Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 5, TIGA JALAN MENUJU TAKDIR.
Hujan turun deras selama tiga hari berturut-turut, mengubah jalan tanah menjadi lumpur cokelat yang lengket dan dalam, seolah bumi sendiri sedang menangis. Di bawah atap gubuk yang bocor, tetesan air jatuh berirama ke lantai tanah, membentuk genangan kecil yang perlahan melebar. Zhoo duduk melingkari lutut di sudut paling kering, matanya mengikuti setiap tetes, seolah di dalamnya tertulis jawaban atas semua pertanyaan yang menghantui pikirannya sejak ia masih kecil.
Usianya baru tujuh belas tahun, namun kulit tangannya sudah kasar dan penuh kapalan, bekas memegang kapak dan cangkul dari fajar hingga senja. Wajahnya belum penuh garis-garis waktu, tapi matanya—mata berwarna cokelat tua seperti tanah yang subur—menyimpan pandangan seseorang yang telah melihat terlalu banyak kesedihan, terlalu banyak ketidakadilan, dan terlalu banyak orang pergi tanpa pernah kembali.
Pintu gubuk terbuka dengan kasar, angin basah menerobos masuk membawa bau tanah basah dan pinus. Seorang pemuda berdiri di ambang pintu—badan tegap dan berotot, rambut keriting berwarna cokelat keemasan menempel di dahi, di punggungnya tergantung palu besar yang gagangnya terbuat dari kayu ek tua. Itu Arvin, sahabat Zhoo sejak mereka masih belajar berjalan bersama di jalanan tanah desa.
“Kau masih di sini, dalam kegelapan?” Arvin mengibaskan air dari jubah wolnya, lalu mendekat, suaranya penuh semangat yang belum pernah dipadamkan oleh kehidupan yang keras. “Seluruh desa sedang berbicara tentang pengumuman Raja Vereon. Pembawa pesan datang kemarin dengan zirah berkilauan dan suara menggelegar: setiap pemuda berusia enam belas hingga tiga puluh tahun wajib mendaftar di pusat kota dalam sepuluh hari. Siapa pun yang membawa kepala musuh dari kerajaan lain akan menerima sebidang tanah, rumah batu, dan gelar bangsawan. Bayangkan, Zhoo—kita bisa keluar dari gubuk ini. Kita tidak perlu lagi lapar saat musim dingin tiba.”
Zhoo tersenyum tipis, senyum yang menyentuh bibir namun berhenti jauh sebelum sampai ke matanya. Ia meraih cangkir tanah liat berisi air hangat, memutarnya perlahan di tangan. “Dan berapa banyak anak laki-laki yang akan mati demi sepetak tanah yang tidak akan sempat mereka tinggali? Berapa banyak ibu yang akan menunggu di pintu seperti ibuku dulu, menunggu putra yang tidak akan pernah pulang?”
Arvin duduk di hadapannya, mencondongkan tubuh ke depan, suaranya melembut namun penuh desakan. “Aku tahu kau membenci perang. Aku juga tidak menyukainya. Tapi lihatlah kenyataan, Zhoo—di sini kita tidak punya masa depan. Ayahku adalah pandai besi terbaik di desa ini, dan seumur hidupnya ia hanya cukup makan dan membayar pajak. Kita bekerja dari matahari terbit hingga terbenam, dan tetap saja kadang perut kita kosong. Ini satu-satunya pintu yang terbuka untuk orang seperti kita—bukan bangsawan, bukan keturunan ksatria, hanya anak-anak dari tanah.”
“Jika pintu itu terbuka hanya dengan menginjak mayat orang lain, maka itu bukan pintu menuju masa depan, itu jalan menuju neraka,” jawab Zhoo tenang namun tegas. Ia menunjuk ke luar jendela, ke arah pegunungan tinggi yang menyembunyikan puncaknya di balik awan hitam. “Dunia di sana lebih besar dari tujuh kerajaan dan lebih tua dari semua raja yang pernah duduk di atas singgasana. Mengapa kita harus membaginya dan saling membunuh hanya karena raja-raja berkata begitu?”
Arvin menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke dinding tanah. “Kau selalu bertanya hal-hal yang tidak boleh ditanyakan. Orang-orang tua bilang terlalu banyak bertanya akan membuat dewa marah.”
“Orang-orang tua juga bilang bumi ini datar, padahal pelaut tahu itu tidak benar,” balas Zhoo pelan.
