Di mata dunia, Kim Seokjin adalah Devil.
CEO KIMS GROUP. Dingin. Kejam. Tanpa ampun.
Satu keputusannya bisa membuat EX GROUP bangkrut dalam semalam.
Tapi di rumah...
Dia hanya seorang Hyung.
8 tahun lalu dia berjanji pada ayahnya: "Aku akan menjaga Tae."
Sekarang dia menepati janji itu dengan cara yang salah.
Menelan obat di toilet kantor. Menahan darah di balik jas mahal.
Tersenyum untuk 8 orang yang dia sayangi.
Leukimia. Stadium akhir.
Rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Malaikat kecilnya, Taehyung.
Saat EX GROUP mulai mengancam nyawa Tae, Seokjin harus memilih.
Tetap menjadi Devil yang melindungi...
Atau runtuh sebagai Malaikat yang akhirnya butuh dilindungi.
"Di luar aku iblis, Tae. Tapi di depanmu... aku cuma hyungmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi_BtsOt7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Sore itu, langit Seoul kembali mendung, seolah alam sedang bersiap untuk babak baru dari drama kehidupan keluarga Kim. Di dalam ruang kerja yang luas, suasana terasa hening mencekam, hanya terdengar suara ketikan keyboard Yoongi dari balik kaca kedap suara.
Kim Seokjin mencoba fokus pada laporan kuartalan, namun matanya terus berkunang-kunang. Rasa pusing yang ia tahan sejak pagi kembali menyerang, lebih hebat dari sebelumnya. Ia memijat pelipisnya kuat-kuat, berharap rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya. Obat penekan gejala dari Dokter Wang Do sudah habis efeknya, dan kini tubuh aslinya mulai memberontak.
"Hyung?"
Suara Namjoon terdengar dari interkom meja. Jin tersentak, cepat-cepat merapikan ekspresinya sebelum menekan tombol balas.
"Ya, Joon-ah? Ada apa?" suaranya terdengar normal, meski napasnya sedikit berat.
"Ada tamu. Dia bilang urusan pribadi mendesak. Dia menolak memberikan nama, tapi... dia menyerahkan amplop ini."
Seorang staf keamanan masuk ke ruangan, meletakkan sebuah amplop cokelat tebal di atas meja Jin. Amplop itu tidak bermerek, tidak ada nama pengirim. Hanya inisial kecil di sudut kanan bawah: X.
Jantung Jin berdegup kencang. Xiumin.
"Biarkan dia menunggu di lobi utama," perintah Jin dingin. "Jangan izinkan dia naik ke lantai eksekutif. Dan panggil Chanyeol serta Taehyung ke ruang rapat VIP. Sekarang."
Sepuluh menit kemudian, Taehyung dan Chanyeol sudah berada di sisi Jin. Taehyung tampak khawatir melihat wajah kakaknya yang lebih pucat dari biasanya, tetapi Jin mengabaikannya dengan alasan "kurang tidur".
"Buka itu, Jin," kata Chanyeol, berdiri di belakang Jin dengan tangan disilangkan, siap siaga.
Jin membuka amplop itu dengan hati-hati. Isinya bukan surat ancaman biasa. Itu adalah foto-foto. Foto-foto lama. Foto orang tua mereka saat masih muda, tersenyum bahagia. Dan di balik setiap foto, tertulis tanggal dan lokasi yang spesifik-lokasi di mana orang tua mereka meninggal dalam "kecelakaan" mobil sepuluh tahun lalu.
Di bagian bawah tumpukan foto, ada sebuah catatan tulisan tangan yang rapi dan dingin:
"Kecelakaan itu bukan kecelakaan, Hyung. Dan kau tahu siapa yang memegang remnya malam itu. Jika kau ingin kebenaran itu tetap terkubur, hentikan investigasi forensik terhadap departemen logistik kami. Jika tidak, aku akan membocorkan semua bukti bahwa Ayah kita sebenarnya sedang dalam proses kebangkrutan sebelum 'meninggal', dan kau telah menyembunyikannya dari publik untuk menyelamatkan harga saham."
Tangan Jin gemetar hebat. Kertas-kertas itu jatuh berserakan di meja.
"Apa isinya, Hyung?" tanya Taehyung, mengambil salah satu foto. Matanya membelalak. "Ini... ini foto Ibu dan Ayah? Mengapa Xiumin-hyung mengirim ini?"
Chanyeol mengambil foto lain, wajahnya mengeras. "Ini pemerasan tingkat tinggi. Dia menggunakan kenangan kalian sebagai senjata."
