Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.
Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.
Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 — KAISAR KEKOSONGAN
Tiga hari telah berlalu sejak pertempuran pertama memecah angkasa. Bekas robekan dimensi masih terlihat samar di langit Kota Harapan, sementara warga bergotong royong membersihkan puing-puing sisa invasi.
Di ruang rapat utama, Lu Chen duduk termenung dengan wajah yang tampak jauh lebih pucat dari biasanya. Tato segel di dadanya berdenyut melemah.
"Di mana data mengenai identitasnya?" tanya Lu Chen dengan suara rendah.
Xue Ling melemparkan sebuah gulungan cahaya ke atas meja batu. "Ini hasilnya. Kami menggali catatan dari reruntuhan dunia-dunia kecil yang telah dilahapnya."
Asal Usul Sang Kaisar
[Panel: Flashback Hitam Putih] 1000 TAHUN SILAM - ALAM KEKOSONGAN
Sebuah bentangan gurun tanpa bintang, tanpa embusan angin, dan tanpa suara.
Di sana hidup sebuah kaum purba yang dinamakan Kaum Pemangsa. Mereka tidak memiliki tanah air tetap karena dunia asal mereka musnah akibat perang abadi antar dewa.
"Karena kita tidak memiliki rumah, maka kita akan merebut rumah orang lain," ucap sang Leluhur kaum tersebut.
Di tengah masa kelam itu, lahirlah seorang anak pertama yang cacat sejak dalam kandungan—ia terlahir tanpa memiliki organ hati. Anak itu diberi nama Varkos.
Varkos tumbuh besar dengan rasa lapar yang tak pernah berujung. Ia memakan planet demi planet hanya untuk sekadar bertahan hidup.
"Lapar..." bisiknya dalam kehampaan.
Puncak kengerian terjadi ketika ia membantai seluruh rasnya sendiri hingga musnah, menjadi satu-satunya entitas yang hidup. Ia menobatkan dirinya sebagai Kaisar Kekosongan—seorang raja agung yang memimpin ketiadaan.
"Jika aku tidak memiliki rumah... maka tidak boleh ada satu pun makhluk yang memilikinya," bisik Varkos dalam kegilaan.
[Panel: Flashback Selesai]
Lin Yue menutup gulungan data tersebut perlahan. "Ia mengalami trauma masa lalu, Chen. Tapi traumanya itu ia jadikan alasan yang sah untuk menghabisi jutaan nyawa."
Lu Chen mengepalkan tinjunya erat-erat. "Jadi ia menjadi monster hanya karena disakiti di masa lalu?"
Shen Yue menggeleng pelan. "Bukan. Menjadi monster adalah sebuah pilihan hidup."
Di Dalam Kapal Tulang
Jauh di dalam dimensi kegelapan, Kaisar Varkos duduk di atas singgasana yang tersusun dari kerangka tulang raksasa.
Di hadapannya berdiri tiga orang jenderal dengan tatapan kosong tanpa jiwa.
"Beri aku laporan," perintah Varkos; suaranya bergema bagaikan gemuruh dari dalam dasar sumur tua.
Jenderal Pertama membungkuk. "Tuan. Dua puluh persen pasukan kita kehilangan kesadaran setelah tersentuh oleh cahaya penyelamat musuh. Mereka memilih melarikan diri."
Varkos meremukkan sandaran tangan singgasananya hingga berkeping-keping. KRAK!
"Segel suci itu... benar-benar sangat mengganggu."
Jenderal Kedua melangkah maju. "Apakah Tuan ingin segera mengerahkan Tentara Sebenarnya?"
Varkos tersenyum menyeringai keji; barisan giginya tampak runcing mengerikan. "Belum saatnya. Kita bermain-main dahulu dengan mangsa kita."
Ia membentangkan peta magis Tiga Alam. "Kerajaan Harapan... dipimpin oleh seorang raja berusia tujuh belas tahun yang dibesarkan oleh seorang ibu manusia."
Target utamanya kini telah ditetapkan: "Tangkap wanita bernama Shen Yue. Seorang raja tanpa seorang Ratu di sisinya... akan hancur perlahan karena kegilaan."
