"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."
"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."
Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.
Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.
Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.
Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.
Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.
Namun Diandra sudah terlanjur terluka.
Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum yang Menyembunyikan Luka
“Morning.”
Diandra tersentak begitu membuka mata. Baru saja terbangun, ia sudah disambut suara yang tak biasa didengarnya dari sang suami.
Matanya langsung tertuju pada Bastian yang sedang berbaring miring sambil menyangga kepala dengan satu tangan. Pria itu bahkan tengah menatapnya dengan senyum tipis.
Diandra mengernyit.
Sejak kapan suaminya yang terkenal dingin itu bisa tersenyum seperti itu?
“Kamu ngapain, Mas?”
“Menyapa istriku.”
“Menyapa?”
Bastian mengangguk santai. Tangannya kemudian terulur, jemarinya menyentuh pipi Diandra dengan lembut.
Diandra refleks menjauh.
“Kenapa menjauh?” tanya Bastian, alisnya sedikit terangkat.
“Mas yang kenapa? Kenapa tiba-tiba berubah begini?”
“Berubah bagaimana?”
“Ya... biasanya Mas bahkan nggak peduli aku bangun atau belum. Sekarang malah menyapaku, tersenyum, terus mengusap pipiku.” Diandra menyipitkan mata. “Mas nggak kesurupan setan bucin, kan?”
Bastian terkekeh pelan.
“Kalau iya?”
Diandra semakin curiga. Ia mengangkat tangan dan menempelkan telapak tangannya ke dahi Bastian.
“Nggak demam.”
“Memangnya kenapa kalau aku bersikap manis kepada istriku?”
“Justru itu yang aneh.”
Diandra hendak menarik tangannya, tetapi Bastian lebih dulu menangkap pergelangan tangannya.
“Diandra.”
Nada suaranya berubah lebih rendah.
“Apa?”
Bastian mendekat. Jarak di antara mereka semakin tipis hingga Diandra bisa merasakan hembusan napasnya.
“Mas mau apa?”
Alih-alih menjawab, Bastian tiba-tiba mengecup bibir Diandra.
Singkat, tetapi cukup membuat Diandra membeku karena terkejut.
Begitu Bastian melepaskannya, Diandra langsung mendorong bahunya.
“Mas!”
Bastian menatapnya dengan ekspresi tenang, seolah tidak melakukan sesuatu yang membuat jantung istrinya berdegup kacau.
“Kenapa?”
“Mas tiba-tiba nyium aku!”
“Bukannya aku suamimu?”
“Suami bukan berarti boleh seenaknya!”
Bastian terdiam sesaat. Senyum tipis kembali muncul di sudut bibirnya.
“Baik. Lain kali aku kasih tahu dulu.”
“Lain kali?”
Diandra melotot.
Bastian hanya tertawa kecil, sementara Diandra buru-buru menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya, berusaha menyembunyikan pipinya yang mulai memanas.
Bastian berdecak pelan melihat tingkah istrinya.
“Apa-apaan sih kamu? Aku nggak kesurupan.”
“Sebentar, Mas. Aku sedang berusaha mengeluarkan setan dari tubuh kamu.”
Diandra masih saja menempelkan telapak tangannya di dahi Bastian dengan wajah serius.
“Keluar kau, setan bucin. Jangan merasuki tubuh suamiku!”
“Hadeuh, Diandra...” Bastian akhirnya menangkap tangan istrinya dan menurunkannya. “Aku nggak kesurupan. Memang tingkahku sedikit berbeda dari biasanya, tapi bukan berarti aku kerasukan.”
Diandra mengerjapkan mata beberapa kali.
“Kalau begitu, kenapa kamu tiba-tiba bertingkah seperti ini?”
Bastian menghela napas panjang.
“Semalam aku banyak berpikir.”
“Loh, Mas punya otak ternyata masih bisa dipakai berpikir.”
“Ck. Aku serius.”
Diandra terkekeh kecil sebelum akhirnya mengangguk.
“Ya sudah. Kamu mikirin apa?”
“Aku sadar selama ini aku terlalu cuek, terlalu dingin, dan sering mengabaikan kamu.”
Diandra langsung menyahut tanpa ragu.
“Ke mana saja selama ini? Kok baru sadar sekarang?”
Bastian menatapnya.
“Aku sibuk kerja.”
“Dan sibuk mikirin mantan.”
