Indonesia
NovelToon NovelToon
Suamiku Pak Dosen Killer

Suamiku Pak Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.

Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.

Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sial, terlambat!

Suara alarm dari telepon genggam Nadhira meraung-raung sejak pukul enam pagi, namun tubuh perempuan itu rasanya melekat erat dengan kasur busa di kamar barunya.

Semua karena efek kelelahan acara pernikahan kemarin, ditambah aksi mencuci piring dan menyelesaikan draf sketchbook DKV hingga pukul dua dini hari, sukses membuat kelopak matanya berat untuk terbuka.

Ketika Nadhira akhirnya berhasil membuka mata dan melirik jam dinding beruang warna cokelat di atas meja belajarnya, jarum jam sudah menunjuk tepat di angka 07.25.

"ANJIR! JAM TUJUH LEWAT DUAPULUH LIMA?!"

Nadhira menjerit histeris. Ia melompat dari tempat tidur hingga selimutnya terlempar ke ujung ruangan. Pikirannya langsung melayang pada ancaman Reyhan semalam, Berangkat jam tujuh tepat!

Dengan kecepatan cahaya, Nadhira menyambar handuk, berlari ke kamar mandi, dan mandi kilat yang tak sampai tiga menit. Tanpa sempat memakai skincare lengkap, hanya mengoleskan lip balm seadanya.

Nadhira kemudian menyambar kemeja oversized warna biru pastel, celana jins, dan menaruh sembarangan laptop serta tabung gambarnya ke dalam tas ransel besar.

Saat ia berlari tunggang-langgang menuruni tangga pada pukul 07.38, suasana lantai bawah sudah sepi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia. Di atas meja makan, hanya ada selembar kertas catatan kecil bergaris yang ditindih oleh sebotol susu kotak rasa cokelat.

Nadhira menyambar kertas itu. Tulisan tangan di sana sangat rapi, menukik tegas khas seorang dosen killer yang ia kenal.

Saya berangkat jam 07.00 tepat. Kamu terlambat. Sesuai perjanjian, silakan cari transportasi sendiri.

-R

"Bener-bener nggak ada akhlak punya suami!" umpat Nadhira geram. Ia meminum susu kotak itu dalam dua kali tegukan besar, menyambar sepatu ketsnya, lalu berlari keluar rumah menuju pangkalan ojek daring di ujung kompleks.

Suasana koridor Gedung B Fakultas Seni dan Desain pagi itu sudah mulai sepi. Mahasiswa-mahasiswa rajin sudah masuk ke dalam studio masing-masing, sementara Nadhira berlari maraton menaiki anak tangga menuju lantai tiga. Napasnya memburu, pelipisnya bertumpuk keringat, dan tali tas ranselnya terus merosot dari bahu.

Langkah kaki Nadhira melambat secara drastis saat ia berdiri di depan pintu kayu bernomor R.302, Studio Metodologi Desain. Pintu itu tertutup rapat.

Melalui kaca kecil di bagian atas pintu, Nadhira bisa melihat bayangan tinggi Reyhan yang sedang berdiri tegap di depan papan tulis digital, memegang stylus pen sambil menjelaskan materi user experience.

Jam di pergelangan tangan Nadhira menunjukkan pukul 08.12. Terlambat 12 menit.

"Mati aku, poin keempat perjanjian: jangan bikin kehebohan. Poin kelima: dilarang ngasih nilai E karena dendam. Tapi kalau terlambat begini, jangankan nilai E, bisa disuruh keluar studio!" Batin Nadhira meratap.

Dengan tangan gemetar hebat dan jantung yang berdegup kencang, Nadhira memutar gagang pintu perlahan.

Cklek.

Bunyi engsel pintu yang terkuak pelan itu memotong kalimat Reyhan yang sedang mengulas tentang hirarki visual. Seketika, seluruh isi studio sekitar empat puluh pasang mata mahasiswa DKV kelas 6B, menoleh serempak ke arah pintu.

Di pojok depan, Kania melambaikan tangan kecil dengan raut wajah panik setengah mati. Di sebelahnya, Dimas menggeleng-gelengkan kepala sambil memegang dadanya, seolah mengucapkan salam perpisahan untuk nyawa Nadhira. Sementara di barisan tengah, Rangga menatap Nadhira dengan cemas.

Nadhira menghentikan langkahnya di ambang pintu, kaku layaknya patung lilin.

Reyhan menghentikan penjelasannya. Pria itu perlahan berbalik. Kemeja abu-abu gelap yang melekat di tubuh jangkungnya nampak begitu licin tanpa lipatan. Dari balik kacamata frameless-nya, mata tajam Reyhan mengunci tatapannya pada Nadhira.

Aura dingin yang dipancarkan pria itu seketika menurunkan suhu ruangan studio secara drastis.

