Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehangatan Di Ujung Senja

Kehangatan Di Ujung Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:33.8k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.

​Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.

Akankah Alfa bisa menemukan Senja?

Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian Suami

Dini hari yang sunyi perlahan meluruhkan kegelapan. Di kejauhan, di atas hamparan laut yang kini tenang pasca badai, pendar lampu sorot dari sebuah kapal speedboat berukuran besar tampak membelah kabut tipis.

Suara raungan mesin kapal yang mendekat memecah keheningan pulau tak berpenghuni itu. Pihak resor bersama tim penyelamat akhirnya tiba untuk menjemput mereka.

Kapal merapat perlahan di samping dermaga kayu kecil yang setengah rusak dihantam ombak semalam. Tariq melambaikan tangannya memberi tanda, melangkah lebih dulu untuk berkoordinasi dengan petugas.

Di bawah naungan pohon kelapa, Alfa bergerak pelan. Pria itu menunduk, menatap wajah Senja yang masih bersandar di dadanya dengan kelopak mata tertutup rapat. Kehangatan napas Senja yang teratur menghembus lembut di perpotongan lehernya. Rasa tak tega sempat menyergap Alfa, namun mereka harus segera berpindah.

"Senja... bangun, Senja. Bantuan sudah datang!" Bisik Alfa amat lembut.

Jemari panjangnya mengusap perlahan pipi Senja yang dingin. Senja mengerjap pelan, menyesuaikan matanya dengan pendar cahaya lampu dari kapal. Rasa kantuk dan lemas masih menguasai tubuhnya.

Namun menyadari bantuan telah tiba, ia mengangguk pelan dan mencoba bangkit bersama Alfa.

"Bisa berdiri?" Tanya Alfa memastikan, menahan bahu Senja.

"Bisa, Mas" Sahut Senja lirih.

Mereka mulai berjalan menyusuri jalan setapak berpasir menuju dermaga kayu. Pandangan yang masih remang di remang subuh serta permukaan tanah yang licin bekas guyuran hujan semalam membuat pijakan terasa berbahaya. Senja berjalan sedikit tertatih di samping Alfa.

Crak!

"Aah!"

Sebuah jeritan kecil lolos dari bibir Senja. Dalam kegelapan remang, kaki kanannya tak sengaja menginjak celah karang tajam yang tersembunyi di bawah hamparan pasir basah. Kakinya terperosok lumayan dalam, terlipat secara tidak wajar hingga membentur pinggiran karang yang tajam.

Senja langsung terduduk di atas pasir, memegang pergelangan kakinya dengan wajah meringis menahan sakit yang mendadak menusuk tajam.

"Senja! Kamu kenapa?" Alfa seketika berlutut di samping Senja, raut wajahnya berubah panik secara drastis.

"Kaki... kakiku terperosok karang, Mas" Ringis Senja dengan suara bergetar. Ringisan perih terpancar jelas dari matanya yang mendadak berkaca-kaca.

Tanpa membuang waktu untuk bertanya lebih banyak, Alfa menggeser kemeja basahnya yang masih menyelimuti Senja, lalu melihat darah segar menyerap dari luka goresan di punggung kaki Senja. Pergelangan kaki wanita itu juga tampak membengkak dalam hitungan detik.

"Jangan digerakkan" Tegas Alfa. Pria itu bergerak cepat, memindahkan satu tangannya ke bawah lipatan lutut Senja dan tangan lainnya di punggung ramping wanita itu.

Dengan satu gerakan mantap dan penuh tenaga, Alfa mengangkat tubuh Senja ke dalam gendongannya. Senja yang terkejut secara refleks melingkarkan kedua tangannya di leher Alfa, menyembunyikan wajah meringisnya di bahu pria itu.

"Mas... aku bisa jalan pelan-pelan" Bisik Senja merasa tidak enak.

