Indonesia
NovelToon NovelToon
Jenderal Langit : Terbangun Di Benua Dewa

Jenderal Langit : Terbangun Di Benua Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyeberangan Dunia Lain / Identitas Tersembunyi / Fantasi Timur
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update 5 bab dijam yang sama 12.00 WIB.


Vano Andrian, seorang aktor muda berbakat yang baru berusia dua puluh satu tahun, tewas tragis setelah meminum air beracun yang diberikan oleh kru setianya. Kematian akibat pengkhianatan itu membawanya melintasi dimensi ke Benua Dewa.


Di dunia kultivasi tersebut, jiwanya merasuki tubuh Gu Yan-Zhi, seorang pemuda lemah yang baru saja dibantai oleh sepupunya sendiri. Terperangkap dalam raga asing dengan Dantian yang tersegel rapat, Vano harus bangkit melawan takdir kejam. Berbekal insting tempur modern dan aliansi tak terduga dengan makhluk mitos, akankah Vano menuntut balas atas penderitaan Gu Yan-Zhi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Kota Rawa Tersembunyi dan Bisnis Gelap Alkimia

Perjalanan menyusuri jalur hutan pinus menuju wilayah selatan memakan waktu hampir tiga hari penuh. Lanskap Benua Dewa berangsur-angsur berubah dari tebing-tebing batu bersalju abadi menjadi dataran rendah berawa-rawa yang ditumbuhi oleh pepohonan bakau raksasa berakar gantung serta kabut tipis lembap yang selalu menggantung di udara sepanjang hari. Suhu udara di wilayah ini terasa hangat dan lembap, kontras dengan cuaca ekstrem membeku di Pegunungan Angin Utara sebelumnya.

Gu Yan-Zhi memimpin kelompok kecilnya berjalan di atas jalan setapak berlumpur yang dikelilingi oleh rawa-rawa berkabut. Di belakangnya, Gu Chen dengan hati-hati menuntun kuda beban yang tampak sedikit kelelahan akibat kelembapan udara yang tinggi, sementara Gu Ruoxi mengenakan jubah praktis yang lebih ringan, mengawasi keadaan sekitar dengan kepekaan spiritual yang tidak pernah kendur sejak insiden di pegunungan.

Di bahu kanan Gu Yan-Zhi, Hu Yijie mengibaskan ekornya untuk mengusir nyamuk-nyamuk rawa berukuran besar yang berdengung di sekitar mereka. Bulu putih bersih makhluk mitos itu dilapisi oleh lapisan tipis energi spiritual pelindung agar tidak terkena lumpur kotor.

Tuan... aroma udara di sini sangat pekat dengan bau rempah-rempah alkimia kualitas rendah dan bau sisa darah pertarungan lama, suara telepati Hu Yijie bergema di kepala Gu Yan-Zhi dengan nada sedikit jijik. Tempat ini benar-benar sarang para pencari keuntungan gelap.

Gu Yan-Zhi tersenyum tipis merespon komentar hewan kecil itu. "Kau benar, Yijie. Kota Rawa Tersembunyi bukanlah tempat bagi para pendekar yang menjunjung tinggi kehormatan suci. Tempat ini adalah pusat perniagaan bawah tanah terbesar di wilayah perbatasan, tempat di mana barang curian, pil obat terlarang, dan informasi rahasia diperjualbelikan secara bebas tanpa memedulikan hukum sekte besar."

Tidak lama setelah berjalan menembus barisan pohon bakau raksasa yang lebat, kabut tipis di depan mereka perlahan-lahan menipis, menampakkan sebuah tembok benteng tinggi yang terbuat dari kayu besi hitam dan batu lumpur mampat. Di atas gerbang utama yang dijaga oleh belasan pengawal bayaran berpenampilan sangar dengan bekas luka tikaman di wajah mereka, tergantung sebuah plakat kayu tua dengan tulisan aksara kuno yang berbunyi: Kota Rawa Tersembunyi.

Di depan gerbang masuk, tampak antrean panjang para kultivator independen, pedagang keliling, dan buronan buronan sekte yang ingin memasuki kota. Para penjaga gerbang tampak memeriksa setiap orang dengan teliti, sambil mengenakan biaya masuk berupa batu spiritual kelas rendah bagi siapapun yang ingin melintas.

Gu Yan-Zhi menarik tudung jubah hitamnya sedikit ke bawah untuk menutupi separuh wajahnya, lalu memberi isyarat kepada Gu Chen dan Gu Ruoxi untuk tetap tenang dan berjalan di belakangnya.

"Tetaplah dekat denganku dan jangan menarik perhatian yang tidak perlu," bisik Gu Yan-Zhi pelan kepada kedua saudaranya.

Ketika rombongan mereka tiba di pos pemeriksaan gerbang, salah seorang penjaga bertubuh kekar dengan tato ular melingkar di lehernya melangkah maju, menghalangi jalur mereka dengan tombak panjang berkarat di tangannya. Pengawal itu mengamati Gu Yan-Zhi, Gu Chen, dan kuda beban mereka dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan.

"Berhenti! Pengenal asal-usul atau bayar biaya masuk dua kali lipat jika kalian tidak ingin urusan kalian dipersulit di sini!" bentak pengawal berwajah sangar itu dengan suara kasar.