Mereka berdebat hingga malam larut, api unggun di tengah ruangan perlahan mengecil menjadi bara yang berpijar, sementara di luar hujan terus mengguyur bumi. Mereka berdebat seperti dua sisi dari mata uang—satu melihat dunia sebagaimana adanya, penuh kekerasan dan kebutuhan; yang lain membayangkan dunia sebagaimana seharusnya, penuh keadilan dan kemungkinan. Namun di atas semua perbedaan itu, ada ikatan yang tidak bisa dipisahkan oleh argumen apa pun: mereka tumbuh bersama, berbagi roti terakhir saat salah satu sakit, tidur di bawah selimut yang sama saat musim dingin paling dingin. Darah persahabatan lebih kental daripada logika apa pun.
Ketika fajar menyingsing, cahaya kelabu menembus celah-celah dinding gubuk, Arvin berdiri. Ia melepas palu dari punggung dan menyodorkan sebilah pedang yang baru saja ia tempa selama berminggu-minggu—baja hitam yang dilipat berkali-kali hingga sekuat tulang naga, gagangnya terbuat dari kayu pohon yang tumbuh di puncak gunung, dan di bilahnya terukir garis halus seperti aliran sungai.
“Aku pergi,” kata Arvin, suaranya bergetar sedikit. “Aku akan mendaftar di pasukan Raja Vereon. Aku akan menjadi ksatria, dan jika aku berhasil, aku akan kembali. Aku akan membangun rumah batu untukmu juga, dan kita tidak akan pernah lagi menderita. Tapi kau…” ia meletakkan pedang itu di tangan Zhoo, jari-jarinya menyentuh jari sahabatnya sejenak, “jika kau berubah pikiran, carilah aku di benteng utama Ironhold. Jangan biarkan dunia ini menelanmu utuh, Zhoo. Kau terlalu baik untuk dunia yang keras ini, tapi kau juga terlalu kuat untuk dihancurkannya.”
Zhoo menerima pedang itu, merasakan dinginnya logam yang perlahan menghangat di genggamannya. Ia melihat wajah Arvin—wajah sahabatnya yang penuh harap dan ketakutan sekaligus. “Semoga angin selalu membelaimu, Arvin. Semoga pedang ini tidak pernah terangkat ke arah orang yang tidak bersalah. Tapi ingatlah ini: kekuasaan yang diraih dengan darah pada akhirnya akan menelan si pemiliknya.”
Arvin mengangguk, tidak mampu berbicara lagi, lalu berbalik dan melangkah keluar dari gubuk itu. Zhoo berdiri di ambang pintu, menatap punggung sahabatnya yang semakin mengecil di jalan setapak yang berlumuran lumpur, hingga kabut pagi menutupinya sepenuhnya. Di dalam hatinya, ia merasakan retakan pertama—sebuah perasaan dalam dan dingin bahwa perpisahan ini bukanlah untuk sehari atau dua hari, melainkan untuk tahun-tahun yang akan mengubah mereka berdua menjadi orang yang hampir tidak saling mengenal lagi.
Tiga hari berlalu dalam keheningan yang berat. Zhoo mencoba kembali ke rutinitas lamanya—memotong kayu di tepi hutan, menjualnya di pasar desa—tapi setiap kali ia mengangkat kapak, ia melihat bayangan Arvin dengan zirah ksatria. Setiap kali ia berjalan melewati rumah pandai besi, ia mendengar suara palu yang tidak lagi terdengar.
Pada sore keempat, saat matahari mulai terbenam dan mewarnai langit dengan warna merah darah dan emas, Zhoo mendengar suara rintihan dari balik semak-semak di tepi sungai. Ia berlari mendekat dan menemukan seorang pemuda terbaring di atas daun-daun lembap, kakinya terluka parah—panah berkarat masih menancap di betisnya—dan jubah biru tua yang ia kenakan penuh dengan sulaman bintang-bintang yang samar, lambang para penasihat kerajaan Kerajaan Airis. Wajahnya pucat seperti kertas, keringat dingin membasahi dahinya, namun matanya tetap terbuka, waspada dan cerdas.
“Jangan mendekat…” desis pemuda itu, tangannya gemetar meraih belati di sampingnya, namun terlalu lemah untuk mengangkatnya setinggi dada. “Aku punya belati, dan aku tidak takut menggunakannya.”
Zhoo berhenti melangkah, mengangkat kedua tangannya setinggi bahu, telapak tangan terbuka tanda tidak berbahaya. “Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya sedang mengambil air. Biarkan aku membantumu, atau kau akan mati sebelum matahari terbenam.”
