Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Takdir Yang Kupilih

Bukan Takdir Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Alisha Chanel

Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.

Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.

Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Warna-Warna Pagi

"MAWAR! Sudah jam berapa ini? Mana ada anak gadis tidur sampai siang bolong begini! Ayo cepat bangun, jangan malas-malasan terus!"

Teriakan Bu Gendis memecah keheningan pagi, bergema memenuhi setiap sudut rumah yang sederhana namun selalu terasa hangat itu. Suaranya terdengar tegas, namun terselip nada sayang yang tak pernah hilang.

"Lihat saja, tanah di halaman depan saja sudah kering kerontang kena panas matahari! Rumput pun mulai layu kepanasan, kau masih saja berguling-guling di atas kasur!"

Kerutan di wajah wanita paruh baya itu seolah bertambah dalam, namun matanya menatap lembut ke arah tempat tidur. Di sana, Mawar masih tergolek nyaman di balik selimut tebalnya, padahal cahaya matahari pagi sudah berani mengintip masuk lewat celah tirai jendela, menyinari wajah gadis itu dengan lembut. Sinar keemasan itu menyentuh pipi putih kemerahan Mawar, membuatnya tampak persis seperti boneka cantik yang baru saja diletakkan di atas tempat tidur.

"Sebentar lagi, Bu... Sebentar saja..." gumam Mawar dengan suara yang masih berat dan serak khas bangun tidur. Gadis berkulit bersih itu meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, kedua tangannya terangkat tinggi ke atas hingga punggungnya sedikit terasa nyeri.

"Hari ini kan hari libur, Bu... Aku mau tidur sepuasnya, sekalian bayar utang kantuk yang sudah menumpuk selama seminggu kemarin. Rasanya kalau bangun sekarang, mataku mau jatuh keluar karena kurang istirahat."

Sambil berbicara begitu, dengan gerakan lincah dan cepat Mawar menarik kembali selimut tebal itu, menyelimuti seluruh tubuhnya hingga hanya hidungnya saja yang terlihat sedikit keluar. Ia berniat memejamkan mata kembali, berharap sang ibu akan pergi dan membiarkannya bermimpi indah lagi.

Namun Bu Gendis sama sekali tidak berniat menyerah. Ia berjalan mendekat, lalu dengan gerakan cekatan menarik kembali ujung selimut yang baru saja ditarik Mawar.

"Ya sudah, tidurlah terus saja sampai lupa siang dan malam! Biarkan saja wanita tua ini sibuk sendirian di dapur, sibuk menyiapkan makanan, sibuk menyambut tamu... Biarkan saja aku yang kelelahan sendirian sampai tulangku remuk!"

Bu Gendis menghela napas panjang, lalu berbalik badan dengan langkah berat perlahan menjauh dari pintu kamar. Langkah kakinya sengaja dibunyikan agak keras di atas lantai keramik, seolah ingin menegaskan betapa berat dan melelahkan pekerjaan yang harus ia kerjakan sendirian.

Napas Mawar yang tadinya teratur dan tenang mendadak tercekat di tenggorokan. Matanya yang tadinya terpejam rapat langsung terbuka lebar seketika.

"Menyiapkan makanan... menyambut tamu...?" batin Mawar, hatinya mulai berdebar tak menentu.

Dengan gerakan seolah tersengat aliran listrik, Mawar langsung melompat bangun dari tempat tidur. Selimut yang tadi ia peluk erat kini terlempar ke pinggir kasur. Rasa kantuk yang sedari tadi membelai matanya lenyap seketika, hilang tak berbekas digantikan rasa penasaran yang meluap-luap.

Gadis itu segera melompat turun, kakinya yang telanjang melangkah cepat menuju pintu kamar, menyusul sang ibu yang baru saja sampai di ambang pintu.

"Bu! Ibu bilang menyambut tamu? Apa... apa maksud Ibu, Kak Jingga sudah sampai?!" tanya Mawar dengan mata berbinar-binar penuh rindu. Suaranya terdengar bergetar karena kegembiraan.

Bu Gendis berhenti melangkah, lalu menoleh ke arah anak bungsunya itu. Ia mengangguk pelan, senyum tipis namun hangat tersungging di bibirnya.

"Iya, Kak Jingga sudah ada di ruang tamu sejak sepuluh menit yang lalu. Katanya ia berangkat pagi-pagi sekali dari kota supaya bisa sampai di sini saat udara masih sejuk. Katanya juga ia sudah sangat rindu pada rumah dan pada kita semua."

"Wah, luar biasa! Akhirnya Kak Jingga pulang juga!" seru Mawar riang. Ia langsung hendak melesat berlari menuju ruang tamu, namun langkahnya tertahan saat suara sang ibu kembali terdengar.

