Indonesia
NovelToon NovelToon
Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 — Malam Genting

Handoko mendengarkan cerita itu dengan wajah pucat pasi di ruang tengah rumahnya sendiri — bukan versi lengkap tentang Garuda Hitam atau masa lalu Raka, tapi cukup untuk memahami inti bahayanya: seseorang berkuasa ingin membunuh menantunya, dan keluarganya kini berada tepat di garis tembak.

"Kau seharusnya memberitahuku ini sejak awal," katanya, suaranya bergetar antara marah dan takut.

"Saya minta maaf, Pak," jawab Raka tenang. "Tapi sekarang, prioritas kita adalah keselamatan Bapak dan Cinta. Saya sudah mengatur tempat aman untuk sementara waktu."

Cinta menggenggam tangan ayahnya, meyakinkan dengan suara yang lebih tegas dari yang pernah ia gunakan sebelumnya di depan Handoko. "Ayah harus percaya pada Raka sekarang. Dia sudah menyelamatkan kita lebih dari sekali, meski Ayah tidak pernah menyadarinya."

Malam itu, sebuah mobil tanpa tanda mengantar Handoko dan Cinta ke rumah pinggiran kota milik Ridwan Ananta — tempat yang cukup terpencil, cukup aman, dan cukup jauh dari jaringan pengawasan Setiawan yang selama ini terpusat di kota.

"Kalian aman di sini untuk sementara," kata Ridwan, menyambut mereka dengan ketegasan seorang perwira yang sudah puluhan tahun menjaga orang-orang dalam bahaya. "Tidak ada yang tahu hubunganku dengan Raka, kecuali beberapa orang yang bisa dipercaya sepenuhnya."

Reza ikut serta dalam rombongan itu, wajahnya masih menyimpan rasa bersalah yang belum sepenuhnya terselesaikan, tapi kali ini berjalan sebagai bagian dari keluarga yang dilindungi, bukan lagi mata-mata yang menyembunyikan rahasia.

Sementara keluarga diamankan, Raka, Bara, dan Wulan kembali ke bengkel tua untuk menyusun langkah berikutnya, waktu yang tersisa kini terasa lebih berharga dari sebelumnya.

"Alya baru menghubungiku," lapor Wulan, membuka pesan terbaru di layarnya. "Dia menemukan sumber independen di dalam regulator pasar modal sendiri — seseorang yang sudah lama resah dengan proses persetujuan merger besar yang terasa 'terlalu mulus' belakangan ini. Dengan konfirmasi itu, dia siap menerbitkan artikelnya dalam waktu empat puluh delapan jam, lebih cepat dari perkiraan awal."

"Itu berita baik," kata Bara, meski wajahnya tetap serius. "Tapi kalau Setiawan sudah cukup panik untuk mengirim tim eksekusi hari ini, dia mungkin akan bergerak lebih agresif begitu menyadari waktu semakin sempit untuknya juga."

Raka mengangguk, mengingat kembali informasi dari penyerang yang ia bebaskan di jalan sepi. "Mereka punya markas operasional di gudang pinggiran kota — tempat yang sama dengan nomor handler Reza yang kita lacak beberapa hari lalu. Kalau kita bisa menyerang basis itu sekarang, kita mungkin menemukan lebih banyak bukti, atau setidaknya mengganggu kemampuan mereka mengatur serangan lanjutan sebelum penandatanganan."

"Itu berisiko tinggi," Wulan memperingatkan. "Kita tidak tahu berapa orang yang berjaga di sana sekarang, terutama setelah kegagalan tim eksekusi hari ini."

"Justru karena itu kita harus bergerak malam ini," jawab Raka, "sebelum mereka punya waktu memperkuat pertahanan tempat itu, atau memindahkan semua bukti yang mungkin tersimpan di sana."

Bara menatap sahabatnya lama, mengenali tekad yang sama seperti masa-masa terbaik unit mereka dulu — bukan kecerobohan, tapi keberanian terhitung yang lahir dari pengalaman bertahun-tahun membaca kapan harus menyerang dan kapan harus menunggu.

"Baik," katanya akhirnya. "Tapi kita lakukan ini dengan benar. Pengintaian dulu, baru bergerak. Aku tidak mau kehilangan siapa pun lagi karena gegabah, seperti dulu."

Wulan sudah bergerak menyiapkan gambar satelit dan denah gudang yang pernah ia kumpulkan sebelumnya, memperbarui informasi dengan pemantauan drone kecil yang bisa ia terbangkan diam-diam malam itu.

"Beri aku satu jam untuk pemantauan penuh," katanya. "Setelah itu, kita tahu pasti apa yang kita hadapi, dan bisa menyusun rencana yang tidak akan mengulang kesalahan hari ini."

Raka menatap jam dinding tua di bengkel itu, menghitung waktu yang semakin menipis di semua front sekaligus — keluarga yang harus dilindungi, jurnalis yang berlomba dengan waktu, regulator yang harus diyakinkan, dan kini, markas musuh yang harus mereka hadapi langsung sebelum kesempatan itu hilang selamanya.

"Satu jam," ia mengulangi, menyetujui. "Setelah itu, kita bergerak — apa pun yang kita temukan di sana."

1
Eka P
c
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!