Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.
Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.
Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap Maut di Lembah Serigala
Gumpalan debu kelabu membubung tinggi ke langit, berbaur dengan pekatnya kabut dingin yang menyelimuti Lembah Serigala. Tempat ini merupakan jalur sempit yang diapit oleh dua dinding tebing batu raksasa yang curam di perbatasan utara Kekaisaran Han. Dinamakan Lembah Serigala karena angin malam yang berembus melewati celah tebing selalu mengeluarkan suara lolongan yang mengerikan—seolah-olah mengisyaratkan bahwa siapa pun yang masuk ke tempat ini akan menjadi mangsa bagi dewa kematian.
Dari kejauhan, derap langkah ratusan ribu kaki kuda berzirah besi milik pasukan Kekaisaran Zhao terdengar seperti gempa bumi yang meruntuhkan bebatuan bukit. Seratus ribu prajurit kavaleri besi Zhao bergerak dengan formasi tombak yang masif, dipimpin oleh Panglima Tuoba, seorang jenderal bertubuh raksasa yang terkenal kejam di wilayah utara.
"Hahaha! Maju terus! Kerajaan Han sedang lumpuh setelah kudeta internal mereka!" teriak Panglima Tuoba sembari mengayunkan gada besi raksasanya di atas kuda perang. "Perdana Menteri Shen telah memberikan seluruh rute pasokan mereka. Sebelum matahari terbenam, kita akan menjarah istana ibu kota dan menggantung kepala maharani baru mereka di gerbang kota!"
Namun, saat barisan depan kavaleri Zhao sepenuhnya memasuki titik terdalam Lembah Serigala, derap langkah mereka mendadak terhenti.
Di ujung jalan keluar lembah yang sempit, berdiri sesosok wanita yang menghentikan laju mereka sendirian. Shen Xianle berdiri tegak di atas sebuah batu besar dengan baju zirah panglima berwarna hitam legam. Jubah merah darahnya berkibar megah ditiup angin gurun, sementara sepasang mata jernihnya menatap lautan pasukan musuh dengan ketenangan yang luar biasa mengerikan. Di tangan kanannya, ia memegang sebilah pedang panjang yang memancarkan pendaran cahaya perak yang tajam.
"Hanya seorang wanita?" Panglima Tuoba menghentikan kudanya, lalu tertawa terbahak-bahak hingga suaranya menggema di dinding tebing. "Apakah Kerajaan Han sudah kehabisan pria hingga mengirim seorang gadis cantik untuk menjemput ajal di hadapan pasukanku?!"
Xianle tidak membalas provokasi tersebut dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat pedangnya tinggi-tihi ke udara, lalu mengayunkannya ke bawah dalam satu gerakan cepat.
BOOOMMMM!
Tepat setelah gerakan pedang Xianle, suara ledakan dahsyat beruntun mengguncang puncak tebing di sisi kiri dan kanan lembah. Ribuan batu raksasa dan batang pohon pinus yang telah disiapkan sejak malam oleh Pasukan Bayangan Long Junwei menggelinding turun dengan kecepatan tinggi, menghantam barisan kavaleri besi Zhao yang terjebak di jalur sempit tersebut.
"Argh! Jebakan! Ada musuh di atas tebing!" teriakan panik seketika meledak di antara prajurit Zhao.
Batu-batu besar itu menghancurkan zirah besi mereka dengan mudah, membuat kuda-kuda perang panik dan saling menginjak satu sama lain dalam kekacauan total. Formasi seratus ribu pasukan kavaleri yang semula perkasa kini terjepit di dalam perangkap maut alam, tidak bisa maju maupun mundur karena sempitnya jalur lembah.
DUUUMMMM! DUUUMMMM!
Genderang perang Barak Barat bersahut-sahut dari balik perbukitan. Jenderal Lu dan Jenderal Zhao memimpin empat puluh ribu prajurit kavaleri ringan Han yang telah menunggu di titik-titik strategis. Mereka melompat keluar dengan panji magnolia merah darah yang berkibar, langsung menerjang sisa-sisa pasukan Zhao yang sedang kalang kabut.
Di saat yang sama, Long Junwei muncul dari balik kabut debu di samping Xianle. Pangeran Bayangan itu bergerak seperti kilat, pedang kunonya memancarkan pendaran biru keperakan yang mistis. Setiap tebasan pedang Junwei merobek leher para perwira Zhao sebelum mereka sempat menyusun kembali formasi mereka.
Xianle sendiri melompat turun dari batu besar, langsung membelah kerumunan prajurit musuh. Belatunya bergerak dengan presisi yang mematikan; ia menggunakan teknik Langkah Bayangan Tanpa Jejak untuk menyelinap di antara celah zirah berat musuh, menembus titik-titik vital mereka tanpa ragu.
Panglima Tuoba yang melihat pasukannya dibantai dalam sekejap mata menjadi murka. Ia memacu kuda perangnya menerjang ke arah Xianle, mengangkat gada besi raksasanya dengan kekuatan penuh. "Jalang! Aku akan menghancurkan kepalamu!"
Xianle tidak menghindar. Ia menanti kedatangan sang panglima raksasa dengan mata yang fokus dan dingin. Saat gada besi itu berjarak satu inci dari wajahnya, Xianle memutar tubuhnya dengan kelenturan yang luar biasa, membiarkan senjata berat itu menghantam tanah kosong hingga menimbulkan retakan besar.
Menggunakan momentum jatuhnya gada tersebut, Xianle melompat ke atas lengan kekar Panglima Tuoba, berlari dengan cepat di atas zirahnya sebelum sang panglima sempat menarik kembali senjatanya. Dalam satu gerakan yang halus namun mematikan, belati perak Xianle melesat maju, menyayat urat leher Panglima Tuoba dengan presisi mutlak.
Sret.
Darah segar menyembur keluar, mengotori jubah merah Xianle. Tubuh raksasa Panglima Tuoba terjerembab jatuh dari kudanya, mati seketika di atas tanah berlumpur Lembah Serigala.
Melihat panglima tertinggi mereka tewas dalam hitungan menit, sisa-sisa pasukan kavaleri besi Kekaisaran Zhao kehilangan seluruh moral bertarung mereka. Mereka menjatuhkan senjata mereka dan berlutut menyerah di bawah kepungan panji magnolia merah darah.
Pertempuran di Lembah Serigala berakhir dengan kemenangan mutlak bagi Dinasti Magnolia Baru. Strategi brilian Xianle yang memanfaatkan topografi alam dan serangan kejutan terbukti mampu menghancurkan pasukan musuh yang jumlahnya jauh lebih besar.
Long Junwei melangkah mendekati Xianle yang sedang menyeka darah dari belatinya menggunakan kain rami. "Kau telah memenangkan pertempuran pertamamu sebagai seorang Maharani, Xianle."
Xianle mendongak, menatap hamparan medan perang yang dipenuhi jasad pasukan musuh. "Ini baru kemenangan awal, Junwei. Kekaisaran Zhao tidak akan tinggal diam setelah kehilangan seratus ribu pasukan mereka. Perang yang sesungguhnya baru saja diumumkan di bawah langit.