Indonesia
NovelToon NovelToon
I Love You Mas Mayor Galak

I Love You Mas Mayor Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.

Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Bunga Kemuning di Dalam Ransel

BAB 6: Bunga Kemuning di Dalam Ransel

Hutan latihan di kawasan pegunungan itu diselimuti kabut tebal sejak dini hari.

Suhu udara berada di titik paling dingin, sementara pepohonan mahoni dan jati tua berdiri seperti benteng raksasa yang membisu.

Di tengah keheningan alam yang sunyi, Batalyon yang dipimpin Mayor Aris sedang menggelar tenda komando dan mempersiapkan posko latihan taktis untuk satu minggu ke depan.

Sebagai Komandan Batalyon, Mayor Aris berdiri tegap di tengah lapangan rumput yang basah oleh embun.

Seragam PDL-nya yang basah oleh sisa hujan semalam tak mengurangi sedikit pun ketegasannya.

Sejak fajar menyingsing, beliau sudah memeriksa kesiapan setiap prajurit, mengecek persenjataan, hingga memastikan strategi komunikasi antar-pos berjalan tanpa hambatan.

agi para prajurit, Mayor Aris adalah sosok pemimpin tanpa celah.

Beliau tidak pernah mengeluh, tidak pernah tampak lelah, dan selalu menjadi orang pertama yang bangun serta orang terakhir yang tidur. Namun, pagi ini, ada sesuatu yang sedikit berbeda dari biasanya.

"Izin, Komandan! Ransel tempur dan perlengkapan pribadi Komandan sudah ditata di dalam tenda utama," panggil Sertu Budi seraya memberikan hormat tegak lurus.

Mayor Aris menoleh, mengangguk singkat.

"Terima kasih, Sertu Budi. Kembali ke pos masing-masing dan pastikan tim komunikasi memeriksa gelombang radio setiap dua jam."

"Siap, Komandan!"

Setelah seluruh perwira dan prajurit membubarkan diri untuk melaksanakan tugas, Mayor Aris melangkah masuk ke dalam tenda komandonya.

Tenda kain tebal berwarna hijau tua itu diisi oleh sebuah meja lipat kayu, sebuah peta wilayah berukuran besar, dan tempat tidur lipat (beloved). Di sudut ruangan, ransel tempur besar milik Aris bersandar kaku.

Aris menghela napas panjang, melepaskan helm tempurnya, lalu duduk di tepi tempat tidur.

Bahunya yang tegap terasa agak pegal setelah mengomando pergerakan pasukan sejak malam tadi. Beliau meraih ransel tempurnya untuk mengambil sarung tangan cadangan dan handuk kecil.

Namun, saat Aris menarik ritsleting kompartemen depan ranselnya, dahinya langsung berkerut dalam.

Di antara tumpukan kaus kaki gulung dan senter militer, terdapat sebuah benda asing yang sangat tidak masuk akal berada di dalam ransel tempur seorang Komandan Batalyon.

Benda itu adalah sebuah kantong kain berwarna merah muda cerah berpita kuning, beraroma harum wangi bunga kemuning yang manis.

"Apa ini?" gumam Aris pelan pada dirinya sendiri.

Dengan alis yang bertaut erat, Aris menarik kantong kain itu keluar. Saat memegang kantong tersebut, beliau merasakan ada beberapa benda padat di dalamnya, beserta selembar kertas yang terlipat rapi menjadi bentuk pesawat terbang kertas.

Aris memijat pangkal hidungnya.

Beliau tidak perlu menjadi seorang detektif hebat untuk menebak siapa pelaku penyelundupan benda ajaib ini ke dalam ransel militernya.

Siapa lagi di dunia ini yang memiliki kenekatan setinggi langit dan kecenderungan menyukai warna merah muda kalau bukan gadis ceroboh dari rumah cat krem di ujung jalan itu?

Mayang.

Bagaimana bisa gadis itu menyusupkan benda ini ke dalam ranselnya?

Aris mengingat-ingat kejadian Sabtu sore kemarin, saat ia mendatangi rumah Mayang untuk mengembalikan kotak bekal.

Ketika Aris sedang berbicara dengan Mbak Rina di teras, ransel tempurnya memang sempat diletakkan sebentar di atas meja luar sebelum dimasukkan ke dalam mobil dinas.

Mayang pasti melancarkan aksi "gerilya" konyolnya di detik-detik tersebut tanpa ada seorang pun yang menyadari.

Dengan menghela napas pasrah, Aris membuka lipatan pesawat kertas kuning itu.

Tulisan tangan yang cakar ayam namun penuh semangat langsung menyapa pandangan matanya.

"Halo Mas Mayor Aris Ganteng yang Sedang Latihan di Hutan!