Penculikan di Danau Waktu
Malam hari di tepi Danau Waktu.
Lu Chen dan Shen Yue sedang melempar kerikil kecil ke permukaan air sambil tertawa riang.
"Satu... dua... tiga..." PLUNG!
Janji kecil masa kecil mereka akhirnya terpenuhi malam ini.
Tiba-tiba, suhu di sekitar danau menurun drastis hingga airnya membeku seketika. KRES!
Dari balik gulungan kabut malam, dua orang jenderal bayangan muncul mengepung mereka.
"Kaisar kami mengundang Yang Mulia Ratu untuk berkunjung," ucap Jenderal Pertama dingin.
Shen Yue melangkah maju menempatkan diri di depan putranya. "Jangan berani-berani menyentuh anakku!"
Lu Chen langsung memasang kuda-kuda siaga, tato di dadanya menyala terang benderang. DUAR! Ia menebas Jenderal Pertama hingga terpental.
Namun di saat bersamaan, Jenderal Kedua bergerak lebih cepat, melilitkan rantai tulang beracun ke tubuh Shen Yue.
"IBU!" teriak Lu Chen histeris.
Shen Yue menatap putranya untuk terakhir kalinya dengan senyuman penenang. "Jangan mengejarku, Nak... lindungi rakyatmu."
WUS!
Mereka berdua menghilang ditelan masuk ke dalam portal hitam pekat.
Lu Chen terpaku seorang diri di tepi danau. Batu kecil di dalam genggamannya hancur berkeping-keping menjadi debu. REMAH.
Dut... dut... Segel di dadanya memanas hebat, membakar emosinya dalam amarah yang membabi buta.
Keputusan Sang Raja
Satu jam kemudian di balai kerajaan.
"DARURAT! RATU TELAH DICULIK!" prajurit penjaga berteriak panik.
Seluruh petinggi istana—Luna, Wolf, dan Lin Yue—datang bergegas dengan ekspresi cemas.
Lu Chen melangkah masuk ke dalam ruangan. Jubahnya robek di beberapa bagian, dan kedua matanya menyala merah darah.
"Tutup seluruh gerbang perbatasan," perintah Lu Chen dengan suara datar yang mengerikan. "Siapkan pedangku."
"Chen..." cegah Xue Ling. "Ini sudah pasti sebuah jebakan mematikan."
Lu Chen menatap satu per satu wajah sahabat-sahabatnya. "Aku tahu. Dan aku akan tetap masuk ke dalam perangkap itu."
Shen Yue berpesan agar ia menjaga rakyatnya. Dan kini, rakyat yang harus ia jaga... menyusut tinggal seorang diri.
Pesan Sang Kaisar
Tak lama kemudian, proyeksi bayangan raksasa muncul merobek kubah langit.
Terlihat sosok Varkos, dengan Shen Yue yang terikat erat oleh rantai tulang di belakangnya.
"Raja Kecil," sapa Varkos meremehkan. "Kau menginginkan ibumu kembali? Datanglah seorang diri ke Pusat Kekosongan. Batas waktumu adalah tiga hari. Jika kau terlambat... aku akan memakannya hidup-hidup."
PUTUS. Proyeksi itu lenyap.
Seluruh penjuru Kerajaan Harapan terdiam kaku dalam ketakutan.
Lu Chen mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke angkasa, mengalirkan seluruh energi segelnya membentuk anak panah cahaya yang menunjuk lurus ke arah langit malam.
"Aku akan datang kepadamu, Varkos."
Perang yang sesungguhnya... baru saja dimulai.
Malam itu di dalam kamarnya, Lu Chen membuka sebuah buku kecil berisi catatan tulisan masa kecilnya:
Janji Lu Chen: Nanti kalau aku sudah dewasa, aku yang akan melindungi Ibu.
Lu Chen menutup buku itu pelan. "Aku menepati janjiku, Bu."
Ia berdiri tegak, mengenakan baju zirah perangnya. Di punggungnya, ia menuliskan sebuah kalimat menggunakan darah segarnya sendiri:
UNTUK IBU
Portal dimensi terbuka lebar di hadapannya. Lu Chen melangkah masuk seorang diri tanpa ragu.