Indonesia
NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.

Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.

Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PANJI DARAH DI BARAK BARAT

Di luar perbatasan ibu kota, tepatnya di Barak Militer Barat, atmosfer terasa semenegang tali busur panah yang siap dilepaskan. Kematian mendadak Jenderal Muda Li Feng di malam Festival Musim Gugur telah meninggalkan kekosongan kekuasaan yang fatal.

Spanduk-spanduk berkabung berwarna putih compang-camping berkibar ditiup angin gurun yang kering, bergesekan dengan barisan tombak para prajurit yang tampak gelisah.

Di dalam tenda komando utama, tiga jenderal veteran berwajah garang duduk mengelilingi meja strategi. Mereka adalah Jenderal Lu, Jenderal Qin, dan Jenderal Zhao tiga pilar militer yang telah mengabdi selama tiga puluh tahun untuk Kekaisaran Han.

"Perdana Menteri Shen sudah keterlaluan!" Jenderal Lu menggebrak meja giok hingga retak.

"Dia mengirim utusan lagi pagi ini, memerintahkan kita untuk membawa seluruh Divisi Kavaleri Barat ke Pegunungan Utara untuk memburu seorang wanita yang dia sebut pengkhianat bernama Gu Rulan. Dia pikir siapa dirinya? Dia hanya seorang birokrat, bukan Panglima Tertinggi kita!"

"Tapi Lu, titah itu membawa stempel emas Kaisar," Jenderal Qin menimpali dengan suara berat dan ragu. "Jika kita menolak, kita semua akan dicap sebagai pemberontak. Keluargaku di ibu kota akan menjadi taruhannya."

"Pemberontak terhadap siapa, Qin?" Jenderal Zhao yang tertua di antara mereka akhirnya angkat bicara, matanya yang rabun menatap tajam. "Li Feng tewas dalam kondisi yang mencurigakan di kediamannya sendiri setelah bertengkar dengan Putri Ketiga. Mengapa kita harus menumpahkan darah prajurit kita demi menutupi borok konspirasi keluarga Permaisuri?"

Syuuutt! Jleb!

Sebelum perdebatan mereka semakin memanas, sebuah anak panah berbulu hitam melesat menembus kain tenda tebal, menancap tepat di tengah-tengah peta strategi di atas meja. Ketiga jenderal itu seketika berdiri, menghunus pedang mereka dengan refleks militer yang terlatih.

"Siapa di luar?!" teriak Jenderal Lu.

Namun, tidak ada jawaban dari luar tenda selain kesunyian angin malam. Jenderal Zhao melangkah maju, memeriksa anak panah tersebut. Matanya terbelalak ketika melihat sepotong kain sutra putih yang diikatkan pada batang panah. Kain itu ternoda oleh tulisan berwarna merah pekat ditulis dengan darah dan yang paling mengejutkan adalah segel lilin merah yang mengunci kain tersebut.

Segel itu berbentuk bunga magnolia terbalik, lambang pribadi milik mendiang Selir Lin yang telah dihapus dari sejarah istana belasan tahun lalu.

Dengan tangan yang gemetar, Jenderal Zhao membuka kain sutra tersebut dan membaca deretan kalimat di dalamnya. Semakin jauh ia membaca, semakin memucat wajah sang jenderal veteran.

"Ini... ini tidak mungkin..." bisik Jenderal Zhao, tubuhnya bergetar hebat hingga hampir menjatuhkan kain tersebut.

"Ada apa, Zhao? Apa isi surat itu?" Jenderal Lu merebut kain tersebut dan membacanya bersama Jenderal Qin.

“Kepada para jenderal setia yang dulu menumpahkan darah bersama keluarga Lin... Aku, Shen Xianle, Putri Kesembilan yang kalian kira telah mati karena sakit di Paviliun Anggrek, menulis surat ini dengan darahku sendiri. Setahun lalu, aku tidak sakit, melainkan diracun dan dibuang ke dasar jurang oleh Shen Meili dan Li Feng atas perintah Permaisuri. Ayahanda Kaisar mengetahui hal ini, namun memilih bungkam demi mempertahankan aliansi politiknya.”

Surat itu berlanjut, mengungkap setiap detail kekejaman istana belakang dan menyatakan bahwa Gu Rulan yang dicari oleh kekaisaran saat ini adalah wujud bangkitnya sang Putri Kesembilan untuk menuntut balas atas kematian ibunya dan penderitaannya sendiri.

"Putri Kesembilan masih hidup..." Jenderal Qin menelan ludah dengan susah payah. "Dan dia adalah Gu Rulan yang mengguncang perjamuan istana kemarin?"

"Kaisar dan Permaisuri meracuni Selir Lin?" Jenderal Lu menggertakkan giginya dengan amarah yang meledak-ledak. "Dulu kita dipaksa diam ketika Selir Lin mendadak wafat karena mereka bilang itu kehendak surga! Ternyata wanita agung itu dibunuh secara keji oleh para ular di istana belakang!"