Pemuda itu—yang bernama Kael—menatapnya lama, mencoba membaca kebohongan di mata pemuda desa itu. Namun yang ia temukan hanyalah kejujuran yang menyakitkan. Perlahan, tangannya merosot jatuh ke tanah. “Orang-orang Raja Vereon mengejarku. Aku menemukan salinan perjanjian rahasia—mereka bersekutu dengan bangsawan Solares untuk menyerang Airis dan Lythandar secara bersamaan. Mereka ingin membagi benua Est di antara mereka sebelum musim dingin berikutnya tiba. Sekarang mereka ingin kepalaku agar rahasia itu tetap tersembunyi.”
Zhoo berlutut di sampingnya, merobek bagian bawah bajunya, lalu dengan hati-hati dan cepat menarik panah itu keluar. Kael meraung kesakitan, mencengkeram lengan Zhoo hingga kuku menancap ke kulit. “Mengapa kau melakukan ini? Kau tidak mengenalku. Jika mereka menemukanmu bersamaku, kau juga akan mati.”
“Karena seseorang harus mulai memutus rantai kebencian ini dari suatu tempat,” jawab Zhoo pelan sambil membalut luka itu erat. “Jika semua orang hanya melihat dan diam, maka kejahatan akan tumbuh sekuat pohon tua.”
Kael tinggal di gubuk Zhoo selama dua minggu. Selama siang hari, Zhoo pergi mencari makanan dan air, sementara Kael beristirahat dan memulihkan kekuatannya. Namun di malam hari, saat api unggun menyala lemah dan angin berdesir di antara pepohonan, Kael mengajari Zhoo hal-hal yang tidak pernah diajarkan di desa mana pun. Ia menggambar peta tujuh kerajaan di atas kulit rusa, menunjuk setiap sungai, gunung, dan benteng, lalu menceritakan sejarahnya—bukan sejarah raja-raja dan pertempuran seperti yang tertulis di buku, tapi sejarah rakyatnya: bagaimana Kerajaan Oseas tumbuh kuat karena nelayan-nelayan yang berani, bagaimana Airis pernah menjadi tempat di mana ilmu pengetahuan berkembang bebas, bagaimana Norvath bertahan hidup di tanah yang membeku bukan dengan pedang, tapi dengan persaudaraan.
“Kekuatan terbesar bukanlah pada otot lengan atau ketajaman pedang,” kata Kael sambil menunjuk garis perbatasan di peta. “Melainkan pada pemahaman bagaimana dunia terhubung satu sama lain. Jika kau tahu di mana tali diikat, kau bisa menggerakkan gunung hanya dengan satu tarikan. Tapi jika kau menarik tanpa tahu ke mana tali itu terhubung, kau hanya akan menghancurkan dirimu sendiri.”
Zhoo mendengarkan dengan penuh perhatian, setiap kata membuka jendela baru di pikirannya. Ia mulai melihat benua Est bukan sebagai tanah dan batu yang terpisah oleh garis-garis buatan, melainkan sebagai tubuh yang utuh—jika satu bagian terluka, seluruh tubuh akan menderita.
Ketika luka Kael hampir sembuh, ia berkata pada Zhoo di suatu malam yang cerah, di bawah langit penuh bintang: “Ikutlah bersamaku ke Lythandar. Para penjaga hutan purba menyimpan pengetahuan yang lebih tua dari tujuh kerajaan. Jika kita ingin menghentikan perang sebelum seluruh benua terbakar, kita butuh sekutu yang memahami bahwa perdamaian lebih berharga daripada wilayah. Kau memiliki sesuatu yang tidak dimiliki raja mana pun, Zhoo—kau memahami rakyat. Tapi kau butuh pengetahuan agar pemahaman itu bisa menjadi kekuatan.”
Zhoo menatap ke arah pedang pemberian Arvin yang tergantung di dinding gubuk, lalu ke arah jalan setapak yang menghilang ke dalam kegelapan. “Arvin pergi mencari kekuatan dengan pedang. Kau pergi mencari kekuatan dengan pengetahuan. Dan aku… aku belum tahu apa yang kucari. Tapi aku tahu aku tidak bisa tetap di sini, menunggu api datang membakar gubuk ini tanpa mencoba melawannya.”
Maka pada pagi yang cerah, dengan sebilah pedang di pinggang, seikat pakaian sederhana, dan peta yang digambar di atas kulit rusa di dalam tas kain, Zhoo melangkah keluar dari desa yang membesarkannya. Ia tidak menoleh ke belakang, bukan karena tidak rindu, tapi karena ia tahu jika ia menoleh, kakinya mungkin tidak akan sanggup melangkah ke depan. Di hadapannya terbentang benua Est yang luas dan berbahaya, penuh pedang dan kebohongan, namun juga penuh kemungkinan yang belum pernah ada sebelumnya.