Indonesia
NovelToon NovelToon
Dear My Destiny (Kepada Takdirku, Bersamamu)

Dear My Destiny (Kepada Takdirku, Bersamamu)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romansa / Bad Boy
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.

Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.

Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!

IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com

Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jerat Masa Lalu di Sunway

Sinar matahari pagi menerobos celah daun-daun palem di sepanjang canopy walk Kampus Sunway, membiaskan pendaran hangat di atas lantai beton. Suasana area student hub pagi itu mulai ramai oleh mahasiswa baru yang berlarian mengejar kelas jam delapan, riuh suara obrolan dalam bahasa Melayu dan Inggris, serta aroma manis roti bakar dari kantin utama.

Emily Valencia berjalan santai berdampingan dengan Mei Ling. Pagi ini, Emily mengenakan kemeja katun garis-garis biru muda bersiluet oversized, celana jins gelap, dan kacamata berbingkai tipis favoritnya. Di bahunya, tas kain kusam yang biasa menemani aktivitas kuliahnya terasa agak ringan, hanya berisi laptop, buku catatan ekonometrika, dan botol minum stainless steel.

Setelah dua hari yang menegangkan berhadapan dengan virus peretas Gabriel Setiawan, kembali ke rutinitas sederhana sebagai mahasiswi tingkat satu terasa bagaikan fase yang amat menenangkan.

"Mil, beneran deh, kuis ekonometrika nanti siang tuh bikin aku mau pingsan!" keluh Mei Ling seraya memeluk buku teks tebalnya. "Rumus regression analysis-nya panjang banget. Kamu udah siap, kan?"

Emily menyunggingkan senyum tipis, menyapu rambut hitam lurusnya ke belakang telinga. "Sudah kok, Mei. Kemarin malam aku sempat latihan soal tiga bab. Nanti sebelum masuk kelas, kita review bareng di perpustakaan, ya."

"Aaaah, Emily! Kamu beneran malaikat penyelamatku!" seru Mei Ling girang, merangkul lengan Emily dengan manja.

Saat mereka melintasi kedai kopi kecil di dekat perpustakaan lantai dua, ponsel di saku kemeja Emily bergetar pelan. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor lokal Malaysia.

Pesan dari: Sean

[Kuis jam 1 siang kan? Jangan lupa sarapan. Aku kirimkan matcha pastry sama teh hangat lewat pengemudi ojek online, udah dititipkan di meja resepsionis gedung F. Semangat kuisnya, Princess.]

Bibir Emily mengukir senyuman hangat yang sangat tulus. Di tengah kesibukannya mengendalikan konsorsium bisnis di Jakarta dan memantau pergerakan bursa, Sean tak pernah lupa memperhatikan hal-hal kecil dalam kehidupan kuliahnya. Emily mengetik balasan singkat: "Makasih, Sean. Kamu juga jangan lupa makan siang."

Bagi Emily, kehidupan sederhana di Sunway ini adalah masa depan yang selalu ia impikan. Menjadi mahasiswi biasa, belajar dengan tenang, dan memiliki seseorang yang mencintainya tanpa syarat.

Namun, kedamaian itu tak pernah bertahan lama di dalam dunia mereka.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pukul 12.15 siang. Area cafeteria luar ruangan Kampus Sunway sedang dipadati ratusan mahasiswa yang menikmati makan siang. Suara denting piring, gelak tawa, dan alunan musik pop dari pengeras suara kampus memenuhi udara yang hangat.

Emily dan Mei Ling baru saja selesai menyantap sepiring nasi chicken rice di salah satu meja kayu di bawah naungan payung besar. Emily sedang merapikan catatannya ketika mendadak keributan kecil terjadi di pintu masuk kantin.

Suara bentakan bernada tinggi dalam bahasa Indonesia dengan logat Jakarta yang sangat familiar menggema kasar, menarik perhatian puluhan mahasiswa di sekitar tempat itu.

"Mana cewek yang namanya Emily Valencia?! Bilang sama dia, orang tuanya datang!"

Napas Emily seketika tercekat. Jemarinya yang sedang memegang pulpen membeku di udara.

Dari arah pintu masuk kantin, seorang wanita paruh baya berpenampilan mencolok dengan pakaian serba glamor dan tas bermerek mencolok melangkah lebar. Di sampingnya, seorang pria paruh baya berkemeja batik kaku berjalan dengan wajah berang.

Ibunya. Dan Ayahnya.

Di belakang mereka berdua, berdiri seorang pria berjas rapi yang dikenal Emily sebagai salah satu pengacara pribadi keluarga Wijaya dari Jakarta.

"Mil... itu siapa?" bisik Mei Ling bingung, melihat wajah Emily yang mendadak pucat pasi. "Kok mereka teriak-teriak panggil nama kamu?"

Emily berdiri perlahan dari kursinya. Tubuhnya kaku. Memori-memori kelam masa kecilnya. Pengabaian di meja makan, tuduhan sebagai anak pembawa sial, dan dinginnya sikap kedua orang tuanya, seketika menyeruak kembali, memadati dadanya hingga terasa sesak.