Kalau Mas Mayor membaca surat ini, artinya misi rahasia Mayang Si Tetangga Cantik telah berhasil 100 persen tanpa terdeteksi oleh radar Batalyon! Yeay!

Mayang tahu latihan di hutan itu pasti capek, dingin, banyak nyamuk, dan makanannya kaku-kaku.

Karena itu, Mayang menyelipkan sedikit 'pembekalan darurat' di dalam kantong merah muda ini:

Minyak angin aroma terapi rasa jeruk oleskan di leher kalau Mas Mayor mulai pusing menghadapi prajurit yang membandel.

Dua bungkus permen rasa jahe supaya tenggorokan Mas Mayor tetap hangat dan tidak serak saat berteriak memberi perintah.

Vitamin C—wajib diminum tiap pagi supaya Mas Mayor tidak tumbang!

Satu bungkus keripik pedas tingkat dewa kesukaan Mayang dimakan saat ronda malam biar tidak mengantuk!

Ingat pesan Mayang: Jangan galak-galak sama pohon dan nyamuk di hutan ya, Mas! Pulang latihan nanti harus tetap utuh, tetap ganteng, dan jangan sampai kurus!

Selamat berlatih, Pahlawanku! — Mayang (Calon Masa Depan yang Selalu Mendoakan)"

Mayor Aris terpaku membaca lembaran kertas tersebut.

Beliau membaca setiap kalimatnya dari awal hingga akhir, tidak cuma sekali, tapi dua kali.

Ruangan tenda yang tadinya terasa dingin dan kaku mendadak seperti diterpa angin hangat.

Raut wajah Aris yang biasanya keras dan dingin tanpa ekspresi perlahan-lahan melunak.

Tanpa bisa ditahan lagi, sudut-sudut bibir sang Komandan yang terkenal garang itu terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat tulus dan hangat.

Beliau merogoh isi kantong merah muda itu. Memang benar, di dalamnya ada botol minyak angin aroma terapi, permen jahe, strip vitamin, dan satu bungkus keripik pedas berbungkus merah mencolok.

"Dasar gadis aneh..." bisik Aris pelan, suara bass-nya terdengar begitu lembut di dalam tenda yang sepi. Beliau menggeleng-gelengkan kepala.

"Bagaimana bisa ada orang yang kepikirannya menyelipkan barang-barang seperti ini ke dalam ransel tempur?"

Aris mengambil botol minyak angin aroma terapi beraroma jeruk tersebut.

Beliau membuka tutupnya, melumuri sedikit cairan itu di telapak tangannya, lalu mengusapkannya perlahan ke leher dan pelipisnya.

Rasa hangat dan wangi jeruk yang segar seketika menyeruak, mengusir rasa lelah dan pusing yang menggelayut di kepalanya sejak semalam.

Aris bersandar di tiang tempat tidur lipatnya, menggenggam kertas memo berbentuk pesawat itu di tangannya.

Matanya menatap keluar pintu tenda yang terbuka sedikit, memperlihatkan pemandangan pepohonan hutan yang diselimuti kabut.

Selama bertahun-tahun menjalani kehidupan militer yang keras, Aris selalu terbiasa mandiri dan berdiri tegak sendiri.

Beliau dilatih untuk menjadi pelindung, menjadi benteng bagi anak buahnya, dan menjadi sosok yang selalu bisa diandalkan dalam kondisi seburuk apa pun.

Tidak pernah ada orang yang benar-benar memikirkan detail-detail kecil tentang kenyamanan pribadinya seperti rasa dingin di lehernya, tenggorokannya yang serak, atau rasa kantuknya di tengah malam.

Namun, gadis ceroboh berkacamata tebal yang hobi tersandung angin itu... mendadak masuk ke dalam hidupnya dan memperhatikan hal-hal kecil yang tidak pernah dipikirkan orang lain.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan di tiang kayu pintu tenda mengejutkan Aris dari lamunannya.

Beliau dengan cepat melipat kembali kertas memo kuning itu dan memasukkannya ke dalam saku dalam kemeja dinasnya tepat di atas dadanya. Kantong merah muda dan keripik pedasnya dengan sigap dimasukkan kembali ke dalam kompartemen ransel.

"Masuk," perintah Aris dengan suara yang seketika kembali tegas dan dingin.

Kapten Yoga, Perwira Seksi Operasi yang juga merupakan sahabat dekat Aris sejak di Akademi Militer, melangkah masuk membawa map laporan.

"Lapor, Komandan. Laporan kesiapan pos tiga dan pos empat sudah lengkap," ujar Kapten Yoga sambil menyerahkan dokumen tersebut.

"Bagus. Letakkan di meja," balas Aris singkat sambil membetulkan posisi duduknya.

Kapten Yoga meletakkan map itu, tetapi langkah kakinya terhenti.

Hidungnya mengembang, menghirup udara di dalam tenda komando yang terasa berbeda dari biasanya.

