Bunga gadis belia berusia 20 tahun, seorang pelukis tunawicara akibat trauma tragedi pembunuhan orang tuanya belasan tahun yang lalu, sempat merasakan kebahagiaan bersama Azka Alexander, pria tulus yang mencintainya apa adanya. Namun, kebahagiaan itu begitu singkat. Menjelang wafat akibat sakit keras, Azka berwasiat agar kakak kandungnya, Keanu Alexander, menikahi Bunga.
Keanu pria dingin yang menyimpan trauma mendalam terhadap wanita terpaksa menerima pernikahan itu demi memenuhi permintaan terakhir sang adik. Kini, Bunga dan Keanu terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta. Di tengah dinginnya sikap Keanu, Bunga tetap berjuang mengungkap misteri di balik kematian orang tuanya demi menuntut keadilan.
Akankah pernikahan atas dasar keterpaksaan ini mampu menyembuhkan luka masa lalu mereka dan berubah menjadi cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Keanu mengusap leher belakangnya yang terasa hangat, berpura-pura sibuk merapikan berkas di meja kerja untuk mengalihkan rasa canggung yang tersisa. Adrian, yang berdiri kaku di ambang pintu, berdehem pelan seraya menundukkan kepalanya.
"Maafkan saya, Tuan Keanu... Saya tidak bermaksud mengganggu," ujar Adrian dengan nada penuh rasa bersalah, meski ada sedikit senyum tipis yang berusaha ia tahan. "Mengenai Nona Clarissa, petugas keamanan di bawah sudah mengawalnya keluar dari gedung atas perintah Anda."
"Bagus," jawab Keanu cepat dengan suara serak yang kembali dibuat tegas. "Pastikan dia tidak bisa masuk lagi ke area kantor ini tanpa izin langsung dariku."
"Baik, Tuan. Lalu... mengenai laporan tim yang mencari tahu tentang Panca Wiguna, apakah ada perintah lanjutan?" tanya Adrian kembali serius.
Keanu melirik sebentar ke arah sudut ruangan. Bunga tampak duduk menyendiri, berpura-pura sibuk membaca dokumen arsip, padahal pipinya masih merona merah hingga ke ujung telinga.
"Suruh mereka bergerak semakin tenang. Panca Wiguna bukan sekedar nama sembarangan di lingkaran elit," instruksi Keanu dingin. "Jangan sampai ada pergerakan kecil yang memicu kewaspadaan pihak yang melindunginya. Mengerti?"
"Mengerti, Tuan. Saya permisi kembali ke ruangan saya." Adrian membungkuk sopan lalu melangkah keluar dan menutup pintu rapat-rapat.
Keheningan kembali melingkupi ruangan kerja yang luas itu. Keanu menghela napas panjang, bersandar pada kursi kebesarannya. Pandangannya perlahan jatuh pada Bunga yang masih menunduk dalam-dalam di mejanya. Kata-kata sandiwara yang ia ucapkan di depan Clarissa tadi, 'Aku mencintai istriku' kembali bergaung di kepalanya. Keanu menyadari, ada sebagian dari dirinya yang tidak sepenuhnya berpura-pura saat mengucapkannya.
Keanu beranjak berdiri dari kursinya, melangkah perlahan menghampiri meja kerjanya Bunga.
Mendengar derap langkah sepatu mendekat, jantungnya Bunga berdegup kian kencang. Ia meremas pulpen di genggamannya, tak berani menatap wajah suaminya.
Keanu berhenti tepat di samping mejanya Bunga, menyandarkan pinggulnya di tepi meja seraya melipat kedua lengan di dada.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Keanu pelan, suaranya melunak tanpa kepura-puraan.
"Soal yang diucapkan pria di telepon tadi... tentang Panca Wiguna. Kau tidak usah takut."
Bunga perlahan mendongak. Sepasang mata bulatnya yang jernih menatap Keanu dengan penuh rasa haru dan cemas yang bercampur aduk. Ia mengambil buku catatannya, jemarinya yang lentik menari menorehkan kata demi kata:
'Aku tidak takut untuk diriku sendiri, Kak Keanu... Tapi aku takut pria berbahaya itu atau orang di belakangnya justru membahayakan Kakak dan keluarga Alexander jika Kakak terus membantuku.'
Keanu membaca tulisan itu. Ada desir hangat yang menjalar di dadanya saat menyadari Bunga lebih mengkhawatirkan keselamatannya ketimbang dirinya sendiri.
Keanu mengulurkan tangannya, lalu secara spontan menepuk pelan puncak kepala Bunga yang tertutup hijab. Sentuhan yang begitu lembut dan sarat akan perlindungan.
"Jangan meremehkanku, Bunga," ujar Keanu dengan tatapan mata yang dalam dan mantap. "Siapa pun yang menyentuhmu atau keluargamu di masa lalu, tidak akan bisa melangkah dengan tenang selama berada di bawah jangkauanku. Kau adalah istriku sekarang, dan melindungimu adalah tanggung jawabku."
Bunga terpaku menatap wajah Keanu yang begitu tegas namun hangat. Di tengah kepedihan masa lalu dan Trauma yang selalu membayangi, untuk pertama kalinya Bunga merasa memiliki sandaran yang benar-benar kokoh di sampingnya. Bunga mengulas senyum tipis paling tulus, lalu menganggukkan kepalanya pelan.