"Selamat pagi, Pak... Maaf saya terlambat," bisik Nadhira pelan, suaranya hampir tenggelam oleh bunyi pendingin ruangan.

Reyhan tidak langsung menjawab. Pria itu berjalan pelan mendekati meja dosen, meletakkan stylus pen-nya di atas meja dengan ketukan pelan yang bergema di seluruh ruangan. Tuk.

"Jam berapa sekarang, Saudari Nadhira?" tanya Reyhan. Suaranya tidak keras, tapi dalam, dingin, dan menusuk hingga ke sumsum tulang.

"J-Jam delapan lewat dua belas menit, Pak..." jawab Nadhira sambil menunduk dalam-dalam, menatap ujung sepatu ketsnya yang sedikit berdebu.

"Jam masuk kelas saya pukul delapan tepat. Toleransi keterlambatan adalah nol menit untuk kelas teori dan lima menit untuk kelas studio," cerocos Reyhan lugas, matanya menatap Nadhira tanpa ampun. "Kamu terlambat dua belas menit. Apa alasan kamu?"

Nadhira menggigit bibir bawahnya panik. "Masa iya aku bilang 'Alasan saya terlambat karena suami saya yang Dosen Killer ini ninggalin saya sendirian di rumah baru pas jam tujuh pagi?!'"

"Anu, Pak... Tadi... ban angkotnya bocor di jalan, terus..." Nadhira asal mengarang alasan konyol yang terlintas di kepalanya.

Dimas di kursi belakang menepuk jidatnya sendiri. "Aduh, Nad... ngarang alasan kok ban angkot bocor di depan Pak Reyhan," bisiknya amat pelan pada Kania.

"Bocor?" Reyhan menaikkan sebelah alisnya. Tatapannya menembus Nadhira, membuat mahasiswi itu makin mengkeret.

"Saudari Nadhira, alasan yang kamu gunakan adalah alasan klasik mahasiswa malas sejak dulu. Lagipula, dari kawasan perumahan tempat kamu tinggal menuju kampus ini, jalur angkutan umum yang kamu maksud tidak beroperasi di jam delapan pagi."

Nadhira mendongak kaget. "Lho, kok dia tahu rute rumah baru?! Eh, ya iyalah, kan itu rumah dia. Dasar Dosen Killer licik!"

Seisi kelas mulai berbisik-bisik. Kania mengamati interaksi itu dengan dahi berkerut, merasa ada yang sedikit aneh dari cara Pak Reyhan menyebut lokasi perumahan, walau ia berasumsi Pak Reyhan hanya asal menebak rute umum.

"Sebagai mahasiswa semester enam, disiplin waktu adalah modal paling dasar sebelum kamu dilepas ke industri kreatif," lanjut Reyhan dengan nada mengintimidasi yang sangat sempurna.

"Klien tidak akan peduli alasan ban angkot kamu bocor atau alarm kamu rusak. Sekali kamu terlambat menyerahkan draf project, kontrak kamu diputus."

Nadhira meremas tali ranselnya, menyumpah-nyumpah di dalam hati. "Iya, Pak Suami! Paham! Nggak usah ceramah panjang lebar di depan teman-teman juga kali. Awas ya nanti malam tak kasih garam sebotol di supnya!"

"Kerjakan tugas observasi visual di luar studio selama tiga puluh menit," perintah Reyhan tanpa ragu, menunjuk ke arah koridor luar.

"Setelah itu baru kamu boleh masuk dan menyerahkan draf sketchbook kamu yang keterlambatannya tetap saya potong sepuluh poin."

"Tapi Pak, potong sepuluh poin?!" protes Nadhira spontan, lupa akan poin perjanjian.

Reyhan menatap Nadhira tepat di matanya. Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Sesuai larangan dalam surat perjanjian mereka: Batas maksimal tatapan mata di tempat umum adalah dua detik. Lebih dari itu harus buang muka!

Nadhira memberi kode lewat kedipan matanya yang panik, mencoba mengingatkan Reyhan pada aturan konyol yang ditandatangani semalam.

Namun, Reyhan justru sengaja memperlama tatapannya hingga detik kelima, memberikan tekanan mental bertubi-tubi pada istrinya sendiri.

"Ada protes lagi, Saudari Nadhira? Atau mau saya tambah pemotongan nilainya jadi dua puluh poin?" ancam Reyhan dengan raut wajah seratus persen kaku.

Nadhira mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia menarik napas panjang, menahan rasa kening yang memanas karena malu ditonton satu angkatan.

"Tidak ada, Pak. Terima kasih," jawab Nadhira akhirnya, berbalik badan dengan lesu dan keluar dari studio, membiarkan pintu terdekat tertutup kembali.

