Indonesia
NovelToon NovelToon
Senja Untuk Cahaya

Senja Untuk Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romantis
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Karakter Ketiga

Kantin Gedung B buka jam tujuh pagi dan udah rame sejak jam tujuh lewat lima, artinya siapa pun yang dateng setelah itu harus rela ngantri di belakang kira-kira dua puluh orang dengan macam-macam tingkat kesabaran dan macam-macam strategi ngisi waktu tunggu, dari yang scroll hape, yang ngobrol sama orang di sebelahnya, sampai yang kayak aku: baca buku.

Aku lagi di halaman empat puluh tujuh pas ada yang nyelip ke antrian tepat di sebelah kiriku dengan kecepatan dan keakraban yang enggak mungkin dimiliki orang asing.

"Udah lama ngantri?" tanya Cahaya, seolah kehadirannya di antrian yang enggak dia masukin dari awal itu hal yang sepenuhnya normal secara etika sosial.

"Delapan menit," jawabku tanpa angkat mata dari buku.

"Masih lama."

"Lima orang lagi di depan."

"Berarti masih lama." Dia berdiri tegak di sebelahku, natap ke depan dengan sabar. Aku denger ada langkah kaki lain yang berhenti persis di sebelah Cahaya, satu orang lagi nyusul, tapi aku enggak noleh karena lagi di bagian yang cukup penting dari chapter ini dan aku hampir enggak pernah bisa balik ke alur yang sama kalau udah kepotong.

"Ren, kenalin. Ini Sasa."

Aku angkat mata dari buku.

Salsabila Anggraini, yang katanya lebih suka dipanggil Sasa, berdiri di sebelah Cahaya dengan tinggi kira-kira satu kepala lebih pendek, rambut hitam pendek sebahu yang keliatan sengaja dipotong dengan pertimbangan praktis, dan sepasang kacamata bingkai persegi tipis di atas hidungnya yang ngasih kesan orang yang terbiasa ngamatin lebih banyak dari yang dia ucapin.

Kesan itu langsung runtuh dalam tiga detik.

"Oh, ini yang Rendy?" kata Sasa. Nadanya datar, bukan datar karena enggak tertarik, tapi datar dengan cara orang yang lagi ngelakuin penilaian aktif dan milih buat enggak nyembunyiin prosesnya. Dia natap aku dari atas ke bawah dengan gerakan yang jelas banget dan enggak berusaha keliatan enggak jelas. "Yang baca manga waktu sambutan PKKMB?"

Aku tutup buku pelan. "Kamu tahu itu?"

"Cahaya cerita."

Aku noleh ke Cahaya.

Cahaya tiba-tiba nemuin antrian di depannya sangat menarik buat diamatin. "Aku cuma nyebut sepintas."

"Sepintas dengan detail lengkap," koreksi Sasa. "Termasuk bagian waktu kamu ngebales lambaian kakak panitia berkumis." Dia noleh ke Cahaya minta konfirmasi. "Itu yang kamu ceritain kan? Yang di lapangan upacara?"

"Sa..."

"Karena itu anekdot yang khas banget buat pengenalan karakter."

Cahaya merem satu detik. "Iya itu yang aku ceritain."

Sasa ngangguk puas, terus balik natap aku dengan ekspresi yang aku identifikasi sebagai "orang yang baru aja konfirmasi hipotesis awal". "Oke. Jadi bener."

"Apa yang bener?" tanyaku.

"Kamu persis kayak yang Cahaya gambarin." Dia berhenti. "Dan itu bukan pujian, biar jelas."

Aku lirik Cahaya. Cahaya tiba-tiba sibuk ngecek hapenya.

"Cahaya gambarin aku kayak apa, tepatnya?" tanyaku.

"Introvert yang lebih nyaman sama karakter fiksi daripada manusia beneran, enggak bisa baca situasi sosial, dan secara enggak sadar jadiin referensi anime sebagai unit ukur buat segala hal di dunia nyata." Sasa nyebutin daftar itu dengan nada yang sama kayak orang lagi bacain hasil ujian lab, informatif, enggak emosional, enggak ada judgement eksplisit walau implisitnya lumayan jelas. "Bener kan?"

