Livia Prameswari, gadis lembut berusia delapan belas tahun, tanpa sengaja menyaksikan pembuangan mayat. Orang yang memergokinya adalah Keenan Adiprana—pewaris keluarga konglomerat nomor satu di Asia Tenggara sekaligus komandan tertinggi pasukan khusus yang ditakuti semua orang.
Keenan berusia dua puluh tiga tahun, tampan, berkuasa, arogan, dan berbahaya. Malam itu, pistolnya mengarah tepat ke kepala Livia. Seharusnya ia membunuh satu-satunya saksi tersebut, tetapi pelarian Livia justru membangkitkan obsesi yang tak pernah bisa ia kendalikan.
Livia takut, melawan, berbohong, mengkhianati, dan berkali-kali mencoba kabur. Namun semakin jauh ia melarikan diri, semakin kuat Keenan menariknya kembali ke dalam dekapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Seperti Aroma Nona Livia
Udara membeku sesaat.
Nathan mendengus dingin.
"Saya tidak bisa memenuhi permintaan itu. Kalau Tuan Keenan tetap bersikeras, anggap seluruh minuman di pelabuhan sebagai hadiah perkenalan dari saya. Silakan dinikmati. Saya pamit."
Seusai berbicara, Nathan langsung berbalik dan pergi tanpa menoleh.
"Kau keterlaluan!"
Begitu langkah Nathan menjauh, Livia langsung mendorong Keenan dan berteriak marah.
Keenan tidak menanggapinya. Ia menoleh ke luar penyekat.
"Tegar, ambil kotak obat."
"Baik."
Saat luka dibersihkan dan dibalut kembali, Livia masih menggembungkan pipi dengan kesal.
Keenan tersenyum tipis.
"Tenang saja. Ommu tidak mungkin menukarmu dengan kiriman minuman itu."
"Tentu saja tidak! Hanya kau yang bisa berpikir begitu..."
Livia berhenti mendadak. Ia baru menyadari sesuatu dan memelototi Keenan.
"Tunggu. Kau sudah tahu jawabannya, lalu kenapa masih sengaja meminta?"
"Bagaimana kalau dia ternyata rela?"
Keenan tersenyum tanpa berniat menjelaskan. Ia justru kembali menggodanya.
"Kalau dia rela, aku mendapatkan orang yang kuinginkan. Kalau tidak, aku memperoleh satu kiriman minuman secara gratis. Apa pun hasilnya, aku tidak rugi."
"Keenan Adiprana, kau tidak tahu malu!"
Sebuah bayangan melintas di pintu.
Reza baru saja masuk ketika mendengar Livia memarahi seseorang dengan menyebut nama lengkap. Lebih mengejutkan lagi, orang yang dimarahi adalah bosnya.
Jika dilakukan orang lain, lidah pelakunya mungkin sudah dipotong. Perempuan pun tidak akan mendapat pengecualian.
Alis Reza berkedut. Ia baru selesai menangani pertikaian berdarah dan sebenarnya tidak ingin melihat lebih banyak kekerasan.
Namun rasa ingin tahu mengalahkannya. Ia maju dan menjulurkan kepala ke balik penyekat.
Keenan sama sekali tidak marah.
Pria itu justru tersenyum sambil memegang tangan kiri Livia seperti menjaga benda berharga, kemudian membalut lukanya dengan hati-hati.
Benar-benar seperti melihat hantu.
Reza mengerutkan kening dan mundur beberapa langkah sampai kembali ke luar pintu. Ia mendongak dan memeriksa posisi ruangan.
Tidak salah tempat.
Tegar melihatnya masuk lalu keluar lagi dan bertanya melalui gerakan bibir.
Kau sakit?
Reza mengangkat bahu.
Aku tidak sakit. Bos yang sakit.
Tegar tampak bingung.
Sakit apa?
Reza perlahan membentuk hati dengan kedua tangan.
Bucin.
Tegar terdiam.
"Urusannya selesai?"
Suara Keenan terdengar dari dalam.
Reza langsung menghapus ekspresi geli dan maju. Ia berdiri di hadapan Keenan, lalu melapor dengan suara rendah.
"Sudah selesai, Tuan. Operasi dilakukan diam-diam dan tidak ada identitas kita yang terbuka. Jordan hanya akan mencurigai Nathan. Dia tidak akan menemukan hubungan dengan kita."
"Hm."
Keenan mengangguk.
Setelah selesai membalut tangan Livia, ia mengambil sarung tangan beludru hitam dari sandaran dan mengayunkannya di depan gadis itu.
"Pesta utama akan segera dimulai. Kau ingin mencari ommu atau ikut denganku?"
Livia langsung merebut sarung tangan.
"Siapa yang mau ikut denganmu? Minggir!"
Keenan bersandar dan memberi ruang.
Livia meloloskan diri dari pelukannya secepat mungkin. Ia mengenakan sarung tangan dan sepatu dalam satu rangkaian gerakan, jelas tidak ingin tinggal sedetik lebih lama.
Keenan mengusap kepalanya.
"Kalau mengikutiku, kau tidak perlu berjalan sendiri."
"Tetap tidak mau!"
Livia menepis tangan yang mengganggunya.
Sebuah gagasan mendadak muncul. Ia diam-diam mengamati wajah Keenan, lalu bertanya ragu.
"Tuan Keenan... kau tidak ingin Bang Jordan mengetahui bahwa masalah di simpang jalan baru adalah perbuatanmu, kan?"
"Tentu. Kenapa?"
