Indonesia
NovelToon NovelToon
The Promish Hyung

The Promish Hyung

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / CEO
Popularitas:47
Nilai: 5
Nama Author: Dewi_BtsOt7

Di mata dunia, Kim Seokjin adalah Devil.
CEO KIMS GROUP. Dingin. Kejam. Tanpa ampun.
Satu keputusannya bisa membuat EX GROUP bangkrut dalam semalam.

Tapi di rumah...
Dia hanya seorang Hyung.

8 tahun lalu dia berjanji pada ayahnya: "Aku akan menjaga Tae."
Sekarang dia menepati janji itu dengan cara yang salah.
Menelan obat di toilet kantor. Menahan darah di balik jas mahal.
Tersenyum untuk 8 orang yang dia sayangi.

Leukimia. Stadium akhir.
Rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Malaikat kecilnya, Taehyung.

Saat EX GROUP mulai mengancam nyawa Tae, Seokjin harus memilih.
Tetap menjadi Devil yang melindungi...
Atau runtuh sebagai Malaikat yang akhirnya butuh dilindungi.

"Di luar aku iblis, Tae. Tapi di depanmu... aku cuma hyungmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi_BtsOt7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Matahari sore mulai condong ke barat, mewarnai langit Seoul dengan gradasi oranye dan ungu yang memukau. Di mansion keluarga Kim, suasana terasa damai setelah ketegangan beberapa hari terakhir. Taehyung sedang duduk di teras belakang, menikmati angin sepoi-sepoi sambil membaca buku sketsa. Jungkook dan Jimin sedang berlatih tari di ruang dansa dalam, sementara Jihoon asyik meneliti dokumen kasus pro bono di perpustakaan.

Kim Seokjin berada di ruang kerjanya, berpura-pura membaca laporan ringan meskipun matanya sering tertutup karena menahan pusing. Ia tahu ia tidak boleh terlihat lemah, terutama di depan Chanyeol yang semakin curiga.

Tiba-tiba, bel pintu utama berbunyi nyaring. Bukan bunyi bel tamu biasa, melainkan bunyi panjang dan mendesak.

Pembuka pintu otomatis menyala, menampilkan wajah seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal dan jas abu-abu kusam. Wajahnya asing, namun ada sesuatu yang familier dari sorot matanya yang tajam dan dingin.

"Siapa dia?" tanya Jin pada interkom, alisnya berkerut.

"Dia mengatakan namanya Pak Han, Hyung," jawab suara Namjoon dari lobi. "Dia bilang membawa 'barang bukti' tentang kecelakaan orang tua kita sepuluh tahun lalu."

Jantung Jin berhenti berdetak sesaat. Darah dingin mengalir di seluruh tubuhnya. Kecelakaan itu adalah topik terlarang, luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh. Xiumin pernah menggunakannya sebagai ancaman, tapi siapa pria ini?

"Bawa dia ke ruang tamu VIP," perintah Jin, suaranya datar meski tangannya gemetar. "Jangan biarkan dia naik ke lantai atas. Aku akan turun sebentar."

Jin berdiri, merapikan rambutnya di cermin. Ia harus tampil kuat. Ia mengambil napas dalam-dalam, menekan rasa sakit di kepalanya, dan berjalan menuju tangga dengan langkah tegak.

Di ruang tamu VIP yang megah, Pak Han duduk dengan gelisah. Di tangannya, ia memegang sebuah map cokelat tua yang sudah usang. Saat Jin masuk, pria itu segera berdiri, membungkuk hormat dengan berlebihan.

"Tuan Kim Seokjin... akhirnya saya bisa bertemu Anda," kata Pak Han, suaranya serak.

"Silakan duduk," kata Jin dingin, duduk di sofa berhadapan dengannya. Chanyeol dan Yoongi sudah berdiri di belakang Jin, siaga seperti dua penjaga gerbang. "Apa yang ingin Anda bicarakan, Pak Han?"

Pak Han membuka map itu perlahan. Isinya adalah foto-foto hitam putih buram, potongan koran lama, dan sebuah surat tulisan tangan yang sudah menguning.

"Saya adalah mantan mekanik di bengkel resmi mobil keluarga Kim sepuluh tahun lalu," mulai Pak Han, matanya menghindari tatapan Jin. "Malam sebelum kecelakaan itu terjadi, ada seseorang yang datang ke bengkel tengah malam. Dia meminta saya untuk 'memeriksa' sistem rem mobil Tuan Kim ayah Anda. Saya menolak, tentu saja. Tapi... saya melihat dia meninggalkan sesuatu di bawah kap mesin."