Nada suara Diandra terdengar ringan, tetapi sorot matanya tidak bisa menyembunyikan luka lama.
Bastian terdiam.
Ucapan itu memang ada benarnya.
Selama ini, Bastian selalu punya waktu untuk Serly. Bahkan ketika perempuan itu hanya menghubunginya sebentar, Bastian bisa langsung meninggalkan apa pun yang sedang dikerjakannya.
Sementara ketika Diandra membutuhkan dirinya, Bastian seolah selalu punya alasan untuk tidak berada di sisinya.
“Kenapa sih kamu masih cemburu sama Serly?” tanya Bastian akhirnya.
“Karena kamu selalu ada untuk dia.”
“Serly itu masa laluku.”
“Justru itu masalahnya.” Diandra tersenyum getir. “Masa lalu kamu selalu kamu prioritaskan, sedangkan aku yang jadi istrimu malah sering kamu abaikan.”
Bastian terdiam.
“Lagipula kamu tahu, aku dekat dengan Serly karena dia sedang berjuang melawan kanker.”
“Aku tahu.”
“Jadi jangan berpikir macam-macam.”
Diandra menatap suaminya cukup lama.
“Aku nggak pernah melarang kamu peduli sama dia, Mas.”
“Lalu?”
“Aku cuma ingin sekali saja merasa bahwa aku juga penting buat kamu.”
Ucapan itu membuat Bastian kehilangan kata-kata.
Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa selama ini bukan Diandra yang terlalu banyak menuntut.
Dialah yang terlalu sedikit memberikan perhatian pada istrinya sendiri.
“Umurnya juga mungkin nggak akan panjang,” ujar Bastian dengan suara berat. “Serly sengaja membuatku percaya dia selingkuh karena dia sedang sakit. Dia ingin aku bisa melanjutkan hidup dan bahagia bersama perempuan lain.”
Bastian terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
“Aku cuma ingin menemaninya di masa-masa terakhirnya.”
Diandra mengembuskan napas, lalu menatap suaminya dengan tatapan tak percaya.
“Terakhir apanya?”
Bastian mengernyit.
“Diandra.”
“Sudah dua tahun, Mas.” Diandra menggeleng pelan. “Kalau memang separah yang kamu bilang, kenapa sampai sekarang dia masih baik-baik saja?”
“Jaga bicaramu.”
“Aku justru sedang berusaha menyadarkan kamu.”
Bastian menatapnya tajam.
Diandra tidak mundur.
“Mas nggak pernah kepikiran kalau mungkin selama ini kamu yang sedang dibohongi?”
“Maksudmu?”
“Serly memang bisa saja sakit. Tapi bagaimana kalau perselingkuhan itu benar-benar terjadi, lalu cerita soal penyakitnya cuma cara supaya kamu merasa kasihan?”
“Jangan asal menuduh.”
“Aku nggak menuduh. Aku cuma mempertanyakan semuanya.”
Diandra menahan napas.
“Coba Mas pikir lagi. Selama ini siapa yang selalu mendapatkan perhatianmu? Siapa yang bisa membuatmu meninggalkan aku hanya dengan satu panggilan?”
Bastian terdiam.
“Menurutku, Serly masih berharap kamu kembali kepadanya.”
“Dia sudah jadi masa laluku.”
“Kalau begitu, kenapa sampai sekarang kamu masih terus berada di sisinya?”
Pertanyaan itu membuat Bastian tak mampu langsung menjawab.
Diandra menundukkan pandangan.
“Aku nggak takut kehilangan kamu karena Serly, Mas. Aku cuma lelah menjadi istri yang selalu berada di urutan terakhir.”
Bastian memandang wajah istrinya lama.
Untuk pertama kalinya, kata-kata Diandra membuat keraguan kecil muncul di dalam pikirannya.
Bagaimana jika selama ini memang ada sesuatu yang tidak pernah ia lihat?
“Bicaramu mulai nggak masuk akal, Diandra. Serly benar-benar sakit. Ada hasil pemeriksaan dan surat resmi dari dokter.”
“Surat bisa saja dipalsukan, Mas.”
“Tidak semuanya bisa direkayasa. Apalagi soal penyakit dan nyawa seseorang.”
Bastian menatap istrinya tajam.
“Serly nggak mungkin berbohong kalau dia sedang menghadapi kematian.”
“Kamu nggak tahu seperti apa sebenarnya jalan pikiran Serly.”
“Memangnya kamu tahu apa tentang dia?”
