Kael Dravenhart, Pahlawan Perang Kerajaan Valdoria, menagih janji pernikahan dari sang Raja. Ia mengira akan menikahi sang putri tercantik, Liana. Namun, takdir berkata lain ketika Raja memberikannya Virelia; sang putri pertama yang terkenal gila, kasar, dan suka melempar vas ke kepala orang.
Kael mengira rumah tangganya akan menjadi neraka karena harus mengurus istri yang gemar berteriak, menyuruhnya memanjat bulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tawa kosong dan lemparan garpunya, sang istri adalah Raven, ketua pembunuh bayaran paling berbahaya sekaligus pemimpin revolusi yang bersumpah untuk menggulingkan sang Raja tiran!
Ketika komedi pernikahan paksa berpadu dengan aksi pembunuhan berantai dan rahasia istana, sang Serigala Perang harus memilih: melaporkan istrinya ke istana, atau ikut membantu sang ratu bayangan menjungkirbalikkan takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26. KUNJUNGAN TAK TERDUGA
Udara musim gugur yang sejuk berembus pelan, membawa kesegaran bagi Virelia yang baru saja melangkah keluar kamar untuk pertama kalinya setelah lebih dari seminggu berbaring di atas ranjang.
Meskipun luka tusukan di perut kirinya masih terasa sedikit ngilu jika ia salah bergerak, Virelia merasa tubuhnya sudah jauh lebih bugar. Ia mengenakan gaun panjang berwarna biru muda berpotongan longgar, berjalan perlahan menyusuri jalan setapak batu didampingi oleh pengawalan yang super ketat, bukan dari ksatria militer, melainkan dari para pelayan wanitanya.
"Pelan-pelan, Yang Mulia! Awas batunya licin!" seru Elaine panik, memegang lengan kanan Virelia seolah-olah sang putri adalah boneka kaca yang bisa pecah kapan saja.
Di sebelah kiri Virelia, seorang pelayan senior bernama Anne membawa bantal duduk empuk, sementara dua pelayan lainnya membawakan selimut hangat dan tebal.
"Elaine, udara di sini cukup hangat, aku hanya ingin menghirup udara segar dan meluruskan kakiku yang kaku," protes Virelia dengan nada lembut, tersenyum kecil melihat ekspresi overprotektif para pelayannya.
"Tidak bisa, Yang Mulia!" sanggah Elaine tegas namun penuh rasa sayang. "Tabib berpesan Anda harus dijaga ketat. Bagaimana kalau lukanya robek lagi? Duduklah di kursi taman ini sekarang juga, atau saya akan menyuruh Boran dan Philip menggendong Anda kembali ke kamar!"
Mendengar ancaman kecil itu, Virelia hanya bisa menyerah sambil tersenyum pasrah. Ia mendudukkan dirinya dengan hati-hati di atas kursi kayu taman yang telah dilapisi bantal empuk oleh Elaine, sementara para pelayan langsung sibuk merapikan selimut di pangkuannya dan menyodorkan secangkir teh herbal hangat.
"Wah, rasanya luar biasa bisa melihat matahari lagi setelah sekian lama," gumam Virelia menikmati kehangatan teh di tangannya.
Virelia menoleh ke arah Elaine yang berdiri siaga di sampingnya. Seolah menunggu sesuatu terjadi dari diri sang Duchess ini.
"Elaine, kau tidak perlu tegang begitu. Aku tidak akan melempar vas bunga atau berteriak pada kupu-kupu hari ini," kata Virelia.
Elaine menghela napas lega. "Syukurlah kalau begitu. Sejak hari di mana Anda mendadak berbicara dengan normal, saya sudah cukup jantungan, Yang Mulia. Tolong pertahankan kewarasan ini sampai setidaknya luka Anda sembuh total."
Virelia tertawa kecil mendengarnya. Sebelum ia sempat membalas ucapan Elaine, suara derap sepatu yang teratur mendekati area taman membuat Elaine dan para pelayan langsung menegakkan tubuh.