"Diamlah, Senja. Kakimu berdarah dan membengkak" Potong Alfa dingin namun tersirat nada kekhawatiran yang teramat dalam. Pria itu melangkah lebar menaiki dermaga kayu dan membawa Senja masuk ke dalam kabin kapal yang hangat.

Di dalam speedboat, Alfa mendudukkan Senja di kursi busa yang empuk. Pria itu sendiri menolak untuk duduk di kursi penumpangnya. Alfa justru berlutut di lantai kapal, tepat di hadapan Senja.

Tanpa peduli celananya yang basah dan kotor oleh pasir, Alfa memangku kaki kanan Senja yang terluka di atas pahanya sendiri.

Ibu jari Alfa mengusap lembut area di sekitar pergelangan kaki Senja yang membengkak, mencoba menyalurkan rasa hangat dan menenangkan getaran di kaki istrinya.

"Sakit sekali?" Tanya Alfa mendongak, menatap mata Senja penuh simpati.

"Sedikit ngilu, Mas... tapi tidak apa-apa" Jawab Senja seraya mencoba menarik kakinya karena merasa sungkan.

Namun Alfa menahannya dengan lembut tapi pasti.

"Jangan ditarik. Tahan sebentar, sebentar lagi kita sampai di resort"

Sepanjang perjalanan empat puluh menit menyeberangi laut menuju pulau utama, Alfa tak pernah melepaskan pangkuannya pada kaki Senja. Jemari pria itu terus mengusap pelan kulit kaki Senja yang dingin, mengalihkan perhatian wanita itu dari rasa nyeri yang berdenyut-denyut.

Setibanya di water villa resor, dokter medis yang disiapkan oleh pihak manajemen sudah menunggu di dalam kamar. Alfa kembali menggendong Senja dari kapal hingga merebahkannya di atas ranjang king size yang empuk.

Dokter dengan sigap membersihkan luka goresan karang di kaki Senja, memberikan antiseptik, lalu meletakkan balutan perban rapi di pergelangan kakinya setelah melakukan pemeriksaan sendi.

"Tidak ada tulang yang patah atau terkilir parah, Pak Alfa" Terang sang dokter seraya merapikan peralatan medisnya.

"Hanya terkilir ringan dan luka gores luar akibat karang. Saya sudah berikan salep antiseptik dan perban penahan. Dalam dua atau tiga hari sudah akan membaik asal tidak dipakai berjalan terlalu berat."

Alfa yang berdiri di samping ranjang dengan tangan bersedekap mendengarkan penjelasan dokter dengan wajah teramat serius.

"Apakah dia boleh berjalan untuk ke kamar mandi?"

Dokter tersenyum tipis melihat tingkat keprotektifan pria itu.

"Sebaiknya diminimalisir dulu untuk hari ini. Biar bengkaknya mereda."

Setelah dokter dan staf resor pamit keluar meninggalkan obat-obatan, hening kembali menyelimuti kamar villa yang mewah itu. Senja mencoba memiringkan tubuhnya, hendak menggeser kakinya ke tepi ranjang untuk mengambil air minum di meja.

"Mau ke mana?" Suara tegas Alfa menginterupsi gerakan Senja.

Alfa melangkah cepat mendekat, mengambil gelas berisi air hangat di meja lalu menyerahkannya langsung ke tangan Senja.

"Aku cuma mau minum, Mas" Cicit Senja pelan setelah meneguk airnya.

"Terima kasih."

"Mulai detik ini, kamu tidak diizinkan melangkahkan kaki ke luar dari ranjang ini sendiri" Panggil Alfa dengan nada perintah yang mutlak, tak menerima bantahan.

"Tapi kata dokter tadi cuma terkilir ringan, Mas. Aku masih bisa jalan pelan-pelan..."

"Senja" Alfa memotong kalimat itu, memotong pandangan Senja dengan menatap lurus ke dalam manik matanya.