Jin menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya berguncang. Bukan karena takut, tapi karena amarah yang memuncak. Tuduhan tentang kebangkrutan orang tua mereka adalah kebohongan besar. Orang tua mereka meninggal karena sabotase rem mobil yang direncanakan oleh kompetitor bisnis lama-sebuah fakta yang sudah dibuktikan polisi saat itu, meski pelakunya tidak pernah tertangkap karena bukti kurang kuat. Xiumin mencoba memutarbalikkan fakta untuk menakut-nakuti Jin.
"Dia berbohong," geram Jin, suaranya rendah dan berbahaya. "Ayah tidak pernah bangkrut. Itu fitnah lagi."
"Tapi dia punya foto-foto ini," kata Chanyeol serius. "Artinya dia memiliki akses ke arsip pribadi keluarga kita yang seharusnya sudah dimusnahkan atau diamankan. Ada tikus di dalam rumah kita, Jin-ah. Atau seseorang di masa lalu yang menyimpan salinan."
Taehyung menatap Jin dengan mata berkaca-kaca. "Hyung, apakah kita harus menyerah pada permintaannya? Menghentikan investigasi?"
Jin mengangkat kepalanya. Matanya yang tadi lelah kini menyala dengan api kemarahan murni. "Tidak. Kita tidak akan pernah menyerah pada pemeras. Jika kita berhenti sekarang, dia akan meminta hal lain besok. Lusa. Selamanya."
Jin berdiri, meski kakinya terasa lemah. Ia menahan rasa pusingnya dengan menggigit bibir dalam-dalam hingga terasa besi di lidahnya.
"Chanyeol Hyung, lacak asal amplop ini. Cek sidik jari jika ada. Namjoon, hubungi pengacara khusus kasus pidana. Kita akan melaporkan upaya pemerasan ini ke polisi, beserta semua bukti fitnah sebelumnya. Kita serang balik secara hukum, total."
"Jin, itu berisiko," peringatan Chanyeol. "Jika dia benar-benar punya bukti sabotase masa lalu..."
"Maka kita akan buktikan bahwa itu palsu," potong Jin tegas. "Karena aku tahu kebenarannya. Dan aku tidak akan membiarkan nama baik Orang Tua kita dicemarkan oleh sampah seperti Xiumin."
Tiba-tiba, pandangan Jin menjadi kabur. Dunia di sekitarnya berputar cepat. Suara-suara di ruangan terdengar jauh dan bergema.
"Hyung?" suara Taehyung terdengar panik.
Jin mencoba menjawab, tapi kakinya menyerah. Tubuhnya ambruk ke depan.
"JIN!" teriak Chanyeol, menangkap tubuh Jin tepat sebelum menghantam lantai marmer.
Taehyung berlari mendekat, wajahnya pucat pasi. "Hyung! Hyung, bangun! Kenapa ini terjadi lagi?!"
Chanyeol memeriksa nadi Jin. Lemah, tapi masih ada. Napasnya dangkal. Darah segar mulai menetes lagi dari hidung Jin, menodai kemeja putihnya yang bersih.
"Panggil Dokter Wang! Sekarang!" perintah Chanyeol pada Namjoon yang sudah berlari keluar ruangan.
Taehyung menangis, memegang wajah Jin yang dingin. "Hyung, tolong... jangan tinggalkan aku. Kau bilang kau sudah sehat. Kau bohong, kan? Kau selalu bohong demi kami..."
Di sudut ruangan, Yoongi yang menyaksikan semuanya dari balik kaca, segera menerobos pintu darurat. Wajahnya gelap. Ia tahu ini bukan sekadar kelelahan. Ini adalah keruntuhan sistemik.
Saat paramedis dan Dokter Wang Do tiba beberapa menit kemudian, suasana mansion berubah menjadi hiruk-pikuk medis. Jin diusung ke ambulans pribadi yang sudah standby di halaman.
Taehyung ingin ikut, tetapi Chanyeol menahannya. "Tae, kau harus tenang. Biarkan dokter menangani Hyungmu. Kau tidak bisa membantu jika kau panik."
"Tapi aku harus bersamanya!" tolak Taehyung, melepaskan diri. "Dia sendirian, Chanyeol-hyung! Dia selalu sendirian!"
Chanyeol menghela napas, lalu mengangguk. "Baik. Aku akan mengantarmu. Tapi kau harus janji untuk tidak membuat keributan di rumah sakit. Biarkan profesional bekerja."
Sementara ambulans melaju kencang menuju rumah sakit terbaik di Seoul, di mansion yang ditinggalkan, Yoongi mengumpulkan foto-foto yang berserakan di meja Jin. Ia menatap inisial X itu dengan tatapan dingin.
