Bertahun-tahun setelah sebuah pembantaian menghapus keluarga Black Rose dari dunia mafia, Elena kembali dengan identitas sebagai seorang pelayan.
Tidak seorang pun tahu siapa dirinya atau alasan sebenarnya ia memasuki keluarga Bianchi.
Namun, putra pertama keluarga Bianchi, Leon mulai mencurigai wanita itu. Kebiasaan aneh dan tato yang wanita itu miliki, membangkitkan potongan ingatan dari masa lalu yang tidak pernah bisa ia pahami.
Sampai sebuah kesalahpahaman memaksa mereka untuk menikah.
Leon melihat kesempatan untuk mengawasi Elena lebih dekat. Sementara Elena menerima pernikahan itu demi satu tujuan yaitu membalas dendam.
Dua orang dengan tujuan tersembunyi terikat dalam satu pernikahan.
Dan, tanpa mereka sadari, pernikahan itu akan membuka rahasia yang menghubungkan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Pura-pura
Elena menegakkan tubuhnya. Tangannya perlahan bergerak ke belakang, menyelipkan pistol ke bagian belakang celananya. Setelah itu, ia menatap kelima pria di hadapannya satu per satu.
Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah. Ia memasang wajah ketakutan yang dibuat-buat, bahkan tubuhnya sengaja dibuat gemetar.
"To-tolong... Jangan bunuh aku."
Kelima pria itu sontak tertawa terbahak-bahak. Mereka semakin percaya diri, seolah wanita di depan mereka sama sekali tidak berdaya.
"Hahaha... Jadi, ini istri Leon Bianchi?" salah seorang dari mereka mencibir. "Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana pria seperti dia bisa memiliki istri selemah ini."
Elena menundukkan kepala, lalu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya bergetar, berpura-pura menangis.
Melihat reaksinya, salah seorang pria maju beberapa langkah.
"Kemari lah!" perintahnya. "Aku tidak akan membunuhmu."
Elena perlahan menurunkan tangannya. Matanya dibuat berkaca-kaca, seolah-olah ia benar-benar ketakutan.
"Be-benarkah, Tuan? A-Anda tidak akan membunuhku?"
"Tentu saja." Pria itu menyeringai. "Asalkan kamu menuruti semua perintahku."
Elena mengangguk cepat. "Ba-baik. Aku pasti akan menuruti semua perintah Anda."
"Bagus sekali." Senyum pria itu semakin lebar. "Aku suka wanita penurut. Sekarang, kemari lah!"
Elena mulai melangkah mendekat dengan gerakan yang sengaja dibuat ragu-ragu dan gemetar. Kepalanya tertunduk, seolah-olah ia tidak berani menatap pria itu.
Hingga akhirnya, ia berhenti tepat di depan pria itu.
Pria itu mengangkat dagu Elena dengan satu jari, memaksanya mendongak hingga tatapan mereka bertemu.
"Leon benar-benar pandai memilih istri." Tatapannya menjelajahi Elena dari atas hingga bawah. "Walaupun hanya seorang pelayan, tapi..." Ia menjilat bibirnya, membuat Elena merasa jijik.
Pria itu kemudian menoleh pada keempat rekannya. "Bagaimana kalau kita bersenang-senang malam ini?"
Keempat pria lainnya langsung bersorak.
"Setuju!"
"Hahaha! Ide bagus!"
Tapi, saat pria itu kembali menatap Elena, senyum di wajahnya perlahan menghilang.
Ada sesuatu yang berubah pada tatapan wanita itu.
Tidak ada rasa takut ataupun panik. Yang ada hanyalah tatapan dingin dan senyum tipis yang membuat bulu kuduknya meremang.
Pria itu tertegun.
Tubuhnya seketika menegang, keringat dingin mengalir dari pelipisnya saat merasakan sesuatu yang dingin menyentuh tepat di bawah dagunya.
Sebuah pistol.