"Yang Mulia Duke!" seru Elaine buru-buru membungkuk hormat.
Virelia menoleh. Di ujung jalan setapak taman, sosok Duke Kael Dravenhart berjalan dengan langkah tegap mengenakan jubah militernya.
Di samping Kael, Julian berjalan membawa setumpuk dokumen. Namun, bukan kehadiran suaminya atau Julian yang membuat bola mata perak Virelia membelalak kaget.
Di belakang Kael dan Julian, berdiri dua sosok yang sangat dikenalnya di dunia hitam; dua orang kepercayaan terdekat Virelia di kelompok Black Dawn.
Johan, wakil ketua Black Dawn yang berbadan kekar, dan Lila, gadis muda cerdas asisten pribadi Virelia dalam mengelola jaringan intelijen bar The Rusty Anchor. Keduanya mengenakan jubah penyamaran bangsawan rendahan, namun wajah mereka tampak sangat tegang, lelah, dan pucat pasi.
Para pengawal khusus Virelia, Boran dan Philip, serta Elaine dan para pelayan langsung membungkuk hormat sembilan puluh derajat kepada sang Duke.
Kael berhenti tepat di hadapan Virelia. Pria itu menatap istrinya dengan sorot mata hangat, memastikan gadis itu duduk dengan nyaman.
"Kau tidak seharusnya berkeliling taman sepagi ini, Ratu Awan," tegur Kael lembut, merapikan helai rambut pirang Virelia yang tertiup angin.
"Aku butuh udara segar, Kael. Kalau terus di kamar, aku bisa benar-benar gila sungguhan," balas Virelia.
"Aku sudah terbiasa dengan istri gila," goda Kael.
Virelia langsung mendelik tajam ke sang suami. Lalu matanya melirik ke arah dua orang di belakang suaminya.
"Tapi kenapa mereka berdua bisa ada di sini?" tanya Virelia yang melihat dua bawahannya dj Black Down.
Kael tersenyum tipis, lalu menoleh ke belakang memberikan instruksi mutlak kepada staf dan pengawalnya.
"Elaine, Boran, Philip. Tinggalkan kami di sini. Pastikan tidak ada satu pun orang yang mendekati radius sepuluh meter dari taman ini," perintah Kael dengan nada otoriter yang tidak bisa dibantah.
"Baik, Yang Mulia!" jawab mereka serempak, langsung berbalik dan menjauh meninggalkan area taman, memberikan privasi penuh kepada kelompok tersebut.
Begitu para pelayan dan pengawal menghilang dari pandangan, pertahanan Lila runtuh seketika.
Gadis muda itu langsung menerjang ke depan, menjatuhkan kedua lututnya di hadapan kursi Virelia, mencengkeram erat tangan kiri sang ketua, dan pecah tangisnya seketika.
"Ketuaaa!" isak Lila histeris, air matanya tumpah membasahi punggung tangan Virelia. "Hiks ... kami pikir Anda sudah mati! Sudah lebih dari seminggu kami tidak mendengar kabar apa pun, dan markas kita sempat panik karena berita penyerangan di pelabuhan sungai! Kenapa Anda tidak meninggalkan pesan?!"
Virelia terkejut melihat asisten setianya menangis separuh mati seperti itu. Hatinya langsung melunak. Ia mengelus puncak kepala Lila dengan tangan kanannya yang bebas dengan penuh kelembutan.
"Sssshh ... Lila, tenanglah. Aku di sini. Aku masih hidup. Maafkan aku karena membuat kalian khawatir setengah mati," bujuk Virelia lembut, tersenyum kecil.
Johan, yang berdiri tegap di samping Lila dengan wajah penuh penyesalan, mengepalkan tangan kanannya hingga bergetar. Pria kekar itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, suaranya serak menahan emosi.
"Ini salah saya, Ketua. Malam itu seharusnya saya tidak menuruti perintah Anda untuk meninggalkan tempat. Seharusnya saya tetap tinggal di sisi Anda untuk melawan para pembunuh bayaran itu, bukan malah lari membawa perkamen," ucap Johan penuh rasa bersalah yang teramat dalam.
