Indonesia
NovelToon NovelToon
Luluh Ditangan Gadis Malam

Luluh Ditangan Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: daisysy

Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dibawah Langit Netherland

Ribuan mil jauhnya dari kanal-kanal air Amsterdam yang basah oleh embun pagi, terik matahari September memantul sempurna di atas permukaan air laut biru jernih di kawasan pantai eksklusif French Riviera, Perancis. Garis pantai yang dipenuhi jajaran kapal pesiar megah dan vila-vila mewah bernuansa putih klasik menjadi latar belakang sempurna bagi perjalanan liburan pasangan paling berpengaruh di dunia korporat Eropa: Vendrick Thorne dan istrinya, Nyonya Valen Thorne.

Mengenakan gaun linen musim panas berwarna putih gading dengan kacamata hitam berbingkai emas besar, Valen melangkah santai di atas trotoar tepi dermaga, menggandeng lengan suaminya yang mengenakan kemeja katun ringan terbuka di bagian kerah. Udara Mediterania yang hangat berhembus lembut, membawa ketenangan yang kontras dengan hiruk-pikuk dunia bisnis yang biasa mereka pimpin.

Namun, di balik senyuman anggun yang tersungging di bibir Valen, pikirannya tidak sepenuhnya berada di tempat itu. Sejak makan malam keluarga besar di Amsterdam beberapa hari lalu—di mana ia memergoki putranya, Victor, tersenyum lebar menatap layar ponsel—rasa penasaran yang bercampur kecemasan terus menggerogoti hatinya.

"Vendrick," panggil Valen pelan sambil menghentikan langkah mereka di sebuah kafe outdoor bernuansa klasik yang menghadap langsung ke lautan lepas. "Duduklah sebentar di sini. Ada hal yang terus mengganggu pikiranku sejak kita meninggalkan Amsterdam."

Vendrick menarik kursi kayu jati untuk istrinya, lalu duduk di seberangnya. Ia memesan dua cangkir espresso hitam pekat sebelum menatap sang istri dengan sorot mata elang yang tenang namun tajam. "Tentang Victor lagi, hm? Aku bisa melihat wajahmu menyimpan beban sejak hari pertama kita mendarat di Eropa."

Valen menghela napas berat, melepas kacamata hitamnya dan menaruhnya di atas meja marmer. "Aku mengkhawatirkannya, Vendrick. Kau tahu sendiri bagaimana sifat putra kita. Selama tiga puluh tahun hidupnya, Victor tidak pernah tertarik pada wanita manapun, bahkan perjodohan yang kita rancang dengan Annelise Van Der Bilt ditolaknya mentah-mentah secara terbuka."

Alis Vendrick sedikit terangkat. "Anak itu selalu memiliki jalurnya sendiri. Aku tidak heran jika dia menolak perjodohan formal. Tapi apa yang membuatmu begitu cemas sekarang?"

"Karena ada wanita lain," jawab Valen dengan nada suara tertahan penuh kekesalan. "Namanya Freya Zivanka. Gadis miskin dari keluarga antah berantah yang entah bagaimana caranya berhasil mencuci otak Victor. Putra kita menyembunyikan gadis itu di sebuah penthouse tersembunyi di tengah hutan pinggiran Amsterdam, membiayai seluruh hidup keluarganya, dan yang lebih mengerikan lagi... Victor mulai tersenyum, Vendrick. Anak kita tersenyum karena gadis itu!"

Mendengar penuturan istrinya, Vendrick terdiam sejenak. Ia menyeruput espresso panasnya perlahan, merasakan kepahitan cairan itu di lidahnya sementara otaknya bekerja cepat menganalisis situasi. Sebagai pendiri imperium Thorne yang telah malang melintang di dunia bisnis selama puluhan tahun, Vendrick tahu betul bahwa kelemahan terbesar seorang pewaris tahta adalah keterikatan emosional pada wanita yang salah.

