyah sendiri, dan meminta izin untuk menikahinya. Dengan hati yang hancur, pada akhirnya Aisyah mengizinkannya.
Namun, Aisyah tidak ingin menjadi.lemah. Demi anak-anaknya, dia mulai menyusun strategi. Hasil keringatnya bertahun-tahun, ia tak rela dinikmati oleh wanita lain yang sama sekali tak ikut berjuang.
Setelah Aisyah pergi, barulah Raka menyadari tak ada yang lebih baik dari Aisyah. Raka menyesal dan ingin kembali.
Namun, mampukan Aisyah melupakan luka ketika lelaki yang paling ia cintai pernah memilih wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02
Raka mengangguk tanpa ragu. Ia memang masih mencintai Aisyah. Dan akan selalu begitu. Namun, ia juga mencintai Nabila. Dan keinginan untuk menjadikan Nabila sebagai istri kedua sama sekali tidak bisa ia hentikan.
Jawaban Raka justru membuat hati Aisyah semakin sakit. "Kalau masih mencintaiku, kenapa kamu mau menduakan aku?"
Aisyah menunggu ingin mendengar alasan apa yang akan dikatakan oleh Raka. Namun, pria itu malah terdiam. Tidak mampu memberikan jawaban yang membuat pertanyaan itu terasa masuk akal. Pria itu menundukkan kepala dengan mata yang mulai terasa panas.
Begitupun dengan Aisyah. Wanita itu menundukkan kepala tidak ingin Raka melihat matanya yang sudah mulai berkaca-kaca. Setidaknya tidak sekarang.
“Aku butuh waktu,” ucap Aisyah lalu berdiri dengan kakinya yang terasa lemas. Bahkan beberapa detik lamanya wanita itu harus berpegangan pada sandaran sofa agar tidak kehilangan keseimbangan.
Raka refleks berdiri hendak membantunya. Namun, Aisyah menggeleng. Sebelah tangannya memberi isyarat agar Raka tidak mendekat.
Raka menarik kembali tangannya, menatap punggung Aisyah yang telah berjalan menuju kamar dengan hati yang terasa sesak. Ia sangat menyadari bahwa dirinya telah melukai wanita itu begitu dalam.
Sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar, Aisyah menghentikan langkahnya namun sama sekali tidak menoleh. “Malam ini, aku ingin tidur sendiri.”
Raka hanya mengangguk melihat pintu kamar yang kemudian tertutup rapat.
*
Sementara itu, begitu pintu tertutup, runtuh sudah seluruh pertahanan Aisyah. wanita itu berlari menuju ranjang, menangis sejadi-jadinya dengan membenamkan wajahnya pada guling. Tak ingin tangisnya terdengar oleh Raka yang ada di luar ruangan, ataupun anak-anaknya yang tidur di kamar sebelah.
Setelah tangisnya reda, Aisyah perlahan duduk menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. Tangannya bergerak mengambil bingkai kecil yang ada di meja kecil di samping ranjang.
Itu adalah foto pernikahan nya dengan Raka. Dalam foto itu tampak Aisyah mengenakan kebaya sederhana. Dan Raka tersenyum lebar di sampingnya sambil memeluk pinggangnya yang saat itu masih ramping.
Saat itu mereka belum memiliki rumah besar. Belum memiliki banyak uang. Mereka hanya memiliki mimpi… dan cinta.
Aisyah menyentuh wajah Raka dalam foto itu dengan tangan gemetar. Air matanya yang baru beberapa detik lalu kering, kini kembali jatuh. Teringat bagaimana Raka dahulu datang melamarnya dengan cincin dua gram. Teringat bagaimana mereka pernah makan berdua hanya dengan satu piring nasi karena uang yang mereka miliki harus disisihkan untuk modal usaha.
Kemudian mereka membuka warung kecil bersama. Ketika malam tiba, mereka menghitung uang hasil jualan sambil tertawa karena keuntungan hari itu bahkan tidak cukup untuk membeli sesuatu yang mahal. Mereka pernah bahagia dengan sangat sederhana.
Kemudian anak-anak hadir. Rumah mereka dipenuhi tangisan bayi, tawa, suara langkah kaki kecil, dan segala kekacauan yang justru membuat hidup terasa sempurna. Aisyah pernah berpikir semua itu akan bertahan selamanya. Ternyata ia salah.
Wanita itu kembali mengusap air mata.
"Nabila..."
Nama itu kembali memenuhi kepalanya. Sahabatnya sendiri. Sahabat yang tidak pernah disangka akan menjadi alasan suaminya meminta izin untuk menikah lagi.
Aisyah memejamkan mata merasakan dadanya kembali sesak. Malam semakin larut. Namun, ia masih juga belum bisa tidur. Sesekali telinganya mendengar suara langkah Raka. Namun, kemudian sunyi.
Mungkin lelaki itu kembali duduk sendirian di ruang tengah. Mungkin ia juga sedang memikirkan keputusannya. Aisyah tidak tahu. Yang ia tahu, malam itu kehidupannya yang selama ini bahagia akan berubah.
