Kang Minho, juru tulis arsip Kota Eunha, meninggal kecelakaan. Di tubuhnya, Nuri terbangun—peramal rasi dari Negeri Cahaya yang kini menempati raga itu. Nuri bukan Minho; ia hanya memakai identitas Minho. Di kota, ia tetap dipanggil Minho. Di baliknya, Nuri membawa peta langit dan warisan Sang Gaib yang mengguncang kerajaan. Dari arsip kota yang sederhana, ia naik menjadi penafsir seluruh cakrawala dan pemimpin Majelis Batu Cakrawala. Namun tiap keping yang ia ungkap mendekatkannya pada Dewa Tua, sementara Pangeran Selat sudah mencuri namanya sejak langit pertama terbuka. Di balik pertempuran dan konspirasi yang berlarut-larut, satu pertanyaan menggantung: apakah Nuri menyelamatkan dunia, atau justru menulis takdir yang menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Lampu dan Keping Tembaga
Udara di kamar itu sejuk seperti udara malam pegunungan, tetapi dingin yang menjalar ke kulitnya sama sekali bukan datang dari angin.
Tidak ada manusia yang seharusnya terbangun di tempat di mana hidup seseorang pernah terputus; namun malam ini, di atas tikar yang sama tempat Kang Minho terkapar setelah kepalanya membentur sesuatu yang keras, ada sesuatu yang bernapas.
Ia duduk diam sejenak menunggu detak jantungnya tenang, lalu bangkit menghampiri cermin yang retak.
---
Ketika ia membalikkan kepala di bawah cahaya Bulan Rubi, sosok di kaca itu hampir tampak seperti orang yang baru bangkit dari liang kubur.
Benjolan di belakang kepalanya masih membiru, membengkak, dan mengerikan—bagaimana mungkin orang dengan luka seperti ini masih hidup?
Ia menoleh, menundukkan kepala, dan memeriksa bagian yang lain. Dari jarak itu pun ia bisa melihat warna hitam kebiruan yang menebal di belakang tengkoraknya.
"Ini ..." ia menarik napas panjang dan berusaha menenangkan diri.
Ia meletakkan telapak tangan di dada kiri, merasakan jantung yang berdetak dengan vitalitas yang besar.
Ia menyentuh kulit yang terbuka: di balik dingin yang samar, ada kehangatan yang mengalir.
Ketika ia berjongkok dan memastikan lututnya bisa dibengkokkan, ia berdiri lagi dan merasa sedikit lebih tenang.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumamnya dengan kening berkerut. Ia berniat memeriksa luka di belakang kepalanya sekali lagi dengan sungguh-sungguh.
---
Dua langkah kemudian ia berhenti.
Cahaya Bulan Rubi terlalu redup untuk pemeriksaan yang serius.
Kenangan mengalir ketika pandangannya jatuh pada pipa tembaga yang menempel di dinding dekat jendela—pipa minyak milik lampu minyak dinding yang dipasang tepat di atas mejanya.
Ini adalah model lampu minyak paling umum di Kerajaan Hwaryeong: api yang stabil, cahaya yang terang, dan kelopak kaca yang melindungi sumbunya.
Dengan kondisi keuangan keluarga Kang, bahkan lampu minyak biasa pun seperti mimpi; lilin adalah pilihan yang paling masuk akal. Namun beberapa tahun lalu, ketika Minho bergadang setiap malam demi lulus ujian masuk sekolah negeri, kakaknya, Wonho, merasa bahwa itu adalah urusan besar yang menentukan masa depan keluarga, dan bersikeras menciptakan kondisi belajar yang layak meskipun harus berutang.
Tentu saja, Wonho yang melek huruf dan telah bekerja bertahun-tahun bukanlah orang tanpa akal. Ia membujuk tuan rumah untuk "menaikkan kelas rumah dengan memasang pipa minyak lampu agar lebih mudah disewakan di kemudian hari." Tuan rumah itu terpikat dan membiayai perubahan dasarnya. Lalu, dengan kemudahan bekerja di kantor dagang konvoi, Wonho membeli lampu minyak yang sama sekali baru dengan harga yang nyaris sama dengan harga pokok. Akhirnya, ia hanya perlu mengeluarkan tabungannya, tanpa harus berutang kepada siapa pun.