Elena mengangkat wajahnya. Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Aku juga sangat ingin bersenang-senang dengan Anda, Tuan."
DOR!
Suara tembakan memecah kesunyian.
Pria itu terhuyung sebelum akhirnya ambruk tak bernyawa.
Keempat rekannya membeku. Mereka menatap tubuh temannya dengan wajah pucat, seolah otak mereka belum mampu mencerna apa yang baru saja terjadi.
Tapi, Elena tidak memberi mereka kesempatan. Ia berbalik cepat dan mengangkat pistolnya.
DOR! DOR! DOR! DOR!
Empat tembakan ia lepaskan nyaris tanpa jeda dengan presisi sempurna.
Keempat pria itu pun jatuh satu per satu.
Elena berjalan mendekati salah seorang dari mereka yang masih bernapas. Pria itu berusaha merangkak menjauh, tetapi Elena lebih dulu menginjak luka di dadanya.
"Argh!" Teriakan pria itu menggema.
Elena sedikit membungkuk, menatapnya tanpa ekspresi.
"Katakan. Siapa kalian?"
Pria itu terengah-engah. Napasnya tersengal, sementara rasa takut terlihat jelas di matanya.
"Ka-kami... Dari organisasi Tiger."
Elena menyipitkan mata. "Organisasi Tiger?"
"I-iya..." Pria itu menelan ludah dengan susah payah. "Ka-kami diperintahkan untuk menangkap mu."
"Menangkap ku?".Elena mengulanginya dengan nada datar.
Pria itu mengangguk cepat. "I-iya. Karena... karena kamu adalah istri Leon. Ka-kami ingin balas dendam."
Elena terdiam.
Beberapa detik kemudian, ia mengangkat pistol dan mengarahkannya tepat ke kepala pria itu.
Tatapan mereka bertemu.
"Sayangnya, kalian salah memilih lawan."
DOR!
Satu tembakan mengakhiri hidup pria tersebut.
Suasana kembali sunyi.
Tidak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar mendekat dan berhenti tepat di belakang Elena.
Elena menurunkan pistolnya. "Bereskan!" perintahnya tanpa menoleh.
Setelah itu, Elena berbalik, hendak pergi. Tapi, langkahnya tiba-tiba terhenti. Matanya tertuju pada belati yang terselip di pinggang musuh.
Elena menatap benda itu beberapa saat. Lalu, sebuah ide melintas di benaknya.
***
Elena berjalan dengan langkah terhuyung sambil memegangi lengannya yang terluka. Setiap langkah terasa berat, tetapi ia tetap memaksakan diri untuk terus berjalan.
Beberapa saat kemudian, ia berhenti dan bersandar pada dinding. Napasnya memburu. Wajahnya terlihat pucat, sementara darah masih merembes dari luka di lengannya.
Tidak lama kemudian, terdengar derap langkah kaki dari kejauhan.
Elena perlahan mengangkat wajahnya. Ia tersenyum melihat Leon yang berdiri tidak jauh di depannya.
Tatapan mereka bertemu. Tapi, sedetik kemudian, tubuh Elena tiba-tiba kehilangan tenaga.
Brukh!
Ia terkulai dan jatuh tidak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian, kening Elena mengerut. Kepalanya bergerak pelan saat suara yang sangat ia kenal terdengar samar-samar di telinganya.
"Elena! Kamu sadar?"
Elena membuka mata perlahan. Pandangan di depannya masih kabur. Tapi, sedikit demi sedikit, sosok Maria mulai terlihat jelas.
"Nyonya," lirihnya.
Maria tersenyum lega. "Syukurlah, kamu sudah sadar."
"Sa-saya di mana?"
"Kamu ada di rumah, sayang."
Elena terdiam sesaat. Ia kemudian mencoba bangkit, tetapi langsung meringis saat rasa sakit menusuk lengannya.
"Ah..."
"Pelan-pelan!" Maria segera menopang tubuh Elena. "Kamu terluka, El."