Hening tiga detik.

"...Secara teknis enggak ada yang salah dari deskripsi itu," jawabku akhirnya.

"Aku tahu. Makanya aku sebut konfirmasi, bukan tuduhan."

Di sebelahnya, Cahaya ngeluarin suara antara ketawa dan batuk yang enggak berhasil jadi salah satunya secara meyakinkan.

Antrian gerak dua langkah ke depan. Kami ikut gerak dalam hening singkat yang enggak sepenuhnya canggung tapi juga belum nyaman.

"Kamu jurusan apa?" tanyaku akhirnya, karena itu kelihatannya pertanyaan paling netral yang bisa aku ajuin ke orang yang baru aja ngedeskripsiin aku dengan akurasi yang lumayan ganggu.

"Psikologi." Sasa geser tali tasnya ke bahu lain. "Kenapa, mau dianalisa balik?"

"Enggak. Cuma nanya."

"Orang biasanya nanya jurusan sebagai pembuka obrolan sekaligus filter, apakah orang ini bisa diajak ngobrol soal hal tertentu atau enggak." Dia natap aku dengan ekspresi entah serius entah enggak. "Tapi kamu keliatannya bukan tipe yang tertarik ngobrol banyak hal, jadi mungkin kamu emang cuma nanya."

Aku nimbang-nimbang respons yang pas buat itu.

"...Iya," jawabku. "Aku emang cuma nanya."

"Jujur. Bagus." Sasa ngangguk sekali, kayak orang yang baru aja ngasih nilai. "Aku suka orang yang enggak basa-basi."

"Kamu juga enggak keliatan basa-basi."

"Enggak pernah. Hidup kelewat pendek buat ngobrolin hal yang enggak ada yang beneran mau dibahas."

Antrian gerak lagi. Kali ini aku udah bisa liat meja kasir di ujung, artinya tinggal tiga orang lagi.

Cahaya, yang dari tadi lebih banyak diem, anomali yang cukup signifikan kalau dibandingin sama rata-rata kontribusinya dalam obrolan apa pun yang melibatkan dirinya, akhirnya ngomong lagi. "Sasa satu kelompok PKKMB sama aku."

"Kelompok tujuh?" tanyaku.

"Delapan, sebenernya," koreksi Sasa. "Tapi kami ketemu waktu ada sesi diskusi gabungan." Dia lirik Cahaya dengan sesuatu yang aku identifikasi sebagai ekspresi orang yang udah cukup kenal buat bisa komunikasi non verbal. "Tepatnya waktu Cahaya berargumen sama fasilitator soal metodologi ice breaking yang menurutnya enggak efektif secara psikologis."

"Itu emang enggak efektif," kata Cahaya tanpa ekspresi minta maaf apa pun.

"Fasilitatornya keliatan kepojok."

"Bukan salah aku kalau argumenku lebih solid."

"Dia mahasiswa semester tiga."

"Argumen tetap argumen enggak peduli siapa yang nyampein."

Sasa noleh ke arahku dengan ekspresi orang yang mau bilang kamu lihat kan tanpa harus beneran ngomong. "Begitulah kami ketemu," simpulnya.

"Dan kamu milih temenan sama orang yang baru aja bikin fasilitator PKKMB malu?" tanyaku ke Sasa.

"Aku milih temenan sama orang yang enggak takut ngomong yang bener cuma karena situasinya enggak nyaman." Sasa angkat bahu. "Itu kualitas yang langka."

Kami sampai di kasir. Proses pesen berlangsung, nasi uduk buat Cahaya, roti bakar dan teh anget buat Sasa, nasi goreng buat aku karena itu satu-satunya yang enggak butuh waktu tunggu lebih dari lima menit. Kami bawa nampan masing-masing ke meja yang dipilih Cahaya, pojok tengah, cukup jauh dari keramaian utama tapi enggak terlalu terpencil.

Duduk, nata makanan, dan buat pertama kalinya sejak antrian tadi, ada jeda yang cukup panjang di antara kami bertiga.

Sasa makan dengan cara yang sangat sistematis buat ukuran roti bakar.

