"Aku tidak butuh pernikahan. Tak ada satupun wanita yang bisa menggantikan posisi cinta pertamaku.”
Di usianya yang sudah matang, Arsen Winston, pewaris tunggal Winston Group berada di puncak kejayaan. Namun, tekanan keluarga menuntutnya untuk segera berumah tangga. Menolak menyerah pada pendirian sang putra, Adrian, sang ayah, merancang rencana gila dengan menyewa seorang wanita malam demi mendapatkan keturunan.
Namun, sebuah kesalahan fatal terjadi. Wanita yang menghabiskan malam dengan Arsen bukanlah wanita sewaan sang ayah, melainkan seorang gadis misterius yang menghilang tanpa jejak.
Lima tahun berlalu…
Di atas kapal pesiar mewah, sebuah insiden mengerikan hampir merenggut nyawa seorang bocah perempuan. Arsen bertindak cepat untuk menyelamatkannya. Namun, saat tatapan mereka bertemu, jantung Arsen seolah berhenti berdetak.
Anak menggemaskan itu memiliki garis wajah yang sangat identik dengannya, bahkan punya alergi sepertinya.
“Hai bocah, kamu tidak suka kacang?”
“Ndak cuka, bikin gatal-gatal badan Lupia. Paman Endut ndak cuka kacang juga?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menangkap Edwin
“Mateo, sebenarnya apa yang terjadi di sini?” tanya Adara bingung, mendekati meja kerja Arsen.
Mateo dengan wajah panik menjelaskan kronologi sang Bos yang pingsan demi sepotong pizza, namun digagalkan oleh penolakan mutlak Luvia. Mendengar itu, Adara melirik putrinya yang langsung pasang akting natural sambil mengunyah biskuit keju seolah tak berdosa.
Pfft.
Tawa kecil lolos dari bibir Adara. Ia lantas membantu Mateo menggotong tubuh Arsen yang sudah tak berbentuk itu untuk dipindahkan ke sofa panjang.
“Saya izin keluar sebentar, Nona,” pamit Mateo mengusap keringat dingin.
“Mau kemana, Paman Meteol? Mau kabul ya?” kejar Luvia antusias.
“Mencari mangsa—eh, makanan rendah kalori buat Pak Bos, Nona Kecil.”
“Lupia ikuuuutt!” seru Luvia berbinar. Baru dengar kata ‘makanan’, matanya langsung melebar sempurna. Dasar turunan sejati, hobinya plek-ketiplek sama atasannya!
“Lucky juga ikut, Paman!” sahut Lucky bersemangat sambil melempar kode rahasia mata ke arah Lucian.
Lucian yang paham sinyal darurat itupun turun dari sofa. “Lucian juga mau cari udara segar, Paman.”
Eh… tunggu dulu!
Adara tersentak kaget karena ketiga anaknya tiba-tiba kompak ingin ikut Mateo.
“Tunggu! Kalau kalian semua pergi, siapa yang jaga Mommy di sini?!” seru Adara panik sambil menunjuk ke arah Arsen.
Alih-alih menjawab, Luvia malah cekikikan nakal dan langsung ngibrit ke arah pintu. Dua jagoan lelaki di belakangnya juga tancap gas menyusul.
“Abang Lucian, Abang Lucky, kabooool!” teriak Luvia riang.
“Heh, kalian bertiga! Jangan tinggalkan Mommy berdua dengan monster ini!” pekik Adara sia-sia.
Seketika, ruangan kerja CEO berubah menjadi hening yang mencekam. Hanya ada Adara dan Arsen yang mendengkur pelan di atas sofa. Adara menelan ludah, mendadak salah tingkah dan takut kalau-kalau Arsen tiba-tiba bangkit lalu menerkamnya seperti zombie kelaparan.
Namun, rasa penasarannya ternyata jauh lebih besar daripada rasa takutnya.
Perlahan-lahan, Adara mendekati sofa. Matanya menyipit meneliti pipi tembam Arsen yang menggembung. Tunggu dulu... ini beneran pipi atau dia pakai filter wajah boros kalori?
Dengan hati-hati, Adara mengulurkan telunjuknya, lalu… colok!
