Alya adalah Ratu mafia yang memimpin sebuah organisasi Order Tabir Hitam dengan nama First Order.
Tapi sayangnya ia mencintai pria kantor biasa saat ia sering menjelajahi tempat yang akan menjadi misinya.
Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.
Sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama, mertua tidak menyukainya, dan suaminya menikah dengan manager di tempat kerjanya.
Pembalasan di mulai, Alya kembali mengambil mahkotanya dan menjadi Ratu Mafia kembali dan membawa putri kecilnya menjadi orang ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
"Buku Alisya ada pada Ibu. Alasan Ibu memberi buku Alisya terakhir karena..."
"Tugas Alisya jelek kan buk?" celetuk Raya.
"Raya, kamu nggak boleh gitu, mau tugasnya jelek tau bagus, yang penting dia sudah usaha. Kamu tidak boleh menghina tema sekelas mu. Bisa jari orang yang kamu ejek mendapatkan nilai sempurna," kata Buk Ratna membuat Raya terdiam.
"Baiklah. Langsung saja. Tugas Alisya sangat bagus dan menjadi contoh untuk murid-murid semua! Kali ini Alisya mendapatkan bintang sembilan!" kata Bu Guru dengan nada bangga.
Suasana kelas seketika hening. Mata Raya membulat sempurna, mulutnya menganga tak percaya.
"Apa?! Bintang sembilan?! Tidak mungkin!" teriak Raya tak percaya, melompat dari kursinya karena kaget. "Mana ada bintang sembilan, Bu?! Bintang kan paling banyak cuma lima!"
"Ada dong, Raya," sahut Bu Guru ramah seraya mengangkat buku gambar Alisya tinggi-tinggi agar bisa dilihat oleh seluruh isi kelas. "Bintang lima itu untuk tugas yang sangat baik. Tapi untuk karya yang luar biasa indah dan penuh kreasi, Ibu berikan stiker bintang sembilan khusus!"
Saat diperlihatkan, tugas gambar Alisya memang sangat bagus.
Gambar rumah dan pemandangannya diwarnai dengan gradasi yang sangat halus, tulisannya sangat rapi, dan di pinggir kertasnya, Alisya memberi hiasan gambar bunga-bunga kecil yang dilukis dengan sangat detail dan cantik.
"Tugas Alisya sangat kreatif sekali! Warnanya rapi, tidak ada yang keluar garis, dan hiasan bunganya indah sekali," kata Bu Guru menambahkan, memberikan tepuk tangan yang langsung diikuti oleh murid-murid lainnya.
"Wah, gambarnya Alisya bagus banget!" puji Gio dari meja belakang.
"Iya, bunganya kayak beneran!" tambah Mira bertepuk tangan riang.
Alisya yang tadinya hampir menangis, kini mendongak. Senyuman manis hingga terlihat lesung pipitnya. Pipi gembilnya merona merah karena bahagia.
"Terima kasih, Bu Guru..." kata Alisya malu-malu seraya menerima bukunya yang penuh dengan deretan stiker bintang emas bernomor sembilan.
"Sama-sama, Alisya," kata Bu Ratna lembut mengelus kepala anak polos itu.
"Oh ya, Ibu ingin memberitahu, bintang lima sama dengan mendapatkan nilai seratus, tapi karena Alisya mendapatkan bintang sembilan, nilainya sama dengan 190, dan sudah termasuk mencapai nilai sempurna," kata Bu Ratna menyapu pandangan ke seluruh murid di kelas.
Seluruh isi kelas langsung bertepuk tangan riuh. Teman-teman di sekitar Alisya memandangnya dengan takjub.
"Wah, Alisya hebat banget!" seru Gio dari bangku belakang.
"Nanti ajarin aku nggambar bunga kayak gitu ya, Alisya!" sahut Mira berbinar-binar.
Alisya hanya mengangguk pelan sambil tersenyum malu. "Iya, nanti kita belajar bareng-bareng ya."
Sementara itu, di sudut lain, Raya membanting pensilnya ke atas meja hingga patah menjadi dua.
Wajahnya memerah padam karena malu dan cemburu. Ia meremas bukunya sendiri hingga agak melengkung.
"Ini nggak adil! Pasti ibunya yang gambarin!" jerit Raya dalam hati dengan penuh prasangka buruk. "Awas ya Alisya, nanti pas pulang sekolah aku aduin ke Mama!"
Alisya tidak memedulikan tatapan benci Raya. Ia mengelus stiker bintang sembilan di bukunya dengan penuh rasa syukur.
Di dalam hati kecilnya, Alisya membatin riang: "Nanti pulang sekolah, Alisya mau pamerin bintang sembilan ini ke Mama! Mama pasti bangga banget sama Alisya!"
...⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️...