Sinopsis
Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.
Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.
Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.
Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.
Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.
Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26
Gadis Geng Motor Adalah Istriku
Bab 26 — Kebenaran yang Menghancurkan
Suara benturan dari luar rumah semakin keras.
Teriakan para anggota geng motor terdengar bersahutan.
Suara mesin motor meraung di halaman, bercampur dengan suara benda-benda yang berjatuhan.
Namun Clara tidak lagi memedulikan semua itu.
Pikirannya hanya tertuju pada satu hal.
Ibunya masih hidup.
Tujuh belas tahun.
Selama tujuh belas tahun Clara percaya bahwa ibunya telah meninggal.
Ia tumbuh dengan sebuah lubang besar dalam hidupnya.
Ia tidak pernah lagi mendengar suara ibunya.
Tidak pernah merasakan pelukan wanita yang melahirkannya.
Tidak pernah mendapatkan jawaban mengapa keluarganya begitu tertutup mengenai masa lalu.
Dan sekarang…
Seseorang mengatakan bahwa wanita itu masih hidup.
Clara menatap foto yang diberikan Gabriel.
Tangannya gemetar.
“Paman…”
Gabriel menatapnya.
“Apa?”
“Di mana Ibu?”
Gabriel terdiam.
Clara melangkah mendekat.
“Jawab aku.”
“Aku tidak tahu lokasi pastinya.”
Clara langsung tersulut emosi.
“Tidak tahu?”
“Aku hanya pernah melihatnya tiga tahun lalu.”
“Kalau Paman pernah melihatnya, kenapa Paman tidak membawanya pulang?”
Gabriel menghela napas.
“Karena dia tidak mau pulang.”
Clara membeku.
“Tidak mau?”
Gabriel mengangguk.
“Dia memilih pergi.”
Clara tertawa kecil.
Namun tawa itu terdengar getir.
“Jadi Ibu masih hidup…”
Air matanya jatuh.
“…tetapi memilih meninggalkan kami?”
Amara langsung menangis.
“Clara, jangan berpikir seperti itu.”
Clara menoleh tajam.
“Lalu aku harus berpikir bagaimana, Mami?”
Amara terdiam.
“Selama ini aku menangisi orang yang ternyata masih hidup.”
Suaranya bergetar.
“Aku mengira aku kehilangan seorang ibu.”
Clara menunjuk foto tersebut.
“Ternyata dia hanya memilih untuk tidak kembali.”
“Tidak!”
Adrian langsung membantah.
“Ibumu tidak pernah meninggalkan kalian karena tidak mencintai kalian.”
Clara menatap ayahnya.
“Kalau begitu kenapa?”
Adrian terdiam.
“Kenapa Ibu membiarkan kami tumbuh tanpa dirinya?”
Tidak ada jawaban.
Clara semakin marah.
“Kenapa?”
Amara menutup wajahnya.
Adrian hanya mampu menundukkan kepala.
Clara merasa semakin kecewa.
Bukan hanya kepada ibunya.
Tetapi kepada semua orang.
Semua orang tahu.
Semua orang menyimpan rahasia.
Dan dirinya selalu menjadi orang terakhir yang mengetahui semuanya.
Fedro mendekat.
“Clara…”
Clara segera menghapus air matanya.
“Aku tidak apa-apa.”
Fedro menatapnya.
“Kamu tidak harus selalu terlihat kuat.”
“Aku tidak sedang mencoba terlihat kuat.”
Clara menatap suaminya.
“Aku hanya sudah terlalu lelah menangis karena kebohongan keluarga ini.”
Fedro menggenggam tangannya.
“Kita akan mencari jawabannya.”
Clara menatap Fedro.
“Kamu berjanji?”
“Ya.”
“Aku tidak peduli seberapa buruk kebenarannya.”
Clara mengepalkan tangannya.
“Aku ingin tahu semuanya.”
Tiba-tiba suara keras terdengar dari luar.
BRAK!
Pintu depan kembali dihantam.
Raka berteriak,
“Fedro!”
“Ada apa?”
“Mereka hampir masuk!”
Fedro langsung menoleh.
“Kita harus memindahkan semua orang ke ruang bawah tanah.”
Adrian menggeleng.
“Tidak.”
Raka menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena ruang bawah tanah terhubung dengan ruang penyimpanan lama.”
Clara langsung teringat sesuatu.
“E-17?”
Adrian terdiam.
Clara menatap ayahnya.
“Papi menyembunyikan sesuatu di bawah rumah ini?”
