Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.
Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba-tiba pengen berenang
“Kak Ardan."
Panggil Naresa yang sedang duduk di meja rias, menghadap suaminya yang berada di atas ranjang dengan laptop bertengger di pangkuannya. Pemandangan seperti itu sudah begitu lumrah baginya. Entah sejak kapan, melihat Ardan bekerja di atas ranjang sebelum tidur terasa seperti bagian dari rutinitas mereka.
“Hm,” jawab Ardan dengan dehaman. Ia bahkan tidak menoleh, matanya masih terpaku pada layar laptop sementara jemarinya terus bergerak di atas papan keyboard.
“Kak…”
“Iya, sayang.” Jawabannya tetap sama. Perhatiannya masih tertuju pada laptop.
Naresa terdiam sejenak sebelum kembali memanggil, “Kak…”
Kali ini Ardan akhirnya menghentikan jemarinya. Ia mengangkat wajah dari layar dan menatap istrinya.
“Iyaaa, kenapa sayangku, cintakuu?”
Ia segera meletakkan laptop di atas meja di samping ranjang, lalu turun dan menghampiri Naresa. Begitu sampai di depan istrinya, Ardan menyentuh kepala Naresa dengan lembut dan mengecup puncak kepalanya. Setelah itu, ia berlutut di hadapannya, menggenggam kedua tangan istrinya yang terletak di atas paha, lalu mendongakkan wajah untuk menatapnya.
“Kenapa sayang?”
Naresa tidak langsung menjawab. Tatapannya hanya tertuju pada Ardan selama beberapa detik, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu bagaimana cara mengatakannya.
“Pengen berenang.”
“Eh?” Ardan sampai mengerjapkan mata. Ia melirik jam di dinding. Sudah pukul 10 malam. “Tiba-tiba?” tanyanya, ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar. “Udah malem, loh.”
“Nggak tahu." Naresa mengangkat kedua bahunya. “Tiba-tiba mau aja. Emang nggak boleh?” Nada suaranya mulai terdengar tidak senang.
Ardan mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. “Boleh aja. Tapi nanti kamu masuk angin, loh."
“Ya enggak lah.”
Raut wajah Naresa semakin menunjukkan kekesalannya. Ardan yang menyadarinya justru semakin penasaran. Ia tahu istrinya cukup sering melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas, tetapi permintaan berenang pukul 10 malam tetap terasa terlalu mendadak.
“Aku pengen tahu alasannya,” katanya. “Tiba-tiba banget mau berenang malem-malem. Kenapa?”
“Gerah!” jawaban itu keluar cepat. Naresa langsung berdiri dari kursinya sebelum Ardan sempat mengatakan apa-apa.
Ardan ikut berdiri dan mengikutinya dengan tatapan bingung ketika Naresa berjalan menuju ranjang. Bukannya berganti pakaian atau mengambil handuk seperti orang yang benar-benar berniat berenang, istrinya justru naik ke atas kasur, berbaring, kemudian menarik selimut hingga menutupi tubuhnya sampai ke kepala.
Ardan hanya bisa menatapnya beberapa saat dengan senyum tipis yang muncul tanpa sadar.
Benar-benar di luar prediksi.
Ia kemudian mendekati sisi ranjang dan berlutut di sana. Tangannya menyentuh ujung selimut yang menutupi kepala Naresa.
“Sayang,” panggilnya pelan. “Katanya gerah? Kok di selimutin?”
Tidak ada jawaban.
Ardan menunggu beberapa detik, tetapi yang terdengar justru suara isakan kecil dari balik selimut.
Senyumnya langsung menghilang.
“Sayang?” Ardan segera membuka selimut itu. Naresa muncul dengan mata yang sudah dipenuhi air mata. “Kenapa? Kok nangis?”
“Huaaah…”
Tangisan yang sejak tadi ditahan Naresa akhirnya pecah begitu saja. Bahkan ia sendiri tidak tahu mengapa air matanya tiba-tiba mengalir. Ia hanya merasa ingin menangis. Tidak ada alasan khusus yang bisa ia jelaskan, tidak ada kejadian besar yang baru saja terjadi. Ia hanya ingin menangis, dan sekarang ia benar-benar menangis.
Ardan terdiam sesaat, jelas tidak tahu harus melakukan apa.
“Sayang.”
Ia kemudian membantu Naresa duduk dan membiarkannya bersandar pada headboard. Tangisan itu masih belum juga mereda. Ardan tidak bertanya lagi. Ia hanya duduk di hadapannya, sesekali mengusap lengan dan rambut Naresa, membiarkan istrinya menangis sampai perasaannya sendiri kembali tenang.
Beberapa menit kemudian, isakan Naresa perlahan mereda. Ia menarik napas panjang dan mengusap sisa air mata di pipinya sebelum menatap Ardan.
Wajahnya memerah. Hidungnya ikut memerah, begitu pula kedua matanya yang sembap. Beberapa helai rambut menempel di sisi wajahnya, sementara sisa air mata masih membahasi pipinya.
Ardan menatapnya sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
Sial!
Dalam keadaan seperti ini pun, istrinya terlihat sexy.
Ada sesuatu dari wajah Naresa yang membuat dada Ardan terasa aneh. Tatapan sayunya dan bibir yang memerah membuatnya tampak begitu rapuh sekaligus menarik. Pikiran Ardan mulai berjalan ke arah yang seharusnya tidak perlu dipikirkan saat istrinya baru saja selesai menangis.
Ia segera mengusap wajah Naresa pelan, seolah dengan begitu ia bisa mengembalikan pikirannya ke tempat semula.
“Masih mau berenang?”
Nares menggeleng lemah. “Capek, ih.”
Ardan terkekeh kecil. “Kalau gitu…” Ia mengusap pipi Naresa sekali lagi sebelum tersenyum jahil. “Aku juga kayaknya mau berenang. Gerah.”
Naresa langsung menatapnya dengan wajah datar.
Ardan kemudian berdiri dan menarik kaus yang dikenakannya hingga melewati kepala, menyisakan celana panjang abu-abunya.
“Ayo kita berenang!” katanya penuh semangat.
Naresa menatapnya beberapa detik. “Aneh.
“Aneh kenapa?!” Ardan langsung protes. “Nih lihat. Perut aku penuh six-pack.” ia meraih tangan Naresa dan meletakkannya di atas perutnya yang berotot.
“Nggak mau!” Naresa berusaha menarik tangannya, tetapi Ardan justru menahannya sambil terkekeh.
“Nyebelin!”
“Iya, iya. Maaf, sayang.”
Ardan masih tersenyum jahil ketika melihat punggung istrinya yang kini sengaja membelakanginya. Ia kemudian duduk di tepi ranjang dan memperhatikan Naresa yang sudah kembali menarik selimut sampai menutupi tubuhnya.
“Sayang…”
“Aku mau berenang! Tapi Kak Ardan jangan!”
“Loh?” Ardan menatap punggung istrinya dengan wajah tidak percaya. Benar-benar tidak habis pikir. 5 menit lalu Naresa menangis karena ingin berenang, sekarang ia tetap ingin berenang, tetapi justru melarang dirinya ikut.
Ia menatap kausnya yang tergeletak di lantai, lalu kembali menatap istrinya..
Baiklah.
Sepertinya malam ini Ardan memang tidak akan pernah memahami istrinya.