Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Status: tamat
Genre:Mafia / Penikahan Kontrak / Perubahan Hidup / Putri malang / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Adriánex Avila

Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.

Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.

Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.

Itu bukan cinta. Itu transaksi.

Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.

Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 MINGGU YANG MENGUBAH SEGALANYA

Kekayaan berbau kayu cedar dan keheningan.

Begitulah yang dipikirkan Maya Adiwangsa saat memandang ke luar jendela kamarnya, pada pagi Minggu yang mengubah segalanya itu.

Taman keluarga Adiwangsa terbentang hijau dan sempurna, seperti sebuah kebohongan yang dipangkas rapi.

Semak-semak mawar sedang mekar pada titik terindahnya, hydrangea biru membentuk permadani yang rata di bawah barisan cemara tua, dan air mancur dari marmer Carrara terus menyenandungkan gemericiknya yang jernih.

Semuanya teratur. Semuanya pada tempatnya. Seolah alam semesta belum tahu bahwa kurang dari satu jam lagi, semua itu akan berhenti menjadi milik mereka.

Ayahnya, Bramantyo, pasti sedang di ruang kerja, menyeruput espresso sambil membaca koran ekonomi.

Maya membayangkannya dengan jubah rumah biru tua, kacamata baca bertengger di ujung hidung, satu tangan menggenggam cangkir porselen putih warisan mendiang kakeknya.

Gerakannya selalu sama: sebuah jeda kecil sebelum tegukan pertama, seakan setiap pagi ia diam-diam mensyukuri keistimewaan terbangun di rumah ini.

Ibunya, Ratna, pasti sedang merancang jamuan amal bulan depan di ruang duduk, dengan catatan yang ditulis tangan pada kertas gading bertekstur.

Ratna Adiwangsa perempuan yang teliti, bahkan obsesif, yang menata acara-acara kalangan atas dengan presisi seorang ahli bedah dan keanggunan seorang penari.

Ia tahu peralatan makan mana untuk setiap hidangan, anggur apa yang cocok dengan daging jenis apa, tamu mana yang tak boleh duduk bersebelahan dengan tamu lain karena tiga tahun lalu mereka berselisih di sebuah turnamen polo. Begitulah ibunya: arsitek tak kasat mata dari segala penampilan.

Maya berusia dua puluh dua tahun, rambut pirangnya disanggul asal hingga beberapa helai jatuh menjuntai di tengkuk, kukunya dipoles merah muda pucat yang serasi dengan hydrangea di taman.

Ia mengenakan jubah sutra warna lavender, hadiah ulang tahun terakhir dari ibunya, dan kaki telanjangnya menapak di atas permadani Persia yang dulu dibawa kakeknya dari sebuah perjalanan ke Isfahan.

Setiap benda di kamar itu punya kisahnya sendiri.

Setiap perabot menyimpan satu kenangan. Maya tak pernah menyadarinya sampai sekarang—sampai Minggu ini, ketika semuanya akan berubah menjadi debu.

Seumur hidupnya, ia tak pernah mengangkat satu jari pun.

Bukan karena malas, melainkan karena tak pernah perlu.

Keluarga Adiwangsa telah membangun kerajaan bisnis selama tiga generasi.

Kakeknya, Hartono Adiwangsa, dulu tiba di kota ini dengan sebuah koper kulit yang jahitannya lepas, setumpuk utang judi yang tak sanggup ia bayar, dan rasa lapar yang begitu ganas hingga mengajarinya bahwa dunia tak pernah memberi apa pun secara cuma-cuma.

Dalam tiga puluh tahun, Hartono membangun kekayaan dari titik nol: mula-mula sebuah toko bangunan kecil, lalu tiga, kemudian sebuah distributor material konstruksi, dan akhirnya sebuah kerajaan properti yang menguasai separuh kota.

Ayahnya, Bramantyo, melipatgandakannya sepuluh kali. Ia menganekaragamkan usaha, berinvestasi, mengubah nama Adiwangsa menjadi sinonim kekuasaan yang senyap, uang lama, dan selera yang tinggi.

Dan Maya... Maya kuliah Sejarah Seni di universitas swasta, menunggang kuda setiap Kamis di klub berkuda yang sudah menjadi milik keluarganya bahkan sebelum ia lahir, dan tak pernah sekali pun menengok harga apa pun.