Kelicikan melintas di mata Livia. Ia menggigit bibir dan mengumpulkan keberanian untuk mengancam.
"Kalau begitu, lepaskan kiriman milik Om Nathan. Jika tidak, aku akan... aku akan..."
"Kau akan apa?"
Keenan memotong dengan dingin.
Wajah pria itu sangat menakutkan ketika tidak tersenyum. Keberanian yang baru terkumpul langsung hampir habis.
Namun Nathan baru saja dipersulit, kemudian dijadikan tersangka atas perbuatan Keenan. Semua itu berkaitan erat dengan dirinya.
Ommya tidak bersalah. Hanya ini yang bisa Livia lakukan untuk membantunya.
Ia mengepalkan tangan.
"Aku akan memberitahu Bang Jordan! Jadi pikirkan sendiri!"
"Heh."
Kelinci tetaplah kelinci. Bahkan ketika marah, ia masih terlihat polos dan tidak berbahaya.
Keenan menyipitkan mata.
"Aku paling membenci orang yang mengancamku."
Reza diam-diam mundur sampai ke belakang penyekat dan berdiri berdampingan dengan Tegar. Ia takut keberanian Livia akan menyeret mereka berdua.
Kedua pria itu memasang telinga.
Keenan melanjutkan, "Namun Nona Livia berbeda. Ancamanmu cukup menyenangkan. Sebenarnya, kalau kau menginginkan kiriman itu, tidak perlu bersusah payah. Katakan saja, dan aku akan memberikannya."
"Cukup aku meminta... lalu kau memberikannya?"
Livia berkedip beberapa kali, tidak memahami perubahan sikap tersebut.
"Ya."
Setelah memastikan Keenan tidak sedang bercanda, hati Livia langsung dipenuhi kegembiraan.
"Tuan Keenan, aku menginginkan kiriman itu!"
"Baik."
Keenan mengangguk.
"Kita tentukan waktu. Nanti kau datang mengambilnya sendiri."
Mengambil sendiri?
Bagaimanapun didengar, itu terdengar seperti jebakan dengan tujuan tersembunyi.
Livia menghela napas panjang. Namun kendali berada di tangan Keenan. Walaupun memahami risikonya, ia tidak memiliki pilihan lain.
"Kalau begitu, tiga hari lagi. Aku akan datang tepat waktu. Semoga Tuan Keenan menepati janji. Dan... jangan beri tahu Om Nathan."
"Tidak masalah."
Keenan menyetujuinya tanpa ragu. Telunjuknya mengetuk jam tangan, mengingatkan bahwa waktu sudah semakin siang.
Livia tentu mengerti. Ia berbalik dengan kesal, mengangkat ujung gaun, lalu berjalan pergi dengan langkah berdetak cepat.
Setelah memastikan Livia turun ke lantai bawah, Tegar dan Reza saling pandang. Keduanya melewati penyekat dan berdiri di hadapan Keenan.
Reza berbicara lebih dahulu.
"Tuan, penciuman saya sangat tajam. Aroma kiriman Nathan sama sekali tidak benar. Pasti ada masalah. Barang itu tidak boleh dilepaskan."
Tegar memang berpikiran sederhana, tetapi ia tahu bosnya cerdas. Karena Keenan bersedia memberikan barang tersebut, menurutnya berarti situasinya aman.
Ia langsung membalas Reza.
"Hidungmu memang seperti anjing, tetapi kau bukan ahli minuman. Bisa jadi itu jenis baru yang belum pernah dicicipi orang kampung sepertimu."
"Siapa yang kau sebut orang kampung?"
Reza mengangkat tinju, tetapi satu tatapan Keenan langsung menghentikannya.
Ia menelan amarah dan mencoba membujuk dengan sungguh-sungguh.
"Tuan, saya tahu Anda menyukai Nona Livia dan Nathan adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki. Membuat perempuan yang disukai merasa senang bukan kesalahan. Tapi Anda juga tidak bisa kehilangan semua batas hanya karena itu."
Kalimat terakhir diucapkan dengan keberanian mempertaruhkan nyawa.
Tegar ikut cemas. Bercanda boleh saja, tetapi ketika temannya benar-benar mencari mati, ia tetap harus menariknya kembali.
Sebelum Keenan marah, Tegar menyela.
"Kau terus mengatakan minumannya bermasalah, tetapi tidak bisa menjelaskan apa masalahnya. Barang itu sudah ditahan tiga hari. Saat Tuan menguji Nathan tadi, dia juga tidak terlihat sangat peduli. Semuanya tampak seperti kiriman biasa. Kau terlalu banyak berpikir."
"Tidak."
Reza memandang ke sekeliling sambil mengusap dagu.
"Sebelumnya aku memang belum bisa mengenali masalahnya. Mungkin karena... aku belum pernah dekat dengan perempuan."
Tegar memandangnya seolah sedang melihat orang gila.
"Otakmu baik-baik saja?"
Reza mengabaikannya. Ia berjalan ke meja kayu di samping dan menutup wadah dupa cendana yang sedang menyala.
Setelah aroma dupa menghilang, ia memejamkan mata dan menghirup sisa wangi tipis di ruangan.
Keyakinannya semakin kuat.
"Kiriman Nathan terdiri atas berbagai jenis minuman dengan banyak rasa. Ada aroma gandum, buah, bunga, dan yang lain. Namun di antaranya juga ada... aroma perempuan. Lebih tepatnya, aroma alami seorang gadis muda."
Reza membuka mata dan memandang Keenan dengan hati-hati.
"Aromanya seperti milik Nona Livia."