Adrian menghela napas.
“Bukan menyembunyikan.”
“Lalu?”
“Melindungi.”
Clara semakin kesal.
“Semua orang selalu menggunakan kata itu!”
Ia menunjuk rumah mereka.
“Melindungi Aria.”
“Melindungi Alena.”
“Melindungi aku.”
“Melindungi E-17.”
“Lalu siapa yang melindungiku dari semua kebohongan kalian?”
Ruangan sunyi.
Tidak ada yang mampu menjawab.
Aria menatap Clara dengan mata berkaca-kaca.
“Kak…”
Clara menoleh.
“Aku mengerti perasaanmu.”
Aria tersenyum sedih.
“Karena aku juga pernah merasa dibuang.”
Clara terdiam.
Aria menggenggam tangannya.
“Tapi sekarang kita tahu satu hal.”
“Apa?”
“Kita bertiga tidak boleh saling menyalahkan.”
Alena mengangguk.
“Aria benar.”
Clara menatap kedua saudarinya.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, tidak ada rasa curiga di antara mereka.
Hanya luka yang sama.
Tiga anak perempuan yang dipisahkan oleh rahasia orang dewasa.
Namun sebelum Clara sempat berkata apa pun—
Pintu depan akhirnya jebol.
Suara teriakan terdengar.
“MASUK!”
Beberapa anggota Black Viper berlari masuk.
Raka langsung menghadang.
Rafael menyusul.
Fedro menarik Clara menjauh dari kerumunan.
“Clara, ke belakang!”
“Aku bisa membantu!”
“Aku tahu.”
Fedro menatapnya.
“Tapi aku tidak ingin mengambil risiko.”
Clara mengangguk.
Sementara Raka dan Rafael berusaha menghalangi para penyusup.
Namun jumlah mereka terlalu banyak.
Satu per satu anggota keluarga mulai mundur.
“Raka!”
Rafael berteriak.
“Aku tahu!”
Raka menarik napas.
“Kita tidak akan mampu bertahan lama!”
Tiba-tiba suara motor terdengar dari luar.
Reno.
Kelompoknya datang membantu.
“Serang!”
Suasana kembali kacau.
Clara melihat Reno berlari masuk bersama beberapa anggota geng motor.
“Reno!”
Reno tersenyum.
“Kalian masih belum pergi?”
Clara menggeleng.
“Belum.”
“Kalau begitu cepat cari jalan keluar!”
Reno kembali menghadang beberapa anggota Black Viper.
Clara menatap Fedro.
“Kita harus menemukan ruang aman.”
Fedro mengangguk.
Namun tiba-tiba Aria memegang kepalanya.
“Aduh…”
Clara langsung mendekat.
“Aria?”
“Aku melihat sesuatu.”
“Apa?”
“Lorong.”
Aria memejamkan mata.
“Di balik perpustakaan.”
Clara menatap Adrian.
“Papi.”
Adrian mengangguk.
“Benar.”
Mereka segera bergerak menuju perpustakaan.
Adrian menekan sebuah bagian rak buku.
Klik.
Rak perlahan bergeser.
Sebuah lorong gelap muncul.
Clara membelalak.
“Selama ini ada ruangan di balik sini?”
Adrian mengangguk.
“Ini adalah jalan menuju ruang perlindungan keluarga.”
Mereka masuk.
Fedro berada paling belakang.
Namun saat Clara hendak masuk, seseorang menarik lengannya.
Clara terkejut.
Rafael.
“Clara, tunggu.”
Fedro langsung berbalik.
“Lepaskan dia.”
Rafael mengangkat tangannya.
“Aku hanya ingin bicara.”
Clara menatapnya.
“Bicara tentang apa?”
Rafael terlihat sangat serius.
“Foto yang kalian lihat tadi.”
“Foto ibuku?”
Rafael mengangguk.
“Aku pernah melihat wanita itu.”
Clara membeku.
“Kapan?”
“Beberapa tahun lalu.”
“Di mana?”
Rafael menelan ludah.
“Di rumah Damian.”
Clara langsung menegang.
“Apa?”
Fedro menatap Rafael tajam.
“Kamu yakin?”
“Ya.”
Rafael mengangguk.
“Aku melihat Damian berbicara dengan seorang wanita.”
“Siapa?”
Rafael menatap Clara.
“Aku tidak tahu namanya.”
“Apakah wajahnya seperti di foto?”
“Ya.”
Clara merasa dadanya sesak.
“Jadi Ibu bekerja sama dengan Damian?”