Aku ngamatin ini kira-kira empat puluh lima detik sebelum sadar bahwa aku sedang ngamatin ini, dan itu mungkin bukan hal yang wajar dilakuin ke orang yang baru aja aku kenal dua puluh menit lalu.

"Kamu sering ngamat-ngamatin orang ya," kata Sasa tanpa angkat mata dari rotinya.

Aku enggak bales.

"Itu bukan kritik," lanjutnya. "Observasi. Kamu udah lirik ke arahku tiga kali dalam dua menit terakhir dengan interval yang kelewat teratur buat disebut kebetulan." Dia akhirnya angkat matanya. "Kamu perhatiin sesuatu?"

"Cara kamu makan."

Sasa natap aku. Cahaya berhenti nyuap sebentar.

"Kamu potong rotinya jadi empat bagian yang sama persis sebelum dimakan," lanjutku. "Diagonal, bukan horizontal. Terus dimakan mulai dari sudut kanan bawah."

Hening dua detik.

"...Itu bener," kata Sasa akhirnya, dengan nada yang buat pertama kalinya kedengeran sedikit di luar kalkulasi. "Aku selalu makan gitu."

"Kenapa diagonal?"

"Karena secara geometris, potongan diagonal ngasilin sudut yang lebih gampang digigit tanpa ngerusak distribusi isian." Dia natap aku lebih teliti dari sebelumnya. "Kamu perhatiin itu dalam empat puluh lima detik?"

"Kurang lebih."

"Kamu biasanya secepet itu nyadar hal kayak gitu?"

"Buat hal-hal yang punya pola, iya."

Sasa naruh rotinya sebentar, sandar dikit ke kursi, natap aku dengan ekspresi yang beda dari sebelumnya, bukan penilaian awal lagi, tapi lebih mirip kalkulasi ulang. "Hm."

"Hm apa?" tanya Cahaya yang dari tadi nonton dengan ekspresi orang yang nonton pertandingan dan belum bisa mutusin harus dukung siapa.

"Enggak." Sasa ambil rotinya lagi. "Cuma update data."

"Data tentang aku?" tanyaku.

"Data tentang semua orang yang aku temuin." Dia gigit sudut kanan bawah rotinya, persis kayak yang aku observasi. "Psikologi itu pada dasarnya ilmu tentang ngumpulin dan nginterpretasi data manusia."

"Itu kedengeran kayak cara yang sangat dingin buat deketin hubungan interpersonal."

"Enggak dingin. Sistematis." Sasa seruput tehnya. "Dan lebih jujur dari kebanyakan cara lain. Orang-orang klaim mereka ngerti orang lain lewat empati dan intuisi, tapi sebenernya mereka juga ngelakuin observasi dan kategorisasi, cuma enggak secara sadar."

Aku nimbang-nimbang argumen itu.

"Kamu enggak salah," kataku akhirnya.

"Aku tahu." Dia bilang itu bukan dengan sombong, tapi dengan cara yang kerasa lebih kayak orang yang udah lama berdamai sama fakta bahwa dia sering bener soal hal-hal yang enggak populer buat diomongin. "Tapi kebanyakan orang enggak suka diingetin bahwa mereka ngelakuin sesuatu yang kedengeran lebih impersonal kalau dieksplisitkan."

"Aku enggak keberatan sama eksplisitasi."

"Aku tahu itu juga." Sasa lirik ke Cahaya. "Dia selalu begini?"

"Selalu," jawab Cahaya tanpa ragu.

"Dan kamu enggak masalah?"

"Udah biasa sejak TK."

Sasa ngangguk pelan, kayak orang yang baru aja nemuin potongan puzzle terakhir dan sekarang liat gambar keseluruhan. "Oke. Aku rasa aku ngerti sekarang."

"Ngerti apa?" tanya Cahaya.

"Dinamikanya." Sasa seruput tehnya lagi. "Kenapa kalian masih temenan padahal secara tipikal orang dengan profil yang sangat beda cenderung kepisah secara alami setelah lewat fase wajib bareng di sekolah."

Cahaya buka mulut.

Nutup lagi.

Buka lagi. "Kita temenan karena... kita emang deket."

