Indonesia
NovelToon NovelToon
SESALMU YANG TERLAMBAT

SESALMU YANG TERLAMBAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ultimatum

Tiga hari setelah telepon aneh itu, Bu Marlina kembali menyusun rencana yang lebih personal, sesuai arahan Ibu Retno. Kali ini, ia tidak lagi mengandalkan telepon dari nomor asing, melainkan mendatangi langsung rumah kontrakan keluarga Laras, membawa map berisi dokumen dan sebuah amplop cokelat tebal.

Sore itu, hanya ada ibu Laras di rumah, sedang menyusun kue-kue dagangannya ke dalam keranjang untuk dijual keesokan hari. Suara ketukan pintu membuatnya menoleh.

"Permisi, benar ini rumah Bapak Slamet Riyadi?" tanya Bu Marlina, tersenyum ramah meski ada sesuatu yang kaku dalam nada suaranya.

"Iya, benar. Bapak lagi keluar. Ada perlu apa, ya?"

"Saya sebenarnya ingin bicara dengan Larasati. Tapi kalau Ibu ada di rumah, mungkin lebih baik bicara dengan Ibu dulu."

Ibu Laras mempersilakan Bu Marlina masuk, meski dengan perasaan tidak enak yang sulit dijelaskan. Mereka duduk di ruang tamu sederhana yang sama tempat Raka pernah duduk beberapa minggu sebelumnya.

"Begini, Bu," Bu Marlina memulai, nadanya berubah lebih serius. "Saya mewakili sebuah keluarga yang, mohon maaf, tidak bisa saya sebutkan namanya. Tapi keluarga ini sangat prihatin dengan hubungan yang sedang dijalani putra mereka dengan Larasati."

Wajah ibu Laras berubah pucat. "Hubungan apa? Maksud Ibu apa?"

"Saya rasa Ibu sudah tahu, hubungan antara Larasati dan seorang pemuda dari keluarga terpandang." Bu Marlina membuka mapnya, menunjukkan beberapa foto Raka dan Laras yang diambil diam-diam selama beberapa minggu terakhir. "Keluarga pemuda ini merasa hubungan ini tidak akan membawa kebaikan bagi kedua belah pihak, terutama mengingat perbedaan status sosial yang cukup jauh."

Ibu Laras menatap foto-foto itu dengan tangan gemetar, campuran antara terkejut dan marah. "Ini... ini privasi anak saya. Kenapa sampai difoto-foto begini?"

"Saya mohon maaf atas caranya, Bu. Tapi ini demi kebaikan bersama." Bu Marlina melanjutkan, suaranya melembut namun tetap tegas. "Keluarga tersebut bersedia memberikan bantuan finansial yang cukup besar, sebagai kompensasi, jika Larasati bersedia mengakhiri hubungan ini dan menjauh dari kehidupan pemuda tersebut."

"Kompensasi?" Ibu Laras hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Ibu pikir anak saya bisa dibeli?"

"Bukan begitu maksud saya, Bu. Ini lebih kepada... membantu meringankan beban keluarga, sekaligus memberikan Larasati kesempatan untuk memulai hidup baru di tempat lain, jauh dari tekanan yang mungkin akan dihadapinya jika hubungan ini terus berlanjut."

Ibu Laras terdiam, pikirannya berkecamuk. Ia tahu betul beban ekonomi keluarganya, tapi tidak pernah terbayang harus dihadapkan pada pilihan seperti ini.

"Saya nggak bisa memutuskan ini sendiri," katanya akhirnya, suaranya bergetar. "Ini keputusan Larasati."

"Tentu, Bu. Karena itu saya juga ingin bicara langsung dengannya." Bu Marlina menyerahkan amplop cokelat yang dibawanya. "Ini sedikit gambaran mengenai tawaran yang bisa didiskusikan lebih lanjut. Saya akan kembali beberapa hari lagi untuk mendengar jawabannya."

Setelah Bu Marlina pergi, Ibu Laras duduk terdiam lama, menatap amplop di tangannya dengan perasaan campur aduk. Ia membuka amplop itu perlahan, matanya membeliak melihat nominal yang tertera di dalam dokumen—jumlah yang bisa membayar hutang-hutang keluarga mereka, bahkan menyisakan modal untuk usaha kecil-kecilan yang lebih layak.