Nada suara Bastian meninggi.
“Kamu baru mengenal Serly sekitar enam bulan. Aku mengenalnya sejak kami kecil. Aku tahu sifatnya, cara berpikirnya, bahkan kebiasaannya. Aku yakin dia nggak mungkin melakukan semua itu hanya untuk menipuku.”
Diandra terdiam.
Api kemarahan di matanya perlahan meredup. Bukan karena ia kalah berargumen, melainkan karena ia sudah terlalu lelah untuk terus menjelaskan sesuatu kepada orang yang memang tidak ingin mendengarnya.
Memang benar, Diandra baru mengenal Serly selama enam bulan.
Namun, bukan berarti ia tidak bisa melihat sesuatu yang janggal.
Ia sudah menunjukkan beberapa kejanggalan kepada Bastian. Sayangnya, pria itu selalu memiliki alasan untuk membela Serly.
Sampai akhirnya Diandra menyadari satu hal.
Mungkin Bastian bukan tidak percaya kepadanya.
Bastian hanya tidak ingin percaya.
Perasaan pria itu kepada Serly mungkin belum benar-benar berakhir. Dan sekarang, alasan penyakit tersebut memberinya kesempatan untuk kembali berada di sisi mantan istrinya tanpa merasa bersalah.
“Diandra, aku—”
“Terserah, Mas.”
Diandra menghela napas.
“Aku sudah nggak peduli lagi. Toh kita memang akan bercerai. Kamu mau mengurus Serly, peduli pada perempuan lain, atau melakukan apa pun setelah kita berpisah, itu bukan urusanku lagi.”
Diandra berusaha bangkit dari ranjang.
Namun, Bastian spontan meraih tangannya dan menariknya kembali. Tubuh Diandra kehilangan keseimbangan hingga kembali terduduk di atas kasur.
“Mas!”
Bastian kemudian menahannya agar tidak langsung pergi.
“Aku nggak mau cerai.”
Diandra menatapnya tak percaya.
“Keputusanku sudah bulat.”
“Masih ada yang bisa dipertahankan.”
“Apa?”
“Kita.”
Diandra tertawa kecil, tetapi terdengar getir.
“Setelah semua yang terjadi, kamu masih bilang ada yang bisa dipertahankan?”
“Ada Azzam dan Azzura.”
Ekspresi Diandra langsung berubah.
“Jangan jadikan anak-anak sebagai alasan untuk mempertahankan pernikahan yang sudah nggak sehat.”
“Aku nggak menjadikan mereka alasan.”
Bastian menatapnya serius.
“Aku cuma tahu mereka sangat menyayangimu.”
Diandra terdiam.
“Kamu juga sayang sama mereka, kan?”
Pertanyaan itu membuat hati Diandra kembali terasa berat.
Tentu saja dia menyayangi kedua anak itu.
Justru karena itulah keputusan untuk pergi terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang Bastian bayangkan.
“Enggak.”
“Bohong.”
“Aku nggak menyayangi Azzam. Aku juga nggak menyayangi Azzura. Dan aku...” Diandra menelan ludah. “Aku juga nggak menyayangi kamu.”
Bastian tersenyum tipis.
“Dua kebohongan sekaligus.”
“Apa maksudmu?”
“Aku tahu kamu sayang sama mereka.”
Diandra mendengus.
“Jangan terlalu percaya diri, Mas.”
“Bukan percaya diri.”
Bastian perlahan mengendurkan pelukannya, lalu menatap wajah Diandra dari jarak dekat.
“Aku cuma sudah cukup lama mengenalmu untuk tahu kapan kamu sedang berbohong.”
Diandra yang tadinya hendak menjauh mendadak terdiam.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.
Diandra berusaha mengalihkan pandangan, tetapi tatapan Bastian yang begitu dalam membuatnya justru terpaku.
“Kenapa diam?” bisik Bastian.
“Aku... nggak diam.”
“Kalau begitu, lihat aku dan ulangi.”
Diandra mengerutkan kening.
“Apa?”
“Katakan sekali lagi kalau kamu nggak menyayangiku.”
Bibir Diandra terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Bastian tersenyum samar.
“Lihat? Kamu bahkan nggak sanggup mengatakannya lagi.”
Diandra segera memalingkan wajah.
“Jangan sok tahu.”
“Lalu, aku salah?”
Diandra kembali menatapnya.