Ibunya melihat Emily yang berdiri di pojok kantin. Dengan mata melebar dan amarah yang membara, wanita itu berlari mendekati meja Emily, mengabaikan tatapan heran dari ratusan mahasiswa asing yang menonton.

"Emily!" jerit Ibunya, suaranya melengking menembus kebisingan kantin. "Kamu anak durhaka! Kamu tega ya, hidup enak dan foya-foya di kampus mewah Malaysia, sementara keluarga kamu di Jakarta mau bangkrut?!"

Beberapa mahasiswa mulai mengeluarkan ponsel mereka, merekam drama yang tak terduga itu.

"Ma... Papa..." bisik Emily, suaranya gemetar namun berusaha ia tahan agar tidak pecah. "Kenapa kalian bisa ada di sini?"

"Kenapa kami di sini?!" seru Ayahnya, melangkah maju dan menggebrak meja kayu tempat Emily duduk hingga cangkir teh Mei Ling bergetar. "Harusnya Papa yang tanya! Kamu dapet uang dari mana buat menguasai aset puluhan juta dolar di bursa saham Malaysia, hah?! Kenapa kamu nggak pernah transfer uang itu buat bantu utang Papa di Jakarta?!"

Tuduhan kejam itu dilemparkan secara terbuka di hadapan ratusan teman seangkatan dan dosen yang melintas.

"Ooooh, Mama tahu!" seru Ibunya lagi, menudingkan telunjuk berhias cincin permata tepat ke wajah Emily. "Kamu pasti menjual diri kamu ke anak orang kaya itu lagi, kan?! Kamu memanfaatkan kepintaran kamu buat memeras uang Sean Anderson, terus kamu nikmati sendiri di sini tanpa memikirkan orang tua kamu yang melahirkan kamu!"

Mei Ling yang berdiri di samping Emily tidak tahan lagi melihat sahabatnya dimaki secara jahat. "Tante! Tolong jaga bicaranya! Emily di sini belajar rajin, dia anak beasiswa yang-"

"Kamu diam ya, mahasiswi asing! Nggak usah ikut campur urusan rumah tangga orang!" bentak Ibunya kasar pada Mei Ling.

Darah Emily terasa membeku, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya.

Emily yang berdiri di Sunway hari ini bukanlah gadis kacamata penakut berusia 17 tahun yang pasrah hendak ditampar di ruang tamu rumahnya empat tahun lalu. Ia telah melewati dinginnya salju Zurich, tempaan akademis Eropa, dan perang finansial tingkat tinggi.

Emily membetulkan posisi kacamatanya dengan jemari yang sangat tenang. Ia menghembuskan napas pelan, mendongak, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Ibunya dan Ayahnya dengan tatapan dingin, jernih, dan tanpa getaran ketakutan sedikit pun.

"Sudah selesai bicaranya, Ma? Papa?" suara Emily mengalun tenang namun tajam menyayat, menggema di antara keheningan kantin yang mencekam.

Ibunya tersentak, agak terkejut dengan respon Emily yang sama sekali tidak menangis atau memohon ampun seperti biasanya. "Kamu... kamu berani menantang Mama?!"

"Siapa yang memberi tahu kalian aku ada di Sunway?" tanya Emily datar. Matanya melirik dingin ke arah pengacara keluarga Wijaya yang berdiri di belakang orang tuanya. "Valerie Wijaya, kan? Cewek itu sengaja membayar tiket pesawat kalian ke Kuala Lumpur dan menghasut kalian dengan cerita palsu tentang uang jutaan dolar, supaya kalian datang ke sini buat mempermalukan aku di depan kampus."

Wajah Ayahnya seketika berubah canggung, namun kesombongan dan kegilaan akan uang dengan cepat menutupi rasa malunya. "Nggak peduli siapa yang kasih tahu! Yang jelas kamu itu anak Papa! Mau dari mana pun uang yang kamu pegang di Malaysia ini, kamu wajib serahkan ke Papa buat bayar utang keluarga!"

"Aku tidak punya utang apa pun pada kalian," tegas Emily, setiap kata yang keluar dari bibirnya bagai sabetan pedang yang memutus ikatan darah mereka. "Empat tahun lalu, saat Mama mengusir aku dari rumah dan mengancam tidak mengakui aku sebagai anak... ikatan keluarga kita sudah terputus."

"Kamu anak tidak tahu diri!" jerit Ibunya histeris. Tangannya terangkat tinggi ke udara, siap melayangkan tamparan keras ke pipi Emily di hadapan ratusan mahasiswa.

Namun, sebelum tangan wanita itu sempat bergerak turun, sebuah cengkeraman tangan yang amat kuat dan kaku menahan pergelangan tangannya di udara.

"Jangan pernah sentuh Emily!"

Suara berat, rendah, dan sarat akan ancaman membunuh menggelegar di tengah kantin.