"Freya Zivanka..." gumam Vendrick pelan, menyebut nama itu di ujung lidahnya. "Nama yang menarik. Jadi, gadis rendahan itu berhasil merobohkan tembok es yang selama ini kita bangun di sekeliling Victor?"

"Tentu saja!" seru Valen gusar. "Aku tidak akan tinggal diam membiarkan masa depan keluarga Thorne dihancurkan oleh wanita licik seperti dia. Annelise sudah menceritakan semuanya kepadaku. Gadis itu hanya mengincar harta Victor!"

Vendrick meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja. Sorot mata tajamnya memancarkan ketegasan mutlak seorang patriark. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi, lalu mengeluarkan ponsel satelit berlapis titanium dari saku jas ringannya.

"Jangan khawatir berlebihan, Valen," ucap Vendrick dengan suara tenang namun penuh wibawa. "Jika ada duri di dalam daging perusahaan kita, maka duri itu harus dicabut sebelum infeksi menyebar. Berikan aku waktu. Aku akan mencari tahu siapa sebenarnya gadis bernama Freya Zivanka ini."

Dengan beberapa gerakan cepat di layar ponselnya, Vendrick menghubungi kepala divisi intelijen pribadi keluarga Thorne di Eropa. Ia memberikan satu perintah mutlak: selidiki latar belakang, silsilah keluarga, kehidupan masa lalu, hingga pergerakan harian Freya Zivanka sampai ke akar-akarnya. Bagi Vendrick, tidak ada rahasia di dunia ini yang bisa tetap tersembunyi jika ia sudah mengerahkan jaringan orang-orang kepercayaannya.

Ribuan kilometer dari pantai Mediterania yang cerah, suasana di dalam rumah besar milik keluarga Van Der Bilt di kawasan elit Amsterdam justru jauh dari kata tenang. Langit sore itu tertutup awan mendung kelabu, seolah merefleksikan badai emosi yang sedang meledak di ruang kerja pribadi Annelise.

Pecahan vas kristal antik berserakan di atas lantai marmer impor. Buku-buku catatan keuangan dan majalah mode berhamburan ke segala arah. Annelise berdiri di tengah ruangan dengan napas memburu, tangan kanannya mengepal sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya yang biasanya dirias sempurna tampak merah padam karena amarah yang meluap hingga ke ubun-ubun.

Di hadapannya, berdiri seorang pria berjas hitam rapi—detektif partikelir bayaran yang baru saja menyampaikan laporan harian mengenai pergerakan Victor Thorne dan Freya Zivanka.

"Ulangi apa yang baru saja kau katakan!" teriak Annelise dengan suara parau penuh kebencian.

Pria detektif itu menelan ludah dengan susah payah sebelum mengulanginya dengan hati-hati, "Laporan intelijen kami di lapangan menunjukkan bahwa hubungan antara Tuan Victor Thorne dan Nona Freya Zivanka semakin harmonis dan bahagia, Nona Annelise. Kemarin malam, Tuan Victor bahkan membawanya dinner romantis di private rooftop Thorne Grand Hotel, menghabiskan malam di Presidential Suite, dan mengirimkan berbagai fasilitas mewah ke penthouse tempat gadis itu tinggal."

Brak!

Sebuah bingkai foto besar di atas meja kerja disapu begitu saja oleh tangan Annelise hingga jatuh berkeping-keping.

"Sialan! Sialan! Sialan!" geram Annelise, air mata kemarahan dan rasa cemburu bercampur menjadi satu di sudut matanya.

Selama bertahun-tahun, Annelise telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk memposisikan dirinya sebagai satu-satunya wanita yang pantas berdiri di samping Victor Thorne. Ia mendekati Nyonya Valen, menjaga reputasi sosialita, dan merancang setiap langkah strategis agar keluarga besar Thorne menerimanya. Namun, semua kerja keras itu dihancurkan begitu saja oleh seorang gadis miskin bernama Freya—gadis bayaran rendahan yang tinggal di dalam sangkar hutan.