Bastian menatapnya lekat-lekat.
“Kalau aku salah, kenapa kamu masih menangis setiap kali membicarakan perceraian kita?”
“Jangan macam-macam, Mas. Jangan berani mencium aku.”
Bastian justru mendekat dan mengecup bibir Diandra sekilas.
Diandra membelalak.
“Mas, kamu—”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Bastian kembali mengecup bibirnya.
Diandra hanya bisa menatap suaminya dengan mulut sedikit terbuka. Ia bahkan tidak tahu seperti apa wajahnya sekarang.
Baru bangun tidur, rambut berantakan, wajah masih kusut, mata membulat karena terkejut.
Memalukan.
Namun, Bastian sama sekali tidak terlihat terganggu.
Pria itu malah masih menatap bibirnya seolah ingin menggodanya lagi.
“Mau lagi?” tanya Bastian santai.
“Nggak!”
“Berarti tadi bukan nolak?”
“Ya tetap nggak mau!”
Bastian terkekeh.
Namun, beberapa detik kemudian tawanya menghilang. Raut wajahnya berubah serius.
Diandra pun ikut terdiam.
Sejak tadi tubuhnya masih berada dalam rangkulan Bastian. Anehnya, kali ini dia tidak lagi berusaha melepaskan diri.
Mungkin karena sudah terlalu lama ia tidak merasakan kedekatan seperti ini.
Hampir dua tahun mereka menjadi suami istri, tetapi rasanya mereka seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Dan sekarang, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Diandra merasakan hangatnya pelukan suaminya.
Jantungnya berdetak begitu cepat.
Ia membenci kenyataan itu.
Karena semakin lama berada dalam pelukan Bastian, semakin jelas bahwa perasaannya belum benar-benar hilang.
Diandra memang ingin bercerai.
Dia sudah terlalu lelah dengan sikap Bastian, dengan Serly, dengan rasa sakit yang selama ini dipendam sendirian.
Namun, kalau ditanya apakah hatinya benar-benar rela meninggalkan pria itu?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Kalau Diandra memang sudah tidak mencintai Bastian, mungkin melihat suaminya begitu perhatian kepada Serly tidak akan sesakit ini.
Dia tidak akan merasa cemburu.
Tidak akan menangis diam-diam.
Dan mungkin tidak akan pernah berpikir untuk meminta perceraian.
Selama ini Bastian memang tidak pernah menyakitinya secara fisik. Dia memberikan kebutuhan hidup yang cukup, tidak pernah membatasi keinginannya, dan selalu memastikan Diandra mendapatkan apa yang dia perlukan.
Hanya satu hal yang tidak pernah diberikan Bastian.
Perasaannya.
Dan bagi Diandra, uang sebanyak apa pun tidak mampu menggantikan perhatian dan kasih sayang dari seorang suami.
Itulah sebabnya dia memilih pergi.
Bukan karena dia sudah berhenti mencintai Bastian.
Melainkan karena dia sudah terlalu lelah mencintai seseorang yang tidak pernah membuatnya merasa dicintai.
“Sekali saja, Diandra. Beri aku satu kesempatan.”
“Sudahlah, Mas. Aku sudah terlalu lelah.”
“Sekali ini saja. Tolong.”
Diandra terdiam beberapa saat. Ada bagian dalam dirinya yang masih ingin percaya, tetapi luka yang selama ini dipendam jauh lebih kuat.
“Tidak, Mas. Keputusanku sudah bulat. Aku benar-benar sudah nggak sanggup lagi.”
Diandra mencoba menyingkirkan tangan Bastian yang melingkar di pinggangnya. Namun, pria itu masih enggan melepaskannya.
“Mas, aku mau ke kamar mandi.”
“Sebentar.”
“Sebentar apanya? Aku sudah kebelet. Kalau terus ditahan, bisa-bisa aku pipis di kasur!”
Bastian langsung melepaskan pelukannya.
“Ck. Dari tadi ditahan-tahan.”
Diandra mendengus kesal sebelum bergegas masuk ke kamar mandi.
Seperti biasa, setelah selesai bersiap, Diandra menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
Bagaimanapun juga, saat ini dia masih istri Bastian.
Selama status itu belum berakhir, Diandra tetap akan menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang istri sekaligus ibu.
Namun, langkahnya mendadak terhenti begitu melihat seseorang sudah berdiri di depan kompor.
Serly.