Gu Yan-Zhi tidak terpancing emosinya. Dengan gestur yang sangat tenang, ia merogoh kantong kecil di pinggangnya dan mengeluarkan tiga buah batu spiritual kelas rendah, lalu melemparkannya dengan tepat ke telapak tangan pengawal tersebut.

"Untuk kami bertiga dan seekor hewan peliharaan," ucap Gu Yan-Zhi dengan nada datar namun penuh wibawa yang membuat sang pengawal mengerutkan kening sejenak, merasakan ada tekanan aura tersembunyi yang mengalir dari balik jubah pemuda itu.

Pengawal tersebut menimbang batu spiritual di tangannya, mendecak lidah pelan, lalu mengangguk singkat. "Baiklah, masuk. Ingat aturan di dalam kota: dilarang membuat kekacauan di area pasar utama kecuali kalian ingin diseret keluar sebagai santpan buaya rawa."

Begitu mereka melangkah melewati gerbang utama, suasana hiruk-pikuk langsung menyergap pendengaran dan penglihatan mereka. Kota Rawa Tersembunyi ternyata jauh lebih luas dan padat daripada yang dibayangkan dari luar. Bangunan-bangunan di dalam kota didominasi oleh rumah panggung kayu tua yang berdiri di atas permukaan air rawa dangkal, dihubungkan oleh jembatan-jembatan papan kayu yang saling silang-menyilang.

Di sepanjang pinggir jembatan, puluhan pedagang kaki lima menggelar lapak darurat, menawarkan berbagai macam barang aneh—mulai dari cakar monster liar, gulungan teknik kultivasi tingkat rendah yang cacat, hingga botol-botol pil obat dengan kualitas yang meragukan. Suara tawar-menawar yang sengit, teriakan para penagih utang, dan gelak tawa para kultivator mabuk bercampur menjadi satu di udara yang lembap.

"Tempat ini benar-benar seperti pasar malam para iblis," bisik Gu Chen takjub sekaligus ngeri, matanya mengawasi beberapa orang bertopeng yang berlalu-lalang membawa senjata tajam bernoda darah.

Gu Yan-Zhi tetap melangkah dengan tenang menyusuri jembatan kayu utama. Matanya mengamati sekeliling dengan cermat, memindai setiap sudut kota untuk mencari lokasi yang paling potensial bagi rencana mereka selanjutnya.

"Kita tidak bisa berlama-lama berjalan di jalan terbuka seperti ini," ujar Gu Yan-Zhi. "Kita butuh tempat penginapan yang aman dan representatif untuk beristirahat sekaligus mencari informasi tentang pasar alkimia gelap di kota ini."

Berdasarkan pengamatan singkat dan intuisi tajamnya, Gu Yan-Zhi memimpin rombongannya menuju sebuah bangunan berlantai tiga yang tampak lebih kokoh dan bersih dibandingkan bangunan di sekitarnya. Di atas pintu masuk bangunan tersebut terpasang sebuah papan kayu berukir gambar kuali api: Penginapan Paviliun Kuali Hitam.

Begitu mereka mendorong pintu kayu masuk ke dalam lobi penginapan, suasana bising di luar seolah teredam oleh dinding kayu tebal. Seorang pelayan paruh baya berbadan bungkuk dengan senyuman ramah yang tampak dipaksakan segera menyambut kedatangan mereka, membungkuk hormat menyadari pakaian berkualitas meskipun tertutup jubah yang dikenakan oleh Gu Yan-Zhi.

"Selamat datang di Paviliun Kuali Hitam, Tuan-tuan yang terhormat! Apakah Anda memerlukan kamar penginapan mewah untuk beristirahat, atau Anda sedang mencari informasi langka mengenai transaksi bahan-bahan alkimia di kota ini?" sambut pelayan itu dengan nada licik khas pedagang berpengalaman.

Gu Yan-Zhi melepas tudung jubahnya, menampilkan wajah tenang dengan sorot mata keemasan yang memancarkan wibawa tingkat tinggi. Ia menatap pelayan itu lurus-lurus sebelum membuka suara dengan nada tegas dan jelas.

"Kami butuh dua kamar terbaik di lantai atas untuk tiga hari ke depan," ucap Gu Yan-Zhi sambil meletakkan beberapa koin batu spiritual kualitas menengah di atas meja kayu resepsionis. "Selain itu, aku ingin kau mempertemukan aku dengan pengelola pasar gelap alkimia terbesar di kota ini malam ini juga. Ada beberapa pil obat berkualitas tinggi yang ingin aku tawarkan di pasaran."

Melihat koin batu spiritual kualitas menengah yang berkilau di atas meja serta aura percaya diri yang dipancarkan oleh pemuda di hadapannya, senyuman pelayan paruh baya itu berubah menjadi seringai lebar penuh minat. Babak baru penyamaran dan pergerakan bisnis sang Jenderal Langit di jantung Kota Rawa Tersembunyi resmi dimulai.

1
Siskasuryaningsih
bapak mu piye nang? bok no tinggal ta?
ᵣₕyₜₕₘ.ₒf.ᵣₐᵢₙ: 😂😂lha harus gimana kak?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!