"Jauhi suami saya!"
Teriakan melengking di sebuah kafe elit Manhattan itu meremukkan dunia Pearl Glow Hurt dalam sekejap.
Pria bertutur kata lembut yang dicintainya ternyata seorang penipu beristri. Demi menyelamatkan harga diri dari skandal yang memalu, Glow nekat membual bahwa kekasih aslinya bernama "Lean"—dan bersumpah akan mengelilingi New York untuk menemukan serta menikahi pria bernama Lean demi memvalidasi kebohongannya.
Pencarian impulsif itu membawa Glow ke sebuah bengkel kusam di Queens, memutuskannya berhadapan dengan Lean—seorang mekanik bersikap dingin yang mengintimidasi dan mengaku sebagai kanibal. Glow menganggap sosoknya hanyalah rakyat jelata bersikap sok misterius.
Namun, Glow tidak menyadari bahwa pria itu adalah Orion Leander Ashford, putra penguasa takhta kegelapan New York yang menjalankan bisnis senjata rahasia.
Ketika takdir bertabrakan di antara intrik dan bahaya, permainan nama Lean mendadak berubah menjadi pusaran cinta dan bahaya yang mengancam nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12
Suasana ruang makan utama di mansion keluarga Hurt pagi itu seharusnya diselimuti kehangatan keluarga. Aroma Kopi Kolombia yang merebak segar bertabrakan dengan wangi rotian panggang mentega yang tersaji di atas meja kayu jati panjang.
Namun, keheningan nyaman itu mendadak pecah ketika Camilo Hurt—dengan senyuman menggoda yang terkembang lebar—meletakkan dua lembar kertas tebal berbingkai emas tepat di samping piring Glow.
Glow yang baru saja hendak menyuap potongan croissant langsung menghentikan gerakannya. Ia menyipitkan mata, menatap dua lembar kertas berdesain elegan tersebut dengan tatapan curiga yang teramat tajam.
"Apa ini, Kak?" tanya Glow dengan nada suara yang sengaja dibikin datar.
Camilo terkekeh renyah, menyesap kopinya sejenak sebelum menjawab santai, "Hadiah pernikahan dari Kakak dan Daddy. Tiket penerbangan first-class dan reservasi resor privat di Maladewa untuk satu minggu penuh. Kalian berdua harus pergi bulan madu hari ini juga."
CLANG!
Sendok di tangan Glow terlepas, berdenting keras menabrak piring porselennya. Wajah cantiknya seketika memerah padam. Ia membelalakkan mata, memutar kepalanya dengan gerakan patah-patah untuk melotot tajam ke arah pria yang duduk di seberang mejanya.
Orion Leander Ashford—yang pagi itu tampak teramat tampan meski hanya mengenakan kemeja hitam polos dengan lengan digulung hingga ke siku—sedang mengoleskan mentega ke atas rotinya dengan sangat tenang. Tidak ada raut panik, tidak ada riak terkejut. Pria itu tampak begitu menikmati pemandangan istrinya yang mulai tersulut amarah.
"Tidak! Aku menolak mentah-mentah!" seru Glow lantang, suaranya memantul di antara langit-langit ruang makan yang tinggi. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Camilo dan Lucifer bergantian. "Aku tidak akan pergi ke Maladewa! Apalagi berdua saja dengan... dengan Tukang Bengkel ini!"
"Glow, jaga bahasamu," tegur Lucifer dengan suara lembut namun sarat akan ketegasan seorang ayah.
Namun di balik teguran itu, jantung Lucifer sebenarnya berdegup kencang menahan rasa terkejut yang luar biasa. Di dalam hatinya, Lucifer menelan ludah kasar menyaksikan pemandangan di depannya.
Pria yang sedang dibentak-bentak dan ditunjuk-tunjukkan jarinya oleh putrinya ini adalah Orion Leander Ashford—cucu dari sang penguasa tertinggi, pria yang hanya dengan satu jentikan jari sanggup meruntuhkan bisnis siapa pun di New York, pria yang dikenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Dan sekarang? Pria itu duduk diam, membiarkan dirinya dimarahi oleh seorang gadis bergaun tidur sutra hanya karena masalah tiket liburan.