"Eh, mau ke mana kamu, Mawar?" tanya Bu Gendis sambil menahan lengan anak gadisnya itu. Wanita itu menatap Mawar dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, lalu menggelengkan kepala berkali-kali dengan pandangan tak percaya.

"Kamu mau menemui orang dengan penampilan begini? Coba lihat dirimu sendiri! Celana pendek di atas lutut yang agak kusut, kaos tanpa lengan yang sudah berkerut-kerut karena dipakai tidur, rambutmu juga berantakan ke sana kemari seperti ditiup angin puting beliung! Benar-benar mirip singa betina yang baru bangun tidur dan belum disisir sama sekali!" Bu Gendis menunjuk-nunjuk penampilan anaknya.

"Mandi dulu, ganti baju yang rapi dan sopan, sisir rambutmu sampai halus. Kasihan Kak Jingga melihatmu begini, nanti dikira aku tidak mengajarkan cara berpakaian yang baik," Bu Gendis mendorong pelan bahu Mawar agar kembali masuk ke kamar.

Tapi Mawar sudah tidak sabar lagi. Kerinduan pada kakak kandungnya yang jarang pulang ke rumah karena harus bekerja jauh di kota besar itu sudah menumpuk begitu lama, sehingga ia sama sekali tidak mempedulikan ucapan sang ibu. Gadis itu hanya mengedikkan bahu santai, lalu menyelonong melewati Bu Gendis begitu saja.

"Gak apa-apa kok, Bu! Kak Jingga itu kan bukan tamu asing, dia kakak kandungku sendiri! Dari kecil kami sudah biasa melihat satu sama lain dalam keadaan apa saja, jadi mana ada yang perlu dipermalukan!" seru Mawar sambil terus berjalan cepat, hampir berlari kecil menuju ruang tamu di bagian depan rumah.

Di belakangnya, Bu Gendis hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan senyum.

"Anak ini benar-benar bikin pusing saja. Kalau kelakuannya terus begini, santai saja dan tidak tahu aturan, mana ada laki-laki yang berani melirik, apalagi mau melamarnya nanti. Pasti semua orang akan takut dan menjauh," gumam Bu Gendis dalam hati, namun ada rasa bangga juga karena Mawar tumbuh menjadi gadis yang jujur, lincah, dan berhati baik.

Langkah kaki Mawar semakin cepat, bunyinya berdentang halus di lantai rumah itu. Jantungnya berdegup kencang penuh kegembiraan, terbayang wajah kakaknya yang selalu ramah, selalu sabar, dan selalu menjadi tempat ia bercerita tentang apa saja.

"Kak Jingga...!"

Teriakan ceria Mawar menggema memenuhi ruang tamu yang tadinya tampak tenang dan hening.

Begitu suara itu terdengar, semua mata yang ada di ruangan itu seketika tertuju padanya. Pandangan mereka bergerak serentak ke arah pintu masuk tempat Mawar berdiri.

Senyum lebar yang sedari tadi merekah indah di wajah Mawar perlahan mengeras dan kaku. Langkah kakinya yang hendak melangkah maju mendadak berhenti mendadak di tempat. Matanya yang tadi berbinar-binar kini terbelalak lebar, menatap tak percaya pada pemandangan yang ada di hadapannya.

Di sana, di kursi tamu yang empuk, memang duduk Kak Jingga, kakak perempuan yang dicintainya. Wanita itu tersenyum manis melihat kedatangan sang adik, namun di samping Jingga, ada sosok lain yang juga duduk tenang sambil memegang cangkir teh.

Sosok laki-laki berpenampilan rapi, berpakaian kemeja berwarna gelap yang disetrika licin, dengan wajah tampan namun kini menatap ke arah Mawar dengan pandangan yang sulit diartikan. Itu adalah Bima suami Jingga, kakak iparnya yang dikenal Mawar sebagai orang yang sangat sopan, tenang, dan selalu berpenampilan sangat rapi serta berwibawa.

"Lho? Kok Kak Bima juga ada di sini?" batin Mawar terkejut setengah mati. "Biasanya Kak Bima sangat sibuk dengan pekerjaannya di kota, jarang sekali bisa meluangkan waktu pulang ke sini. Paling sering hanya Kak Jingga saja yang datang sendirian... Kenapa kali ini mereka berdua datang berbarengan? Dan kenapa Ibu tidak bilang sama aku kalau Kak Bima juga ikut datang?"