Virelia menggelengkan kepalanya perlahan, menatap wakil ketuanya itu dengan sorot mata tegas.
"Jangan bodoh, Johan. Aku memerintahkan kalian pergi bukan untuk kabur, melainkan untuk mengamankan masa depan Black Dawn. Jika dokumen itu jatuh ke tangan musuh, seluruh pengorbanan kita selama bertahun-tahun akan hancur sia-sia," tegur Virelia tenang namun berwibawa.
Johan menggigit bibirnya, masih merasa sangat terpukul.
Di saat itulah, Kael melangkah maju, meletakkan tangan kanannya di atas bahu Johan untuk memberikan ketenangan, lalu menatap Virelia sambil tersenyum tipis.
"Kau punya anak buah yang sangat loyal, Virelia. Ngomong-ngomong, kedatangan mereka ke sini bermula saat aku sendiri yang mendatangi markas Black Down beberapa hari lalu untuk memberi tahu mereka bahwa pemimpin mereka sedang sekarat di kamarku," kata Kael ringan.
Virelia mendelik kaget menatap suaminya. "Kau ... kau mendatangi markas Black Dawn secara langsung?!"
"Tentu saja," jawab Kael tanpa beban, mengangkat bahunya acuh tak acuh.
Virelia menatap suaminya tak percaya.
"Meskipun sempat ada sedikit 'salam perkenalan' berupa adu pukul dengan wakil ketuamu ini." Kael melirik sekilas ke arah Johan, yang langsung meringis kecil menahan nyeri di bagian rusuknya.
"Tentu saja adu pukul! Mana ada orang asing tiba-tiba masuk ke markas pembunuh bayaran dan berkata, 'Aku adalah suami ketua kalian, beritahu aku situasi rahasia mereka'? Jelas saya langsung menghajarnya! Tapi sial, Duke Kael ini benar-benar monster di medan laga. Saya dipukul jatuh dalam tiga pukulan saja," sahut Johan setengah mengeluh namun penuh rasa hormat.
Virelia menatap Kael dengan mulut sedikit terbuka, lalu beralih menatap Johan dengan takjub.
"Kau menantang suamiku berkelahi, Johan?" tanya Virelia.
"Saya tidak tahu kalau dia adalah Duke! Tapi setelah itu, Duke Kael menjelaskan semuanya dengan kepala dingin, membuktikan bahwa dia berada di pihak kita dan melindungimu dari pembunuh istana," bela Johan cepat, tersenyum masam.
Virelia menghela napas panjang, lalu melirik Kael dengan campuran perasaan geli dan terharu. "Kau benar-benar nekat, Kael. Bagaimana kalau mereka meracunimu di bar?"
"Racun mereka tidak lebih kuat dari racun es di perbatasan utara," jawab Kael tenang dengan seringai kecil yang menawan.
Kael lalu mengalihkan topik pembicaraan ke hal yang lebih krusial. "Omong-omong, bagaimana dengan misi utama kalian malam itu? Perkamen rahasia itu ...."
Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Johan dan Lila langsung berubah menjadi serius. Lila buru-buru menyeka air matanya, menegakkan tubuhnya, dan mengangguk mantap kepada sang ketua.
"Berita bagus, Ketua! Meskipun malam itu suasananya sangat mencekam, Johan berhasil meloloskan diri lewat jalur sungai rahasia sesuai instruksi Anda. Dua hari lalu, perkamen rahasia itu sudah tiba dengan selamat di tangan Marquis Vane di benteng utara," lapor Lila dengan mata berbinar penuh semangat.
Mata Virelia membelalak lebar, dan senyuman kemenangan yang luar biasa indah seketika terukir di wajahnya.
"Syukurlah. Marquis Vane benar-benar menerimanya?" ucap Virelia penuh kelegaan.
