Indonesia
NovelToon NovelToon
TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERMAINAN DI BAWAH MEJA

Makan malam di kediaman mewah Letnan Jenderal Gibran Mahendra malam ini terasa jauh lebih megah dan formal dari biasanya.

Lilin-lilin aromaterapi beraroma kayu cendana menyala lembut di sepanjang meja makan kayu jati ukir yang panjang, menciptakan pendar bayangan remang-remang yang menari eksotis di dinding ruang makan berarsitektur tinggi tersebut.

Gibran duduk tegak di ujung meja sebagai tuan rumah yang mendominasi atmosfer, sementara Aris dan Ziva duduk berdampingan di sisi kanan meja, berhadapan langsung dengan jajaran perabot kaca yang mengkilap.

Gibran mengenakan kemeja katun hitam yang lengan kemejanya digulung rapi hingga mendekati siku, memperlihatkan otot-otot lengan tegas dan jam tangan taktis militernya yang kokoh.

Sejak sepasang kekasih muda itu menginjakkan kaki di ambang pintu rumahnya, manik mata hitam sang Jenderal tak pernah benar-benar lepas menatap Ziva sebuah tatapan tajam, pekat, dan dingin, seolah ia sedang menandai wilayah kekuasaan yang sempat terlepas.

"Om Gibran terlihat sangat bersemangat dan segar malam ini," ujar Aris sambil memotong lembut potongan steak wagyu di atas piring porselennya.

"Apa ada perkembangan baru atau berita gembira dari Markas Besar?"

Gibran menyesap anggur merah dari gelas kristalnya secara perlahan, membiarkan cairan pekat itu membasahi bibirnya sebelum matanya bergulir menatap Ziva yang sedang berusaha setengah mati fokus pada makanan di piringnya sendiri.

"Bukan kabar formal dari Mabes, Aris," sahut Gibran dengan suara berat dan tenang.

"Saya hanya merasa... ada sesuatu yang setelah sekian lama hilang, akhirnya pelan-pelan kembali ke tempat yang seharusnya."

Ziva mendadak merasa tenggorokannya kering kerontang.

Ia tahu persis apa arti terselubung di balik kalimat tajam tersebut.

Di tengah percakapan Aris yang menggebu-gebu menceritakan rencana renovasi rumah masa depan yang baru ia beli untuk Ziva, tubuh Ziva tiba-tiba tersentak kaku.

Di bawah meja makan kayu yang tertutup rapat oleh kain taplak panjang hingga mendekati lantai, ia merasakan sebuah tekanan hangat dan asing.

Kaki Gibran yang terbalut sepatu kulit mahal buatan Italia perlahan bergerak menyentuh pergelangan kaki jenjang Ziva.

Ziva mencoba menarik kakinya ke belakang secara instingtif, namun Gibran justru bertindak jauh lebih berani.

Dengan gerakan perlahan namun sangat pasti, ujung sepatu dan betis tegap Gibran mulai merangkak naik, menyapu halus bagian betis Ziva hingga melintasi area lututnya.

Ziva mengeratkan pegangannya pada garpu perak di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Wajah cantiknya mulai memanas, darah mendesir hebat di dalam pembuluh darahnya.

Ia mendongak, menatap Gibran dengan tatapan mata yang memancarkan perpaduan antara rasa memohon, ketakutan, sekaligus kemarahan murni.

Namun, sang Jenderal justru membalas tatapan itu dengan sebuah senyuman tipis yang teramat provokatif sambil tetap menanggapi obrolan Aris dengan raut muka tanpa dosa.

"Ziva, kamu oke?

Wajah kamu kelihatan mendadak merona dan... sedikit berkeringat?" tanya Aris mendadak, menghentikan kalimatnya saat menyadari perubahan pada kekasihnya.

"Eh, iya... saus lada hitamnya agak sedikit pedas ya, Ris," jawab Ziva terbata-bata, berusaha keras menjaga ritme napasnya yang mulai kacau.

Tepat pada detik itu, aksi terlarang di bawah meja berlanjut lebih jauh.

Kaki Gibran merangkak naik membelai area paha Ziva, berpindah dari kain dress selutnya ke area kulit sensitifnya.

Gibran tidak sekadar menyentuh secara pasif; ia menekan dengan gerakan ritmis dan posesif yang membuat napas Ziva mendadak memburu dan tertahan di tenggorokan.

Ziva menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga memucat.

Sensasi panas yang terlarang itu menjalar cepat ke seluruh persendian tubuhnya.

Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu liar dan brutal di dalam rongga dadanya.

Gibran Mahendra benar-benar telah kehilangan akal sehatnya.

Pria itu berani melakukan provokasi fisik yang teramat intim tepat di depan mata keponakan kandungnya sendiri yang sedang bercakap-cakap tanpa curiga sedikit pun!

"Oh ya, Aris," suara Gibran mengudara dengan nada yang sangat tenang dan berwibawa sangat bertolak belakang dengan apa yang sedang dilancarkan oleh kakinya di balik pekatnya bayangan di bawah meja.