Wajah Mawar perlahan berubah warna. Mulanya merah muda karena gembira, kini berubah menjadi merah menyala persis seperti buah tomat yang sudah matang sepenuhnya. Ia baru teringat betapa berantakannya penampilannya saat ini, rambut kusut berdiri tegak ke segala arah, baju dan celana yang dikenakan sangat santai dan terbuka, kakinya telanjang tanpa alas kaki.

Tangan yang tadinya sudah terulur hendak berlari dan memeluk sang kakak mendadak terhenti di udara, kaku dan gemetar karena rasa malu yang luar biasa.

Tanpa berpikir dua kali, tanpa sempat mengucapkan salam atau menyapa siapa pun, Mawar memutar badannya secepat kilat. Ia berbalik arah dan berlari sekencang-kencangnya kembali menuju kamar. Kakinya melangkah begitu cepat hingga hampir saja ia tersandung tepian karpet di tengah ruangan.

BRAK!

Suara keras terdengar begitu jelas saat pintu kamar Mawar ditutup rapat dan dikunci dari dalam. Bunyi itu memantul ke dinding-dinding rumah, membuat Jingga dan Bima yang ada di ruang tamu saling berpandangan sambil menahan tawa.

Dari balik pintu kayu yang tertutup rapat itu, terdengar suara Mawar yang berteriak keras dan melengking tinggi.

"IBUUUUU! KENAPA IBU NGGAK BILANG DARI TADI KALAU KAKAK IPAR JUGA DATANG?!"

Suaranya terdengar penuh rasa malu setengah mati, campur aduk dengan nada protes yang kesal. Wajahnya di balik pintu sudah panas membara, rasanya ia ingin menghilang begitu saja ke dalam tanah agar tak perlu bertemu siapa pun lagi hari ini.

Bu Gendis yang baru saja berjalan santai mendekati pintu kamar itu hanya terkekeh pelan, bahunya bergetar menahan tawa melihat tingkah laku anak bungsunya yang polos itu.

"Kamu sendiri yang tadi nggak tanya, Mawar! Aku cuma bilang ada tamu, kamu langsung lari saja keluar tanpa pikir panjang! Sudah, jangan merajuk terus. Cepat ganti baju, sisir rambutmu, lalu keluar lagi. Nanti mereka menunggu terlalu lama, kasihan mereka sudah datang jauh-jauh," seru Bu Gendis sambil mengetuk pelan pintu kamar itu.

"IBU JAHAT! Ibu sengaja kan? Ibu sengaja biarkan aku malu begini!" rengek Mawar dari dalam kamar. Suaranya terdengar mendengus kesal, disertai suara bantingan bantal ke kasur. "Aku nggak mau keluar selamanya! Aku mau mengurung diri di sini sampai mereka pulang lagi! Malu banget, malu sekali, rasanya mau mati saja!"

Di dalam kamar kecil itu, Mawar berjalan mondar-mandir dengan wajah masih merah padam. Ia duduk di tepi tempat tidur, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bayangan wajah Kak Bima yang menatapnya tadi terus terbayang di depan mata.

"Aduh... pasti dia mengira aku ini anak gadis yang tidak tahu aturan, tidak pernah diajarin sopan santun, berperilaku sembarangan... Apa lagi yang dia pikirkan tentang aku ya? Pasti dia tertawa dalam hati melihatku yang berantakan begitu..." keluh Mawar sendiri. Ia memeluk kedua lututnya yang ditekuk ke dada, merasa hari libur yang sedari tadi dibayangkan akan sangat menyenangkan dan santai, kini berubah seketika menjadi hari penuh rasa malu yang sulit dilupakan seumur hidupnya.

Di ruang tamu, Jingga dan Bima masih tertawa kecil mengingat kejadian yang baru saja mereka lihat.

"Adikmu ini benar-benar lucu dan jujur sifatnya. Tepat sekali apa yang sering kamu ceritakan kepadaku," ucap Bima sambil tersenyum lembut, pandangannya masih tertuju ke arah pintu kamar yang tertutup itu.

"Jangan khawatir, aku sama sekali tidak merasa aneh atau jijik. Justru aku merasa senang melihatnya begitu bebas dan tulus. Itu sifat yang sangat jarang dimiliki orang zaman sekarang." tandasnya.

Jingga mengangguk sambil tersenyum, matanya terlihat penuh kasih sayang. "Iya, Mawar memang begitu. Dia tumbuh besar dengan kebebasan dan kasih sayang yang banyak, jadi hatinya bersih dan apa adanya. Mungkin memang agak kurang tahu tata krama di depan orang asing, tapi dia gadis yang paling baik hati dan tulus yang pernah aku kenal. Nanti lama-lama dia pasti akan berubah dan mengerti, kita tunggu saja sampai dia berani keluar lagi."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!