Rafael menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Namun sebelum mereka melanjutkan—
Terdengar suara langkah kaki.
Semua menoleh.
Gabriel berdiri di ujung lorong.
“Jangan percaya Rafael.”
Rafael langsung menatapnya.
“Kenapa?”
Gabriel berjalan mendekat.
“Karena dia sudah pernah bertemu wanita itu lebih dari sekali.”
Clara membeku.
Rafael terdiam.
“Gabriel,” kata Rafael dingin.
“Kau tahu terlalu banyak.”
Clara menatap keduanya.
“Paman…”
Gabriel menatap Rafael.
“Katakan kepada mereka.”
Rafael mengepalkan tangannya.
“Katakan apa?”
“Bahwa kau memang pernah bekerja untuk Damian.”
Clara langsung menatap Rafael.
“Apa?”
Rafael menggeleng.
“Itu tidak benar.”
Gabriel tertawa kecil.
“Masih ingin berbohong?”
Clara mundur selangkah.
“Rafael…”
Rafael memandang Clara.
“Aku memang pernah bertemu Damian.”
“Kenapa?”
“Karena aku menyelidikinya.”
“Sendirian?”
“Ya.”
Clara menatapnya dengan kecewa.
“Kenapa tidak memberitahuku?”
“Aku tidak ingin membuatmu menjadi target.”
Clara tertawa pahit.
“Lagi-lagi alasan melindungiku.”
Rafael terdiam.
Clara menggeleng.
“Aku sudah muak dengan alasan itu.”
Rafael tampak terpukul.
“Aku tidak pernah mengkhianatimu.”
“Buktikan.”
Rafael terdiam.
“Buktikan bahwa kamu tidak bekerja untuk Damian.”
“Aku bisa.”
Namun Gabriel tiba-tiba berkata,
“Tidak perlu.”
Ia mengangkat sebuah ponsel.
“Karena aku memiliki bukti.”
Ia memutar sebuah rekaman.
Suara Rafael terdengar.
“Aku sudah mendapatkan informasi tentang Clara.”
Kemudian suara Damian.
“Bagus.”
Clara membeku.
Rafael langsung pucat.
“Itu bukan keseluruhan percakapannya.”
Clara menatapnya.
“Lalu bagian lainnya?”
Rafael tidak mampu menjawab.
Fedro berdiri di depan Clara.
“Cukup.”
Rafael menatap Fedro.
“Aku tidak mengkhianati kalian.”
Fedro menjawab dingin.
“Untuk sekarang, aku tidak tahu harus mempercayai siapa.”
Rafael menundukkan kepala.
Clara merasa hatinya sakit.
Rafael adalah salah satu orang yang selama ini ia percaya.
Namun sekarang semuanya terlihat berbeda.
Aria menggenggam tangan Clara.
“Jangan biarkan mereka membuat kita saling curiga.”
Clara mengangguk.
Namun kemudian Gabriel berkata,
“Justru itulah yang harus kalian lakukan.”
Clara menatapnya.
“Apa?”
“Curigai semua orang.”
Gabriel menunjuk satu per satu.
“Karena pengkhianat sebenarnya belum terungkap.”
Clara mengerutkan kening.
“Bukankah Paman tahu siapa dia?”
Gabriel terdiam.
Clara semakin mendekat.
“Paman tahu sesuatu.”
Gabriel tidak menjawab.
“Paman!”
Akhirnya Gabriel berkata,
“Orang yang mengendalikan semua ini adalah seseorang yang sudah berada di sekitar keluarga kalian sejak sebelum kalian lahir.”
Clara menatap Adrian.
Adrian terlihat pucat.
“Siapa?”
Gabriel menghela napas.
“Dia bukan Leonard.”
“Bukan Damian.”
“Bukan Rafael.”
Clara menunggu.
Gabriel menatapnya.
“Orang itu…”
Tiba-tiba suara tembakan terdengar dari luar.
Dor!
Semua terkejut.
Lampu lorong mati.
Dalam kegelapan, seseorang berlari melewati mereka.
“Siapa?!”
Clara berteriak.
Tidak ada jawaban.
Lampu darurat menyala.
Aria langsung menjerit.
“Alena!”
Alena tidak ada.
Clara membelalak.
“Kak Alena?”
Tidak ada jawaban.
Fedro segera berbalik.
“Dia tadi di belakang kita.”
Raka yang baru masuk berteriak,
“Alena dibawa seseorang!”
Clara langsung berlari keluar.