"Dokter bilang pakaikan kaki itu untuk istirahat. Jadi, turuti perkataanku. Kalau butuh apa pun, air minum, makanan, mengambil pakaian, atau ke kamar mandi, panggil aku. Minta bantuanku!"

Senja terpaku. Ada getaran aneh di dadanya melihat bagaimana pria kaku yang biasanya dingin ini mendadak menjadi begitu dominan dan protektif hanya karena pergelangan kakinya yang terkilir sedikit.

"Mas Alfa sendiri belum bersih-bersih dan belum ganti baju" Bisik Senja mengingatkan, menatap kondisi Alfa yang masih mengenakan kaus singlet hitam dan celana basah bekas badai semalam.

"Aku bisa urus diriku nanti. Yang penting kamu bersih dulu" Jawab Alfa tenang.

Pria itu melangkah ke kamar mandi, lalu kembali dengan membawa baskom kecil berisi air hangat dan selembar handuk lembut.

Tanpa canggung sedikit pun, Alfa duduk di tepi ranjang di samping Senja. Ia memeras handuk basah itu, lalu dengan sangat telaten mulai mengusap lengan, leher, hingga wajah Senja dari sisa-sisa air garam dan pasir pantai.

Perlakuan yang begitu lembut dari tangan tegap Alfa membuat Senja kehilangan kata-kata. Wajahnya menghangat, napasnya tertahan setiap kali jemari Alfa yang terbungkus handuk mengusap kulit pipinya.

"Mas... aku bisa usap sendiri" Kata Senja canggung, mencoba mengambil handuk itu.

"Diamlah, biarkan aku menyelesaikannya" Balas Alfa pendek, membiarkan fokusnya tetap pada tugas membersihkan istrinya.

Setelah memastikan Senja bersih dan membalikkan tubuh wanita itu dengan pakaian ganti yang longgar, tentu saja dengan bantuan Alfa yang membimbingnya bergerak, Alfa memanggil layanan room service untuk membawakan sup ayam hangat dan bubur lembut ke kamar mereka.

Saat makanan tiba, Alfa menarik kursi ke dekat ranjang. Ia memangku mangkuk sup hangat itu dan menyuapkannya sendok demi sendok ke mulut Senja. Senja yang mulanya berniat menolak akhirnya hanya bisa pasrah menerima suapan demi suapan dari suaminya.

"Habiskan. Kamu butuh tenaga untuk memulihkan lukamu" Ucap Alfa tiap kali Senja mulai tampak enggan mengunyah.

Perhatian Alfa tak berhenti sampai di sana. Sepanjang hari itu, Alfa benar-benar menjadi tongkat hidup bagi Senja.

Ketika Senja perlu membasuh wajah atau buang air kecil di kamar mandi, Alfa akan serta-merta membopong tubuh ramping itu tanpa mengizinkan telapak kaki kanan Senja menyentuh lantai sedikit pun. Ia menunggui Senja di depan pintu, lalu membopongnya kembali ke ranjang.

Bahkan saat Senja tertidur di siang hari karena pengaruh obat pereda nyeri, Alfa tetap berada di dalam kamar.

Pria itu memindahkan laptop kerjanya ke meja kecil di samping ranjang Senja. Setiap beberapa jam sekali, Alfa akan mengecek suhu tubuh Senja, mengusap dahi wanita itu, takut kalau suhu tubuh naik karena lukanya itu.

Melihat Alfa yang sebegitu telatennya merawat dirinya, pria yang semalam menyatakan tak memiliki wishlist masa depan dengannya, membuat hati Senja makin teriris dalam dilema yang manis sekaligus menyakitkan.

Perhatian yang dicurahkan Alfa terasa begitu nyata, begitu hangat, dan begitu memanjakan. Namun di sisi lain, Senja harus terus mengingatkan dirinya sendiri agar tidak jatuh terlalu dalam pada Ilusi kasih sayang yang diberikan Alfa semata-mata karena rasa tanggung jawabnya sebagai seorang suami.