*
*
Menjelang sore hari, kesibukan di gedung Alexandria semakin padat. Keanu masih harus memimpin pertemuan penting dengan beberapa klien besar. Tak ingin Bunga kelelahan, mengingat Bunga baru saja pulih dari anemia akutnya. Keanu memerintahkan sopir kantor untuk mengantar Bunga pulang ke Mansion Alexander terlebih dahulu.
Di dalam mobil yang membelah jalanan kota, Bunga menatap ke luar jendela. Ketika melintasi sebuah toko bunga, ia meminta Pak Asep, sopir kantor yang mengantarnya, untuk menepi sejenak. Bunga berencana membeli sebuket mawar putih segar, lalu berkunjung ke makam Azka. Ada kerinduan serta ganjalan di hatinya yang ingin ia sampaikan di tempat peristirahatan terakhir almarhum suaminya itu.
"Maaf Nyonya, tapi Tuan Keanu menyuruh saya mengantarkan Nyonya langsung sampai mansion. Saya takut nanti diomeli Tuan Keanu," ujar Pak Asep ragu.
Bunga tersenyum lembut. Ia dengan cepat meraih buku catatan kecil dari dalam tasnya dan menorehkan pesan:
'Pak Asep, saya ingin pergi ke makam suami saya. Hanya sebentar saja, tidak lama.'
Pak Asep membaca tulisan itu lalu menghela napas pasrah. "Baiklah, Nyonya. Tapi hanya sebentar saja ya... Saya takut nanti diomeli Tuan Keanu. Nyonya tahu sendiri kalau Tuan Keanu sudah marah, sangat menakutkan sekali!" Ujar Pak Asep sambil bergidik ngeri.
Mendengar penuturan Pak Asep, Bunga tersenyum tipis. Bunga pun bergumam dalam hati,
'Awalnya aku pun merasa seperti itu. Kak Keanu itu pria yang sangat menakutkan... Namun setelah lambat laun aku mengenalnya lebih dekat, dia adalah pria yang baik dan juga hangat.'
Tiba-tiba Bunga tersenyum manis seorang diri membayangkan perubahan sikap Keanu padanya. Namun detik berikutnya, ia tersentak kaget dengan jalan pikirannya sendiri.
'Ya ampun, Bunga... apa yang sedang kau pikirkan? Hey sadarlah, siapa aku dan siapa dia?' batinnya menyadarkan diri seraya menepuk-nepuk pelan kedua pipinya yang mendadak terasa hangat.
Tak lama kemudian, mobil berhenti di area pemakaman yang tenang. Bunga melangkah perlahan menuju nisan bertuliskan nama Azka Alexander.
Setibanya di sana, Bunga berlutut di samping gundukan tanah yang diselimuti rumput hijau segar. Ia memanjatkan doa serta melantunkan beberapa ayat pendek dengan penuh khusyuk. Usai berdoa, Bunga meletakkan sebuket mawar putih yang harum di atas nisan sang suami.
'Assalamualaikum Mas Azka... Mas, aku kangen sama kamu,' bisik Bunga dalam hati, seiring dengan menetesnya air mata bening di pipinya.
Bunga mengusap lembut batu nisan tersebut, membiarkan gejolak rasa bersalah dan kebingungan mengalir bebas dalam benaknya.
'Mas, maafkan aku yang tidak bisa menjaga diriku hingga Kak Keanu berhasil menyentuhku semalam. Tapi semua itu di luar kesadarannya... Namun entah kenapa, tiba-tiba saja jantungku berdebar-debar, Mas. Sekali lagi tolong maafkan aku.' batin Bunga dipenuhi penyesalan mendalam atas benih perasaan asing yang mulai tumbuh untuk Keanu.
Di saat Bunga larut dalam keheningan dan air matanya, beberapa meter di belakangnya, di balik rimbunnya pohon beringin tua, sesosok pria misterius berdiri mematung. Pria itu terus mengawasi setiap gerak-geriknya Bunga dari kejauhan dengan tatapan yang sulit diartikan, enggan menunjukkan dirinya.
Angin sore mendadak berembus dingin, merengkuh lehernya Bunga. Firasatnya tajam menegang; Bunga merasa ada sepasang mata asing yang sedang memantaunya dengan sangat lekat.
Bunga langsung menoleh ke belakang, menyapu sekeliling area makam yang sepi. Namun, sosok di balik pohon beringin itu bergerak cepat menyembunyikan tubuhnya rapat-rapat. Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya dedaunan kering yang berguguran ditiup angin.
Rasa dingin dan cemas mendadak merayapi tengkuknya Bunga. Trauma masa lalunya seketika bangkit ke permukaan.
'Sebaiknya aku segera pulang ke mansion... Kenapa aku merasa tidak aman di sini?'
ucap Bunga dalam hati dengan dada berdebar kencang. Tanpa membuang waktu lagi, Bunga mengusap air matanya, berdiri, lalu bergegas melangkah cepat kembali menuju mobil Pak Asep.
Bersambung...
untuk iblis bermuka dua seharusnya kamu saja yang menjadi tumbal ritual dewa darun itu
ma saudara pun saling menikung ,, tikung kanan ,, tikung kiri ,, main tikung ooh ,, ooh ,,
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aq padamu pokokny😉😉😉
makiin penasaran tiap bab ny ,,
aq fikir cerita kak eli cuma seputar perjodohan pengganti ,, trnyata di balik ny ad sekte yg tersembunyi ,,
😱😱😱😱
dr awal emnk udh curiga aq ma tuan Alexander ,,
tegang aku bacanya
apakah kematian diana juga ada kaitannya dengan papa alexander