Jin mencondongkan tubuh maju, napasnya tertahan. "Apa itu?"

"Sebuah alat kecil. Seperti pengontrol jarak jauh atau pemutus sirkuit mini. Saya tidak tahu fungsinya saat itu. Tapi pagi harinya, berita kecelakaan itu tersebar. Rem mobil blong di tikungan tajam."

Ruangan menjadi hening mencekam. Teori sabotase yang selama ini hanya berupa dugaan kini memiliki saksi mata.

"Lalu mengapa Anda baru muncul sekarang?" tanya Chanyeol tajam, melangkah maju. "Sepuluh tahun adalah waktu yang sangat lama untuk menyimpan rahasia."

Pak Han menelan ludah, wajahnya pucat. "Karena... orang yang memerintahkan saya itu membayar saya sangat mahal untuk diam. Dan dia mengancam akan membunuh keluarga saya jika saya bicara. Tapi sekarang... sekarang dia sudah tidak punya uang lagi. Dia bangkrut. Dan saya merasa bersalah. Sangat bersalah."

"Siapa namanya?" desak Jin, suaranya bergetar karena amarah yang tertahan.

Pak Han menggeleng. "Saya tidak tahu nama aslinya. Dia selalu memakai topeng dan mengubah suaranya. Tapi... ada satu hal. Di surat ini, tertulis inisial di sudut kertas pembayaran. L.S."

L.S.

Jin terpaku. Inisial itu tidak cocok dengan Xiumin (Min Seokhun) atau Chen (Jongdae). Siapa L.S.?

Tiba-tiba, ponsel Jin berdering. Nama yang muncul di layar membuat darahnya membeku: Lee Soo-hyuk.

Sahabat masa kecil ayahnya. Orang yang paling dekat dengan keluarga Kim saat orang tua mereka masih hidup. Orang yang selalu Jin panggil "Paman Lee".

Jin mengangkat telepon dengan tangan gemetar. "Paman Lee?"

"Jin-ah..." suara Lee Soo-hyuk terdengar lelah dan sedih. "Aku mendengar ada orang yang mencari kalian terkait masa lalu. Jangan percaya semuanya. Tapi... ada kebenaran yang harus kau tahu. Tentang malam itu. Dan tentang siapa yang sebenarnya berada di dalam mobil selain ayahmu."

Jin mematikan telepon, wajahnya pucat pasi. Ia menatap Pak Han, lalu menatap Chanyeol dan Yoongi.

"Usir dia," kata Jin pelan. "Berikan dia cek kosong. Suruh dia pergi dari Korea malam ini juga. Jika dia berbicara pada siapa pun selain kita, hapus keberadaannya."

Chanyeol mengangguk, memberi isyarat pada dua pengawal untuk membawa Pak Han keluar. Pria itu tidak melawan, hanya tersenyum lega seolah beban berat telah terangkat dari pundaknya.

Setelah ruangan kosong, Jin jatuh terduduk di sofa. Kepalanya berputar hebat. Mimisan mulai keluar lagi, tetes demi tetes, menodai karpet putih mewah.

"Hyung!" seru Yoongi, segera memberikan tisu.

"Ini bukan Xiumin," gumam Jin, suaranya parau. "Ada orang ketiga. Seseorang dengan inisial L.S. Dan Paman Lee tahu sesuatu."

Chanyeol menggeram kesal. "Kita harus menyelidiki Lee Soo-hyuk. Sekarang."

"Tidak," tolak Jin tegas, meski tubuhnya lemas. "Jika kita menyerangnya sekarang, dia akan lari. Kita butuh bukti lebih kuat. Kita butuh tahu apa hubungannya dengan L.S. itu."

Jin menutup matanya, merasakan dunia runtuh di sekitarnya. Rahasia masa lalu ternyata lebih dalam dan lebih gelap dari yang ia bayangkan. Dan kini, kesehatan tubuhnya yang rapuh menjadi hambatan terbesar untuk mengungkap kebenaran itu.

Di luar jendela, matahari telah tenggelam, meninggalkan kegelapan yang menyelimuti mansion. Badai baru telah dimulai, dan kali ini, musuhnya bukan hanya mantan sahabatnya, tapi hantu-hantu dari masa lalu yang enggan mati.

🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀

Malam itu, ruang kerja Kim Seokjin berubah menjadi pusat komando rahasia. Lampu utama dimatikan, hanya menyisakan cahaya biru dari tiga layar monitor besar yang menyala di meja Jin. Wajah Jin tampak pucat di bawah cahaya layar, keringat dingin membasahi dahinya meski suhu ruangan diatur sejuk. Ia baru saja minum obat pereda nyeri dosis ganda, berharap bisa menahan sakit kepala yang berdenyut seperti palu godam.

Chanyeol duduk di sofa kulit di sudut ruangan, laptopnya terbuka di pangkuannya. Jari-jarinya menari cepat di keyboard, mengakses database keamanan pribadi yang tidak terhubung ke server perusahaan Kim Corp. Yoongi berdiri di dekat jendela, mengintip keluar melalui celah tirai, memastikan tidak ada pengintai di halaman mansion.

"Aku sudah melacak nomor telepon Lee Soo-hyuk," kata Chanyeol tanpa menoleh, suaranya datar. "Dia tidak berada di Seoul. Sinyal terakhir terdeteksi di Busan, di sebuah vila pribadi milik yayasan amal yang didirikannya lima tahun lalu."

"Yayasan amal?" Jin mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat. "Ayah pernah menyebutkan sesuatu tentang itu. Katanya Paman Lee sangat peduli pada anak-anak yatim piatu korban kecelakaan lalu lintas."

Yoongi berbalik, wajahnya serius. "Itu kedok yang sempurna. Siapa yang akan curiga pada seorang filantropis yang membantu korban kecelakaan, jika ternyata dia mungkin terlibat dalam menyebabkan salah satu kecelakaan terbesar dalam sejarah keluarga ini?"

Jin merasa mual. Betapa liciknya manusia bisa menyembunyikan kejahatan di balik topeng kebaikan.

"Apa yang kita ketahui tentang inisial L.S.?" tanya Jin, matanya tertuju pada foto buram Pak Han yang telah discan ke dalam sistem.

Chanyeol mengetik beberapa perintah. "Lee Soo-hyuk. Inisialnya cocok. Tapi ada kemungkinan lain. Ada mantan eksekutif logistik Kim Corp bernama Lim Sung-min yang dipecat sepuluh tahun lalu, tepat seminggu sebelum kecelakaan orang tua kit

Kita. Dia menghilang setelah pemecatan."

"Lim Sung-min..." gumam Jin. Nama itu terdengar asing, tapi insting bisnisnya berkata bahwa pemecatan mendadak seorang eksekutif tingkat tinggi jarang terjadi tanpa alasan kuat.

"Coba cek rekam jejak Lim Sung-min," perintah Jin. "Dan cari koneksi antara dia dan Lee Soo-hyuk."

Sementara Chanyeol bekerja, Jin merasakan gelombang pusing yang hebat. Pandangannya kabur sejenak. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan diri. Jangan pingsan sekarang, batinnya memohon. Kau harus tahu kebenarannya.

"Hyung," suara Taehyung terdengar dari pintu yang terbuka sedikit.

Jin segera membuka matanya, memasang senyum tipis. "Tae? Kenapa belum tidur?"

Taehyung masuk membawa segelas susu hangat. Wajahnya khawatir. "Aku melihat lampu kamar kerjamu masih menyala. Hyung janji untuk istirahat, kan?"

Jin menerima gelas susu itu dengan tangan yang berusaha stabil. "Hanya sebentar lagi, Tae-tae. Hyung sedang menyelesaikan beberapa email penting. Setelah ini, Hyung langsung tidur."

Taehyung menatap layar komputer Jin sekilas, melihat grafik dan data yang rumit. "Ini bukan email biasa, Hyung. Ini investigasi."

Jin terdiam. Ia tidak bisa berbohong lagi di depan Taehyung yang semakin peka. "Ada hal-hal masa lalu yang perlu diselesaikan, Tae. Hal-hal yang berkaitan dengan Ayah dan Ibu. Hyung perlu memastikan bahwa tidak ada lagi bahaya yang mengintai kita."

Taehyung menggigit bibirnya. "Apakah ini berbahaya bagi Hyung?"

