Sejak kecil, Keira hidup jauh dari keluarganya. Ketika akhirnya mereka kembali dan ia berharap menemukan kehangatan yang selama ini dirindukannya, kenyataan justru menghancurkan harapannya.
Di rumah itu, ada seorang anak yang diperlakukan bak permata, sementara Keira hanya dianggap sebagai seseorang yang kebetulan memiliki hubungan darah dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Sesampainya di rumah, Keira segera masuk ke kamarnya dan membuang tasnya ke sembarang tempat. Dengan sisa tenaga yang ada, ia membersihkan diri dan mengganti pakaiannya yang basah.
Lalu mendekati meja belajarnya, berusaha mencari obat yang dapat ia gunakan untuk meredakan rasa nyeri yang menyiksa tubuhnya. Ia ingat pernah menyimpan beberapa jenis obat di laci meja itu.
Sepanjang perjalanan pulang di dalam mobil yang dikendarai kakaknya, tak sepatah kata pun terucap di antara mereka berdua. Keheningan itu terasa begitu berat dan menyakitkan bagi Keira.
Akhirnya ia menemukan kotak obat yang dicarinya. Namun sebagian luka yang dideritanya tak dapat ia jangkau sendiri, sehingga ia hanya mampu mengobati apa yang terlihat dan terjangkau oleh tangannya.
Rasa nyeri yang tak kunjung hilang justru semakin menjadi-jadi, seolah tubuhnya memprotes keras setiap sentuhan yang ia berikan.
Entah mengapa, rasa sakit yang semula terasa tertahankan kini kian menyebar dan membuatnya semakin lemah. Tak sanggup lagi menahan rasa sakit yang luar biasa itu, ia pun berjalan terhuyung-huyung menuju tempat tidur dan terjatuh ke atas kasur yang terasa begitu dingin.
***
Keesokan harinya, alarm berbunyi nyaring membangunkannya, namun tubuhnya seakan tak lagi menjadi miliknya sendiri. Ia tak mampu menggerakkan seujung kuku pun.
Ia tahu ia harus segera bangun jika tak ingin terlambat ke sekolah, namun kakinya tak mampu menahan berat tubuhnya sendiri. Setiap kali ia mencoba melangkah, tubuhnya seakan ingin jatuh terjerembap ke lantai.
Kebetulan saat itu Bibi datang membangunkannya. Waktu yang ditunjukkan jarum jam telah menunjukkan pukul tujuh pagi, namun Keira belum juga muncul dari kamarnya.
Saat pintu terbuka dan Bibi melihatnya tergeletak di lantai, wanita itu seketika terkejut dan segera mendekat. Tangan yang menyentuh kening Keira seketika terasa panas membara.
"Ya Tuhan... kenapa suhunya begitu tinggi?" gumam Bibi cemas. "Kau demam sangat tinggi, Nak. Istirahatlah hari ini, jangan ke mana-mana dulu."
Keira menggeleng lemah. "Aku harus tetap pergi, Bibi... Ayah pasti akan marah jika aku tidak masuk sekolah."
"Tenanglah, Bibi akan menjelaskan semuanya," hibur Bibi lembut sambil membantunya kembali berbaring di atas kasur.
Namun kekhawatiran Bibi tak berhenti di situ. Ia pun segera menghadap tuan rumah untuk melaporkan keadaan putrinya yang terbaring lemah.
"Ada apa, Bi?" tanya Bara yang baru saja selesai bersiap.
"Keira jatuh dan demam sangat tinggi, Tuan. Tubuhnya panas sekali," lapor Bibi dengan cemas.
"Kalau begitu biarkan saja ia beristirahat di rumah," jawab Bata dengan nada datar seakan tak peduli sedikit pun.
Mendengar itu, Keyna yang berdiri di sampingnya segera menyahut dengan wajah cemas. "Keira sakit? Biarkan aku menengoknya dulu, Ayah."
"Ikutlah bersekolah dulu, tidak perlu menengoknya," tegur ibunya lembut sambil menggandeng tangan putri kesayangannya menuju pintu keluar.
"Tetapi aku ingin menemani Keira..." pinta Keyna tak rela.
"Aku akan memeriksanya nanti. Kamu berangkatlah dulu," tegas ibunya, sehingga Keyna pun tak berani menolak lagi meski hatinya berat untuk pergi begitu saja.
Gina kembali ke rumah setelah mengantar anak-anak berangkat. Dengan langkah pelan ia membuka pintu kamar Keira dan melangkah mendekat.
Di sana, putrinya yang lain terbaring lemah dengan wajah yang pucat tak bercahaya. Hatinya seketika terasa perih menyaksikan penampakan itu.
"Makanlah dulu..." ucap Gina pelan, menyodorkan makanan yang dibawanya.
Keira terbangun karena suara lembut itu. Matanya masih kabur namun ia mengenali sosok yang berdiri di samping tempat tidurnya.
'Apakah ini mimpi? Mengapa ibu ada di sini?'