Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mur Diyanti

Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.

Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.

Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.

Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Azarin kabur

Selesai mengantarkan ibu pulang, Fajar langsung menuju kamar.

Fikirannya masih berkecamuk tentang tadi, dimana sikap diam Azarin mengusik ketenangan nya.

Ia buka pintu kamar perlahan. Terlihat Azarin, istrinya, tidur memunggunginya. Dengan Mia di pelukannya.

Iris mata Fajar menyipit, pria itu lepaskan jas kebesaran putih kebanggaannya. Mencantolkan di cantolan baju samping lemari.

"Azarin."

Tidak ada sahutan.

Fajar berjalan mendekat, menatap Azarin penuh selidik.

Sorot matanya beralih cepat saat handphone berdering. Bola mata Fajar membeliak, ia raih handphone yang tergeletak di atas meja.

[ Sayang kesini cepetan, aku kangen tau ]

"Azarin ga lihat hp ku kan?"

Rahang Fajar mengetat, ia masukkan handphone ke dalam saku cepat.

"Azarin." Fajar goyang lengan istrinya pelan.

Tak ada sahutan.

"Bangun Azarin. Aku tau kau belum tidur."

Azarin buka matanya malas, menatap tajam ke depan.

Ia lantas berbalik, tersenyum tipis, "Hoamm....Suamiku, ada apa? Aku sangat mengantuk."

Fajar terhenyak kecil, palingkan wajahnya cepat, "Kunci rumah, aku tidak akan pulang malam ini."

Satu alis Azarin naik. Wanita itu bangkit perlahan, menatap suaminya lekat.

"Hmm, malam-malam begini?" Azarin lirik jam dinding di atas pintu, "Sudah jam 12 mas. Kamu mau kemana?"

Fajar kenakan jaket miliknya tenang, tanpa menoleh, "Kau tidak perlu tau."

Azarin tertawa sumbang, wanita itu rebahkan tubuhnya kembali pelan.

"Yah, semoga harimu menyenangkan."

Fajar melirik Azarin cepat, iris matanya menyipit penuh intimidasi.

Tidak biasanya Azarin bersikap tenang seperti ini.

Jika kemarin, istrinya itu pasti sudah menghujaninya dengan pertanyaan beruntun. Menuntut kejujuran yang semakin membuatnya jengah berlama-lama dengan Azarin.

Namun kali ini, Azarin bersikap seperti orang lain.

Fajar keluar dari kamar sedikit tergesa. Azarin lirik suaminya yang keluar dari kamar itu cepat. Mendelik tajam.

Air matanya kembali luruh tanpa bisa ditahan. Azarin sekat air mata cepat.

"Lakukan sepuasmu, mas. Karena malam ini, kamu tidak akan lagi melihat kami berdua."

Ia tatap putrinya lekat, memeluknya erat, terisak hebat.

"Maafkan mama, sayang. Mama bersalah, sangat bersalah. Seharusnya mama tidak menikah dengan ayahmu."

Azarin bangkit cepat, dengan Mia yang terlelap di gendongannya.

"Aku harus cepat pergi!"

Ia rogoh tas besar di bawah ranjang, keluar dari kamar.

"Naya..." panggil Azarin dibalik telefon.

"Kamu sudah siap kak?! Aku sudah di luar! Tadi aku lihat suamimu jalan keluar!"

Azarin tatap tajam ke depan, "Bagus, aku tidak akan membiarkan dia berlaku sesukanya."

Azarin turun dari tangga sedikit tergesa, menggenggam tas di tangannya erat.

"Kita pergi sekarang!"

Cukup.

Sudah cukup Azarin mengalah selama ini. Mempertahankan pernikahan yang sudah hancur sedari awal sangat melelahkan.

"Mulailah dengan selingkuhanmu, Mas. Aku ingin lihat, apa rezekimu masih sama seperti denganku."

Fajar adalah dokter spesialis yang sibuk, saking sibuknya ia pulang ke rumah seminggu bisa cuma tiga hari.

Pagi sampai sore ia di rumah sakit, lanjut di klinik pribadinya sampai malam, terkadang tidak pulang.

Dapat dibayangkan bagaimana kesepiannya Azarin. Mengurus rumah dan anak sendirian. Suaminya hanya tau memberi nafkah materi tanpa tau kondisi dan perasaan sang istri.

Jika diingat, satu tahun pernikahan hubungan badan mereka pun bisa di hitung dengan jari.

Cukup.

Azarin sudah muak.

Sangat muak.

Ia bahkan tak berat sama sekali meninggalkan Fajar sekarang. Padahal kemarin begitu kecintaan dengan suaminya.

Ternyata benar.

Rasa yang besar pun bisa hilang secara tiba-tiba jika di kecewakan.

Namun naasnya.

Kekecewaan itu akan membekas seperti kerak seumur hidup. Menghantui, dan membuatnya sulit untuk kembali membuka hati.

Mulai sekarang Azarin memutuskan untuk fokus dengan putrinya.

Baginya laki-laki hanya buaya. Mereka memohon untuk kita terima, tapi setelah mendapatkan, dia bisa membuang kita bak barang tak berharga.

Bosan itu spesifik. Semua manusia pernah mengalaminya.

Tapi bukan berarti menjadi alasan untuk tidak setia. Bosan bisa hilang, namun penyesalan akan terus membekas.

"Azarin!" panggil Naya dari dalam mobil.

Azarin tutup gerbang cepat, berlari menuju mobil Naya yang terparkir cukup jauh dari rumah Azarin.