Untuk apa? Uang selalu ada, seperti udara, seperti air keran, seperti cahaya matahari. Uang bukan hal yang perlu dipertanyakan. Uang hanya ada, begitu saja.

Seharusnya aku melihat, pikirnya kelak. Seharusnya aku memperhatikan segalanya.

Namun pagi Minggu itu, Maya hanya memikirkan gaun mana yang akan dikenakannya untuk makan siang keluarga.

Om Mahendra akan datang makan siang. Mahendra, kakak tertua ayahnya, laki-laki yang selalu ada—di setiap makan malam Natal, di setiap pesta pernikahan, di setiap pemakaman.

Mahendra, dengan senyum lebar dan perut pemuja hidup enaknya, yang selalu membawakan cokelat Swiss setiap pulang dari bepergian. Mahendra, yang memanggilnya "putri kecil" sejak Maya bisa mengingat.

Maya tak tahu bahwa Mahendra sebentar lagi akan menikam punggung ayahnya.

Bel pintu berbunyi pukul sepuluh lewat seperempat.

Bukan jam pengiriman surat. Bukan pula jam bertamu. Di hari Minggu, tamu selalu memberi kabar lebih dulu, tak pernah datang sebelum pukul sebelas, karena bagi Nyonya Adiwangsa datang lebih awal dari itu adalah perbuatan yang tak sopan.

Maya mengernyit—kerutan tipis di dahinya yang mulus—lalu mengintip ke koridor. Rumah itu beraroma kopi yang baru diseduh dan mawar yang baru dipotong. Beraroma rasa aman, tradisi, sebuah keteraturan yang tampak abadi.

Ia melihat ibunya menuruni tangga dengan langkah tenang, masih berbalut jubah sutra, rambut cokelatnya disanggul rendah. Ratna merapikan ikat pinggang jubahnya sambil berjalan, tanpa terburu-buru, karena di rumah ini tak pernah ada yang perlu diburu-buru.

Ia melihat kepala pelayan—laki-laki yang sudah dua puluh tahun mengabdi pada keluarga Adiwangsa—membuka pintu kayu ek berukir itu dengan ketenangan orang yang telah membuka pintu yang sama ribuan kali.

Maya tidak melihat para polisi itu sampai mereka sudah berada di dalam.

Ada tiga orang. Seorang laki-laki berkumis tebal dengan tatapan datar seorang petugas, seakan seumur hidupnya menjalani pekerjaan yang sama sampai tak ada lagi yang mengejutkannya.

Seorang perempuan berambut pendek dengan raut keras, tangan bertumpu di sabuk tempat pistol dinasnya tergantung. Dan yang ketiga, lebih muda, berdiri di ambang pintu, menatap lukisan-lukisan di dinding seolah sedang menghitung nilainya.

"Bramantyo Adiwangsa?" tanya si kumis. Suaranya datar, birokratis, suara orang yang telah mengucapkan kalimat yang sama ribuan kali dan akan mengucapkannya ribuan kali lagi. "Saya membawa surat penangkapan atas tuduhan penggelapan pajak, pencucian uang, dan persekongkolan kriminal."

Waktu terhenti.

Maya berpikir: Ini pasti keliru.

Ibunya berkata: Ya Tuhan.

Ayahnya, yang baru saja keluar dari ruang kerja dengan cangkir espresso di tangan, menjatuhkan porselen itu ke lantai marmer. Noda cokelat menyebar bagai pertanda buruk, bagai noda darah yang tak akan pernah bisa dibersihkan siapa pun.

Cangkir itu pecah menjadi tiga keping, dan kelak Maya akan mengingat suara itu—derak putih porselen yang retak—seperti musik latar masa kecilnya yang hancur berkeping-keping.

Bramantyo mengangkat kepala. Sedetik, hanya sedetik, matanya bertemu dengan mata putrinya.

Maya melihat sesuatu yang tak pernah ia lihat dalam tatapan ayahnya: ketakutan. Bukan takut yang biasa.

Kepanikan mendalam seorang laki-laki yang tahu dirinya sedang jatuh dan tak ada apa pun yang bisa ia gapai.

"Ada seorang saksi," tambah polisi itu sambil menarik borgol dari sabuknya dengan gerakan mekanis. "Kakak kandung Anda, Mahendra Adiwangsa, telah bersaksi memberatkan Anda."

Dan saat itulah Maya mengerti.

Ini bukan kekeliruan.

Ini pengkhianatan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!