"Kau boleh pergi!" usir Annelise dengan suara tajam penuh ancaman kepada sang detektif. "Dan jangan pernah berani melaporkan berita sampah seperti ini lagi kepadaku tanpa membawa solusi!"

Pria detektif itu membungkuk cepat lalu buru-buru meninggalkan ruangan, tidak ingin menjadi sasaran amukan wanita psikopat yang sedang dikuasai cemburu buta itu.

Annelise berjalan mondar-mandir di dalam ruang kerjanya yang berantakan. Dadanya naik-turun menahan sesak. Ia menyadari satu hal: mengandalkan amarah Nyonya Valen atau menunggu Victor kembali dari urusan bisnisnya di wilayah barat Belanda tidak akan membuahkan hasil apa-apa. Victor semakin dibutakan oleh cinta, dan jika ia tidak segera bertindak, Victor akan benar-benar melamar gadis itu dan mencampakkannya untuk selamanya.

Sebuah senyuman miring, dingin, dan mengerikan perlahan terukir di bibir merah Annelise. Di balik mata hijaunya yang indah, sebuah rencana jahat mulai dirumuskan.

Ia berhenti melangkah. Ia meraih ponsel pintarnya, lalu mendial nomor seorang agen penerbangan swasta internasional.

"Siapkan jet pribadi atas namaku," ucap Annelise dengan nada dingin yang mutlak. "Tujuan penerbangan: Rotterdam, Netherlands. Malam ini juga aku akan menyusul Victor ke sana."

Sementara itu, di wilayah barat Belanda, malam mulai menyelimuti kota pelabuhan Rotterdam dengan hembusan angin dingin Laut Utara yang menusuk tulang. Di dalam kamar apartemen mewahnya yang megah, Victor Thorne baru saja menyelesaikan sisa dokumen digital terakhir terkait kontrak logistik raksasanya bersama Zefs Houten Group.

Pekerjaannya di Netherlands telah tuntas seratus persen. Besok pagi, ia dijadwalkan terbang kembali ke Amsterdam untuk menemui Freya dan adiknya, Steven, yang sedang menikmati waktu bersama di penthouse tengah hutan.

Namun, di saat yang bersamaan, sebuah mobil sedan hitam sewaan berhenti secara diam-diam di pelataran parkir basement apartemen tempat Victor menginap. Di kursi belakang mobil tersebut, Annelise duduk dengan balutan mantel wol hitam panjang, tudung mantelnya menutupi sebagian besar wajahnya yang dirias dingin.

Ia tidak datang sendiri. Ia membawa serta dua orang pengawal bayaran bertubuh kekar—orang-orang profesional berlatar belakang militer bayaran yang siap melakukan apa saja demi bayaran fantastis dari keluarga Van Der Bilt.

Annelise menatap jendela kaca lantai atas gedung apartemen tempat kamar Victor berada. Kilatan ambisi dan obsesi yang sakit jiwa terpancar jelas di balik sorot matanya.

"Victor Thorne," bisik Annelise pelan seorang diri di dalam kabin mobil yang gelap. "Kau mengira bisa membuangku begitu saja demi gadis murahan itu? Kau salah besar. Di negeri ini, jauh dari pengawasan maminya, aku akan membuatmu jatuh ke dalam pelukanku... atau aku akan pastikan tidak ada satupun wanita yang bisa memilikimu di dunia ini."

Badai intrik baru sedang bersiap menerjang. Di tengah malam yang dingin di tanah Belanda, biduk percintaan antara Victor dan Freya diuji oleh keputusasaan seorang wanita yang kehilangan akal sehatnya, sementara di belahan bumi lain, sang patriark Vendrick Thorne telah mengerahkan mata-mata terbaiknya untuk memburu rahasia kelam di balik masa lalu Freya Zivanka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!