Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.
Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.
Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**
Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.
Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.
Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.
Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
Omongan yang Menyebar
Tiga hari kemudian, fotoku muncul di grup WhatsApp arisan yang bahkan tidak kuikuti.
Bu Nah menunjukkan layar ponselnya di dapur. Foto itu diambil dari jauh saat Den Nara menyerahkan payung kepadaku di malam hujan. Wajah kami tidak terlalu jelas, tetapi seragam kerjaku dan rumah Adiwijaya mudah dikenali.
Di bawahnya ada pesan:
Anak bungsu Adiwijaya dekat sekali dengan pengasuh baru. Katanya sampai sering makan berdua. Hati-hati, sekarang pembantu pintar cari jalan naik kelas.
Pesan lain menambahkan bahwa Den Nara menolak beberapa undangan keluarga sejak aku datang. Seseorang menyebut mimisan. Seseorang lagi mengirim emoji tertawa dan bertanya apakah aroma pengasuh baru terlalu kuat.
Ada pula foto ketika dia membungkus tanganku di gang, dipotong sampai polisi dan Bayu tidak terlihat. Dalam versi grup WA, gambar itu bukan pertolongan setelah serangan, melainkan sentuhan mesra di tempat sepi.
Bu Nah memperlihatkan pesan klarifikasi dari seorang anggota lain yang tahu ada laporan polisi. Klarifikasi itu hanya mendapat dua balasan. Gosip mendapat puluhan.
"Kebenaran kalah seru," gumam Bu Nah.
Aku meminta tangkapan layar dikirim kepadaku. Setelah kasus Roy, aku belajar tidak menghapus bukti hanya karena menyakitkan dilihat. Jika fitnah membesar, setidaknya aku tahu kapan dan dari nomor mana ia dimulai.
Tanganku dingin.
"Siapa yang mengirim?"
"Nomornya anggota arisan kompleks," jawab Bu Nah. "Mungkin melihat dari jalan, mungkin dapat cerita pekerja rumah lain. Sudah diteruskan berkali-kali."
"Hapus saja."
"Dihapus dari sini tidak menghapus dari ponsel orang."
Benar. Fitnah tidak lagi tinggal di mulut warung. Ia punya tangkapan layar, tombol teruskan, dan ratusan mata yang tak perlu mengenalku.
Bu Retno masuk sebelum kami sempat bicara lebih jauh. Wajahnya menunjukkan dia sudah melihat pesan yang sama.
"Sekar, ikut saya ke ruang tamu."
***
Dia duduk di sofa utama. Aku memilih kursi paling ujung.
"Kau tahu mengapa saya memanggilmu?"
"Tentang grup WA, Bu."
"Apakah ada hal lain antara kau dan Nara yang belum saya ketahui?"
Aku menunduk. Rahasia tubuhku bukan jawaban atas pertanyaan itu. Perasaan yang tumbuh juga belum punya nama atau janji.
"Tidak ada hubungan yang melanggar batas, Bu."
"Itu bukan jawaban penuh."
"Den Nara membantu saya karena masalah keluarga dan Roy. Saya berterima kasih."
"Dan perasaanmu?"
Pertanyaan langsung membuat tenggorokanku kering.
"Saya tahu diri, Bu."
Bu Retno menghela napas. "Saya tidak bertanya apakah kau tahu diri. Saya bertanya apa yang kau rasakan."
Aku tidak mampu berbohong. "Saya menghormati Den Nara. Saya merasa aman kalau dia ada. Lebih dari itu... saya tidak berani menyebut."
"Karena dia belum memberimu kepastian."
Aku mengangkat wajah. Bu Retno membaca keadaan lebih tepat daripada dugaanku.
"Dengar, Sekar. Saya tidak mengatakan kau perempuan jahat. Kau bekerja baik dan merawat Arka dengan tulus. Tapi keluarga kami hidup di bawah perhatian banyak orang. Nara tidak bisa mengambil keputusan hanya dengan perasaan. Ada bibit, bebet, bobot, ada tanggung jawab perusahaan, ada nama keluarga."
"Kalau saya berasal dari keluarga baik, apakah Ibu akan bicara berbeda?"