Sean berdiri di samping Emily. Ia mengenakan kemeja hitam yang rapi, dengan aura dominasi dan kejam yang begitu terpancar dari sosoknya. Sean menghempaskan tangan Ibu Emily dengan kasar hingga wanita itu terhuyung mundur dua langkah.

Sean menggeser tubuh tingginya, memasang punggung lebarnya persis di depan Emily, menyembunyikan gadis itu sepenuhnya dari pandangan kedua orang tuanya yang serakah.

"Sean Anderson...?" gumam Ayah Emily dengan mata membelalak kaget melihat kedatangan calon pewaris tunggal Anderson Group tersebut.

Sean menatap kedua orang tua Emily dari atas ke bawah dengan pandangan menjijikkan yang tak terhingga.

"Tante dan Om datang jauh-jauh dari Jakarta cuma buat jadi boneka suruhan Valerie Wijaya?" cibir Sean dengan senyum dingin yang amat memuakkan. "Tante pikir uang jutaan dolar di bursa Malaysia itu milik Emily yang bisa Tante peras? Semua aset itu berada di bawah konsorsium hukum Anderson Group. Jika Tante atau Om berani menyentuh Emily atau membuat kekacauan di kampus ini satu detik lagi... besok pagi saya pastikan seluruh rekening perbankan Tante dan Om di Jakarta akan saya dibekukan atas tuduhan pemerasan internasional."

Wajah Ibu dan Ayah Emily seketika berubah pucat pasi bagaikan mayat. Mereka tahu betul bahwa ancaman dari seorang Sean Anderson bukanlah gertakan main-main.

"Dan kamu..." Sean memutar pandangannya, menatap tajam ke arah pengacara keluarga Wijaya yang berdiri ketakutan di belakang. "...sampaikan pesan saya pada Valerie bahwa trik murahannya memakai orang tua Emily ini benar-benar menjijikkan. Jangan sampai aku juga harus menghancurkan kamu dan seluruh keluargamu."

Pengacara itu menelan ludah secara kasar, mengangguk panik, lalu dengan cepat menarik lengan Ibu dan Ayah Emily untuk melangkah mundur meninggalkan area kantin sebelum tim keamanan pribadi Sean bertindak lebih jauh.

Kantin kampus perlahan kembali tenang, meski bisik-bisik kagum dari para mahasiswa masih terdengar riuh.

Sean berbalik secara perlahan, menatap Emily dengan binar mata yang mendadak berubah menjadi sangat lembut dan penuh rasa penyesalan. Tangannya terulur mengusap pipi Emily dengan kehangatan jemarinya.

"Kamu nggak apa-apa, Mil?" bisik Sean penuh kelembutan.

Emily menatap Sean, lalu mengukir senyum tipis yang amat tulus. "Aku nggak apa-apa, Sean. Kali ini... aku nggak menangis lagi."

Sean tersenyum bangga, menarik Emily ke dalam pelukan hangatnya di tengah riuh kantin Sunway. Emily memejamkan mata, menyandarkan kepalanya di dada bidang Sean. Di dalam dekapan cowok ini, ia tahu bahwa ia telah menemukan rumah sejati yang tak pernah ia dapatkan dari keluarganya sendiri.

Namun, saat pelukan mereka terlepas, pengacara keluarga Wijaya yang tadinya berjalan mundur tiba-tiba menghentikan langkahnya di ujung kantin. Pria berjas itu membalikkan badan, merogoh tas kerjanya, lalu melangkah mendekati Sean dengan senyum licik yang amat beracun.

"Aksi pertunjukan proteksi yang sangat mengesankan, Tuan Sean Anderson," ujar pengacara itu dengan nada dingin.

Ia menyodorkan selembar amplop dokumen resmi berstempel emas Mahkamah Agung Republik Indonesia tepat ke hadapan Sean.

"Saya diutus bukan hanya untuk mengantar orang tua Nona Emily," lanjut pengacara itu dengan senyum kemenangan. "Ini adalah surat panggilan sidang resmi dari Pengadilan Tinggi Jakarta atas gugatan pembatalan akuisisi dan dakwaan penggelapan aset Anderson Group yang diajukan oleh Tuan Besar Anderson, ayah Anda sendiri."

Napas Sean seketika tercekat. Matanya membelalak menatap dokumen di tangannya.

"Ayah Anda memberikan waktu 24 jam bagi Anda untuk kembali ke Jakarta dan menandatangani surat pernikahan resmi dengan Nona Valerie Wijaya," bisik pengacara itu tajam. "Jika Anda menolak pulang besok pagi... seluruh saham Anda di Anderson Group akan dicabut, dan eksekusi penyitaan akan dilakukan pada seluruh aset tempat tinggal Emily Valencia di Malaysia."

Valerie dan keluarga Wijaya telah memainkan kartu AS terakhir mereka, memanfaatkan kekuasaan Ayah Sean sendiri untuk memisahkan Sean dari Emily secara paksa.

Bersambung......

1
Alia Chans
Hadir atuuu/Smile//Smile/
Bella: haloo kakk, makasihh yaa 🥰 enjoy ceritanyaa 💖
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!