“Ke mana?”
Raka menunjuk lorong belakang.
“Ada pintu keluar.”
Clara mengejar.
Fedro menyusul.
Raka dan Rafael ikut berlari.
Namun ketika mereka sampai di halaman belakang, sebuah mobil hitam sudah melaju menjauh.
Clara berdiri terpaku.
“ALENA!”
Mobil itu menghilang di ujung jalan.
Clara hampir mengejar, tetapi Fedro menahannya.
“Jangan!”
“Lepaskan aku!”
“Clara!”
“Itu kakakku!”
“Aku tahu!”
Fedro memegang kedua bahunya.
“Kita akan menemukan dia.”
Clara menangis.
“Kenapa selalu seperti ini?”
Tidak ada jawaban.
Kemudian ponsel Clara berdering.
Nomor tidak dikenal.
Ia mengangkatnya.
“Halo?”
Suara wanita terdengar.
Lembut.
Tenang.
Namun sangat familiar.
“Clara.”
Tubuh Clara membeku.
Ia mengenal suara itu.
Tidak mungkin.
Air matanya semakin deras.
“Ibu?”
Semua orang terdiam.
Suara di seberang tertawa pelan.
“Sudah lama sekali.”
Clara menutup mulut.
“Ibu benar-benar masih hidup?”
“Ya.”
“Di mana Ibu?”
“Jangan mencariku.”
Clara menangis.
“Kenapa?”
“Karena aku tidak ingin kalian terluka.”
Clara mengepalkan tangannya.
“Kalau begitu kenapa mengambil Alena?”
Hening.
Kemudian suara wanita itu berubah dingin.
“Aku tidak mengambil Alena.”
Clara membeku.
“Lalu siapa?”
“Aku hanya ingin memperingatkanmu.”
“Peringatan apa?”
“Jangan percaya Adrian.”
Clara menatap ayahnya.
Adrian membeku.
Suara wanita itu kembali terdengar.
“Dia sudah berbohong kepadamu sejak hari pertama.”
Clara menatap ayahnya.
“Berbohong tentang apa?”
Wanita itu terdiam beberapa detik.
Kemudian berkata,
“Adrian bukan ayah kandungmu.”
Dunia Clara seakan berhenti.
“Apa?”
Fedro langsung menatap Clara.
Wanita itu melanjutkan,
“Dan Alena serta Aria juga bukan anak Adrian.”
Clara tidak mampu berkata-kata.
Amara menangis.
Adrian menutup matanya.
Clara perlahan menatap mereka.
“Papi…”
Adrian tidak menjawab.
Clara merasa tubuhnya gemetar.
“Papi… katakan bahwa itu bohong.”
Adrian tetap diam.
“Papi!”
Suara Clara pecah.
“Katakan!”
Adrian akhirnya membuka mata.
Air mata mengalir di wajah pria itu.
“Clara…”
Satu kata itu sudah cukup.
Clara mundur.
“Jadi benar?”
Adrian menggeleng.
“Ayah tetap ayah kalian.”
“Aku tidak bertanya itu!”
Clara menangis.
“Aku bertanya apakah Papi bukan ayah kandungku!”
Adrian tidak mampu menjawab.
Clara merasa hancur.
Selama ini ia berpikir semua kebohongan hanya tentang E-17.
Ternyata bahkan darahnya sendiri telah disembunyikan darinya.
Suara wanita di telepon kembali terdengar.
“Sekarang kamu mengerti.”
Clara menggenggam ponselnya.
“Siapa ayah kandung kami?”
Wanita itu tertawa pelan.
“Kau belum siap mengetahuinya.”
“Aku siap!”
“Tidak.”
“Beritahu aku!”
“Cari ruang utama E-17.”
Clara membeku.
“Di sana kamu akan menemukan jawabannya.”
Sambungan terputus.
Clara menatap layar ponselnya.
Kemudian perlahan mengangkat wajah.
Tatapannya berubah.
Bukan lagi sedih.
Bukan lagi takut.
Melainkan penuh kemarahan.
Ia menatap Adrian.
“Papi tahu siapa ayah kandung kami.”
Adrian menundukkan kepala.
“Ayah tahu.”
Clara menahan tangis.
“Kenapa?”
Adrian menangis.
“Karena kalau kalian mengetahui siapa dia…”
“Kenapa?”
“Dia akan datang mencari kalian.”
Clara mengepalkan tangan.
“Biarkan dia datang.”
Fedro berdiri di sampingnya.
