Indonesia
NovelToon NovelToon
Aversion To You

Aversion To You

Status: tamat
Genre:Angst / Dark Romance / Cintapertama / Tamat
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.

Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.

Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

034

Jauh dari ketenangan dan kehangatan ruang makan mansion megah dinasti Desmon, atmosfer yang bertolak belakang menyelimuti bangunan tinggi berpagar kawat berduri di pinggiran kota. Cahaya matahari pagi tak mampu mengikis dinginnya sel tahanan bernomor 2001 yang terisolasi dari dunia luar.

Suara langkah sepatu sipir berdentang kaku di atas lantai semen basah, terhenti tepat di depan pintu besi yang berkarat.

"Tahanan nomor 2001. Ada yang menjengukmu," seru sipir penjara dengan nada dingin dan tanpa perasaan.

Pria di dalam sel itu—Jonathan—perlahan mengangkat kepalanya. Rambutnya yang mulai memutih dan wajahnya yang dihiasi garis-garis tegas menandakan bertahun-tahun masa hukuman yang telah ia lewati. Ia bangkit berdiri, merapikan pakaian tahanannya yang bersahaja, lalu melangkah keluar mengekor sipir menuju ruang kunjungan yang dibatasi oleh kaca tebal berdinding beton.

Di seberang kaca tebal itu, sosok misterius yang datang menjenguknya sudah duduk menunggu dalam keheningan.

Sosok itu menyandarkan punggungnya, menatap Jonathan yang kini duduk di seberang meja.

Sipir yang mengawasi dari sudut ruangan tidak bisa mendengar percakapan berbisik dari gagang telepon yang kini dipegang erat oleh Jonathan.

"Semuanya lancar. Dan tidak ada yang perlu kau cemaskan," ucap suara di seberang telepon dengan nada rendah dan sangat tenang.

Jonathan, pria yang menyimpan dendam membara di balik dadanya, menjawab dengan sebuah senyuman yang sangat hangat—sebuah senyuman yang mengerikan. Mata tajamnya berkilat penuh intrik kegelapan yang telah lama ia susun di dalam penjara.

"Masa tahanan dua puluh tahun rupanya semenyenangkan ini," bisik Jonathan parau, kekehan pelan lolos dari bibirnya yang kering. "Tunggu pembalasanku."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sementara itu, di halaman utama kampus yang megah, suasana pagi yang cerah mendadak dibakar oleh gelombang kejutan dan riak amarah yang memuncak.

Sebuah supercar mewah berwarna hitam mengkilap milik Draco meluncur anggun memasuki area parkir khusus Fakultas Bisnis dan Hukum. Raungan mesinnya yang halus namun bertenaga selalu berhasil menarik perhatian ratusan pasang mata mahasiswi yang berkeliaran di sekitar taman.

Namun pagi ini, pemandangan yang tersaji saat pintu mobil sport beratap rendah itu terbuka sukses membuat gempar seluruh area parkir.

Lynzzie melangkah keluar dari pintu penumpang depan dengan gerakan tenang, menyampirkan tas bukunya yang bersahaja. Dan hampir bersamaan, dari pintu belakang, Celestia—adik perempuan Draco yang terkenal sangat pemilih dan judes—turun sembari tertawa renyah, merangkul lengan Lynzzie dengan sangat akrab.

Draco sendiri melangkah keluar dari pintu pengemudi, bersikap sangat santai sembari memutar kunci mobil di jemarinya.

Tidak jauh dari sana, berdiri Bianca dengan gaun mewahnya dan riasan tebal yang sempurna.

Wajah cantiknya seketika berubah pucat padam sebelum akhirnya memerah membara dikuasai oleh amarah dan rasa hina yang luar biasa. Dada Bianca berombak tajam, tangannya mengepal kencang hingga kuku-kukunya menusuk kulit telapak tangannya sendiri.