Tuhan... Glow benar-benar tidak tahu dia sedang memain-mainkan nyawanya, batin Lucifer menjerit panik.
Lean meletakkan pisau menteganya perlahan. Ia menyandarkan punggung tegapnya pada sandaran kursi, menatap Glow lurus-lurus dengan iris mata sejernih es yang kini berkilat penuh kejailan yang terselubung.
"Kenapa menolak, Istriku?" tanya Lean dengan nada suara yang teramat santai dan rendah. "Resor privat di Maladewa terdengar sangat sempurna untuk agenda kita selanjutnya."
Glow melotot semakin lebar. "Agenda apa, Sialan?!"
Lean menyipitkan matanya sedikit, mengulas senyam-senyuman tipis yang sangat provokatif. "Proses pembuatan anak, tentu saja. Bukankah memang itu tujuan utama pasangan suami istri pergi berbulan madu? Tempat yang sepi akan membuat suasananya jauh lebih mendukung... terutama untuk mendengarkan jeritanmu."
DUAR!
Wajah Glow yang tadinya memerah amarah kini meledak menjadi merah padam hingga ke ujung telinganya. Camilo tersedak kopi yang baru disesapnya, batuk-batuk kecil sambil tertawa terbahak-bahak, sementara Lucifer hampir saja menjatuhkan cangkirnya karena kombinasi antara rasa syok dan rasa geli yang luar biasa.
"Kau... kau mesum! Pria penipu mesum!" jerit Glow histeris, menyambar serbet kain di atas meja dan melemparkannya tepat ke arah wajah Lean.
Dengan refleks yang teramat cepat dan lincah khas seorang petarung kelas atas, Lean menangkap serbet itu hanya dengan dua jemarinya sebelum benda itu menyentuh wajahnya.
"Aku hanya menyatakan fakta biologis, Pearl Glow Hurt," balas Lean dingin tanpa beban. "Kecuali kalau kau mengaku takut tidak bisa mengimbangiku di sana?"
"Siapa yang takut?!" tantang Glow dengan nada melengking, gengsi setinggi langitnya seketika terbakar hebat oleh provokasi Lean. "Aku tidak takut pada pria miskin bersikap sok misterius sepertimu! Fine! Kita pergi ke Maladewa! Akan kubuktikan padamu kalau aku tidak akan terpengaruh sedikit pun oleh trik murahmu!"
Glow menyambar dua lembar tiket di atas meja dengan gerakan kasar, memasukkannya ke dalam tas tangannya dengan napas yang masih memburu.
Camilo bertepuk tangan pelan, tersenyum puas. "Keputusan yang sangat bijak, Adikku yang cantik."
Glow menegakkan tubuhnya, mengibaskan rambut bergelombang hitamnya ke belakang, lalu menatap Lean dengan pandangan menantang. "Sekarang, aku minta izin pada 'Suami Penipu'-ku ini untuk keluar sebentar. Aku ada janji bertemu Angelina di kafe jam sepuluh."
Lean menatap istrinya sejenak, lalu mengangguk pelan dengan kedutan kecil di sudut bibirnya. "Izin akan kukabulkan, Istriku. Tapi pastikan kau tidak terlambat untuk jadwal penerbangan kita sore nanti."
"Tidak perlu mengajariku!" cetus Glow pedas. Tanpa menunggu balasan lagi, ia memutar tubuhnya dan melangkah lebar meninggalkan ruang makan dengan ketukan sepatu heels-nya yang terdengar sengit.
...****************...
Satu jam kemudian, Angelina sudah terduduk anggun di sudut area outdoor sebuah kafe mewah berlangganannya di kawasan SoHo. Angin pagi New York yang sejuk membelai lembut gaun terusan warna cream yang dikenakannya. Di hadapannya, cangkir cappuccino hangat masih membumbungkan uap tipis.