Clara menatap Alena yang telah diculik.
Kemudian melihat Aria.
Setelah itu ia menatap Adrian.
“Mulai malam ini, tidak ada lagi yang boleh menyembunyikan apa pun dariku.”
Adrian diam.
Clara berkata tegas,
“Aku akan menemukan Alena.”
“Aku akan mencari ibuku.”
“Dan aku akan membuka E-17.”
Ia menyentuh liontin burung di lehernya.
“Aku ingin tahu siapa ayah kandung kami.”
Tiba-tiba Aria berteriak.
“Kak Clara!”
Clara menoleh.
Aria memegang kepalanya.
“Aku ingat sesuatu.”
“Apa?”
Aria menatap Clara dengan wajah pucat.
“Aku pernah melihat pria itu.”
“Siapa?”
“Pria yang menjadi ayah kandung kita.”
Clara mendekat.
“Di mana?”
Aria menutup matanya.
“Di rumah keluarga Harland.”
Clara terdiam.
“Siapa dia?”
Aria membuka mata.
Suaranya nyaris berbisik.
“Leonard.”
Semua membeku.
Clara menatap Aria dengan tidak percaya.
“Paman Leonard?”
Aria mengangguk.
Namun sebelum siapa pun sempat bereaksi, sebuah pesan masuk ke ponsel Clara.
Kau sudah hampir menemukan kebenaran.
Tapi kau masih belum tahu satu hal.
Clara membaca pesan berikutnya.
Leonard bukan ayah kalian.
Lalu pesan terakhir muncul.
Dia hanya orang yang selama ini menjaga kalian dari ayah kandung kalian sendiri.
Clara menatap layar.
Dadanya terasa sesak.
Siapa sebenarnya ayah kandung mereka?
Mengapa Leonard selama ini melindungi mereka?
Dan mengapa ibu mereka yang masih hidup justru memilih bersembunyi?
Sementara Alena telah diculik.
Rafael masih dicurigai.
Gabriel menyimpan rahasia.
Leonard membawa pasukan Black Viper.
Dan seseorang dari masa lalu terus mengendalikan semuanya.
Clara akhirnya menyadari satu hal.
Musuh terbesar mereka bukanlah orang yang menyerang dari luar.
Melainkan orang yang mengetahui seluruh rahasia keluarga Evellyn.
Orang yang bahkan mengetahui siapa ayah kandung mereka.
Clara menggenggam tangan Aria.
“Kita akan menemukan Kak Alena.”
Aria mengangguk.
“Bersama.”
Fedro berdiri di samping Clara.
“Aku ikut.”
Clara menatap suaminya.
“Kalau kebenarannya nanti menghancurkan keluargaku?”
Fedro menggenggam tangannya.
“Kalau dunia memusuhimu, aku tetap di sisimu.”
Clara menahan air mata.
Namun dari kejauhan terdengar suara motor.
Satu.
Dua.
Kemudian puluhan.
Raka menatap jalan.
“Clara…”
“Apa?”
Raka menunjuk ke arah gerbang.
Sebuah mobil hitam berhenti.
Pintu belakang terbuka.
Seorang pria turun.
Wajahnya tertutup bayangan.
Ia melemparkan sesuatu ke halaman.
Sebuah gelang milik Alena.
Clara langsung berlari mengambilnya.
Di bawah gelang itu terdapat secarik kertas.
Datanglah ke gudang pertama.
Bawa tiga bagian kunci E-17.
Jika tidak, Alena mati.
Clara menggenggam gelang tersebut erat.
Air matanya jatuh.
Namun kali ini ia tidak mundur.
Ia menatap Fedro.
“Kita pergi.”
Fedro mengangguk.
Raka bersiap.
Rafael berdiri diam.
Aria mengambil cincin hitam.
Dan Clara menggenggam liontin burung di lehernya.
Mereka tidak tahu siapa yang menunggu di gudang pertama.
Mereka juga tidak tahu apakah Alena masih hidup.
Namun satu hal sudah pasti.
Malam ini, Clara tidak lagi akan menjadi gadis yang menunggu keluarganya menjelaskan kebenaran.
Ia akan mencari sendiri jawabannya.
Dan ketika pintu E-17 akhirnya terbuka…
seluruh keluarga Evellyn akan mengetahui rahasia yang telah disembunyikan selama tujuh belas tahun.
Termasuk satu kebenaran paling menyakitkan—
siapa sebenarnya ayah kandung dari tiga saudari Evellyn.
Bersambung…