Kejadian di mana Draco menolaknya secara hina masih membakar jiwanya, dan kini... pria itu justru datang ke kampus memberikan tumpangan seorang mahasiswi beasiswa miskin bersama adiknya sendiri!

Dengan langkah lebar yang menghentak keras, Bianca menerobos kerumunan mahasiswa dan berdiri melintang tepat di hadapan Draco dan Lynzzie.

"Apa-apaan ini, Draco?!" jerit Bianca dengan suara melengking yang menahan histeris, menunjuk Lynzzie dengan pandangan jijik dan penuh kebencian. "Siapa dia?! Kenapa cewek murahan ini bisa keluar dari mobilmu bersama adikmu?!"

Lynzzie mendadak membeku, menyerap tatapan mengintimidasi dari puluhan mahasiswa di sekeliling mereka. Namun, sebelum Lynzzie sempat mundur atau membuka suara, Draco sudah melangkah maju, meletakkan tubuh tegapnya tepat di depan Lynzzie bagaikan dinding pelindung yang tak tertembus.

Mata cokelat gelap milik Draco menatap Bianca dengan pendar dingin yang begitu tajam dan menusuk.

"Dia mentor belajar Celestia, adikku," jawab Draco pendek, suaranya terdengar datar namun sarat akan ancaman yang mematikan. "Tidak ada urusannya denganmu. Dan awas kalau kau mencoba mengganggu ketenangannya."

"Apa?!" Bianca tertawa sumbang, matanya membelalak tak percaya. "Mentor belajar?! Jangan membodohiku, Draco! Aku ini kekasihmu! Bagaimana bisa kau membawa cewek beasiswa tak jelas ini—"

Jika ada yang bertanya-tanya di dalam kampus ini, mengapa seorang pangeran Desmon yang begitu kaya, tampan, dan berkuasa tetap bertahan dengan status Bianca sebagai kekasih resminya selama enam bulan terakhir?

Jawabannya sangat sederhana: Bianca adalah tameng terbaiknya.

Selama Tiga tahun terakhir berkuliah di universitas ini, Draco benar-benar risih dan muak dengan ratusan wanita, surat cinta, serta gangguan berseliweran yang mengusik ketenangannya setiap hari. Bianca, dengan sifat dominan dan kejamnya, sangat efektif mengusir wanita manapun yang coba-coba mendekati Draco.

Dan alasan utama mengapa Draco merahasiakan hubungannya dengan Lynzzie selama satu tahun penuh?

Tentu saja demi keamanan gadis itu. Draco tahu betul betapa kejamnya dunianya. Jika Lynzzie sampai ketahuan berada di dalam radarnya atau diakui secara terbuka di depan umum sebelum waktunya, orang-orang berpengaruh—termasuk musuh-musuh bisnis keluarganya atau bahkan pihak yang mencari tahu latar belakang keluarga Lynzzie—akan langsung menyelidiki identitas gadis itu hingga ke akar-akarnya.

Draco telah bekerja semaksimal mungkin menjaga identitas dan keselamatan Lynzzie dari balik layar agar wanita milik-nya itu bisa berkuliah dengan tenang.

Mendengar amukan dan histeris Bianca yang makin menjadi-jadi di depan umum, Draco sama sekali tidak berniat melayaninya. Pria Desmon itu melangkah mendekati Bianca, menunduk sedikit, dan berbisik tepat di depan wajah wanita beriasan tebal itu dengan suara bass yang luar biasa dingin:

"Menyingkir dariku," desis Draco penuh penekanan. "Kau tahu kan, kalau aku sudah muak, kita bisa putus detik ini juga."

Ancaman dingin dari bibir Draco seketika membungkam mulut Bianca. Pria itu sama sekali tidak memedulikan raut wajah Bianca yang memucat pias menahan rasa malu luar biasa di depan puluhan pasang mata.

Tanpa membuang waktu, Draco mengisyaratkan Celestia dan Lynzzie untuk terus melangkah melintasi kerumunan, meninggalkan Bianca yang berdiri mematung dalam kepulan amarah yang membakar.