Langkah kaki terburu-buru mengalihkan perhatian Angelina. Glow muncul dengan gaun pastelnya, melangkah cepat menghampiri meja dan langsung menghempaskan tubuhnya di kursi seberang Angelina, Dan Angelina Sendiri menyambutnya dengan raut wajah yang campur adur antara takjub, geli, dan tidak percaya.
"Wah... lihat siapa ini," goda Angelina dengan nada suara yang dinaikkan satu oktav, matanya berbinar-binar. "Pengantin baru kita akhirnya muncul juga! Bagaimana malam pertamamu dengan 'Pria Kanibal'-mu itu, Glow?"
Glow mendengus kasar, memutar matanya malas. "Jangan mulai, Lina. Tidak ada malam pertama. Yang ada cuma perang merebut selimut dan bualan konyol tentang lemak leher. Dia benar-benar pria penipu yang sangat menyebalkan!"
Namun, bukannya prihatin, Angelina justru tertawa renyah. Sahabatnya itu menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Glow dengan binar mata yang penuh arti.
"Tapi kelihatannya kalian tetap sangat mesra," sahut Angelina santai. "Pengantin baru, walaupun pengantin prianya mendadak digantikan di altar, rupanya tetap romantis dan tidak bisa dipisahkan."
Glow mengernyit bingung. "Maksudmu apa, Angel? Mesra dari mananya? Aku bahkan hampir melemparnya pakai pisau roti tadi pagi!"
"Lah? Kau tidak tahu?" tanya Angelina sambil mengarahkan dagunya ke arah pintu masuk kafe di belakang posisi duduk Glow. "Suamimu itu mengikutimu sampai ke sini, tahu! Dia bahkan ikut turun dan mengobrol dengan Seseorang di dekat parkiran kafe!"
Deg.
Jantung Glow mencelos seketika. "Siapa?!"
Glow memutar tubuhnya dengan gerakan cepat, matanya membelalak sempurna memindai area depan kafe.
Di dekat jajaran mobil mewah yang terparkir rapi, berdiri sosok Orion Leander Ashford. Pria itu tampak sangat menonjol di antara kerumunan orang. Kemeja hitamnya yang tergulung memperlihatkan garis lengan yang kekar, sementara tangannya terselip santai di dalam saku celana bahan mewahnya.
Di hadapan Lean, berdiri seorang pria berjas rapi yang tampak sangat membungkuk dan penuh hormat saat berbicara dengannya—seorang teman yang kebetulan dikenali Glow sebagai salah satu manajer elit di bank investasi terkemuka Manhattan.
Seolah merasakan tatapan mata istrinya, Lean memutar kepalanya perlahan. Iris matanya yang sejernih es mengunci pandangan Glow dari kejauhan.
Bukannya menghindar atau bersembunyi, Lean justru melangkah santai memasuki area kafe, membelah kerumunan pengunjung dengan keanggunan dan aura wibawa yang membuat beberapa wanita di sekitarnya menoleh kagum. Pria itu berjalan lurus menuju meja tempat Glow dan Angelina duduk.
Glow membeku di tempatnya, menahan napas saat Lean tiba di samping kursinya.
Lean menundukkan tubuhnya sedikit, mengusap puncak kepala Glow dengan kelembutan yang teramat sangat—sebuah gerakan yang begitu natural hingga berhasil menciptakan ilusi sesosok suami siaga yang luar biasa penyayang di mata publik.
"Aku hanya memastikan Istriku sampai dengan selamat dan tidak ada orang asing yang mengganggunya lagi seperti di kafe kemarin," bisik Lean rendah di dekat telinga Glow, suaranya cukup nyaring untuk didengar oleh Angelina.
Angelina menutupi mulutnya dengan tangan, menahan jeritan gemas.
Sementara Glow? Wajahnya terasa terbakar hebat oleh campuran rasa malu, syok, dan kejengkelan yang mendalam. Pria penipu ini benar-benar tidak pernah berhenti memainkannya!
pdhl penasaran ama kelanjutannya😍😍😍