Indonesia
NovelToon NovelToon
Hi My Lord

Hi My Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu susu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______

"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______

Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.

Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.

Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.

Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#5

Langkah kaki Arthur yang berat bergaung pelan meninggalkan ruang keluarga, menyisakan keheningan pekat yang membelit atmosfer di dalam ruangan berlantai marmer itu. Tirai tipis berenda di sudut ruangan berayun lembut ditiup udara dingin dari pendingin ruangan, membatasi sudut tempat Snow duduk bertimang bayinya.

Di balik tirai transparan itu, Snow mendekap tubuh mungil Ocean. Jemarinya yang ramping mengusap lembut pipi bayi berumur satu bulan itu, yang kini telah berhenti menangis dan mulai menyusu dengan tenang. Rasa hangat meluap di dada Snow—sebuah kehangatan alami yang menyatu dengan naluri keibuannya.

Di luar selubung tirai, Savea berdiri tegak. Suara tumit sepatu hak tingginya berdetak pelan saat ia melangkah mendekati area sofa. Wajah cantiknya tak memancarkan kehangatan seorang ibu sedikit pun; yang ada hanyalah garis-garis keangkuhan yang berpadu dengan rasa bosan yang teramat sangat.

Savea menyibakkan kain tirai tipis itu dengan ujung jemarinya, menatap Snow yang sedang memangku sang bayi.

"Kau melahirkan bayi yang sangat berisik, Snow," ucap Savea dingin dan lirih. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan yang memotong kesunyian, namun memiliki bobot yang mampu meremukkan udara di sekitar mereka. "Ocean terus menangis dari pagi hingga malam. Menjengkelkan sekali."

DUARRR!

Kalimat sederhana yang terucap dari bibir berlipstik merah itu menghantam keheningan bagai dentuman petir di siang bolong.

Kau melahirkan bayi yang sangat berisik.

Kebenaran yang tersembunyi rapat di balik tembok-tembok megah Istana Blackwood mendadak mencuat ke permukaan. Plot tergelap dari skenario rumit ini terkuak dalam sekali hentakan: Ocean—bayi yang diumumkan kepada seluruh pelosok negeri sebagai putra kandung dari Dixie Savea Lopez dan Benedictus Arthur Blackwood—rupanya sama sekali bukan terlahir dari rahim milik Savea.

Snow tidak menunjukkan keterkejutan. Wajahnya tetap tenang, pandangannya tak beralih dari garis wajah mungil Ocean yang amat mirip dengan pria yang baru saja melangkah keluar dari ruangan ini.

"Bayi ini hanya haus, Nyonya," sahut Snow, suaranya mengalun sangat halus, seolah berusaha menjaga agar kenyataan mengerikan itu tetap mengendap di antara mereka berdua saja. "Anak ini hanya membutuhkan dekapan dan asupan yang tepat dari ibunya."

Savea bersedekap, menatap dengan pandangan menjijikkan ke arah dada Snow dan bayi yang sedang menyusu di sana. "Terserah apa katamu. Yang jelas, pastikan dia tidak membuat telingaku dan telinga Pangeran Arthur terganggu oleh tangisannya lagi. Tugasmu di istana ini sederhana: diam, berikan asupan untuk bayi itu, dan jangan pernah bertindak di luar garis yang sudah kubuat."

Savea merapikan gaun sutranya, membalikkan badan dengan anggun, lalu melangkah keluar dari kamar bernuansa bayi laki-laki tersebut tanpa menoleh lagi. Pintu kayu tebal terdorong menutup rapat, meninggalkan Snow sendirian di dalam ruangan yang luas itu.

Begitu helaan langkah kaki Savea benar-benar hilang dari sepanjang lorong luar, keheningan di dalam kamar bayi kembali menjadi milik Snow sepenuhnya.

Snow menghentikan gerakan jemarinya di atas kepala Ocean. Pelan-pelan, sudut bibirnya terangkat. Sebuah senyuman terukir di paras cantiknya yang seputih salju—bukan senyuman hangat seorang ibu yang penuh kelembutan, melainkan sebuah senyuman tipis yang amat dingin, misterius, dan mengerikan. Sorot matanya yang bening berubah pekat oleh kilatan intensitas yang sulit diartikan.

