Indonesia
NovelToon NovelToon
BLACK AND WHITE

BLACK AND WHITE

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Chicklit / Enemy to Lovers
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: xyBubble

Pout for Me, Little Mouse.

Fraülein Keylana Reinhardt, Putri Raja perbankan Jerman, diatur ke dalam pertunangan dengan Julian Donnersmarck -- Seorang miliarder muda dari Berlin yang arogan, pragmatis dan bergaul dengan bebas.

Setelah bertunangan, mereka tinggal bersama di Berlin, Tidak ada satu hari pun tanpa pertikaian. Julian tidak meninggalkan kebiasaan moral yang buruk sedangkan Keylana tak kalah nakal.

Ini tentang Rasionalitas yang terus dipertanyakan dan satu Perasaan yang dianggap tidak penting.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xyBubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gagal Damai

Pintu kayu ek yang tebal baru saja berbunyi KLAK!—terkunci rapat dari luar.

​Suara langkah kaki Kakek memudar di balik pintu. Keheningan mencekam menyelimuti ruangan selama tiga detik. ​Julian Berdiri cepat, berjalan ke pintu dan menggedornya dengan frustasi.

"Kakek! Ini tidak lucu! Saya ada rapat akuisisi saham besok jam delapan pagi di Zurich! Buka pintunya!"

Lana duduk bersandar, menyilangkan kaki dengan santai. "Percuma, Julian. Kakekmu itu mantan jenderal. Kalau dia bilang kita dikunci, artinya pintu itu sudah ditahan dengan dua barikade baja dan empat prajurit berarmor abad pertengahan di luar."

​Julian berbalik tajam, menatap Lana karena nada sarkastik gadis itu. "Dan ini semua gara-gara kau!"

Tercengang, menunjuk dirinya sendiri. "Gara-gara aku?! Kau amnesia, Ingatlah siapa yang mengaku jenius bisnis tapi saat diperintahkan minta maaf lidahnya mendadak kelu!"

"Aku tidak bersalah! Kau yang kebut-kebutan di jalan raya, memanjat pagar orang di Charlottenburg, mencuri dahan pohon plum, lari-larian dikejar anjing di hotel bintang lima, dan membuat reputasiku hampir hancur di depan para investor karena datang ke pesta bawah tanah itu!"

Lana tercengang syok saat aibnya disebutkan satu - persatu, Tergagap. "Itu - Itu bukan mencuri, itu retribusi alam! Tidak seperti dirimu yang terus menyalahkan orang lain padahal tidak membantu, Hanya berdiri dengan pakaian kaku itu!" Lana menunjuk dengan jarinya. Julian menyilangkan tangan di dada, membela diri.

"Aku mencoba menjaga martabat keluarga! Bagaimana kalau besok ada koran gosip bernaskah; Calon Istri Julian Donnersmarck Ditangkap Karena Pencurian Hortikultura dan Perusuhan Hotel?!"

​Lana maju satu langkah, menatap tepat ke mata Julian sambil memicingkan matanya. "Oh, jadi martabat keluarga lebih penting daripada nyawa calon istrimu yang hampir digigit anjing dan dua pria Brengsek?!"

Julian tergagap sejenak, suaranya agak mengecil. "Anjing itu... ukurannya cuma se-paha ku, Lana. Dia bahkan tidak punya gigi yang tajam, Dan aku sudah menyelamatkanmu dari Pria banci itu." Dia menyilangkan tangan dengan postur berwibawa untuk mengembalikan martabat sempurnanya.

"Apapun itu, mereka semua punya niat jahat, Julian! Niat jahat!" Lana menghentakkan kakinya kesal.

Julian memijat pangkal hidungnya, mendesah frustasi. "Oke, fine! Katakan padaku, apa yang harus ku lakukan supaya kau berhenti melakukan silent treatment ini? Kau tahu betapa menyiksanya seminggu tidak mendengarmu mengomel?!"