---
Sesudah kilasan kenangan itu berlalu, Nuri—begitu nama lelaki yang kini mengendalikan tubuh ini—mendekati meja dan memutar katup kecil di sisi lampu.
Sebuah percikan muncul dari gesekan, tetapi cahaya tidak juga datang.
Ia memutar katup itu beberapa kali; lampu tetap gelap dan hanya mengeluarkan bunyi tersendat-sendat.
"Hmm ..." sambil menarik tangan dan menekan pelipisnya, ia menggali ingatan-ingatan itu untuk mencari sebabnya.
Beberapa saat kemudian ia berbalik dan berjalan menuju pintu. Di sana, menempel di dinding, ada sebuah perangkat mekanis yang dihubungkan dengan pipa minyak yang sama—sebuah meteran minyak dengan gerigi dan poros yang terlihat di beberapa sisi.
---
Nuri menarik sebilah keping dari saku celananya.
Keping itu gelap kehitaman dengan kilau perunggu; permukaan depannya terukir profil seorang raja bermahkota, dan di belakangnya ada angka satu di atas seikat bulir padi.
Ia tahu ini adalah mata uang terkecil di Kerajaan Hwaryeong, disebut keping tembaga. Satu keping tembaga kira-kira setara dengan dua porsi bubur di kedai pinggir pasar, dan nyaris mustahil membagi nilai yang lebih kecil dari itu. Di luar itu masih ada pecahan lain: lima keping, setengah keping, dan seperempat keping. Kendati begitu, minimnya pecahan yang lebih kecil membuat orang kerap kesulitan membayar pas; dalam kehidupan sehari-hari, mereka terpaksa membeli beberapa barang sekaligus hanya agar satu keping bisa terpakai habis.
Setelah keping itu dijatuhkan ke dalam celah sempit meteran, terdengar bunyi beradu dengan gerigi yang berputar—denyut singkat namun merdu, seperti irama mekanis yang melompat dalam kegelapan.
Nuri menatap meteran itu beberapa saat, lalu kembali ke meja kayu yang kokoh dan memutar katup lampu sekali lagi.
Setelah beberapa kali tersendat dengan bunyi mendesis, terdengar bunyi nyaring!
Api menyambar dan cepat membesar. Cahaya terang pertama-tama mengisi bagian dalam kaca sebelum menembus kaca itu dan membanjiri ruangan dengan hangat yang lembut.
Kegelapan surut, dan warna merah tua yang tadinya memenuhi kamar tergeser keluar jendela.
---
Ia segera kembali menghadap cermin retak.
Kali ini, dengan cahaya lampu minyak yang terang, ia memeriksa luka di belakang kepalanya tanpa melewatkan satu detail pun.
Setelah beberapa kali memeriksa, ia menyadari bahwa tidak ada lagi cairan yang keluar dari luka itu, seakan telah mendapat perawatan dan pembalut yang paling sempurna. Sedangkan benjolan memar di belakang tengkorak, yang tadinya pekat dan dalam, mulai menipis dan mengempis dengan kecepatan yang terlihat mata telanjang. Dalam beberapa puluh menit hingga beberapa jam, yang tersisa hanyalah bekas tipis seperti luka lama.
"Semacam pemulihan yang dibawa perpindahan jiwa?" Nuri mengerutkan sudut mulutnya sambil berbisik.
Ia lalu menghela napas panjang. Apa pun itu, ia masih hidup.
---
Setelah hatinya tenang, ia membuka sebuah laci dan mengambil sepotong sabun kecil, lalu meraih salah satu lap bekas yang menggantung di sisi lemari. Ia membuka pintu dan berjalan menuju kamar mandi bersama di lantai dua, yang dipakai bersama oleh para penyewa.
Koridor itu hitam pekat. Cahaya Bulan Rubi dari jendela di ujung koridor hanya mampu menonjolkan siluet-siluet samar, yang tampak seperti sepasang mata raksasa yang diam-diam mengamati yang hidup di tengah malam.