Tepat pada saat emosi ketiga jenderal itu berada di puncak, tirai tenda komando perlahan tersingkap. Kabut malam Pegunungan Utara merangsek masuk, membawa hawa dingin yang mencekam.

Dari balik kabut, melangkah masuk seorang wanita dengan keanggunan yang mistis. Rulan

berdiri di depan mereka. Malam ini, ia tidak lagi mengenakan gaun sutra hijau yang lembut, melainkan baju zirah kulit hitam yang ramping dengan jubah merah darah yang berkibar di belakangnya. Di pinggangnya, tersampir belati perak yang berkilat tajam di bawah cahaya obor tenda.

Di belakangnya, berdiri Long Junwei dengan jubah naga peraknya, memancarkan aura dominasi mutlak seorang penguasa bayangan.

"Siapa—" Jenderal Lu bersiap menyerang, namun langkahnya terhenti ketika Rulan perlahan mengangkat wajahnya dan melepaskan cadar hitamnya.

Wajah porselen itu, meski kini tampak lebih tegas dan dingin, memiliki kemiripan hingga delapan puluh persen dengan wajah mendiang Selir Lin yang dulu mereka hormati. Terutama sepasang mata jernih itu, mata yang memancarkan keteguhan darah keluarga Lin yang tidak akan pernah bisa dipalsukan.

"Paman Lu, Paman Qin, Paman Zhao... apakah kalian masih mengenali Xianle kecil yang dulu sering kalian bawakan manisan ke Paviliun Anggrek?" ucap Rulan, suaranya lembut namun bergaung dengan kekuatan internal yang padat.

Ketiga jenderal veteran itu terpaku. Pedang di tangan mereka perlahan diturunkan. Kenangan belasan tahun lalu saat mereka berjanji di depan makam Selir Lin untuk menjaga putrinya yang tersisa mendadak menghantam dada mereka dengan rasa bersalah yang amat sangat. Mereka mengira putri itu telah mati karena sakit, namun ternyata mereka telah ditipu oleh kebohongan istana.

Jenderal Zhao adalah yang pertama menjatuhkan pedangnya. Pria tua berambut putih itu berlutut dengan satu kaki di atas tanah, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Rulan.

"Hamba yang tidak berguna ini... memberi hormat kepada Yang Mulia Putri Kesembilan!" suara Jenderal Zhao bergetar menahan tangis.

"Maafkan kami yang buta ini karena membiarkan Anda menderita sendirian di dalam neraka itu!"

Melihat jenderal tertua mereka berlutut, Jenderal Lu dan Jenderal Qin tanpa ragu mengikuti, menjatuhkan pedang mereka dan berlutut. "Kami siap menerima hukuman dari Yang Mulia Putri!"

Rulan melangkah maju, mengulurkan kedua tangannya untuk membantu Jenderal Zhao bangkit, diikuti oleh dua jenderal lainnya.

"Berdirilah, para paman sekalian. Kalian tidak bersalah. Yang bersalah adalah mereka yang duduk di atas singgasana berdarah di dalam istana Han. Aku datang malam ini bukan untuk menghukum kalian, melainkan untuk meminta kalian memenuhi janji lama kalian kepada ibuku."

Rulan membalikkan badannya, menatap peta strategi di atas meja yang kini telah tertancap anak panah hitamnya. "Kaisar telah mengkhianati darahnya sendiri, dan Perdana Menteri telah merusak kekaisaran dengan keserakahannya.

Minggu depan, saat upacara pengorbanan musim gugur di kuil langit dilangsungkan, seluruh pertahanan istana akan melemah. Aku ingin Barak Barat mengibarkan panji darah dan berbaris bersamaku untuk merebut kembali ibu kota."

Long Junwei melangkah maju, meletakkan sebuah gulungan emas milik Pasukan Bayangan di atas meja. "Pasukan Bayanganku akan membuka gerbang utara dari dalam. Begitu Divisi Kavaleri Barat masuk, kita akan mengepung istana dalam waktu tiga jam. Ini adalah satu-satunya kesempatan kita untuk membersihkan kekaisaran dari para pengkhianat."

Ketiga jenderal veteran itu saling berpandangan. Rasa setia yang lama terpendam, ditambah dengan amarah atas kematian Selir Lin dan penganiayaan terhadap Xianle, sepenuhnya menghapus keraguan di hati mereka.

"Barak Barat memiliki empat puluh ribu prajurit kavaleri yang siap mati demi Yang Mulia Putri!" tegas Jenderal Lu dengan mata yang berkilat penuh semangat pertempuran. "Mulai malam ini, panji kami hanya akan berkibar untuk Shen Xianle!"

Rulan tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang menandakan bahwa akhir dari Kekaisaran Han yang korup sudah berada di depan mata. Jerat hukumannya telah selesai dipasang, dan minggu depan, darah para penguasa istana akan menjadi persembahan sesungguhnya di atas altar kuil langit.

1
aku
xianle yg berdialog bw pedang aq yg berasa kereennn 😁😁
SRIANA: terima kasih sudah mampir, semoga suka sampai akhir. selamat membaca🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!