1
Nar Sih
sperti nya kmu mulai jatuh cinta dgn alfa senja
Nar Sih
dari perhatiaan alfa ke senja seperti psng suami istri yang saling mencintai pdhl ...mungkin hnya sbts tangung jwb alfa
Ari Atik
pengen nya alfa merasa kehilangan senja..
biar dia tau perasaan .yg sesungguhnya ...
juwita
kasihan senja jatuh cinta sm suami sendiri tp di hatinya ada cwek lain😭😭😭
mery harwati
Ada kopi online bwt author agar membuka rahasia, apakah orang tua Senja tau bahwa Alfa masih berhubungan dengan Dila meski Alfa sudah menikah sah dengan Senja
Karena bisa jadi nanti pelarian Senja dalam pernikahan ada campur tangan orang tua Senja karena Senja diabaikan oleh Alfa
Agnezz: makanya Senja dan Alfa harus tahan2 diri aja dulu Suatu saat mereka jadi pimpinan dan pemilik perusahaan. Ayah2 mereka sudah tertalu tua dan sakit2an, suatu saat akan menyerahkan perusahaan pada mereka
total 3 replies
mery harwati
Sebentar² aq jadi berpikir tentang pernikahan antara Senja & Alfa memang sudah disetujui oleh kedua orang tua mereka, tapi soal Alfa yang masih merawat Dila & "menelantarkan" Senja sebagai istri sah, diketahui tidak oleh orang tua Senja? Sebab selama episode ini hanya ayah Alfa yang keras menentang hubungan Alfa & Dila, andaikan orang tua Senja bahwa Alfa punya kekasih Dila & tetep menjodohkan Senja dengan Alfa, brati memang Senja benar² sendiri hidupnya ditengah kemewahan, tapi seandainya orang tua Senja tak tau bahwa Alfa masih berhubungan dengan Dila dan Alfa menyakiti Senja, waahh harusnya orang tua Senja menyembunyikan Senja dari Alfa & keluarganya 🤔💪
Agnezz: mungkin karena Senja mulai jatuh cinta pada Alfa dan dalam pandangan Senja, hati.Alfa sudah terkunci pada Dila. Tujuan awal.Senja mau menikah adalah pernikahannya menjadi jembatan menuju kebebasannya. Senja audah bosan terlalu dituntut dan disetir ayahnya. yah memang Senja KESEPIAN. orang tuanya hanya menjadikan Senja sebagai alat.
total 3 replies
Agnezz
Alfa emang cowok yg penuh kasih sayang dan perhatian. Dia tidak bisa berdiam diri kalo orang lain sakit. Pantas sangat mengkhawatirkan Dila karena dia sepeduli itu.Hati2 Senja jangan sampai jatuh cinta.
Agnezz
Untung yg jadi istri Senja, coba kalo wanita lain yg gak terima Alfa masih berhubungan dan memikirkan Dila. bisa dibejek-bejek kamu Alfa.
Agnezz
"Jangan merasa sendirian lagi Senja" berati Alfa paham kalo Senja kesepian.
" Selama kita bersama, aku akan selalu ada disini menemanimu." Jangan terlalu umbar janji Alfa. saat masih bersama sebagai suami istri, dihatimu masih ada Dila.
Hanima
lanjuttt
Cahaya
senja😍
Cahaya
lanjutttt
Hanima
Lari lah jauh2 senja
Inara Khimar
saran ku lari senja lari yang jauh
Ikaaa1605
😍
Cahaya
masihh spi ini blm pada hadir
Sastri Dalila
🤗
Nar Sih
semoga badai nya cpt pergi dan kalian sgra kmbli sampai daratan lgi
Umfaiq
baru kali ni ada CEO bodoh ga ketulungan
Ass Yfa
dan Senjapun tak ada dlm masadepan Alfa..sesakit itu yg Senja...tak ada deorangpun yg tulus menyanyangimu..bahkan suami sendiri😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!