"Anu... Aris," panggil Yoga dengan nada yang lebih santai karena sedang berada di ruang pribadi sahabatnya.

"Kamu pakai minyak wangi apa? Kok tenda komando bau wangi jeruk segar begitu? Sejak kapan seorang Mayor Aris bawa minyak aroma terapi ke hutan latihan?"

Mayor Aris berdeham keras, berusaha mempertahankan raut wajahnya yang sekaku batu.

"Itu... minyak angin standar medis. Untuk menjaga stamina."

Kapten Yoga memicingkan mata curiga. Ia lalu melihat ujung kain merah muda yang sedikit menyembul dari ransel Aris.

"Tunggu dulu... itu kantong warna merah muda bukan? Jangan bilang..."

"Kembali ke tugasmu, Kapten Yoga!" potong Aris tegas dengan nada suara Komandan penuh wibawa yang tak bisa dibantah.

Yoga tersentak, lalu tertawa terkekeh-kekeh sambil memberikan hormat kaku.

"Siap, Komandan! Saya permisi dulu sebelum kena hukum push-up!"

Setelah Kapten Yoga keluar dari tenda sambil tertawa geli, Aris kembali sendirian. Beliau menyentuh saku dada kemeja dinasnya, meraba lipatan kertas memo kuning di dalam sana.

Aris mengambil satu butir permen jahe pemberian Mayang, membuka bungkusnya, dan memasukkannya ke dalam mulut. Rasa hangat manis yang menggelitik tenggorokan seketika menyebar.

"Satu minggu di hutan ini..." gumam Aris pelan sambil menatap bayangan pohon di luar, "...sepertinya akan terasa sangat lama."

Di dalam hatinya yang paling dalam, sang Komandan Galak harus mengakui satu kenyataan baru, ia mulai merindukan kehebohan gadis ceroboh itu.

Sementara itu, di tempat yang jauh dari hutan latihan, kehidupan Mayang berjalan seperti biasa namun terasa ada yang kurang.

Sore itu, Mayang duduk di teras rumahnya bersama Mbak Rina. Langkah-langkah sepatu boot yang biasanya terdengar melintas di jalan depan rumah setiap jam lima sore kini tidak ada.

Kompleks Batalyon terasa tenang, terlalu tenang untuk selera Mayang.

"Kenapa cemberut begitu dari tadi, Mayang?" tanya Mbak Rina sambil menyesap teh hangatnya.

"Biasanya jam segini kamu sudah heboh menyanyi atau main dengan kucing tetangga."

Mayang menyandarkan dagunya di atas kedua telapak tangan di meja rotan. Kacamata tebalnya agak meluncur turun di hidungnya.

"Mbak Rina... kompleks kita kok sepi banget ya?" ujar Mayang lemas.

"Ya sepi lah, kan seluruh pasukan dan Pak Mayor sedang latihan di hutan selama seminggu," jawab Mbak Rina santai.

"Bukannya bagus? Kamu jadi tidak usah pusing takut tersandung di depan gerbang lagi."

"Justru itu masalahnya, Mbak!" seru Mayang sambil menepuk meja.

"Tidak ada Mas Mayor Aris yang bisa aku goda! Tidak ada yang mukanya mendadak merah kalau aku panggil ganteng! Sepi banget dunianya Mayang!"

Mbak Rina tertawa terpingkal-pingkal melihat adiknya yang mati gaya.

"Dua hari ditinggal latihan saja kamu sudah cacingan begitu. Bagaimana kalau nanti Pak Mayor ditugaskan ke perbatasan selama setahun?"

Mayang melotot kaget.

"Setahun?! Wah, tidak bisa! Mayang harus ikut menyusup ke dalam kontainer logistik kalau begitu!"

"Ngawur kamu ini," kekeh Mbak Rina menggeleng-gelengkan kepala.

"Sudah, sana masuk. Bantu Mbak menyiapkan bumbu makan malam."

Mayang bangkit dari kursinya dengan langkah gontai.

Sebelum masuk ke dalam rumah, ia menyempatkan diri menatap ke arah tiang bendera di dalam markas yang terlihat dari kejauhan.

"Mas Mayor Aris..." gumam Mayang dengan senyum tipis di bibirnya.

"Semoga minyak angin dan permen jaheku dipakai ya. Awas saja kalau sampai hilang, nanti kalau pulang tak tagih pakai bunganya!"

Di tengah heningnya malam yang pelan-pelan merayap turun, dua hati yang terpisah oleh jarak hutan dan kota mulai menyadari bahwa benih-benih perasaan aneh namun manis itu telah tertanam makin dalam.

Perjalanan takdir mereka baru saja memulai babak yang lebih hangat.

1
pena putih
seru banget ditunggu updatenya ya
pena putih
Yuk mampir👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!