Memory Snow melayang mundur pada kejadian satu bulan yang lalu.

Hari itu, di sebuah ruang perawatan rumah sakit swasta yang terisolasi di pinggiran ibu kota, Savea menangis histeris hingga suaranya serak. Prosedur bayi tabung yang dijalaninya demi mempertahankan posisi sebagai istri calon penguasa Blackwood berakhir tragis.

Janin yang dilahirkannya dinyatakan tidak bernyawa begitu keluar dari rahimnya. Bagi Savea, kematian bayi itu adalah akhir dari segalanya. Tanpa adanya pewaris, posisinya di Istana Blackwood akan hancur berantakan, dan Arthur tidak akan memiliki alasan lagi untuk mempertahankannya.

Di rumah sakit yang sama, pada malam yang sama, Snow melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dan kuat.

Snow—yang saat itu tampil sebagai gadis miskin tanpa identitas jelas, mengaku hamil tanpa suami akibat ditinggalkan oleh kekasihnya yang tidak bertanggung jawab—menjadi target sempurna bagi keputusasaan Savea.

Sebuah perjanjian rahasia yang gelap terjalin di balik pintu rumah sakit malam itu. Savea, yang merasa sangat diuntungkan, secara licik mengambil bayi milik Snow untuk diakui sebagai anak kandungnya dari hasil bayi tabung dengan Arthur.

Rencana Savea amat sederhana: ia mendapatkan bayi laki-laki sebagai alat pertahanan kekuasaannya di istana, sementara ia meyakini bisa dengan mudah membungkam Snow kapan saja. Latar belakang Snow yang miskin dan tak berdaya membuat Savea percaya bahwa gadis itu tidak akan pernah berani membuka mulut.

Jika Snow mencoba membocorkan rahasia besar ini, Savea cukup menggerakkan kekuasaan Istana Blackwood untuk melenyapkan gadis itu tanpa sisa.

Namun, Savea tidak pernah menyadari satu hal.

Snow menerima tawaran itu hanya dengan satu syarat mutlak yang harus dipenuhi: Snow harus dibawa masuk ke dalam Istana Blackwood sebagai ibu susu yang menyusui langsung bayi tersebut.

Savea mengira ia sedang memanfaatkan seorang gadis miskin yang terdesak keadaan. Ia mengira dirinya adalah dalang yang mengendalikan seluruh permainan papan catur ini, tanpa pernah menyadari bahwa Snow—wanita yang pernah menghilang dari pelukan Arthur lima tahun lalu di Hampshire—telah melangkah masuk ke dalam jantung Istana Blackwood dengan agendanya sendiri yang jauh lebih dalam dan tak terduga.

Snow menunduk, menatap wajah lelap Ocean yang telah kenyang menyusu. Jemari rampingnya mengusap lembut garis rahang bayinya yang sangat identik dengan rahang milik Benedictus Arthur Blackwood.

"Tidurlah, Anakku..." bisik Snow, suaranya nyaris menyerupai desiran angin malam di hutan oak tua Hampshire. "Ibu sudah berada di sini. Di dalam istana ini... bersama ayahmu."

Senyuman mengerikan itu kembali terukir di wajah Snow saat ia menatap pintu kamar yang terkunci rapat. Permainan di Istana Blackwood baru saja dimulai.

...ΩΩΩΩΩΩ...

Di dalam ruang kerjanya yang luas di sayap utara istana, Arthur berdiri terpaku di depan jendela kaca setinggi langit-langit. Jemarinya mencengkeram erat gelas kristal berisi whisky tanpa es, namun cairan keemasan di dalamnya bahkan tak tersentuh sedikit pun.

Sorot matanya menatap hampa ke arah hamparan taman istana yang membeku di bawah langit siang yang redup.

Pikirannya melayang jauh, kacau-balau oleh amuk gejolak yang membakar isi dadanya.

Ibu susu? Bagaimana mungkin dia menjadi seorang ibu susu?

Pertanyaan gila itu terus menghimpit kepalanya, berputar tanpa henti bagai pusaran angin yang menyiksa. Untuk menjadi seorang ibu susu, seorang wanita harus melahirkan terlebih dahulu.

Artinya... wanita itu telah menyerahkan tubuhnya pada pria lain. Wanita itu telah disentuh, dimiliki, dan melahirkan anak dari laki-laki yang sama sekali tidak Arthur ketahui.