Hingga muncul satu tanya dalam benak Aisyah. Jika lelaki yang selama ini menjadi rumahnya ingin membangun rumah bersama perempuan lain, lalu dirinya harus bagaimana?
*
*
*
Malam telah berganti pagi, tetapi bagi Aisyah, rasanya tidak ada yang benar-benar berubah. Wanita itu masih terjaga ketika suara azan subuh terdengar dari masjid di ujung jalan. Semalam dirinya tidak tidur. Mata Aisyah terlihat sembab akibat terlalu banyak menangis.
Aisyah menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Pertanyaan itu kembali muncul di dalam kepalanya. Bagaimana mungkin sahabat yang selama ini ia anggap sebagai saudara ternyata akan menjadi madunya?
Aisyah memejamkan mata. Ingatan tentang beberapa tahun lalu perlahan muncul. Saat itu Nabila yang selama ini tak pernah bertemu baru saja pindah ke rumah yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Aisyah. Nabila mengatakan dirinya baru saja bercerai dari suaminya, karena tidak tahan dengan suaminya yang suka main tangan.
Aisyah merasa kasihan mendengar kisah Nabila. Karena itu ia sering datang ke rumah Nabila. Membawa makanan. Mengajaknya berbincang. Menghibur ketika Nabila merasa kesepian. Tidak pernah sedikit pun terlintas di pikiran Aisyah bahwa kedekatan mereka kelak akan menjadi awal dari kehancuran rumah tangganya sendiri.
Saat itu, Nabila datang ke rumah untuk mengembalikan wadah makanan yang sebelumnya diberikan Aisyah.
Raka baru pulang dari pasar membeli keperluan warung.
Aisyah masih mengingat bagaimana suaminya berdiri di dekat pintu dan menatap ke arah Nabila dengan kening berkerut. Aisyah menarik tangan Raka dan memperkenalkan mereka berdua.
“Dia temanku yang baru pindah ke daerah ini, Mas.”
Raka mengangguk lalu mereka berjabat tangan sebentar sambil menyebut nama masing-masing.
Hanya itu. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Tidak ada tatapan yang membuat Aisyah merasa harus waspada. Bahkan Aisyah tidak pernah berpikir bahwa pertemuan sederhana tersebut akan mengubah kehidupan mereka.
Setelah hari itu Nabila kemudian menjadi semakin dekat dengan Aisyah. Wanita itu sering datang membantu di warung. Sesekali bermain bersama anak-anak. Bahkan beberapa kali Aisyah meminta Nabila menemaninya berbelanja ketika Raka sedang sibuk.
Nabila selalu bersikap baik. Setidaknya, begitulah yang Aisyah yakini. Karena itulah pengakuan Raka semalam terasa begitu menyakitkan. Bukan hanya karena suaminya ingin menikah lagi. Tetapi karena perempuan yang dipilih suaminya adalah seseorang yang selama ini sangat ia percayai.
Aisyah bangkit dari tempat tidur kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu. Namun, air tidak mampu menghapus bayangan Nabila dari pikirannya.
Senyum perempuan itu, percakapan mereka, Nabila yang selalu membantu tanpa pernah mengeluh. Semuanya kini terasa berbeda. Apakah selama ini Nabila benar-benar datang sebagai sahabat? Atau diam-diam ia datang untuk mendekati suaminya?
*
Lima belas menit telah berlalu sejak Aisyah menengadahkan tangan usai sujudnya. Wanita itu mengusap wajahnya dengan dua telapak tangan usai bermunajat. Memohon diberi ketenangan hati.
Setelah itu, Aisyah keluar dari kamar. Apa pun yang sedang menimpa hatinya, ia masih seorang istri yang harus tetap menjalankan kewajibannya. Terlebih ada dua anak yang harus ia perhatikan juga.
Aisyah mengerutkan kening melihat Raka masih berada di ruang tengah. Apakah lelaki itu juga tidak tidur semalaman? Pria itu duduk di sofa dengan kepala bersandar, matanya tampak lelah.
Ketika melihat Aisyah keluar dari kamar, Raka langsung menegakkan tubuh.
"Kamu sudah bangun?"
Aisyah tidak menjawab pertanyaan itu. Wanita itu malah mengingatkan suaminya untuk segera mandi dan menunaikan kewajiban sebagai umat muslim.
“Kamu sholat sendirian?” tanya Raka. Entah kenapa dadanya tiba-tiba terasa sesak. Selama ini dirinya selalu menjadi imam. Tapi kini Aisyah memilih berdiri sendiri. Sekarang… siapa yang akan mengaminkan doanya?
demi kedua ank mu ,,
kalo msh ngandelin raka ,, tkut nenek kebayan d sebrang sana jd tantrum🤭🤭😒😒😒😒
Nabila belum tahu aja semua surat-surat berharga harta Raka selama perkawinan dengan Aisyah sudah di amankan Aisyah...