Maria membantu Elena duduk dan menyelipkan bantal di belakang punggungnya agar ia bisa bersandar dengan nyaman.
Elena menatap Maria. "Apa Anda baik-baik saja, Nyonya?"
"Bodoh. Seharusnya aku yang menanyakan keadaanmu." Maria menggenggam tangan Elena. "Aku baik-baik saja dan, semua itu karena kamu, El. Kamu mempertaruhkan nyawamu untuk melindungi ku."
Elena tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. "Itu sudah menjadi tugas saya, Nyonya."
Tapi, beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah serius.
"Nyonya, siapa yang menyelamatkan saya?"
"Leon," jawab Maria. "Setelah mendapatkan kabar bahwa kita diserang, dia langsung mengerahkan anak buahnya." Maria tersenyum kecil. "Kamu tahu? Saat mendengar kamu menjadi target musuh, dia terlihat sangat khawatir."
"Benarkah?"
Maria mengangguk. "Iya."
Elena menundukkan pandangan, menyembunyikan sesuatu yang berkelebat di matanya.
"Kalau begitu, saya harus berterima kasih padanya."
Maria tersenyum. "Sudahlah. Sekarang kamu istirahat saja. Jangan terlalu banyak berpikir."
Elena mengangguk. "Baik, Nyonya."
Maria kemudian berdiri dan meninggalkan kamar.
Kamar kembali sunyi.
Elena menghela napas panjang sambil memejamkan matanya. Tapi tiba-tiba, pintu kembali terbuka.
Elena menegakkan kepalanya, menatap ke arah pintu.
Leon masuk dan langsung mengunci pintu. Setelahnya, pria itu berbalik, wajahnya tidak menunjukkan kekhawatiran seperti yang Maria katakan.
Sebaliknya, tatapannya justru terlihat dingin.
"Sekarang hanya ada kita berdua," ucap Leon datar. "Jadi, kamu tidak perlu berpura-pura lagi."
Elena mengangkat alis lalu, tersenyum tipis. "Apa maksudmu?"
"Kamu sangat tahu maksudku, Elena."
Leon mulai melangkah mendekat. Tatapannya tidak lepas dari wajah Elena.
"Bekas darah di gedung seberang pusat perbelanjaan yang sengaja dihapus. Percikan darah di gang sempit yang sepi. Dan... " Leon berhenti tepat di depan ranjang. "Bau mesiu yang masih melekat di tubuhmu."
Leon mencondongkan tubuhnya sehingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Elena.
"Kamu yang membunuh mereka, kan?"
Elena tetap tenang. Tidak ada kepanikan di wajahnya. Bahkan, ia justru tersenyum santai.
"Wow..." Ia memiringkan kepalanya. "Aku tidak menyangka kamu bisa sehebat itu dalam menebak."
Leon menyipitkan mata. "Jangan berpura-pura, Elena." Ia kembali menegakkan tubuhnya. "Meski sudah di bereskan, tapi masih ada bekas yang tertinggal. Orang-orang mu sungguh sangat ceroboh. Dan... " Tatapannya turun ke lengan Elena yang terluka.
"Kamu bahkan sengaja melukai dirimu sendiri agar terlihat seperti wanita lemah yang tidak mampu melawan."
Sudut bibir Elena terangkat tipis. "Tebakan yang bagus. Tapi..." Elena menyandarkan tubuhnya dengan lebih nyaman. "Apakah kamu punya bukti, hm?"
Leon terdiam. Tatapan keduanya bertemu dalam keheningan.
"Bukti itu akan segera muncul. Hanya saja, apa kamu berani mempertanggungjawabkannya di hadapan Victor? Atau... kamu masih ingin terus berpura-pura menjadi istri lemah yang tidak tahu apa-apa?"
Wajah Elena tetap tenang. Bahkan, tatapannya terlihat seolah menerima tantangan.
"Kalau begitu, kita lihat saja nanti."
💖💖💖
nyogok biar dobel up🤭
huh benalu menyusahkan👊