Nuri memperlambat langkah, menahan napas, dan berjalan menuju kamar mandi bersama dengan perasaan takut yang berdebar.
---
Saat ia masuk, cahaya bulan di dalam sana justru lebih banyak, sehingga semuanya tampak jelas. Ia berdiri di depan baskom dan memutar keran.
Begitu suara air mengalir terdengar, ia teringat tuan rumahnya, Tuan Go—seorang lelaki kecil dan kurus yang selalu mengenakan topi datar dan rompi, yang karena air sudah termasuk dalam uang sewa, selalu menginspeksi kamar mandi dengan sigap untuk mencatat tanda-tanda penggunaan air.
Jika air mengalir terlalu kencang, Tuan Go akan mengabaikan segala kesopanannya: mengayunkan tongkatnya, memukul-mukul pintu kamar mandi, dan berteriak-teriak, "Pencuri air! Membuang-buang adalah aib yang memalukan! Aku akan mengingat wajahmu! Kalau sampai terjadi lagi, angkat barang bawaanmu dan pergilah! Ingat-ingat, ini rumah sewa yang paling hemat di Kota Eunha. Kau tidak akan menemukan tuan rumah yang lebih baik hati di mana pun!"
---
Menyingkirkan ingatan itu, Nuri menggunakan lap yang lembap untuk menyeka belakang kepala dan wajahnya berulang-ulang.
Setelah memeriksa diri di cermin tua kamar mandi dan memastikan bahwa yang tersisa hanyalah bekas memar yang memudar dan wajah yang pucat, ia membasuh kerah baju yang bernoda dengan sabun.
Di tengah kegiatan itu, ia tiba-tiba mengerutkan kening dan mengingat suatu masalah.
Luka itu terlalu parah dan meninggalkan terlalu banyak bekas. Selain di tubuh, di dalam kamar itu tentu masih ada tanda-tanda kejadian tadi malam!
Beberapa menit kemudian, Nuri kembali ke kamar dengan lap basah. Ia menyeka lantai di dekat meja, lalu dengan cahaya lampu minyak mencari setiap sudut yang mungkin terlewat.
Ia segera menemukan genangan air yang nyaris kering di papan lantai dekat rak arsip—lantai yang licin seperti itu sangat mudah membuat orang tergelincir—serta goresan-goresan samar di dekatnya, seperti bekas kuku yang berusaha meraih sesuatu saat tubuh kehilangan tumpuan. Di balik goresan itu, sudut kotak arsip berpinggir besi tampak sedikit penyok, dengan noda kecokelatan mengering di pinggirannya.
---
"Terpeleset?" Setelah menyocokkan semua petunjuk yang ada, Nuri memiliki gambaran kasar tentang bagaimana pemilik tubuh ini mati: menapak lantai yang lembap, kehilangan keseimbangan, lalu kepala membentur sudut kotak arsip berpinggir besi yang keras itu.
Ia tidak terburu-buru mengonfirmasi. Ia menyeka sisa-sisa itu dan merapikan "tempat kejadian" itu, lalu merapikan posisi kotak arsip dan duduk di kursi sambil berpikir.
Pandangannya jatuh pada lembaran yang penuh angka dan garis itu—tulisan yang tidak bisa dibaca sebagai kalimat, hanya angka, panah, dan simbol-simbol mata yang disusun seperti bagan ritus.
Lalu pertanyaan-pertanyaan bermunculan:
Dari mana belati itu berasal?
Kecelakaan murni, atau dibuat tampak seperti kecelakaan? Ia ingat bahwa polisi sempat mencurigai ada pihak lain yang menggiring Kang Minho terpeleset, lalu mencari-cari bukti.
Masalah apa yang bisa menimpa seorang juru tulis muda yang tidak punya harta?
Mengapa jejak kecelakaan itu begitu sedikit dan cepat memudar? Apakah karena jiwa itu datang tepat waktu, dan penggantian itu membawa pemulihan?
Setelah berpikir sejenak, Nuri mengganti baju dan duduk menatap jendela.
---
Sebenarnya, persoalan yang paling mendesak bukanlah masa lalu Minho; yang benar-benar penting adalah mencari tahu alasan perpindahan ini dan apakah ia bisa kembali.