"Kamu gapapa? si Fajar bajingan itu! Ughh....aku sudah feeling dia tidak baik untukmu, Azarin."

Azarin letakkan tas miliknya di kursi belakang, balik menatap Naya, sahabatnya itu tersenyum tipis.

"Yah....tertawailah aku yang bodoh ini."

Naya menggeleng lemah, ia tepuk bahu Azarin lembut.

"Kamu hebat, Azarin. Kamu sangat kuat, bahkan saat tau suamimu selingkuh kamu tidak menangis."

Hening.

Azarin tersenyum kecil.

"Yah, anggap saja aku begitu."

Naya nyalakan mesin mobilnya cepat. Melaju meninggalkan rumah yang menjadi saksi cinta besar yang hancur.

Ia tatap bangunan megah yang mulai terlewat itu intens.

"Selamat tinggal, suamiku."

***

Esoknya, Fajar pulang siang-siang sekitar jam 12.

Ia berniat untuk menemui Azarin sekarang.

Fajar lepas jas putih miliknya lemah, helaan nafas lelah terdengar lirih dari mulutnya.

Ia naiki tangga perlahan, menatap ke atas.

"Azarin."

Hening.

Kening Fajar mengerut, ia sampirkan jas putih pada lengan, "Tidak biasanya dia tidak menyahut."

Fajar buka pintu kamar perlahan.

Kosong.

Bola mata Fajar membeliak, ia berbalik menatap ke bawah.

"Azarin, apa kau dengar suaraku?"

Hening.

"Kemana wanita itu."

Fajar masuk dengan langkah tenang ke dalam kamar, ia cantolkan jas putih miliknya. Menjatuhkan pantatnya pada ranjang seraya melengkin kerah lengan sebatas siku.

"Kemana dia. Biasanya dia akan menyambut di depan pintu saat aku pulang."

Hawa tak enak merayap ke dalam hatinya.

Fajar melotot.

Ia berlari cepat menuju lemari.

Tak ada lagi baju Azarin di dalam kamar. Bahkan baju-baju putri mereka pun sudah raib.

Rahang Fajar mengetat, tangannya mengepal erat. Ia hubungi Azarin cepat.

Tak ada sahutan. Bahkan memanggil.

"Sial! Apa dia mendengar percakapan dengan ibu?!"

Fajar cek barang berharga di lemari kembali. Kotak perhiasan yang setidaknya beratnya satu kilo, dengan segala surat dan ATM. Semua tidak ada lagi di tempatnya.

"AZARIN APA KAU BERNIAT MEMBUNUHKU?!"

Fajar jambak rambutnya frustasi.

Padahal perhiasan itu akan ia gunakan untuk melamar Fania. Itu adalah tabungan dirinya yang ia pasrahkan pada Azarin. Namun semuanya raib dibawa.

"Sial!"

Ia telpon ibunya berkali-kali. Namun ibunya juga sama, tak menjawab.

Fajar hempaskan semua barang-barang Azarin yang masih tertinggal di meja rias. Pecah berhambur ke lantas.

"Aku ingat Azarin bukan wanita boros. Tapi—! Semua tabungannya di ambil?! Tanpa sepengetahuanku?!"

TING!

Bel pintu berbunyi.

Fajar menoleh cepat, mendelik tajam ke arah pintu. Ia bangkit dari terpuruknya cepat, berlari menuruni tangga.

"Akhirnya kau tau tempatmu, Azarin. Beraninya kau pergi tanpa izinku?!"

Namun saat membukanya.

Bukan Azarin.

Melainkan tukang pos yang menyodorkan surat berbalut amplop coklat.

"Dengan saudara Fajar Pratama, betul?"

Fajar tatap kosong amplop coklat di tangan tukang pos, mengangguk lirih.

"Anda mendapatkan surat dari pengadilan agama untuk memenuhi panggilan."

1
Adinda
hidupmu rumit banget naya, kalau suamimu belum mampu ngontrak dulu,uangnya dikumpulkan keburu nanti suamimu diambil pelakor
Adinda
tapi salah naya juga sih kalau suamimu gak mampu setidaknya kamu juga membantu jangan langsung minta rumah
Adinda
fajar sama naya aja
Adinda
mimpi saja kau fajar kalau mau azarin balik sama kamu,tidak akan pernah mau azarin balik sama kau fajar
Adinda
bawa semuanya rin, enak banget ginjalmu diambil,kamu mau dicerain anakmu mau dibawa kepanti
Dokkan Battle
BACOT GOBLOK
Ma Em
Azarin kalau tdk mau Dean seperti fajar makanya rubah penampilan Azarin dan hrs pede jgn merasa rendah diri , kalau Azarin merasa selalu rendah diri tdk berubah jadi wanita yg elegan dan penuh percaya diri pasti Dean akan semakin cinta pada Azarin .
Dynhz: kasih tau makee😭🤣
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
lanjuut thor
Dynhz: siap😍
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
udah nikah aja ma Dean, dari pada nanti di ganggu terus sama fajar ...
lanjuut thor.....
Dynhz: siap kakak😍
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
nah udah tau kan sifat asli istri baru mu..😂😂
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
paling bagus emang cerai saja dan buktikan kalo kamu bisa tanpa suami ...
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
nyesek bgt bacanya...
Ma Em
Azarin jgn sampai kamu kena bujuk rayu fajar biarkan fajar menyesal karena itu pilihan fajar sendiri , semoga Azarin selalu bahagia bersama Mia sang putri tercinta dan semoga Azarin berjodoh dgn Dean 🤲.
Dokkan Battle: kalau ajarin rujuk fiks dia sakit mental
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!