Pertanyaan itu keluar sebelum sempat kutahan.
Bu Retno tidak marah. "Mungkin. Itu tidak adil bagimu, tetapi saya tidak akan berbohong. Pernikahan di keluarga ini menghubungkan lebih dari dua orang."
"Bapak saya buruk. Itu pilihannya. Mengapa bibit saya dinilai dari dosa dia?"
Bu Retno memegang tasbih kecil di meja. "Karena keluarga takut masalah ikut masuk. Sekali lagi, belum tentu adil. Tetapi itu kenyataan yang akan kau hadapi."
Kejujurannya keras, namun lebih baik daripada menyamarkan penolakan sebagai nasihat manis.
"Saya tidak meminta menikah dengan siapa pun," kataku. "Saya hanya ingin bekerja tanpa tubuh dan keluarga saya dijadikan bahan hinaan."
"Dan kau berhak atas itu. Saya akan meminta admin grup menghapus unggahan serta membuat klarifikasi soal kejadian polisi. Tapi saya tidak bisa menghapus semua pikiran orang."
Setiap kata menempatkanku kembali pada jarak yang sebenarnya. Putri pemabuk dari desa. Pekerja rumah. Lulusan SMA tanpa keluarga terpandang.
"Saya mengerti, Bu."
"Mengerti berarti jangan membiarkan perhatian Nara membuatmu berharap sesuatu yang belum dia janjikan. Omongan ini bisa merusak namamu lebih dulu."
"Saya tidak pernah meminta Den Nara..."
"Saya tahu. Tetapi orang tidak peduli siapa yang mulai. Perempuan selalu dibicarakan lebih kejam."
Ucapan itu tidak salah. Justru kebenarannya membuatku lebih sakit.
"Apa Ibu ingin saya pergi?"
Bu Retno terdiam. "Tidak sekarang. Arka sudah nyaman denganmu dan kau tidak terbukti melakukan kesalahan. Tapi jaga jarak. Jangan makan berdua. Jangan menerima hadiah pribadi. Semua pekerjaan melalui Bu Nah."
"Termasuk sapu tangan saya yang belum dikembalikan?"
Bu Retno menatapku. Aku menyesal menyebutnya.
"Nara menyimpan barangmu?"
"Katanya belum disetrika."
Untuk sesaat, wajah Bu Retno menunjukkan kelelahan seorang ibu yang putranya memberi alasan sangat buruk. "Minta kembali lewat Bu Nah. Tidak ada benda pribadi yang boleh menjadi sumber omongan baru."
"Iya, Bu."
Namun bagian kecil dalam diriku sedih membayangkan sapu tangan itu benar-benar kembali.
"Iya, Bu."
"Dan kalau Nara mencoba melewati batas, ingatkan dia bahwa yang menanggung akibat terbesar adalah kau."
Aku mengangguk. Air mata menekan mata, tetapi tidak kujatuhkan di depan Bu Retno.
***
Den Nara sedang ke luar kota untuk pertemuan proyek. Aku tidak mengirim pesan. Dia juga tidak tahu grup WA sudah menyebar.
Sepanjang sore, aku menjaga Arka di kamar bayi. Bayi itu merangkak ke pangkuanku, menarik jilbab, lalu tertidur dengan pipi menempel di lengan. Kehangatan kecilnya membuat keputusan menjaga jarak terasa seperti ancaman kehilangan rumah kedua.
Saat makan malam, Pak Suryo pulang lebih awal. Mas Bagas dan Ratih sudah duduk. Den Nara belum kembali.
Aku membawa sup ke meja ketika Bu Retno mengeluarkan selembar daftar.
"Bapak, saya sudah menghubungi beberapa keluarga," katanya. "Kita harus segera mengatur pertemuan untuk Nara."
Pak Suryo membaca daftar. "Putri pengusaha distribusi itu sudah kembali dari Singapura?"
"Sudah. Ada juga seorang putri pengusaha, lulusan hukum, keluarganya jelas."
Ratih melirikku sambil tersenyum tipis. "Bagus. Biar orang kompleks tahu Den Nara tidak mungkin tertarik sembarang orang."