Di Negeri Cahaya, ada keluarganya, teman-temannya, langit yang ia kenal, dan begitu banyak hal yang ia cintai. Semua itu menjadi alasan untuk pulang.
Detak. Detak. Detak. Jarinya tanpa sadar mengetuk-ngetukkan kuas di atas meja, berulang-ulang.
Antara dahulu dan sekarang, bagiku, tidak ada banyak perbedaan. Hanya sedikit kurang mujur. Tetapi mengapa aku berpindah, tanpa alasan?
Kurang mujur ... ya, sore tadi aku mencoba ritus penyeimbang nasib sebelum makan malam!
Sebuah pikiran menyambar ingatan yang selama ini tertutup kabut kebingungan.
---
Sebagai peramal rasi yang pernah dianggap "tahu sedikit tentang segala hal"—dan sering disindir oleh kawan-kawannya sebagai "tahunya cuma sedikit"—Nuri menaruh minat pada ramalan-ramalan kuno Negeri Cahaya.
Ketika mengunjungi kampung halamannya di tanah itu tahun lalu, ia menemukan sebuah buku tua berjilid kulit di toko buku di sudut pasar. Judulnya "Rahasia Ritus dan Peramalan Klasik." Buku itu tampak menarik, dan ia membelinya. Sayangnya minatnya cepat pudar; aksara lama yang ditulis vertikal membuatnya tidak nyaman dibaca, dan ia hanya menelusuri beberapa halaman sebelum meletakkannya di sudut.
Sejak sebulan terakhir, kemalangan demi kemalangan menimpanya: kehilangan barang berharga, rekan yang mengingkari janji, dan kesalahan-kesalahan bodoh di tempat kerjanya. Barulah ia teringat ritus penyeimbang nasib yang tertulis di bagian paling awal buku itu. Syaratnya sangat sederhana, tanpa memerlukan dasar apa pun.
---
Yang diperlukan hanyalah empat porsi makanan pokok di tempat tinggalnya, diletakkan di empat penjuru ruangan—boleh di atas meja, peti, ambang jendela, atau sudut dekat pintu. Kemudian, berdiri di tengah ruangan, mengambil empat langkah berlawanan arah jarum jam membentuk segi empat. Langkah pertama diiringi permohonan berkat kepada penjaga langit timur yang menyalakan fajar; langkah kedua kepada penjaga selatan yang menahan terik; langkah ketiga kepada penjaga barat yang menggulung senja; dan langkah keempat kepada penjaga utara yang menjaga malam. Setelah keempat langkah itu, ia harus menutup mata dan berdiam sesaat di tempat semula.
Karena tidak menghabiskan uang, ia membuka buku itu, melaksanakannya sesuai petunjuk, dan melakukan semuanya sebelum makan malam. Tidak ada yang terjadi.
Siapa sangka, tengah malam, ia benar-benar berpindah!
"Ada kemungkinan besar itu karena ritus penyeimbang nasib ini ... ya, besok aku harus mencobanya di sini sekali lagi. Kalau benar karena itu, aku punya kesempatan untuk kembali!" Nuri berhenti mengetuk-ngetukkan kuas, lalu tiba-tiba duduk tegak.
Apa pun itu, ia harus mencoba.
Hanya dengan mencoba ada harapan.
---
Namun ada satu hal yang membuatnya ragu.
Kalau nasib buruk yang ia alami di Negeri Cahaya itulah yang membawanya ke sini, bukankah terlalu angkuh untuk berpikir bahwa ia bisa mengendalikan arahnya?
Jika ritus itu benar-benar memiliki kekuatan, apa jaminan bahwa ia tidak akan dilemparkan ke tempat yang lebih gelap lagi?
Ia menekan keraguan itu dan mencoba memusatkan pikirannya pada hal yang lebih terang.
Ada banyak hal aneh di dunia ini yang tidak sejalan dengan apa yang ia kenal.
Bulan Rubi yang selalu merah itu menggantung terlalu rendah, seperti mata yang mengawasi.