"Itu deskripsi, bukan penjelasan." Sasa natap Cahaya dengan tenang. "Tapi enggak perlu dijawab sekarang. Itu pertanyaan retoris."

"Kamu banyak ngajuin pertanyaan retoris buat orang yang katanya enggak suka basa-basi," kataku.

Sasa noleh ke arahku. Satu detik berlalu. Terus, buat pertama kalinya sejak kami kenalan tiga puluh menit lalu, sudut bibirnya gerak ke atas, tipis, tapi ada.

"Oke," katanya. "Aku rasa aku suka kamu."

Cahaya nyemprot dikit minumannya.

Sisa makan pagi berjalan dengan ritme yang, mengejutkannya, enggak secanggung yang aku antisipasi.

Sasa ngomong dengan cara yang efisien dan langsung, enggak pernah pakai sepuluh kata kalau lima udah cukup, tapi juga enggak pernah bener-bener kedengeran kasar, lebih kayak orang yang udah mutusin jauh sebelumnya bahwa dia enggak akan buang energi buat performa sosial yang enggak perlu. Cahaya, yang biasanya jadi pihak paling aktif dalam obrolan apa pun, mengejutkannya lebih banyak dengerin waktu Sasa ngomong, bukan karena dia enggak punya hal buat diomongin, tapi karena keliatannya ada kualitas tertentu dari cara Sasa nyampein sesuatu yang bikin dia cenderung berhenti dan bener-bener mroses sebelum ngerespons.

Kombinasi yang enggak biasa. Tapi enggak enggak nyaman.

"Kalian punya kelas apa setelah PKKMB selesai nanti?" tanya Sasa di sela-sela nyelesain rotinya yang sekarang tinggal satu segitiga terakhir.

"Pengantar Ilmu Komunikasi Selasa Kamis," jawab Cahaya. "Sama Statistik Sosial Rabu."

"Kita satu kelas Pengantar." Sasa noleh ke arahku. "Kamu?"

"Algoritma dan Pemrograman, Kalkulus, Pengantar Teknik Informatika." Aku sebutin jadwal dengan urutan hari. "Enggak ada yang sama sama jadwal kalian."

"Beda fakultas, wajar." Sasa ngangguk. "Berarti kalian cuma ketemu di luar jadwal kelas."

"Kami tinggal deket," kata Cahaya. "Satu komplek."

"Sejak kapan?"

"Sejak lahir, kurang lebih."

Sasa natap Cahaya dengan ekspresi yang aku enggak sepenuhnya bisa baca. "Sejak lahir."

"Orang tua kami udah tetangga sebelum kami ada." Cahaya angkat bahu. "Jadi ya, sejak kami bisa inget satu sama lain."

"Dan kamu," Sasa noleh ke arahku, "pernah enggak pengen... enggak temenan sama dia? Di satu titik?"

Pertanyaan yang enggak aku duga.

Aku nimbang-nimbang serius karena itu keliatannya pertanyaan yang emang dimaksudkan buat dijawab serius, bukan sebagai basa-basi. "Enggak pernah," jawabku akhirnya.

"Kenapa?"

"Enggak ada alasan buat itu."

"Bukan alasan buat enggak. Aku nanya kenapa enggak pernah." Sasa naikin alisnya dikit. "Orang bisa pengen enggak temenan sama seseorang bahkan tanpa alasan yang konkret banget. Karena bosen, karena berubah, karena energinya kelewat beda, karena fase kehidupan yang beda. Itu normal."

"Aku tahu itu normal," kataku. "Tapi enggak pernah kejadian ke aku dalam konteks ini."

"Karena?"

Aku natap pertanyaan itu sebentar di kepala, coba nemuin cara buat ngejanya yang akurat.

"Karena Cahaya itu... referensi," kataku akhirnya. "Bukan dalam arti instrumental. Lebih dalam arti... waktu aku coba mahamin sesuatu tentang dunia di luar hal-hal yang udah aku ngerti dengan baik, Cahaya itu titik yang paling konsisten yang bisa aku pake buat orientasi."

Hening di meja.