Lana yang menyilangkan tangan dengan wajah muram itu melirik sedikit dengan jengkel. "Menyiksa?! Kau yang tidak mau bicara duluan! bersikap seperti es batu yang diberi jas mahal!"

Julian menghela nafas dan mendekat pada gadis itu, meletakkan tangan ke meja di belakangnya untuk mengurungnya dengan satu tangan. Menatapnya dengan intens. "Aku diam karena takut kalau aku bicara, Aku akan membelikanmu seluruh kebun plum di Charlottenburg hanya supaya kau tidak memanjat pagar orang lagi."

​Lana membeku, menatap mata Julian dengan mata birunya yang diam-diam menyelidik. Dia mengerucutkan bibirnya sambil mendekat. "Kau... ingin membelikan aku seluruh kebun plum?"

Julian segera mengalihkan pandangan dengan wajah agak merona, membenarkan kerah kemejanya untuk menyembunyikan kelembutannya. "...Itu opsi logis agar kau tidak berurusan dengan polisi."

Lana tersenyum penuh kemenangan, tangannya langsung melingkari leher Julian. "Jadi tuan miliarder merasa tersiksa sepanjang minggu karena aku tidak mengajaknya bicara?"

​Julian dengan egonya yang tinggi segera berdehem dan mengelak walau pipinya agak merah. "Aku hanya merasa efisiensi hidupku menjadi berkurang delapan puluh persen tanpa celotehan mu itu."

"Minta maaf dulu."

"Untuk apa?"

"Karena berpikir bisa menang dariku."

​Julian mendesah berat pasrah, menatap lukisan di sekeliling kastil seolah meminta pertolongan pada leluhurnya, lalu menatap Lana kembali yang menunggunya dengan penuh kenakalan.

"Maaf..." Mulutnya kaku karena tidak pernah menggunakan kata itu.

"Diterima."

Julian segera menyeringai jahat, Menabrak bibir Lana dnegan rakus setelah seminggu absen dari bagian favoritnya. Tangannya menahan bagian tengkoraknya agar bisa mencium dengan sepuas dan selama mungkin. Tangan lainnya membelai pinggang dan punggungnya dengan sangat menyebalkan sambil mendorong gadisnya ke meja di belakangnya.

Lana berpegangan pada pundak pria itu, Ciumannya semakin menuntut gadis itu, menyapu deretan gigi dan bagian basah mulutnya.

Setelah bibir mereka terpisah, Lana terengah-engah mengatur nafas. Julian membenamkan wajahnya ke leher dan pundak Lana, Rambut hitamnya menyapu pipinya saat pria itu terus menggoda lehernya.

"Lain kali pintar sedikit jika mau mencuri, setidaknya di malam hari." Julian bergumam di leher lana membuatnya terengah-engah. "Sependek ini mencoba mencuri?"

Ejekan itu membuat Lana kembali menyala, dia menyingkirkan kepala Julian yang mengendus-endus. "Yang itu tidak lucu! Aku ini tinggi!" Julian terkekeh penuh ejekan.

"Lebih tinggi dari jamur?"

"Kuperingatkan kau-" Lana meremas mulut Julian tapi terhenti karena dari celah jendela tinggi, terdengar suara batuk kecil. Kakek mengintip dari balkon dalam kastil sambil memegang cangkir teh. Lana seketika merah padam, satu tangannya masih mencengkram kerah Julian.

"Apakah damainya belum selesai? Kakek mau tidur!" Dia berteriak dari atas.

​Julian mendongak kaget, berteriak frustrasi dan malu. "KAKEK! KAKEK MENGINTIP DARI TADI?!"

"Tentu saja! Cukup, idiot! Akting kalian bagus sekali bagian epilog seharusnya diisi dengan seorang buyut." Dia melambaikan tangan mengabaikan rasa malu pasangan yang membuat migrain itu.

"Pintu sudah dibuka. Sekarang masuk kamar dan jangan bertengkar lagi, Besok akan Kakek perlihatkan pita logam yang serasi sedang temperamen kalian!"

​

1
Jordin Yanti
semangat yha kakak othor ❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!