Perempuan itu sedang memasak dengan santainya, seolah-olah dapur tersebut memang miliknya.
Darah Diandra langsung berdesir naik.
“Nggak punya rumah sendiri?” sindir Diandra dingin. “Pagi-pagi sudah ada di rumah orang.”
Serly menoleh dan tersenyum tipis.
“Ini rumahku.”
Diandra mengangkat alis.
Serly meletakkan spatula, lalu berbalik menghadapnya.
“Jangan lupa, Diandra. Sebelum kamu tinggal di sini, aku sudah lebih dulu menjadi bagian dari rumah ini selama bertahun-tahun.”
Tatapannya berubah penuh percaya diri.
“Dan sekarang aku kembali.”
Diandra mengepalkan tangan.
“Jadi?”
“Jadi sudah waktunya kamu pergi.”
Serly melangkah mendekat.
“Kamu juga harus ingat satu hal. Aku yang menemani Bastian sejak dia belum punya apa-apa. Aku tahu bagaimana perjuangannya dari bawah sampai akhirnya berhasil seperti sekarang.”
Senyum Serly semakin lebar.
“Aku ada di sisinya ketika dia belum menjadi siapa-siapa.”
Diandra menatapnya tanpa berkedip.
“Jadi menurutmu, karena kamu pernah menemani dia berjuang, kamu berhak mengambil kembali semuanya?”
Serly terdiam.
Diandra tersenyum tipis.
“Sayangnya, hidup bukan tentang siapa yang datang lebih dulu.”
Tatapannya mengeras.
“Dan aku juga bukan perempuan yang bisa kamu usir begitu saja dari rumah ini.”
“Kamu nggak sebanding denganku, Diandra. Kamu nggak akan pernah bisa bersaing denganku. Jadi, menurutku lebih baik kamu mengakhiri pernikahanmu dengan Bastian.”
Diandra justru mengangguk tenang.
“Oke.”
Serly mengernyit.
“Oke?”
“Iya. Oke.”
“Cuma begitu?”
Diandra mengambil sebuah apel dari meja, lalu menggigitnya dengan santai.
“Kenapa? Kamu kecewa aku nggak marah?”
Serly menatapnya penuh curiga.
“Biasanya kalau aku bicara seperti ini, kamu pasti langsung emosi. Sekarang malah santai.”
“Karena aku sudah capek.”
Diandra mengangkat bahu.
“Terserah kamu mau tinggal di rumah ini, mau masak, mau duduk seharian, atau mau melakukan apa pun. Aku nggak peduli.”
Serly terdiam.
Perubahan sikap Diandra memang membuatnya tidak nyaman.
Biasanya, setiap kali Serly datang, Diandra selalu mencari cara untuk menunjukkan ketidaksukaannya. Pernah menyindirnya terang-terangan, pernah membuat suasana makan menjadi kacau, bahkan beberapa kali mereka nyaris terlibat pertengkaran besar.
Namun, kali ini berbeda.
Diandra bahkan tidak terlihat terganggu.
Seolah keberadaan Serly sudah tidak lagi berarti baginya.
“Jangan menatapku seperti itu,” ujar Diandra santai sambil menggigit apel lagi. “Nanti wajahmu keriput.”
Serly menyipitkan mata.
“Apa yang sebenarnya kamu rencanakan?”
Diandra berhenti mengunyah.
“Rencana?”
“Kamu pasti sedang merencanakan sesuatu. Aku tahu kamu.”
Diandra tertawa kecil.
“Kalau aku memang punya rencana, memangnya aku akan memberitahumu?”
Serly semakin curiga.
Diandra hanya tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya, Serly tidak bisa membaca apa yang ada di kepala perempuan itu.
Dan justru itulah yang membuatnya merasa tidak tenang.
“Mau tahu apa rencanaku?” Diandra tersenyum miring. “Aku tadi sempat berpikir untuk menyingkirkanmu. Aku muak melihat perempuan yang masuk ke rumah tangga orang lain.”
Serly menegang.
“Tapi sudahlah. Kamu juga sedang sakit, kan? Kalau memang penyakitmu separah itu, mungkin aku nggak perlu melakukan apa-apa.”
“Jaga ucapanmu!” Serly membalas dengan wajah tegang. “Aku nggak akan mati. Pengobatanku masih berjalan dan aku yakin bisa sembuh.”
“Makanya jangan sembarangan bermain-main dengan penyakit.”