Namun di sisi lain, ada perasaan bersalah yang menggerogoti hatinya, membayangkan bagaimana reaksi Laras jika mengetahui hal ini.

Ketika Laras pulang kerja malam itu, ia mendapati ibunya duduk di ruang tamu dengan wajah yang tampak lelah dan gelisah, amplop cokelat tergeletak di meja di depannya.

"Ibu kenapa?" tanya Laras, langsung merasakan sesuatu yang tidak beres dari suasana rumah.

Ibu Laras menghela napas panjang, lalu menceritakan semuanya—kedatangan Bu Marlina, foto-foto yang diperlihatkan, tawaran kompensasi yang diajukan atas nama keluarga Raka.

Laras mendengarkan dengan wajah yang semakin pucat, tangannya mengepal erat menahan emosi yang bercampur aduk antara marah, terkejut, dan sakit hati.

"Jadi," katanya pelan, suaranya bergetar menahan tangis, "keluarga Raka nyuruh orang buat 'membeli' aku supaya ninggalin dia?"

"Ibu nggak tau harus gimana, Nak. Tapi... tapi uang itu, bisa bantu banyak buat keluarga kita."

"Ibu mau aku ninggalin Raka demi uang?"

"Bukan begitu maksud Ibu," Ibu Laras cepat-cepat menjelaskan, matanya berkaca-kaca. "Ibu cuma... Ibu takut, Nak. Ibu takut kalau kamu terus lanjutin hubungan ini, yang ada malah kamu yang bakal disakiti lebih parah nantinya. Keluarga sebesar itu, kalau udah nggak restu, bisa ngapain aja mereka buat misahin kalian."

Laras terduduk lemas di kursi, mencoba mencerna semua yang baru saja ia dengar. Bayangan wajah Raka yang penuh keyakinan saat mengucapkan janji-janjinya beberapa minggu lalu kini terasa begitu jauh, hampir seperti mimpi yang mulai memudar dihantam kenyataan pahit.

"Aku nggak mau nerima uang itu," katanya akhirnya, suaranya tegas meski matanya sudah basah oleh air mata. "Aku nggak mau ninggalin Raka cuma karena disuruh sama orang lain."

"Laras, dengerin Ibu dulu—"

"Nggak, Bu. Aku nggak mau." Laras berdiri, menyeka air matanya dengan kasar. "Aku bakal bicara langsung sama Raka soal ini. Biar dia yang jelasin ke ibunya sendiri."

Ia berjalan cepat menuju kamarnya, meninggalkan ibunya yang masih duduk terdiam dengan amplop cokelat di tangan, hati yang terbelah antara kasih sayang pada anaknya dan kekhawatiran akan masa depan keluarga yang penuh ketidakpastian.

Di kamarnya, Laras segera menghubungi Raka, namun panggilannya tidak terjawab. Ia mencoba mengirim pesan, jarinya bergetar mengetik setiap kata.

"Raka, aku perlu bicara. Penting banget."

Tidak ada balasan selama beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam bagi Laras. Ia menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk, antara marah, sedih, dan takut akan apa yang mungkin terjadi selanjutnya.

Yang tidak diketahuinya, saat itu Raka sedang berada di ruang kerja ayahnya, dipanggil mendadak untuk sebuah pertemuan keluarga yang tidak terduga—pertemuan yang, tanpa disadarinya, akan menjadi awal dari serangkaian kejadian yang mengubah segalanya, jauh lebih cepat dan lebih kejam dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ponsel Raka tergeletak di meja kamarnya, bergetar berkali-kali menampilkan nama Laras di layarnya, namun tidak ada seorang pun yang menyadarinya—kecuali Ibu Retno, yang kebetulan melintas di depan kamar putranya, melihat layar ponsel itu menyala terus-menerus, dan tersenyum tipis sebelum melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja suaminya, tempat rencana yang lebih besar sedang menunggu untuk dijalankan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!