Namun, kejutan di area parkir pagi itu ternyata baru permulaan.

Di sudut lorong menuju gedung Fakultas Hukum, sosok Monica berdiri mematung dengan mulut setengah terbuka dan cangkir kopi di tangannya yang nyaris terlepas.

Mata mahasiswi itu membelalak lebar, mengawasi setiap detik adegan dramatis yang baru saja terjadi di depan matanya.

Begitu Draco dan adiknya berpisah arah menuju gedung fakultas masing-masing, Monica langsung melompat keluar dari balik pilar.

Dengan gerakan secepat kilat, ia menarik lengan Lynzzie dan menyeret sahabatnya itu masuk ke dalam ruang kelas kosong di ujung lorong sebelum menghujani gadis itu dengan tatapan tak percaya.

"Kau... kau..." Monica menunjuk wajah Lynzzie dengan jari gemetar, matanya berkedip berulang kali seolah baru saja melihat hantu di siang bolong.

"Kau turun dari mobil sport mewah milik Draco Valerio-Desmon?! WHAT?! Apa aku sedang bermimpi, Lyn?!"

Lynzzie menghela napas panjang, merapikan tali tasnya sembari menunduk. Wajahnya merona halus karena panik dan canggung. "Monic, pelankan suaramu..."

"Bagaimana aku bisa pelan?!" seru Monica dengan nada histeris yang ditahan, melambaikan tangannya di udara.

"Tadi itu Draco! Pangeran paling arogan, dingin, dan tak tersentuh di universitas ini! Dan bukan cuma itu, kau turun dari mobilnya bersama Celestia! Celestia Desmon yang terkenal sangat pemilih dan judes itu memeluk lenganmu seperti saudara kandung yang terpisah lama! Astaga, Lynzzie... Huhuhu, kau benar-benar berutang cerita padaku!"

Monica mencengkeram kedua bahu Lynzzie, menatap sahabatnya itu dengan pandangan menuntut penuh rasa penasaran.

Selama ini, Lynzzie dikenal sebagai mahasiswi beasiswa yang sangat tertutup, bersahaja, dan selalu menghindari masalah.

Pemandangan Lynzzie berada di dalam lingkaran terdekat keluarga Desmon adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah Monica saksikan sepanjang sejarah mereka berkuliah.

"Jelaskan padaku sekarang juga," desak Monica, memicingkan matanya curiga. "Sejak kapan kau kenal mereka? Jangan bilang... rumor tentang mentor belajar itu benar?"

Lynzzie menggigit lipatan bibirnya rapat-rapt. Di dalam dadanya, bergejolak rasa bersalah karena harus menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya dari sahabat terbaiknya. Ia tentu tidak bisa menceritakan tentang perjanjian gila satu tahun terakhir, tentang ancaman rekaman, atau tentang bagaimana ia baru saja menghabiskan malam di mansion megah milik Draco.

Dengan helaan napas parau dan raut wajah yang diusahakan setenang mungkin, Lynzzie menatap mata Monica.

"Aku memang diminta membantu Celestia belajar untuk persiapan ujian hukum bisnisnya, Monic," ujar Lynzzie pelan, memilih menggunakan alasan terselubung yang diciptakan Draco.

"Keluarga mereka memintaku datang ke mansion semalam karena Celestia kesulitan memahami materinya. Draco hanya membantuku memberikan tumpangan ke kampus pagi ini agar aku tidak terlambat."

Monica menyipitkan matanya, meneliti setiap garis di wajah Lynzzie seolah mencari kebohongan. "Hanya mentor belajar? Tapi tatapan Draco padamu di parkiran tadi... Lyn, pria itu berdiri di depanmu bagaikan benteng! Dia bahkan mengancam Bianca di depan semua orang demi membela ketenanganmu!"

"Dia hanya tidak ingin Bianca membuat keributan yang bisa mengganggu adiknya," potong Lynzzie cepat, berusaha mengalihkan perhatian walau jantungnya berdegup kencang mengingat kehangatan perlakuan Draco tadi subuh dan di meja makan.