Mas Bagas menegurnya dengan mata, tetapi tidak bicara.
Tanganku yang memegang sendok sayur berhenti. Sup hampir meluap ke taplak.
"Sekar," panggil Bu Retno. "Hati-hati."
"Maaf, Bu."
Aku menyelesaikan penyajian dengan pandangan tertunduk. Nama-nama perempuan berpendidikan, kaya, dan lahir dari keluarga baik dibacakan satu per satu. Setiap nama seperti anak tangga menuju tempat yang tidak akan pernah kucapai.
Pak Suryo menyetujui makan malam keluarga dua hari lagi untuk membahas perjodohan. Bu Retno berkata Nara harus berhenti menghindar. Ratih menambahkan bahwa calon istri yang tepat akan memulihkan omongan.
"Kita tidak mengatur hanya untuk menjawab gosip," kata Pak Suryo. "Nara sudah waktunya menikah dan pasangan harus sepadan."
"Bibitnya jelas, pendidikannya bagus, keluarganya bisa mendukung bisnis," Ratih menimpali, sengaja cukup keras agar kudengar.
Mas Bagas meletakkan sendok. "Istri bukan proposal merger. Nara tetap harus setuju."
"Tentu," kata Bu Retno. "Karena itu kita bicara saat dia pulang."
Pembelaan Mas Bagas tidak mengubah daftar, tetapi mengingatkanku bahwa bahkan di keluarga ini, tradisi bukan keputusan tunggal yang tak bisa ditolak.
Tak seorang pun menyebut namaku. Mereka tidak perlu.
Aku adalah omongan yang hendak dipadamkan.
Setelah membawa piring kotor ke dapur, Bu Nah menyentuh pundakku.
"Jangan percaya semua yang mereka putuskan tanpa Nara."
"Dia tetap anak keluarga ini."
"Dia juga orang paling keras kepala di rumah ini."
Aku tersenyum tipis, tetapi dada tetap sakit.
Ponselku bergetar. Pesan dari Den Nara muncul:
Besok saya pulang. Sudah makan?
Jari-jariku menggantung di atas papan ketik. Aku ingin menceritakan semuanya. Aku juga mendengar peringatan Bu Retno bahwa perhatian sekecil apa pun akan kembali menjadi pisau untukku.
Akhirnya aku menjawab: Sudah, Den. Perjalanan lancar?
Dia membalas: Lancar. Ada sesuatu terjadi?
Sebelum sempat menjawab, ponsel berdering. Aku keluar ke teras dapur agar suara air tidak mengganggu.
"Sekar?" Suara Den Nara terdengar jauh tetapi jelas. "Kenapa jawabanmu pendek?"
"Saya sedang mencuci piring."
"Bu Nah biasanya tidak membiarkanmu bekerja sendirian selarut ini."
Dia mengenali rutinitasku terlalu baik.
"Den fokus perjalanan saja."
"Saya sudah di hotel. Kirim tangkapan layar kalau ada masalah."
Mataku panas. Sekali saja aku ingin menyerahkan semua beban kepadanya. Namun lalu apa? Dia akan pulang marah, semua orang makin yakin aku mengadu untuk menguasainya.
"Tidak ada masalah," ulangku.
Hening di seberang. "Kau berbohong buruk sekali."
Kalimat yang pernah kuucapkan kepadanya kembali menghantamku.
"Besok Den akan tahu sendiri."
"Baik. Jangan pergi ke mana pun sebelum saya pulang."
"Saya bukan tahanan."
"Bukan. Itu permintaan."
Aku tidak menjanjikan apa pun. Kami mengakhiri telepon dengan jarak yang terasa lebih jauh daripada kota-kota di antara kami.
Aku menatap daftar calon istri yang masih berada di meja ruang makan.
Tidak ada, ketikku.
Kebohongan itu terasa pahit.
Di ruang makan, Bu Retno melingkari satu nama. Di dapur, aku menahan air mata sambil mencuci piring.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal rasa aman di dekat Den Nara, aku bertanya apakah seharusnya aku pergi sebelum perasaan ini tumbuh jauh lebih dalam dan menyakitkan bagi kami.