Dada Arthur bergemuruh hebat, dipenuhi oleh rasa tidak terima dan cemburu liar yang tak berhak ia rasakan.

Napasnya memburu kasar. "Rupanya dia sudah melupakan aku," bisik Arthur pada keheningan ruangan, suaranya serak dan sarat akan keputusasaan yang tertahan. "Dan hanya aku... hanya aku yang masih terjebak di masa lalu. Sialan."

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang menderita—sebuah ejekan untuk dirinya sendiri.

Selama lima tahun terakhir, ia selalu dibayangi oleh bayang-bayang malam di Hampshire, merutuki takdir dan mempertanyakan mengapa wanita itu pergi begitu saja tanpa berpamitan. Namun hari ini, kebenaran menghantamnya tanpa ampun.

"Pantas saja dia meninggalkanku lima tahun lalu..." gumam Arthur dingin, mengatupkan rahangnya hingga urat di lehernya menegang.

Snow.

Nama itu baru saja ia ketahui hari ini. Nama sederhana yang begitu pas dengan kulit seputih salju milik wanita itu. Satu tahun tiga bulan mereka berbagi gairah paling intim di atas ranjang yang sama, menghabiskan malam demi malam dalam kehangatan yang tak terucapkan, namun Arthur butuh waktu lima tahun dan takdir yang berbelit hanya untuk mengetahui satu kata itu.

Snow.

Arthur memejamkan matanya rapat-rapat, namun bayangan wajah tenang wanita itu di ruang keluarganya tadi justru makin jelas tercetak di benaknya. Wanita itu memandangnya tanpa kejutan yang berarti, seolah-olah Arthur hanyalah seorang asing—seorang bangsawan tak dikenal yang kebetulan menjadi majikannya hari ini.

Tidak ada binar kerinduan, tidak ada getaran penyesalan, dan tidak ada jejak ingatan masa lalu di matanya.

Arthur meneguk habis whisky di gelasnya dalam satu tegukan kasar, merasakan sensasi terbakar yang menjalar turun ke tenggorokannya, namun rasa terbakar itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kepedihan di dadanya.

"Dia telah menikah rupanya..." desis Arthur pelan, menatap pantulan dirinya yang malang di kaca jendela. "Dia sudah memiliki hidupnya sendiri, sementara aku... masih tertahan di kamar tua berarsitektur Victoria itu."

Kenyataan bahwa wanita yang pernah menguasai seluruh akal sehatnya kini berada di bawah atap yang sama—sebagai pelayan yang menyusui anaknya—menjadi siksaan terhebat yang pernah Arthur jalani sepanjang hidupnya.

1
Astrid Kucrit
ocean minta adik tuhh 😂😂
Astrid Kucrit
menikah jugaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: yeayyy🥳
total 1 replies
Yusry Ajay
akhirnya snow menikah jg🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
keren raja
Astrid Kucrit
yukk nikah yukk
Astrid Kucrit
yeeaayyyyyyy akhirnyaaaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di tunggu besok
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
ya kk lanjut besok ditunggu up nya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Ranita Rani
q kurang paham waktu mundur dlm crta ini,,,,
Ranita Rani
ocean umur brp sih
Rosdianah 🌷: Ocean umur dua bulan sebelumnya ya kak
total 1 replies
Astrid Kucrit
siap2 kaget tur arthur
Rosdianah 🌷: Gedubrak dia🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan berpikir buruk dulu arthur
Astrid Kucrit
silahkan bermimpi savea
Leo
Bener2 cerita yg keren, selalu bikin penasaran
Rosdianah 🌷: ikutin terus cerita nya kak🤭
total 2 replies
Yusry Ajay
savea ga waras..🤔
Rosdianah 🌷: author silent 🤭🤣
total 1 replies
Leo
Bener2 gila nihh savea
Rosdianah 🌷: mau digetok 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan termakan bualan istrimu
Rosdianah 🌷: nah kasih tau 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
tunggu tanggal mainnya wanita gila
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
semoga ocean tidak jadi tumbal,kasian Thor 😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🫶
total 1 replies
Leo
Ceritanya keren gak sabar nunggu lanjutnya
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!