"Bukan hanya menerimanya, Ketua! Begitu Marquis Vane membaca dokumen daftar korupsi finansial dan jadwal pengiriman senjata gelap Raja Lucien, Beliau langsung menyatakan dukungannya secara terbuka kepada Black Dawn. Marquis Vane adalah salah satu bangsawan paling berpengaruh di utara yang selama ini memendam dendam kesumat pada Raja Lucien," timpal Johan dengan nada bersemangat.
Virelia mengangguk paham. Ia tahu persis siapa Marquis Vane. Beberapa tahun lalu, adik laki-laki kesayangan Marquis Vane dieksekusi mati secara keji oleh Raja Lucien atas tuduhan palsu pengkhianatan negara, padahal alasan sebenarnya hanyalah karena sang adik menolak menandatangani surat kenaikan pajak rakyat yang tidak masuk akal. Sejak hari itu, keluarga Marquis Vane menjadi musuh dalam selimut terbesar bagi takhta kerajaan.
"Dengan dukungan pasukan militer utara dari Marquis Vane dan jaringan intelijen kita di ibu kota. Kita akhirnya memiliki kekuatan yang cukup untuk mengguncang singgasana istana," ucap Virelia pelan, matanya memancarkan binar ambisi yang tajam.
Kael, yang sejak tadi berdiri mendengarkan di samping Virelia, menyatukan kedua tangannya di depan dada. Pria itu menatap istrinya lekat-lekat, lalu tersenyum tipis.
"Dan kau tidak perlu merencanakan semuanya sendirian lagi, Virelia. Sebagai Panglima Perang Valdoria, aku memiliki akses langsung ke garnisun pusat. Jika kita menggabungkan kekuatan pasukan utara Marquis Vane, pasukan pribadiku, dan jaringan pembunuh bayaranmu, kita bisa meruntuhkan rezim Raja Lucien tanpa harus menumpahkan darah rakyat yang tidak bersalah," kata Kael penuh wibawa.
Johan dan Lila tertegun menatap sang Duke. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa panglima terhebat kerajaan, pria yang selama ini dianggap sebagai perisai utama sang raja, kini justru berdiri di garis depan untuk merobohkan takhta raja tersebut demi sang istri.
"Apakah Anda benar-benar siap mempertaruhkan seluruh gelar dan kehormatan Anda untuk ini, Yang Mulia Duke?" tanya Johan memastikan, menatap Kael tajam.
Kael menoleh ke arah Virelia, lalu senyuman paling mutlak dan tanpa keraguan terukir di bibirnya.
"Gelar dan kehormatanku tidak ada artinya jika aku tidak bisa melindungi istriku. Mulai hari ini, Kediaman Duke Dravenhart resmi menjadi markas komando utama perlawanan Black Dawn. Kita mulai babak akhir dari permainan ini," jawab Kael tegas. Ia kembali menatap Johan dan Lila.
Virelia tidak pernah menduga kalau ia akan mendapatkan dukungan paling kuat di negeri ini. Setidaknya bertindak gila ada untungnya juga buat Virelia.
menjadikan aku lebih tegar dan terlihat serba bisa .
siapapun yg selalu didorong kepinggir jurang setiap saat,pastinya mekanisme perlindungan diri nya lebih aktif 🥹🥹
" menjadi seorang perempuan harus serba bisa
bahkan ketika kita memakai gaun yg cantik,kita harus bisa berdiri tegak di dalam sebuah pertempuran."
ratu awan lu
Elaine mana?
syok ga liat boneka Barbie nya bisa begitu🤣🤣🤨
sweet banget si mereka😍😍
dah kayak Mak Mak komplek
pas bgt itu🤣🤣
ga usah malu
bangga donk ah
ajaran siapa itu🤣🤣🤣
gara gara siapa tu woiiii🫣🤣🤣🤣
lama lama virusnya akan kah nyampe ke Julian???🤨
othor.....tolong
kok lebih menjiwai mereka si
aku jadinya percaya sama siapa???
🫣🤣🤣🤣🤣