Indonesia
NovelToon NovelToon
Suara Untuk Dia

Suara Untuk Dia

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:196
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Putra Satria Hsb

"Setiap orang punya satu nama dari masa SMA yang tak pernah benar-benar hilang." Ini adalah suara kejujuran Satria untuk sosok di masa lalunya—tentang rahasia di balik seragam putih-abu-abu, luka yang mendewasakan, dan keberanian melepaskan demi cinta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35- Sambungan Telepon dan Langkah Pertama di Matras

Keputusan lolos seleksi kejuaraan tingkat nasional (POPNAS) membawa konsekuensi besar bagi keseharianku di sekolah. Sebagai salah satu atlet pelajar perwakilan kontingen daerah, aku harus meninggalkan rutinitas kelas X IPA 2 untuk sementara waktu guna mengikuti pemusatan latihan intensif di asrama atlet.

Hari-hari di asrama berjalan sangat keras. Latihan fisik dimulai sejak subuh sebelum matahari terbit, dilanjutkan sesi teknik tanding pagi hari, dan digembleng latihan fisik berat hingga sore menjelang malam. Setiap malam, badanku terasa ngilu dan pegal-pegal. Namun, di tengah gempuran rasa lelah di kamar asrama yang sepi, ada satu rutinitas yang tak pernah kulewatkan: bertukar kabar dengan Nara.

Meskipun status resmi kami sudah putus via pesan dan panggilan khusus seperti Nandut atau Antet kini cuma terlontar sesekali di momen-momen tertentu saja, hubungan rahasia kami justru terasa tetap hangat dan erat.

Saban malam usai sesi evaluasi pelatih, aku duduk di sudut tempat tidur asrama sambil memegang HP. Layar kecil itu menjadi jembatan utama yang menghubungkan duniaku dan dunia Nara.

"Hari ini latihannya capek banget ya, Sat? Jangan lupa minum air putih yang banyak, terus kakinya diolesin salep biar gak kram pas bangun besok," bunyi pesan manis dari Nara yang selalu hadir tepat waktu.

Aku tersenyum tipis, jemariku bergerak cepat membalas pesan darinya.

"Iya, Ra. Capek banget asli, tadi habis digembleng lari sepuluh putaran sama sparring. Tapi begitu baca chat dari kamu, rasa capeknya langsung hilang separuh."

"Gombal terus! Pokoknya kamu harus fokus ya di sana. Jangan genit sama cewek-cewek atlet dari cabang lain! Awas aja kalau aku denger kamu centil!" balasan Nara yang selalu diselipi nada cemburu khasnya.

Sentilan kecil dan perhatian tulus dari Nara menjadi suplemen terbaik selama minggu-minggu beratku di asrama. Meskipun ayahnya sangat disiplin dan ketat menjaga jadwal belajar Nara di rumah, cewek itu selalu menyempatkan waktu di sela-sela jam belajarnya untuk memberiku semangat. Janji dan alasannya bahwa dia tidak boleh berpacaran oleh ayahnya demi menjaga nilai akademis membuatku makin menaruh rasa hormat dan percaya padanya. Aku mencoba memahami posisinya sepenuhnya, yakin bahwa rasa sayang di antara kami jauh lebih kuat dari sekadar status di atas kertas.

Masa pemusatan latihan di asrama akhirnya selesai. Usai menuntaskan seluruh rangkaian simulasi tanding dan mendapat arahan akhir dari jajaran pelatih, kami para atlet diperbolehkan kembali ke sekolah masing-masing untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti biasa sebelum pemberangkatan kontingen.

Pagi itu, suasana SMA Negeri kami terasa sangat familiar saat aku melangkah masuk melewati gerbang utama. Setelah berhari-hari hanya melihat matras, samsak, dan dinding asrama, pemandangan koridor sekolah yang ramai oleh murid-murid berseragam putih-abu-abu memberikan rasa hangat tersendiri.

Begitu aku melangkah masuk ke pintu kelas X IPA 2, Diko langsung menyambutku dengan teriakan hebohnya dari bangku belakang.