"Tidak," bohong Jin lagi, meskipun dadanya sesak. "Ini hanya urusan kertas dan data. Tidak ada fisik. Percayalah pada Hyung."

Taehyung menghela napas, lalu duduk di tepi meja. "Kalau begitu, aku temani Hyung. Sampai Hyung selesai."

Jin ingin menolak, ingin menyuruh Taehyung pergi agar ia bisa fokus dan mungkin menunjukkan kelemahan fisiknya tanpa dilihat. Tapi melihat keteguhan di mata adiknya, Jin tahu ia tidak bisa menang.

"Baiklah," kata Jin lembut. "Tapi jangan ganggu Chanyeol-hyung dan Yoongi-hyung bekerja."

Chanyeol tiba-tiba berseru, "Dapat!"

Jin dan Taehyung menoleh. Layar tengah menampilkan profil Lim Sung-min dan Lee Soo-hyuk. Di antara keduanya, ada garis koneksi keuangan yang tersembunyi.

"Lima tahun lalu," jelas Chanyeol, menunjuk grafik aliran dana, "ada transfer sejumlah besar uang dari rekening offshore atas nama Lee Soo-hyuk ke rekening anonim. Rekening anonim itu kemudian digunakan untuk membeli tiket pesawat satu arah ke Thailand untuk Lim Sung-min. Dan tebak apa? Tiket itu dibeli sehari setelah kematian orang tua Jin."

Ruangan hening. Bukti itu kuat. Sangat kuat.

"Lee Soo-hyuk membayar Lim Sung-min untuk lari," simpul Yoongi dingin. "Dan Lim Sung-min adalah orang yang mungkin melakukan sabotase rem mobil."

Jin merasa dunianya bergoyang. Sahabat ayahnya sendiri. Orang yang sering memeluknya saat kecil. Orang yang memberikannya permen saat ia menangis.

"Kenapa?" bisik Jin, suaranya pecah. "Mengapa Paman Lee melakukan ini?"

Chanyeol menutup laptopnya. "Kita perlu bertanya padanya langsung. Kita perlu ke Busan."

"Tidak," kata Jin tegas, meski tubuhnya gemetar hebat. "Jika kita pergi ke sana, dia akan tahu kita curiga. Dia mungkin punya pengawal atau jebakan. Kita harus memancingnya keluar."

Jin mengambil ponselnya. Ia membuka kontak Lee Soo-hyuk. Dengan jari yang gemetar, ia mengetik pesan:

"Paman Lee, aku menemukan sesuatu yang menarik tentang malam itu. Bisakah kita bertemu besok siang di tempat lama kita? Aku ingin mendengar cerita Paman lebih lanjut."

Pesan terkirim.

Jin meletakkan ponsel di meja, lalu tiba-tiba tubuhnya oleng. Gelas susu yang tadi dipegangnya jatuh, pecah berantakan di lantai.

"Hyung!" teriak Taehyung, menangkap tubuh Jin sebelum jatuh sepenuhnya.

Chanyeol dan Yoongi segera mendekat. Wajah Jin pucat seperti kertas, napasnya tersengal-sengal. Darah mulai menetes dari hidungnya lagi, lebih deras dari sebelumnya.

"Panggil Dokter Wang," perintah Chanyeol panik. "Sekarang!"

Taehyung menangis, memegang wajah Jin. "Hyung, tolong... jangan tinggalkan aku. Kau bilang kau baik-baik saja!"

Jin mencoba tersenyum, tapi darah menghalangi bicaranya. Ia hanya bisa menggenggam tangan Taehyung erat-erat, matanya memohon maaf. Maafkan Hyung, Tae-tae. Hyung harus tahu kebenarannya. Bahkan jika itu membunuh Hyung.

Gelap kembali menyelimuti pandangan Jin. Kali ini, ia tidak yakin apakah ia akan bangun lagi dengan mudah.

Di luar, hujan mulai turun deras, seolah langit turut meratapi pengkhianatan masa lalu yang akhirnya terbongkar, dan kesehatan seorang pria yang hancur demi mengejar keadilan.

1
aytysz
Semangat yaa kak! kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku. Di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka...
Dewi_BtsOt7: siap ka nanti aku mampir kalo lagi luang..

aku lagi ngejar up di 3 platfrom🤭
total 1 replies
AntyKa
penasaran😄
Dewi_BtsOt7: di tunggu kelanjutannya ya ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!