"Saya rasa kamu harus mempertimbangkan kembali untuk menunda rencana pertunanganmu bulan depan.

Ada tugas penempatan luar negeri berjangka pendek yang ingin saya rekomendasikan secara khusus untuk namamu.

Ini akan sangat bagus untuk koneksi dan ekspansi karier bisnismu."

"Tugas luar negeri?

Ke mana dan berapa lama kira-kira, Om?" tanya Aris dengan binar mata antusias.

Kaki Gibran kini merayap kian dalam di area paha bagian dalam Ziva, memberikan tekanan intim yang membuat pertahanan batin gadis itu meluruh.

Ziva memejamkan matanya rapat-rapat, kepalanya mendongak sangat tipis.

Sebuah desahan pasrah nyaris saja lolos dari bibirnya yang sedikit terbuka.

Dengan gerakan cepat, Ziva segera menutup mulutnya menggunakan serbet kain, berpura-pura batuk kecil untuk menyamarkan gejolak tubuhnya.

"Mungkin sekitar tiga sampai enam bulan di kawasan Eropa Timur," jawab Gibran santai.

Manik matanya berkilat memancarkan kepuasan dan kemenangan saat menyaksikan reaksi tubuh Ziva yang mulai bergetar hebat di hadapannya.

"Kamu butuh pengalaman lapangan itu, Aris.

Jangan terlalu terburu-buru mengikat diri dalam pernikahan jika kariermu belum berada di puncak."

Ziva tidak mampu menahannya lagi.

Di bawah meja, ia mencoba menendang dan menghempaskan kaki Gibran dengan sengit, namun Gibran justru menangkap pergelangan kaki Ziva menggunakan kedua kakinya, menguncinya dengan begitu kuat dan posesif hingga Ziva tak lagi bisa bergerak walau sejengkal.

"Ziv?" Aris mengulurkan tangannya, menyentuh lembut bahu Ziva yang tampak tegang.

"Kamu nggak apa-apa kan kalau aku ambil kesempatan tugas luar negeri itu sebentar?

Atau kamu mau ikut mendampingi aku ke sana?"

Ziva menatap Aris dengan sepasang mata yang merekah basah oleh air mata sebuah genangan air mata yang lahir dari perpaduan antara rasa bersalah yang menggerogoti jiwanya dan gejolak gairah yang menyiksa.

Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Gibran.

Sang Jenderal kini menatapnya secara terbuka dengan pendar mata yang mendominasi sebuah tatapan tegas yang seolah menegaskan penegasan penuh: _'Kamu adalah milikku.'_

Seolah memberi sinyal tak terbantahkan bahwa jika Aris melangkah pergi ke luar negeri, maka Ziva akan sepenuhnya berada di dalam jangkauan dan kendalinya tanpa ada lagi perantara.

"Aku... aku terserah apa keputusan terbaikmu saja, Ris," bisik Ziva dengan suara yang parau dan hampir habis.

"Keputusan yang sangat bijaksana," potong Gibran cepat sebelum Aris sempat merespons.

Pria itu perlahan menarik kembali kakinya, melepaskan kuncian pada kaki Ziva secara halus seolah tidak pernah terjadi manipulasi apa pun di bawah meja tadi.

Gibran berdiri tegak dari kursinya, meraih gelas kristalnya, dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara.

"Mari kita bersulang untuk masa depan keluarga kita yang baru...

yang penuh dengan kejutan tak terduga."

Ziva memegang batang gelas anggurnya dengan telapak tangan yang masih bergetar hebat.

Saat gelas kristal mereka berdenting halus di udara, manik mata tajam Gibran seolah berbicara dan menancap lurus ke dasar jiwanya: _'Kamu bisa berlari dan bersembunyi ke pelukan siapa pun, Ziva. Namun tubuh dan hatimu tahu pasti ke mana mereka harus berlutut dan pulang.'_

Malam itu, Ziva melangkah keluar dari rumah megah Menteng dengan perasaan yang hancur lebur sekaligus terbakar oleh konflik batin.

Aris menggenggam erat jemari tangannya di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik kain dress yang dikenakan kekasihnya, masih tertinggal bekas panas dan jejak dominasi dari sentuhan paman kandungnya sendiri.

Perang saraf ini telah melompati garis batas aman di mana tak ada lagi jalan untuk berbalik arah.

Gibran Mahendra telah menabuh genderang pertempuran secara terbuka, dan sang Jenderal tidak akan pernah berhenti bergerak sampai Ziva Adriana kembali sepenuhnya ke dalam dekapannya tak peduli berapa besar harga dan kehancuran yang harus dibayar.

1
+82
jangan 1 hari 1.. 1 hari 3 mungkin 🌚
+82
lagi🌚
+82
abis kamu ziva.. 🌚 menanti +21
+82
🌚🌚🌚 lagi
+82
lagi🌚
+82
bukaaa🦖 ga sabar mereka balikan
+82
bwahahaha🌚
aku
murahan ziva!! 🙏
Annisa
ceritanya bagus dan menegangkan
Annisa
mantap demi cinta , Gibran dikejar sampai medan konflik😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!