Tiga puluh menit kemudian, Nadhira akhirnya diperbolehkan masuk ke kelas. Ia duduk di barisan belakang, tepat di sebelah Kania dan Dimas. Begitu Nadhira mendaratkan pantatnya di kursi, Kania langsung memajukan tubuhnya dan berbisik heboh.

"Nad, lo gila ya? Hari pertama kuliah setelah libur dua minggu malah telat di kelasnya Pak Reyhan," bisik Kania gemas sambil mencubit pelan lengan Nadhira.

"Gua udah bantu doa dari tadi biar lo nggak disuruh pulang!" lanjut Kania berbisik.

"Iya, Nad," timpal Dimas dari sisi lain, sambil menutupi mulutnya dengan buku sketsa. "Muka Pak Reyhan tadi pas lo masuk udah kayak malaikat maut mau nyabut nyawa. Gua aja yang ngeliat dari belakang langsung gemeteran."

"Gua emang lagi apes banget hari ini, Kania, Dimas..." desah Nadhira lemas, menyandarkan dahinya di atas meja studio. "Gua bener-bener benci sama itu dosen."

"Ssst! Pelan-pelan ngomongnya. Nanti kupingnya yang tajam kayak radar itu denger!" peringat Kania panik.

Sementara itu di depan kelas, Reyhan sedang memeriksa draf storyboard milik mahasiswa satu per satu. Saat giliran Nadhira maju membawa buku sketsanya, suasana kembali tegang.

Nadhira meletakkan buku sketsanya di meja dosen tanpa berani menatap mata Reyhan. "Ini draf saya, Pak."

Reyhan membuka lembaran kertas tebal tersebut. Tangannya yang memegang pulpen merah bergerak cepat mengamati setiap goresan pensil dan konsep warna yang dibuat Nadhira.

Di balik sikap konyol dan cerobohnya, Nadhira sebenarnya adalah salah satu mahasiswi dengan bakat ilustrasi paling menonjol di angkatannya.

Reyhan mengamati detail karakter yang digambar Nadhira. Sangat rapi, berkarakter, dan pemilihan palet warnanya amat harmonis. Di dalam hatinya, Reyhan mengakui kualitas karya istrinya. Namun, ekspresi wajahnya tetap dibuat kaku seperti kertas amplas.

"Konsep karakter kamu bagus," ujar Reyhan pelan, cukup untuk didengar Nadhira saja. "Komposisi garisnya tegas."

Nadhira sedikit terkejut, matanya berbinar sebentar. "Beneran, Pak?"

"Tapi," potong Reyhan cepat, mengambil pulpen merahnya dan menuliskan angka besar di pojok atas kertas. "Karena nilai kamu dipotong sepuluh poin akibat keterlambatan, nilai akhir untuk draf pertama ini adalah 75."

Binar di mata Nadhira langsung padam seketika. Bunga-bunga yang baru saja mekar di kepalanya layu ditimpa hujan batu.

"Pak... 75 itu B-min!" bisik Nadhira histeris dengan suara tertahan. "Hasil gambar saya padahal bagus banget."

"Disiplin adalah bagian dari penilaian karya," balas Reyhan tenang, menggeser buku sketsa itu kembali ke Nadhira. "Silakan kembali ke tempat duduk kamu."

Nadhira menyambar buku sketsanya dengan perasaan dongkol setengah mati. Ia memberikan tatapan paling tajam yang bisa ia berikan sebelum berbalik badan dan berjalan kembali ke mejanya.

Jam menunjukkan pukul 11.30 siang ketika kelas Metodologi Desain akhirnya usai. Mahasiswa berhamburan keluar studio dengan rasa lega luar biasa.

"Nad, kantin yuk! Gua laper banget gara-gara tegang ditatap Pak Reyhan dua jam berturut-turut," ajak Kania sambil merapikan alat-alat tulisnya.

"Kalian duluan aja deh," ujar Nadhira lemas. "Gua mau ke toilet sebentar, mau cuci muka."

"Yaudah, nanti kita book tempat di kantin biasa ya!" kata Dimas sambil melambaikan tangan, berjalan keluar bersama Kania dan mahasiswa lainnya.

Studio DKV R.302 mendadak sepi. Hanya tersisa Nadhira yang masih berpura-pura sibuk memasukkan pensil warna ke dalam tempat pensilnya, serta Reyhan yang sedang membereskan laptopnya di meja depan.

Setelah memastikan mahasiswa terakhir sudah benar-benar hilang di balik belokan koridor, Nadhira langsung berdiri dan menghentakkan kakinya mendekati meja dosen.

"PAK REYHAN!" protes Nadhira meluapkan seluruh kejengkelannya yang dipendam selama tiga jam.

"Bapak jahat banget sih. Masa nilai gambar sebagus itu cuma dikasih 75?. Itu gambar saya ngerjainnya sampai jam dua pagi tahu nggak?!"