Ia menusuk-nusuk nakal pipi Arsen berkali-kali untuk memastikan apakah itu lemak asli atau cuma busa kostum tipu-tipu. Dan hasilnya?
Membal, empuk, dan padat berisi!
Pfft… Hahaha!
Adara membekap mulutnya sendiri agar tak tertawa terlalu kencang. Ia masih tak percaya transformasi ajaib ini. Pria yang dulu tampak arogan, gagah, dingin, dan berwibawa bak pangeran es, kini wujudnya berubah total menjadi mirip pegulat sumo tingkat nasional. Kalau ia daftarkan calon suaminya itu, pasti bisa memenangkan hadiah kompetisi dan mendadak menjadi miliarder. Tidak perlu lagi bekerja susah payah.
Tanpa pikir panjang, Adara buru-buru mengeluarkan ponselnya dari tas.
Cekrek!
Cekrek!
Cekrek!
Adara mengambil beberapa foto wajah Arsen dari berbagai sudut. Sempurna. Bahan ledekan ini wajib disimpan rapat-rapat untuk ditunjukkan pada pria itu kelak, kalau-kalau tubuhnya berhasil kembali normal.
Namun, keasyikan Adara mendadak buyar saat mendengar gumaman serak dari pria di hadapannya.
“Cecilia...?” ngigau Arsen, alisnya bertaut gelisah dalam tidur.
Siapa itu?
Jantung Adara seperti dihantam batu besar. Dadanya terasa berdenyut nyeri, sebuah sensasi familiar yang amat ia benci, rasa cemburu beracun yang dulu sering ia rasakan saat bersama Erlangga.
“Ishh,” batin Adara kesal. “Kami belum resmi menikah, kenapa sudah cemburu buta begini?!”
“Nama itu pasti orang dari masa lalunya juga. Apa dia juga pernah dikhianati?”
Belum sempat ia merutuki kebodohannya sendiri, kelopak mata Arsen perlahan terbuka.
Pria itu bingung dan kaget mendapati Adara berdiri sangat dekat dengannya. Adara dengan gerakan kilat langsung mengusap sudut matanya sendiri dan buru-buru berpaling ke arah jendela.
Arsen bukan pria yang bodoh. Meskipun pandangannya masih agak buram akibat kurang tidur, ia sangat jeli melihat sisa air mata di wajah wanita itu.
“Apa dia menangis gara-gara melihat penampilanku yang hancur lebur seperti sumo ini?” pikir Arsen narsis.
Dengan nada sok jual mahal dan angkuh, Arsen bertanya, “Kamu kenapa? Cengeng banget, baru lihat pria tampan berubah jadi gemuk begini langsung menangis?”
Adara mendengkus pelan. “Aku baik-baik saja. Tidak usah ge’er.”
Mendengar jawaban itu, Arsen bangun. Meskipun tubuhnya pegal linu, mata tajam bak elang miliknya mengunci pergerakan Adara.
“Jangan bohong. Aku tahu kamu barusan menangis. Jujur atau kusemprot pakai air selang?” desak Arsen dengan tatapan mengintimidasi.
Adara tertunduk lesu, bahunya merosot. Suaranya berubah parau saat ia berbisik, “Aku... aku hanya kepikiran masa lalu. Itu saja.”
Mendengar kata ‘masa lalu’, radar pencemburu Arsen langsung aktif. “Erlangga? Mantan suami brengsekmu itu? Kau masih mencintainya, hah?!”
“Tidak!” Adara langsung mendongak, menggeleng tegas dengan mata menyala penuh kebencian. “Aku justru sangat membencinya! Dia pria paling bajingan di dunia ini!”
Suara Adara bergetar menahan amarah dan luka lama. Ia menceritakan bagaimana dirinya ditusuk dari belakang secara keji oleh suami dan kakak tirinya sendiri, Vanessa, wanita licik yang tak punya hubungan darah dengannya yang bersekongkol merampas seluruh harta warisan mendiang ayahnya.
“Padahal aku begitu menghormati mereka berdua, tapi mereka tega mengkhianatiku mentah-mentah...” ucap Adara tercekat, air matanya nyaris tumpah lagi. “Untung saja aku masih punya Bibi dari pihak ibuku yang merawatku...”