Bukan hening bingung. Hening yang lebih kayak waktu seseorang bilang sesuatu yang butuh satu momen lebih buat sepenuhnya mendarat.

Sasa natap aku dengan ekspresi yang udah geser jauh dari penilaian awal tadi, sekarang lebih mirip orang yang lagi sangat serius nyatet sesuatu di sistem internal mereka. "Kamu bilang itu dengan nada yang sama kayak ngedeskripsiin kompas."

"Analogi yang enggak jelek, sebenernya."

"Rendy." Sasa naruh tehnya. "Kamu sadar kamu baru aja ngedeskripsiin sahabatmu sebagai alat navigasi?"

"Bukan alat. Referensi. Ada beda konotasi..."

"Aku tahu beda konotasinya." Nada Sasa enggak berubah, tapi ada sesuatu di dalamnya yang geser dikit. "Itu yang bikin lebih menarik, bukan lebih enggak masalah."

Aku enggak langsung ngerti maksudnya.

Dan sebelum aku bisa minta klarifikasi, Cahaya, yang dari tadi sangat diem dengan cara yang enggak biasa buat standarnya, tiba-tiba berdiri dari kursinya. "Aku mau ambil air minum dulu." Dia ambil gelas kosongnya. "Bentar."

Dia jalan ke arah dispenser di sudut kantin.

Ninggalin aku dan Sasa berdua di meja.

Sasa natap ke arah Cahaya yang jalan menjauh, terus balik ke arahku, dengan ekspresi yang aku enggak bisa kategoriin ke template mana pun yang udah aku kenal.

"Boleh aku nanya sesuatu?" katanya.

"Kamu udah banyak nanya sejak tadi."

"Yang ini beda." Dia naruh dua siku di meja, condong dikit ke depan. "Udah berapa lama kalian temenan?"

"Sejak TK. Kamu udah tahu itu."

"Berapa tahun itu?"

"Empat belas tahun, kurang lebih. Kami masuk TK umur empat tahun."

Sasa ngangguk pelan. "Empat belas tahun." Dia ulangin angka itu dengan nada yang kedengeran kayak orang yang lagi naruh sebuah data dalam konteks yang lebih besar. "Dan sepanjang empat belas tahun itu, apa definisi hubungan kalian pernah berubah? Di pikiranmu?"

"Maksudnya?"

"Pernah enggak, di satu titik, kamu liat Cahaya bukan sebagai 'teman masa kecil' tapi sebagai sesuatu yang lain?"

Pertanyaan itu mendarat dengan cara yang beda dari semua pertanyaan Sasa sebelumnya.

Bukan karena nyentuh sesuatu. Lebih karena formatnya, sangat langsung, tanpa basa-basi, tanpa kemasan, bikin otakku enggak punya cukup waktu buat ngelakuin proses penghindaran yang biasanya kejadian otomatis waktu pertanyaan dengan topik tertentu muncul.

"Enggak," jawabku.

Sasa enggak langsung ngerespons.

"Enggak pernah?" tanyanya akhirnya.

"Enggak pernah secara eksplisit."

"Kamu baru aja nambahin kata 'eksplisit'."

"Karena itu kata yang akurat buat apa yang aku maksud."

"Rendy." Sasa natap aku dengan tatapan yang kerasa kayak sorotan lampu, enggak nyakitin, tapi jelas dan enggak ngasih tempat buat sembunyi. "Kamu itu orang yang sangat literal dalam pemakaian bahasa. Kalau kamu nambahin kata 'eksplisit' sebagai kualifikasi, artinya kamu sadar ada sesuatu yang enggak masuk kategori 'eksplisit' tapi juga enggak absen sepenuhnya."

Aku natap meja.

"Aku enggak klaim ngerti perasaanmu lebih baik dari kamu sendiri," lanjut Sasa, nadanya enggak berubah dari informatif ke apa pun yang lebih emosional. "Itu bukan tujuanku nanya. Aku cuma pengen tahu: kamu pernah beneran periksa asumsinya enggak?"

"Asumsi apa?"

"Bahwa itu teman masa kecil. Enggak lebih dari itu. Kamu pernah beneran periksa, atau kamu terima aja sebagai fakta karena udah ada sejak awal dan enggak pernah ada alasan buat mempertanyakannya?"