Reyhan tidak menunjukkan terkejut sedikit pun. Pria itu menyilangkan tangan di dada, bersandar santai di tepi meja, lalu menatap Nadhira yang mukanya sudah merah padam karena kesal.

"Saya kan sudah bilang semalam, Nadhira," sahut Reyhan santai dengan nada bicara yang kembali santai khas di rumah. "Di kampus, saya dosen kamu. Tidak ada perlakuan khusus atau keistimewaan hanya karena kamu tidur di kamar sebelah saya."

"Tapi kan keterlambatan saya itu gara-gara Bapak juga!" seru Nadhira tak mau kalah, menunjuk dada Reyhan dengan jarinya.

"Bapak kenapa tega banget ninggalin saya jam tujuh pas? Kan bisa ketok pintu kamar saya dulu atau panggil saya!"

"Saya bukan jam waker kamu, Nadhira," balas Reyhan tenang. "Kamu sudah dewasa, sudah jadi mahasiswi semester enam, dan sekarang sudah jadi seorang istri. Tanggung jawab atas waktu kamu ada di tangan kamu sendiri. Kalau kamu terlambat bangun, itu salah kamu yang nekat bergadang membuat tugas."

Nadhira mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Argumen Reyhan begitu telak dan logis hingga Nadhira tidak punya amunisi lagi untuk membalas. Rasa kesal, malu, dan lelah bercampur aduk menjadi satu di dadanya.

Melihat raut wajah Nadhira yang berubah cemberut parah dan matanya yang mulai berkaca-kaca karena sangat sebal, perasaan tidak tega mendadak menyusup ke dalam hati Reyhan.

Reyhan menghela napas pendek. Pria itu merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna cokelat berlogo toko roti terkenal di dekat kampus dan meletakkannya di atas meja, tepat di depan Nadhira.

Nadhira melirik kotak itu curiga. "Apaan ini?"

"Roti cokelat keju kesukaan kamu," kata Reyhan pelan, suaranya melunak beberapa tingkat. "Tadi pagi saya mampir sebentar ke toko roti sebelum ke kampus. Kamu belum sarapan, kan?"

Nadhira menatap kotak roti itu, lalu menatap Reyhan ganti-gantian. "Bapak... beliin ini buat saya?"

"Tadi saya beli dua. Satunya buat saya," kilat Reyhan cepat, mencoba menutupi perhatiannya. "Ambil saja. Makan di tempat yang sepi, jangan sampai Kania atau Dimas lihat."

Nadhira meraih kotak roti yang masih terasa hangat itu. Rasa kesalnya yang menggebu-gebu tadi mendadak mencair pelan-pelan, digantikan oleh rasa hangat yang menyelusup di dalam dadanya. Ternyata, di balik kelakuan dingin dan tega ditinggal di rumah tadi pagi, dosen yang kini jadi suaminya ini tetap memperhatikannya.

"Makasih..." gumam Nadhira pelan sambil menunduk, menyembunyikan senyum kecil yang terlukis di bibirnya.

"Sama-sama," jawab Reyhan pendek. Pria itu menyambar tas laptopnya, lalu berjalan melewati Nadhira menuju pintu studio. Namun sebelum melangkah keluar, Reyhan menghentikan langkahnya dan menoleh sedikit.

"Dan satu hal lagi, Nadhira," kata Reyhan.

"Apa lagi, Pak?"

"Nanti sore saya ada rapat fakultas sampai jam lima. Kamu tunggu di studio ilustrasi. Jam lima lewat seperempat, kamu turun ke area parkir basement lantai dua. Kita pulang bareng."

Nadhira mengedipkan matanya kaget. "Tapi... kalau ada yang lihat gimana?"

"Makanya saya bilang di basement lantai dua, dekat tiang P-12 yang sepi," tegas Reyhan. "Jangan terlambat lagi. Kalau lima menit kamu belum muncul, saya tinggalkan lagi."

Tanpa menunggu jawaban Nadhira, Reyhan melangkah keluar dari studio, meninggalkan Nadhira yang berdiri sendirian memegang kotak roti hangat dengan jantung yang berdegup kencang, bukan lagi karena takut disemprot dosen killer, melainkan karena tingkah acuh tak acuh suaminya yang mendadak bikin gemas setengah mati.

...Bersambung......

1
Hajjah Mahniati
cerita nya bagus ,saya suka keren,lnjutka
Hajjah Mahniati
cerita nya bagus ,dilnjut ya
Suhirno Cilok
lanjut
Rian Moontero
mampiiirr
Hajjah Mahniati
lanjut siip
Ivana Putri
lanjut lagi dong ka seru banget
Hajjah Mahniati: ceritanya bagus keren ,lanjukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!