Monica menghela napas pasrah, lalu menyandarkan tubuhnya di tepi meja kelas. Wajahnya yang semula tegang berubah menjadi kerutan cemas yang tulus.

Sebagai sahabat yang tahu betapa kerasnya perjuangan Lynzzie mempertahankan beasiswanya, Monica mengkhawatirkan hal lain.

"Lyn... aku senang kalau kau bisa mendapatkan akses atau penghasilan tambahan dari menjadi mentor keluarga kaya seperti mereka," bisik Monica dengan nada melankolis yang hangat. "Tapi kau harus sangat berhati-hati. Dunia orang-orang seperti Draco dan Bianca itu berbahaya. Bianca bukan wanita yang gampang menyerah. Setelah apa yang terjadi di parkiran tadi, dia pasti akan menargetkanmu."

Lynzzie tersenyum tipis, menggenggam jemari Monica dengan erat. Rasa hangat dari perhatian tulus sahabatnya itu sedikit mengikis ketakutan di dalam dadanya.

"Aku tahu, Monic. Aku akan selalu berhati-hati," jawab Lynzzie tulus.

Di balik senyumannya, Lynzzie meremas tali tasnya kencang. Di dalam hatinya, ia tahu betul bahwa dunia Draco memang penuh bahaya dan intrik.

Namun, mengingat bisikan lembut Draco di bawah dinginnya subuh tadi—Aku mencintaimu... Kau kekasihku—Lynzzie sadar bahwa ia tak lagi berjalan sendirian.

Apapun badai yang akan dilontarkan Bianca atau ancaman dari masa lalu ayahnya di luar sana, ada seorang pangeran Desmon yang telah berjanji untuk menggenggam jemarinya dan melindunginya di balik bayang-bayang kekuasaannya.

🌷🌷🌷

Happy reading kak Readers 🫶🏻 Minta dukungannya untuk meninggalkan jejak komentar ya kak kalo suka cerita ini, agar author juga lebih semangat lagi nulis bab selanjutnya 🙏🏻

1
azzura faradiva
tak terasa udah tamat aja😔
nayla tsaqif
Emak sama anaknya sama2 gilaaa,,
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
keren draco gentleman
nayla tsaqif
Bianca udah tau kah,, klo dia ternyata jg anak napi jonathan,, apa q bacanya ada yg kelewat yaaa,,?? 🤔🤔🤔🤔
Rosdianah 🌷: Belum kak 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
wkwkek bucin 😂
Astrid Kucrit
🤣🤣
Astrid Kucrit
🤣🤣 mommy ki jan
Astrid Kucrit
bagus desmon 👏
Astrid Kucrit
makin seru
Astrid Kucrit
bagus draco, lindungi lynzzie
Astrid Kucrit
syukurlah lynzzie aman dan draco juga mencintainya. semoga keluarga desmon melindungi lynzzie
Astrid Kucrit
wah wah wah kejutan apa ini.ternyata lyn dan bianca saudara 1 ayah
Rosdianah 🌷: happy reading kak 🫶
total 1 replies
Astrid Kucrit
tapi brenda udah jujur ke lynzie gimana ayahnya
Mei TResna Rahmatika
fix sih ini Jonathan bapak nya lynzie
Rosdianah 🌷: hihi🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
ibunya lynzie apakah Brenda thor? brarti bapaknya Jonathan kah🤭
Rosdianah 🌷: author lg mode silent 🤣
total 1 replies
azzura faradiva
Lynzze ini pasti anaknya Brenda dengan Jonathan carser
Astrid Kucrit
kamu cuma tameng bi...
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak 🫶
total 1 replies
Astrid Kucrit
semoga kalian berjodoh
Astrid Kucrit
menunggu saat bapaknya lyn bebas. hmmm.....bakal gimana
Astrid Kucrit
draco modus gak tuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!