Genderang gerbang malam yang mengatur jalan malam, cara kota ini mengelola sumur-sumur umum, cara konvoi dagang ditata, dan cara para penjaga menghormati malam—semuanya terasa asing, seolah berasal dari adat yang tidak pernah ia pelajari.
Yang terpenting, di Negeri Cahaya, pergantian malam dibaca dari terbitnya satu rasi tertentu; di sini, malam dibaca dari bunyi genderang. Semua itu menandakan bahwa tempat ini bukan sekadar tanah baru, melainkan sebuah dunia dengan hukumnya sendiri yang mesti ia pelajari dari nol bila ingin bertahan.
---
"Satu langkah pada satu waktu," bisiknya. "Jangan pernah terburu-buru menyimpulkan, sebelum kau melihat sendiri bagaimana dunia ini bekerja."
Ia menggelengkan kepala, menyingkirkan keraguan itu.
Memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk tanpa mencoba sama sekali adalah cara tercepat untuk tetap terjebak di tempat yang tidak ia inginkan.
Ia memutuskan untuk mencoba, dan akan berpikir panjang hanya setelah ia benar-benar tahu apa yang terjadi.
---
Sesudah itu, sebelum melangkah keluar untuk membeli makanan, ia menyisihkan sisa malam untuk hal yang lebih mendesak: mencari tahu siapa sebenarnya pemilik tubuh yang kini ia tinggali.
Belati itu, lembaran penuh angka itu, goresan di lantai itu—semuanya adalah benang yang menghubungkan kepada sebuah peristiwa yang belum ia pahami.
Untuk menenangkan kegelisahan yang menggerogoti dadanya, ia perlu menarik benang-benang itu satu per satu.
---
Untuk esok pagi, ia menyusun rencana sederhana.
Ia harus tampil sebagai Kang Minho yang utuh di hadapan tetangga dan keluarganya sendiri—tidak mencurigakan, tidak menunjukkan keanehan yang akan memancing pertanyaan.
Ia akan membeli makanan untuk keluarga, menyisihkan empat porsi untuk ritusnya, lalu keliling kota untuk mencari tahu dari mana belati itu berasal, dan apakah ada orang lain yang mengenali lembaran angka itu.
Semua itu harus dilakukan dengan tenang, karena bila misteri di balik kematian Minho benar-benar berbahaya, menarik perhatian justru akan mendatangkan masalah yang lebih besar.
Namun ada juga yang tidak bisa ia tunda lebih lama: ia belum pernah benar-benar berjalan di Kota Eunha sebagai dirinya sendiri.
Setiap jalan, setiap pasar, setiap wajah yang akan ia temui besok hanyalah kenangan Minho yang ia pinjam. Ia harus membangun kembali segalanya dari ingatan yang rusak itu—belajar lagi menawar di pasar, mengenal lagi tetangga, dan berlatih berjalan pulang.
Tugas yang melelahkan, tetapi sekaligus kesempatan untuk bertanya-tanya dan mempelajari dunia ini dari dekat.
---
Di luar, Bulan Rubi naik semakin tinggi, memerah dan bulat, menuangkan cahaya samar ke jalan-jalan Kota Eunha yang sunyi.
Dari kejauhan terdengar derik roda gerobak konvoi dagang yang berangkat mendahului subuh, dan seekor rubah kecil melintasi celah pagar, menggaruk-garuk tanah yang keras.
Nuri memejamkan mata, mencoba mengingat suara-suara Negeri Cahaya yang kini telah jauh, dan untuk pertama kalinya sejak terbangun, air matanya menetes tanpa ia sadari.
Ia membiarkan tangis itu lewat tanpa ditahan.
Lalu ia menyeka wajahnya, menegakkan punggungnya, dan memutuskan menghadapi malam yang tersisa dengan kepala dingin.
Besok, ketika matahari pertama menyentuh atap-atap kota, ia akan memakai nama Kang Minho dan mulai mencari kebenaran yang ditinggalkan bersamanya di kamar yang sempit ini.
Untuk itu, ia membutuhkan tidur yang cukup, dan hari yang jernih untuk berpikir.
aku jadi penasaran sok kalo minho cedera lagi apa y gk bakal ngerasa sakit 🙄
abis nagis langsung mode srius mental baja gitu loh