Sadar terlalu banyak bicara, Adara buru-buru menunduk dalam-dalam. “Maaf... maafkan aku. Kenapa jadi curhat begini padamu. Permisi—”
Adara berbalik cepat, hendak kabur dari sana. Arsen tertegun di tempatnya. Melihat wanita itu rapuh, tangan besar Arsen secara otomatis terulur, berniat menyapu sisa air mata di pelupuk pipi Adara. Tapi gerakan itu terlalu lambat. Adara sudah telanjur melangkah pergi untuk menenangkan diri di luar.
Bruk! Pintu tertutup rapat.
Di dalam ruangan yang kembali sunyi, Arsen memegang dadanya sendiri. Jantungnya berpacu liar bukan karena olahraga ekstrem tadi pagi, melainkan karena rasa nyeri yang tiba-tiba menyusup melihat air mata Adara.
Meski dia bukan siapa-siapaku... tetap saja, dia adalah wanita yang melahirkan anak-anakku.
Pikiran Arsen langsung melayang pada nama-nama yang baru saja merusak kedamaian hatinya hari ini. Erlangga, pria bajingan yang menghancurkan hidup Adara, dan Edwin, pria keparat yang hampir membunuh putri kecilnya.
Seketika, aura gelap dan kemarahan yang pekat terpancar jelas di wajah Arsen. Urat-urat di lehernya menegang, tangannya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Dengan tatapan membunuh, ia menoleh tajam ke arah jendela kaca besar di ruangannya, menerobos kejauhan kota menuju satu titik Perusahaan hiburan milik keluarga Browis yang berdiri megah di ujung sana.
____
Di sebuah bar mewah, Edwin sedang meneguk wisma mahalnya sambil tertawa lepas. Ia merasa di atas angin, menikmati hasil kepopuleran dirinya yang sedang naik daun. Ditemani beberapa model cantik di kanan-kiri, hidupnya terasa sempurna.
Derap langkah sepatu pantofel yang tegas tiba-tiba menggema di lantai marmer.
Suasana musik DJ yang tadinya memekakkan telinga mendadak meredup. Para pengunjung lain langsung menyingkir, membentang jalan layaknya warga yang memberi jalan pada malaikat maut.
Datanglah segerombolan pria berbadan kekar mengenakan jas hitam rapi, berkacamata hitam, dan aura intimidasi yang membuat bulu kuduk merinding. Tanpa basa-basi, pemimpin barisan pasukan itu, salah satu tangan kanan kepercayaan Arsen langsung berdiri di depan meja Edwin.
“Tuan Edwin?” tanya pria itu dengan suara datar bernada ancaman.
Edwin, yang tadinya mabuk kepayang, mengerjap kaget. “Kalian siapa?! Berani sekali mengganggu—Hmph!”
Sebelum Edwin protes, mereka membekap cepat mulutnya dan mengangkat tubuhnya dari sofa bak karung beras. Wanita-wanita sewaan di sampingnya menjerit-jerit dan langsung kocar-kacir menyelamatkan diri.
“Woi! Lepasin! Kalian nggak tahu siapa saya, hah?! Saya adik pemilik perusahaan hiburan terkenal di kota ini!” geram Edwin meronta-ronta, kakinya terus menendang-nendang udara bebas.
“Justru karena kami tahu siapa Anda, Tuan Arsen Winston mengundang Anda secara... khusus,” bisik sang pemimpin pasukan dingin.
Tanpa ampun, Edwin diseret paksa keluar bar diiringi tatapan ngeri dari seluruh pengunjung.
BRAK!
Ia digelandang masuk ke dalam mobil sedan hitam mewah ber-kaca gelap, siap dibawa menghadap ke singgasana sang Bos Besar yang sedang murka.
Arsen? Untuk apa dia menyuruh mereka?
A-Aku salah apa?
Seingat Edwin, ia tidak penah menyinggung CEO Winston. Lantas mengapa dirinya ditangkap?
Arsen hancur kan mereka,,, ingat yea Adara jgn mudah tertipu dan luluh sama ibu yg sudah membuang mu