Hening yang lebih panjang dari biasanya.

"Itu pertanyaan yang enggak gampang dijawab," kataku akhirnya.

"Aku tahu." Sasa ambil tehnya lagi. "Makanya aku nanya." Dia seruput sekali. "Enggak perlu dijawab sekarang. Atau ke aku. Itu lebih sebagai... sesuatu buat dipikirin."

"Kamu sering lempar pertanyaan yang enggak perlu dijawab ke orang yang baru aja kamu kenal?"

"Cuma ke orang yang keliatannya enggak akan lari dari pertanyaannya." Sasa natap aku dengan sesuatu yang mendekati apresiasi. "Dan yang jujur dalam jawabannya walau jawabannya enggak enak buat diakui."

Aku enggak ngerespons itu.

Dari arah dispenser, Cahaya udah balik badan dan jalan lagi ke meja, gelas udah keisi, langkahnya santai, rambut yang dikuncir goyang dikit.

Aku liat dia jalan balik ke arah kami.

Dan buat alasan yang enggak sepenuhnya aku ngerti, pertanyaan Sasa tadi masih ada di suatu tempat di kepalaku kayak notifikasi yang belum dibuka.

Kamu pernah beneran periksa asumsinya enggak?

Cahaya duduk lagi, naruh gelas, natap kami berdua bergantian dengan ekspresi orang yang tahu dia ketinggalan sesuatu tapi enggak yakin seberapa banyak. "Kalian ngobrol apa?"

"Enggak ada yang penting," jawab Sasa.

"Kamu enggak pernah ngobrol hal yang enggak penting."

"Poin yang valid." Sasa angkat bahu. "Tapi kali ini bukan hal yang perlu kamu tahu sekarang."

Cahaya natap Sasa. Natap aku. Natap Sasa lagi.

"...Oke," katanya akhirnya, dengan nada orang yang milih nyimpen pertanyaannya buat nanti.

"Anyway." Sasa rapiin hapenya yang dari tadi ada di tepi meja. "Kalian biasanya ngapain setelah PKKMB selesai? Pulang langsung atau ada yang dikerjain di sini?"

"Tergantung," jawab Cahaya. "Kadang ke perpus. Kadang langsung pulang."

"Kalian biasanya bareng?"

"Biasanya."

"Selalu atau biasanya?"

Cahaya mikir sebentar. "...Hampir selalu."

Sasa ngangguk dengan cara yang ganggu, bukan ganggu dalam arti negatif, tapi dalam arti dia ngangguk seolah jawaban itu ngonfirmasi sesuatu yang udah dia simpulin sebelum pertanyaannya selesai diucapin.

"Boleh aku ikut?" tanyanya.

"Ikut ke mana?" tanya Cahaya.

"Ke mana pun kalian pergi setelah ini." Sasa natap Cahaya dengan ekspresi yang sepenuhnya datar. "Aku belum punya temen lain di sini selain kamu. Dan berdasarkan tiga puluh menit terakhir, aku lebih tertarik ngabisin waktu sama kalian daripada sama kebanyakan orang lain yang udah aku temuin sejak PKKMB mulai."

"Itu pujian?" tanya Cahaya.

"Pernyataan fakta. Tapi bisa kamu interpretasiin sebagai pujian kalau itu bikin kamu lebih nyaman."

Cahaya noleh ke arahku dengan ekspresi minta input.

Aku angkat bahu. "Enggak ada keberatan dari aku."

"Berarti boleh," kata Cahaya ke Sasa.

"Makasih." Sasa abisin segitiga terakhir rotinya. "Satu hal lagi."

"Apa?"

"Aku bakal langsung kalau ada sesuatu yang menurutku perlu diomongin." Dia natap Cahaya, terus aku, terus balik ke Cahaya. "Dan aku enggak akan pura-pura enggak liat hal yang jelas keliatan cuma karena lebih nyaman kalau enggak diomongin. Itu bukan cara aku berteman."

"Oke..." Cahaya kedengeran sedikit enggak yakin. "Itu maksudnya apa konkretnya?"