"Woi! Atlet nasional kita udah balik dari karantina!" seru Diko sambil merangkul bahuku erat. "Gimana di asrama, Sat? Makin kekar aja lu keliatannya!"

"Bisa aja lu, Dik. Biasa aja, latihan fisik mulu tiap hari," balasku sambil tertawa pelan dan menaruh tas ransel di atas meja.

Mataku secara alami melirik ke barisan depan dekat jendela. Nara duduk di sana bersama teman-teman ceweknya. Begitu mata kami saling bertumbukan, senyuman paling hangat merekah di wajah cantiknya. Tatapan rindu dan bangga terpancar jelas dari mata cokelatnya, membuat dadaku yang tadinya biasa saja mendadak berdesir hangat.

Saat jam istirahat pertama berbunyi dan suasana kelas mulai sepi karena anak-anak berhamburan ke kantin, Nara berjalan mendekati mejaku di belakang. Dia membawa buku catatan Fisika, berpura-pura hendak menanyakan tugas padaku.

"Gimana asramanya, Sat?" bisik Nara pelan sambil duduk di bangku sebelahku. Tangannya dengan sigap mengambil HP-ku yang tergeletak di meja untuk memeriksa menu SMS—kebiasaan rutinnya yang tidak pernah hilang.

"Lancar, Ra. Capek tapi seru," jawabku sambil memperhatikannya. "Kamu gimana di kelas? Sepi gak gak ada aku?"

Nara menatapku tajam sambil mendengus kecil, tapi pipinya merona merah. "Dih, pede banget! Siapa juga yang ngerasa sepi! Orang kelas tenang-tenang aja kok gak ada kamu yang konyol!"

Aku tertawa renyah menatap raut wajah cantiknya. Di sela-sela obrolan kecil itu, Nara tiba-tiba memiringkan kepalanya, menatapku dengan raut wajah serius namun antusias.

"Sat..." panggil Nara pelan dengan nada bicara yang agak beda dari biasanya.

"Kenapa, Ra?"

"Aku... aku mau ikut ekskul pencak silat di sekolah," bisik Nara dengan mata berbinar-binar.

Mendengar ucapan itu, aku sempat tertegun beberapa detik. Rasanya seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar oleh telingaku. Nara—cewek paling pintar di sekolah, bintang olimpiade Fisika yang selalu bergelut dengan buku-buku tebal dan rumus rumit—ingin masuk ke dunia pencak silat yang keras, penuh keringat, dan latihan fisik?

"Kamu serius, Ra?" tanyaku memastikan, menatap matanya dalam-dalam. "Latihan silat itu berat lho. Anak-anak cewek aja sering nangis kalau disuruh lari fisik atau sparring sama Mas Teguh."

Nara memajukan tubuhnya sedikit, lalu tanpa sadar sebutan lama itu terlontar pelan dari mulutnya karena gemas. "Ya seriuslah, Nandut! Masa aku bohong! Aku mau nyobain ikut latihan pas jadwal ekskul minggu depan. Biar aku tahu gimana rasanya duniamu, dan biar kita bisa lebih sering ketemu pas sore."

Kebahagiaan luar biasa mendadak membuncah di dalam dadaku saat mendengar jawaban dan panggilan hangat yang terlontar kembali itu. Melihat rasa antusias dan kesungguhan di matanya membuatku merasa jadi cowok paling beruntung di dunia. Cewek yang selama bertahun-tahun kukejar, cewek yang paling kucintai di sekolah ini, bersiap melangkah masuk ke dalam duniaku—dunia pencak silat yang selama ini menjadi jalan hidupku.

Kami berdua tersenyum lebar di sudut kelas X IPA 2 sore itu, tanpa pernah menyadari bahwa setiap langkah baru dan setiap orang baru yang akan masuk ke dalam lingkaran kehidupan kami kelak, perlahan-lahan akan membawa ujian yang jauh lebih besar dari yang pernah kami bayangkan.

1
Ayu Wd1109
jadi penasaran sama sosok Nara ..jika ada di kehidupan nyata
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!