Diandra menggigit apel di tangannya.
“Kalau benar-benar kanker, jangan sampai nanti kamu menyesal karena terlalu meremehkannya.”
Serly mengepalkan tangan. Ia maju satu langkah, hampir saja mengangkat tangan untuk membalas ucapan Diandra.
Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Bastian berjalan mendekat.
Seketika ekspresi Serly berubah.
“Kenapa kamu selalu jahat sama aku, Diandra?” Suaranya mendadak bergetar. “Aku nggak pernah bermaksud merebut Bastian. Aku cuma ingin menghabiskan waktu yang tersisa bersama anak-anak.”
“Serly, ada apa?”
Begitu Bastian mendekat, Serly langsung meraih tubuhnya. Air matanya mengalir deras.
“Mas Bastian...” isaknya. “Aku nggak tahu salahku apa sampai Diandra membenciku seperti ini.”
Bastian menatap istrinya dengan sorot mata tajam.
Serly semakin mempererat pelukannya.
“Aku sudah berkali-kali bilang aku nggak ingin menjadi orang ketiga. Aku cuma ingin bertemu Azzam dan Azzura selama masih punya kesempatan.”
Isaknya semakin keras.
“Tapi Diandra malah mengatakan hal-hal kejam. Dia bahkan berharap aku cepat mati.”
Bastian mengalihkan pandangan kepada Diandra.
Berbeda dengan sebelumnya, Diandra sama sekali tidak buru-buru membela diri.
Dia hanya berdiri santai sambil melanjutkan makan apelnya.
Dulu, Diandra pasti akan menjelaskan panjang lebar. Dia akan berusaha meyakinkan Bastian bahwa dirinya tidak bersalah.
Sekarang?
Dia sudah terlalu lelah.
Bastian mau marah, membentaknya, atau mempercayai Serly sekalipun, Diandra tidak ingin menghabiskan energinya untuk peduli.
Diandra melirik Serly yang masih menangis dalam pelukan Bastian.
“Kalau mau menangis, sekalian yang bagus.”
Serly terdiam.
Diandra menggigit apelnya lagi.
“Aktingmu kurang meyakinkan. Coba latihan lagi sebelum tampil di depanku.”
Bastian mengernyit.
“Diandra!”
Diandra hanya mengangkat bahu.
“Apa? Aku cuma memberi kritik.”
Untuk pertama kalinya, Serly menyadari bahwa Diandra yang sekarang jauh lebih sulit dihadapi daripada Diandra yang dulu.
“Diandra, cukup!” bentak Bastian.
Diandra terdiam.
Serly segera mengusap air matanya.
“Diandra selalu seperti itu, Mas. Padahal aku sebenarnya ingin berteman baik dengannya.” Suaranya dibuat lirih. “Aku nggak pernah berniat merebut kamu. Aku sudah menganggap hubungan kita sebagai masa lalu dan sekarang aku cuma ingin menganggapmu seperti kakak sendiri.”
Bastian menatapnya beberapa saat, lalu mengusap rambut Serly dengan lembut.
“Aku percaya sama kamu.”
Serly menundukkan kepala.
“Jangan menangis lagi.”
Diandra mengembuskan napas panjang.
Sudah.
Dia tidak ingin berdebat lagi.
“Terserah kalian.”
Diandra berusaha tersenyum.
“Aku mau ke kamar. Kalian lanjutkan saja.”
Tanpa menunggu jawaban, Diandra berbalik dan melangkah pergi.
Namun, begitu punggungnya membelakangi mereka, senyum di wajahnya perlahan menghilang.
Setetes air mata jatuh.
Lalu disusul tetes berikutnya.
Diandra segera mengusapnya, seolah-olah dengan begitu rasa sakit di dadanya juga bisa hilang.
Ternyata menjadi kuat tidak semudah yang selama ini dia pikirkan.
Dia bisa menahan lelah.
Bisa menahan kesepian.
Bahkan bisa berpura-pura tidak peduli ketika Bastian mengabaikannya.
Tetapi melihat suaminya berdiri membela perempuan lain di hadapannya sendiri?
Hatinya tetap memiliki batas.
Diandra bukan terbuat dari batu.
Seberapa keras pun dia berusaha terlihat baik-baik saja, air mata tetap jatuh ketika hatinya sudah terlalu penuh.
Dan yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa orang yang membuatnya menangis justru adalah pria yang selama ini paling ingin dia cintai.