"Nanti kamu tahu." Sasa ambil tasnya, berdiri. "Ayo, PKKMB mulai sepuluh menit lagi."

Kami bertiga jalan ke lapangan dengan Cahaya di tengah, Sasa di kirinya, aku di kanan, formasi yang kebentuk secara organik tanpa ada yang ngaturnya.

Di perjalanan, aku denger Sasa dan Cahaya ngobrol soal jadwal kuliah, soal dosen yang udah mulai bisa diriset reputasinya dari kakak tingkat, soal sistem SKS yang ternyata lebih fleksibel dari yang mereka kira sebelum masuk. Obrolan yang normal, informatif, produktif.

Aku jalan di sebelah kanan sambil setengah dengerin, pikiranku masih ngorbit sesuatu yang enggak terlalu mau pergi.

Kamu pernah beneran periksa asumsinya enggak?

Ini, aku putusin, adalah efek berbahaya dari temenan sama mahasiswi Psikologi di hari ketiga perkenalan. Mereka ninggalin pertanyaan kayak orang lain ninggalin komentar di postingan medsos, gampang, tanpa tanggung jawab atas konsekuensi psikologis yang ditimbulinnya ke penerima.

"Ren."

Aku angkat pandangan dari trotoar.

Cahaya jalan setengah langkah di depan, natap aku dari sudut matanya. "Kamu ngelamun."

"Aku lagi mikir."

"Itu hal yang beda?"

"Biasanya iya."

Sasa, yang keliatannya enggak pernah bener-bener berhenti ngamatin apa pun bahkan sambil ngobrol soal sistem SKS, lirik aku dari sisi Cahaya tanpa ngubah ekspresinya. Aku nangkep lirikan itu.

Dia nangkep bahwa aku nangkep itu.

Enggak ada yang diomongin.

Tapi aku ngerti, dengan cara yang lebih intuitif dari yang biasa aku pake buat maham komunikasi non verbal, kalau Sasa lagi bilang: aku tahu kamu masih mikirin pertanyaan tadi, dan aku enggak akan mempermasalahin itu.

Lapangan udah keliatan di ujung jalan, rame sama gerombolan mahasiswa baru yang balik kumpul buat sesi kedua.

"Eh, Sasa," kata Cahaya tiba-tiba. "Tadi kamu bilang kamu bakal langsung kalau ada sesuatu yang perlu diomongin."

"Iya."

"Itu berlaku juga buat hal-hal tentang aku?"

"Terutama hal-hal tentang kamu." Sasa enggak berkedip. "Justru karena kita bakal temenan, bukan meski kita bakal temenan."

Cahaya gigit pipi bagian dalam, gestur yang aku kenal sebagai tanda dia lagi mroses informasi yang enggak sepenuhnya dia suka tapi enggak bisa dia bantah.

"...Oke," katanya akhirnya.

"Bagus." Sasa natap ke depan ke arah lapangan. "Ini bakal jadi pertemanan yang menarik."

"Atau ngerepotin," kata Cahaya.

"Dua hal itu enggak saling eksklusif."

Kami masuk lapangan.

Dan di suatu tempat di kepalaku, aku bikin catatan kecil: bahwa hari ini adalah hari di mana komposisi dunia sehari-hariku berubah dari dua jadi tiga, dan, ini bagian yang enggak sepenuhnya aku antisipasi, perubahan itu kerasa lebih alami dari yang seharusnya kerasa buat sesuatu yang baru.

Enggak kayak karakter baru yang dimasukin secara paksa di tengah arc.

Lebih kayak karakter yang emang udah seharusnya ada di situ tapi baru ketemu di halaman yang tepat.

Walau, aku tambahin dalam catatan yang sama, karakter yang satu ini kayaknya juga bakal jadi sumber pertanyaan yang enggak nyaman dalam jumlah yang enggak aku perkirain sebelumnya, termasuk satu pertanyaan, yang waktu itu belum aku sadari, baru bakal berhenti muter di kepalaku bertahun-tahun kemudian.

Itu, aku putusin, urusan episode-episode berikutnya.

Buat sekarang, PKKMB udah mulai lagi.

1
Pena Quality
up, saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!