"Kau bermain api, Min Seokhun," gumam Yoongi pelan. "Dan kali ini, apinya akan membakar dirimu sendiri."
Yoongi mengeluarkan ponselnya, menghubungi kontak rahasia yang jarang ia gunakan. Seorang investigator swasta terbaik di Korea.
"Temukan siapa yang memberi akses arsip keluarga Kim kepada Xiumin. Temukan semuanya. Tidak peduli berapa biayanya."
Perang telah berubah bentuk. Dari pertarungan korporat, menjadi perang pribadi yang menyentuh luka masa lalu yang paling dalam. Dan di tengah badai itu, Kim Seokjin terbaring tak sadarkan diri, membawa serta rahasia kesehatannya yang kian memburuk, sementara adiknya, Taehyung, akhirnya menyadari bahwa topeng kekuatan kakaknya telah hancur berkeping-keping.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Suara monitor detak jantung masih berbunyi ritmis, beep... beep... beep, mengisi keheningan kamar VIP rumah sakit. Kim Seokjin baru saja membuka matanya. Pandangannya kabur sejenak sebelum fokus pada wajah Taehyung yang tertidur pulas di kursi samping tempat tidur, kepalanya bersandar di tepi kasur, tangannya masih menggenggam erat jari-jari Jin.
Jin mencoba bergerak, tetapi rasa lemas yang luar biasa menahan tubuhnya. Kepalanya berdenyut nyeri. Ia ingat apa yang terjadi sebelumnya: pusing, mimisan, dan kegelapan. Dan ia juga ingat janji rahasianya kepada Dokter Wang Do.
Pintu kamar terbuka pelan. Dokter Wang Do masuk, diikuti oleh Chanyeol dan Namjoon yang tampak sangat cemas. Melihat Jin sudah sadar, mereka menghela napas lega.
"Hyung!" seru Namjoon, segera mendekat. "Kau baik-baik saja? Kami hampir panik."
Jin tersenyum tipis, meski senyum itu terasa berat. Ia melirik Dokter Wang Do. Dokter tua itu mengerti isyarat mata Jin. Dengan wajah datar, Wang Do menutup folder medis yang tadi dibawanya, menyembunyikan diagnosis asli Aplastic Anemia dari pandangan orang lain.
"Tuan Kim mengalami anemia akut akibat stres berlebihan dan dehidrasi parah," kata Dokter Wang dengan suara tenang dan meyakinkan, sebuah kebohongan putih yang diminta Jin. "Sel darah merahnya rendah, sehingga menyebabkan pusing dan mimisan. Tidak ada kerusakan organ vital. Tidak ada penyakit kronis."
Taehyung terbangun mendengar suara itu. Matanya yang bengkak karena menangis langsung menatap Jin. "Hyung? Benarkah? Kau... kau tidak sakit parah?"
Jin mengulurkan tangan, mengusap pipi Taehyung yang basah. "Hyung hanya kelelahan, Tae-tae. Tubuhku protes karena bekerja terlalu keras minggu lalu. Maafkan Hyung membuatmu takut."
Chanyeol menyipitkan mata, tatapannya tajam menyelidik ke arah Dokter Wang, lalu kembali ke Jin. Ia merasakan ada yang tidak beres. Instingnya sebagai mantan agen intelijen berkata bahwa Jin menyembunyikan sesuatu. Namun, melihat wajah Jin yang memohon diam-diam, Chanyeol memilih untuk tidak menekan saat ini. Ia akan mencari tahu kebenarannya sendiri nanti.
"Jika hanya anemia, kenapa harus rawat inap?" tanya Chanyeol dingin.
"Untuk transfusi darah dan observasi 24 jam," jawab Dokter Wang cepat. "Tubuhnya perlu waktu untuk memproduksi sel darah baru. Dia dilarang bekerja minimal dua minggu. Itu syarat mutlak."
Dua minggu. Jin mengangguk dalam hati. Itu waktu yang cukup baginya untuk mengatur strategi tanpa harus berpura-pura sehat di kantor setiap hari. Dan lebih importantly, itu waktu untuk melindungi Taehyung dan teman-temannya dari kebenaran yang mungkin akan menghancurkan mental mereka jika diketahui sekarang.
"Aku mengerti," kata Namjoon, terlihat lega. "Kami akan pastikan Hyung istirahat total. Tidak ada telepon kerja, tidak ada rapat."
Jin tersenyum lemah. "Terima kasih, semuanya. Sekarang... bisakah aku bicara sebentar dengan Tae? Sendirian?"
Chanyeol dan Namjoon saling pandang, lalu mengangguk. Mereka keluar ruangan, meninggalkan kedua bersaudara itu.
Begitu pintu tertutup, Jin menarik napas dalam-dalam, menahan rasa sakit di dadanya. Ia menatap Taehyung lekat-lekat.
"Tae, dengarkan Hyung," bisik Jin serius. "Apa pun yang dikatakan dokter, apa pun yang kau dengar dari orang lain... percayalah padaku. Aku baik-baik saja. Aku hanya butuh istirahat. Jangan biarkan kecemasanmu memakanmu. Kau harus tetap kuliah, tetap bersama Jungkook dan Jimin. Hidupmu tidak boleh berhenti karena Hyung."
Taehyung menggigit bibirnya, menahan air mata. "Tapi Hyung terlihat sangat lemah..."
"Itu efek obat penenang," bohong Jin lagi, dengan mulus. "Rasa lemas ini akan hilang setelah transfusi selesai. Janji padaku, Tae. Tetap kuat. Untuk Hyung."
Taehyung menunduk, lalu mengangguk pelan. "Aku janji, Hyung."
Jin tersenyum, lalu menutup matanya lagi, pura-pura tidur agar Taehyung tidak melihat ekspresi kesakitan yang sesekali muncul di wajahnya. Ia tahu ini egois. Ia tahu ia sedang membebani Taehyung dengan kekhawatiran palsu, sementara bahaya sesungguhnya jauh lebih mengerikan. Tapi ia tidak punya pilihan. Jika Taehyung tahu kenyataan tentang sumsum tulangnya yang hancur, adik itu akan hancur. Dan Jin tidak bisa mati dalam keadaan mengetahui adiknya hancur.
Sementara itu, di lantai dasar kafetaria rumah sakit yang sepi pukul 2 pagi, Taehyung duduk di sudut gelap, menunggu pesan misterius itu. Ia merasa gelisah. Perutnya bergejolak.
Seorang pria bertopi baseball dan mengenakan masker wajah mendekati mejanya. Pria itu tidak duduk, hanya meletakkan sebuah flashdisk kecil di atas meja.
"Jangan buka di sini," kata pria itu dengan suara serak, hampir tak terdengar. "Isinya adalah rekaman CCTV ruang arsip Kim Corp tanggal kejadian 'kecelakaan' orang tuamu. Ada sosok ketiga di mobil itu malam itu. Bukan sopir. Bukan ayahmu. Cari tahu siapa dia sebelum Xiumin menemukan flashdisk ini."
Sebelum Taehyung bisa bertanya, pria itu sudah berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan koridor.
Taehyung memegang flashdisk itu dengan tangan gemetar. Jantungnya berdegup kencang. Ini bukan tentang penyakit Jin. Ini tentang masa lalu. Tentang kematian orang tua mereka. Dan tentang Xiumin.
Ia memasukkan flashdisk itu ke dalam saku jaketnya, lalu berdiri cepat. Ia harus kembali ke kamar Jin. Tapi pikirannya kini dipenuhi pertanyaan baru. Siapa sosok ketiga itu? Dan apakah Xiumin tahu tentang hal ini?
Saat Taehyung kembali ke lantai atas, ia melewati ruang perawat. Ia melihat Chanyeol sedang berbicara serius dengan seorang perawat kepala, tampaknya menanyakan detail medis Jin yang sebenarnya. Taehyung bersembunyi di balik pilar, mendengar sebagian percakapan.
"...hasil lab lengkapnya mana?" tanya Chanyeol tegas.
"Maaf, Tuan Park. Semua rekam medis Tuan Kim dikunci dengan enkripsi tingkat tinggi oleh Dokter Wang pribadi. Hanya beliau dan pasien yang memiliki akses kunci digital," jawab perawat itu ragu-ragu.
Chanyeol mendengus kesal. "Ada yang disembunyikan. Aku bisa menciumnya."
Taehyung menelan ludah. Chanyeol-hyung curiga. Jika Chanyeol tahu kebohongan Jin, segalanya bisa runtuh. Taehyung harus menjaga rahasia ini, demi permintaan terakhir Jin. Ia harus menjadi tembok antara kebenaran pahit dan ketenangan semu yang sedang mereka jalani.
Dengan langkah ringan, Taehyung menyusup kembali ke kamar Jin, membawa serta flashdisk misteri dan beban rahasia yang semakin berat di pundaknya.
Di luar jendela, bulan purnama bersinar dingin, menyaksikan dua kebohongan besar yang tumbuh subur: satu tentang kesehatan Jin, dan satu tentang masa lalu kelam keluarga Kim. Dan keduanya siap meledak kapan saja.