Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PASAR DESA DAN MATA YANG MENGAWASI
Udara pagi di pinggiran Hutan Kelam terasa sangat menyegarkan. Burung-burung hutan berkicau saling menyahut di dahan pohon yang rindang, menyambut sinar matahari yang perlahan menerobos celah dedaunan.
Hari ini adalah hari pasar di Desa Oakhaven, sebuah desa kecil yang berjarak sekitar dua mil dari gubuk Kayy. Biasanya Kayy sangat malas pergi ke luar area Sanctuary Domain-nya. Namun, persediaan garam, rempah-rempah bumbu teh, dan kain rajut yang disukai Alya mulai menipis.
"Kayy, apa keranjangnya tidak terlalu berat?" tanya Alya seraya berjalan pelan di samping suaminya. Ia mengenakan gaun katun sederhana berwarna biru muda dengan kain penutup kepala tipis untuk menyembunyikan rambut pirang emasnya yang mencolok.
"Ringan sekali," jawab Kayy santai. Di punggungnya terikat keranjang bambu besar berisi beberapa ikat sayuran kebun dan sekeranjang wortel emas—bahan barter yang akan ia tukarkan dengan bumbu dapur di pasar.
Bagi Kayy yang otot dan fisik tubuhnya telah diperkuat oleh penguatan pasif berulang-ulang selama bertahun-tahun, beban keranjang itu tak ubahnya seperti membawa selembar bulu ayam.
Desa Oakhaven menyambut mereka dengan riuk pikuk khas daerah pemukiman petani. Lapak-lapak kayu berjejer di sepanjang jalan tanah, menjajakan buah-buahan, daging buruan, hingga peralatan pertanian.
"Wah, Kayy! Akhirnya turun gunung juga kamu!"
Sebuah suara nyaring dan ramah menyapa mereka. Paman Pardi, seorang petani paruh baya berbadan agak bungkuk dengan topi jerami kusam, melambaikan tangan dari balik lapak buahnya.
"Pagi, Paman Pardi," sapa Kayy sambil mengangguk tipis.
Paman Pardi tertawa terkekeh, matanya beralih menatap Alya yang tersenyum sopan. "Setiap kali melihat istrimu ini, aku selalu heran. Bagaimana bisa petani malas sepertimu dapat istri anggun dan cantik bagai dewi begini? Kamu pasti pakai sihir pelet desa tetangga, ya?"
Alya terkekeh pelan, pipinya sedikit merona. "Paman Pardi bisa saja. Kayy ini sangat perhatian, kok."
"Hahaha! Iya, iya. Orang baik memang selalu dapat jodoh yang baik," kekeh Paman Pardi ramah. Ia mengambil seikat pisang matang dan menyodorkannya ke keranjang Kayy. "Ini bawa pulang untuk pencuci mulut. Tidak usah bayar!"
"Terima kasih, Paman. Nanti saat pulang aku sisakan wortel kebun terbaik untukmu," balas Kayy dengan ukiran senyum tipis di bibirnya.
Di tengah hiruk-pikuk pasar yang ramai itu, baik Kayy maupun Alya tidak menyadari bahwa jauh di atas atap kedai minuman di sudut pasar, dua pasang mata sedang mengawasi mereka dengan sangat tajam. Kayy tidak memiliki sihir pelacak aktif, dan insting alaminya tidak menyalakan tanda bahaya karena mereka berada jauh di luar batas pekarangan rumahnya.
Dua sosok berpakaian serba hitam dengan jubah penutup kepala mengamati pergerakan Kayy dan Alya dari jarak jauh. Mereka adalah pengintai dari Shadow Vanguard yang diutus untuk memverifikasi lokasi berdasarkan rute titik koordinat pulihnya Sang Pahlawan, Arthur.
Arthur sendiri menjaga sumpahnya dan tidak membocorkan apa pun. Namun, alat pemantau mana milik Kerajaan sempat mencatat koordinat lokasi di mana energi Holy Light milik Arthur yang tadinya hampir padam mendadak meledak kuat dan bugar kembali secara tak masuk akal.
Salah satu pengintai mengangkat sebuah monokular sihir khusus yang dapat mendeteksi tingkat Mana dan fluktuasi energi seseorang.
"Bagaimana?" bisik pengintai pertama dengan nada dingin.
Pengintai kedua menyesuaikan lensa monokularnya. Garis-garis energi di sekeliling Alya terlihat menyala samar—meski disembunyikan, intisari Saintess suci milik Alya masih memancarkan aura emas murni yang tipis.
"Tidak salah lagi. Wanita itu benar-benar Lady Alya yang dinyatakan tewas tiga tahun lalu," bisik pengintai kedua. Matanya kemudian bergeser mengamati Kayy yang sedang menawar bumbu kayu manis.
Lensa monokularnya tidak menunjukkan warna apa pun di sekeliling tubuh Kayy. Tidak ada pancaran sihir, tidak ada lingkar mana, dan tidak ada jejak aura fisik tingkat tinggi. Di mata alat deteksi sihir Kerajaan, Kayy hanyalah seorang manusia biasa tanpa bakat sihir sama sekali—seorang warga sipil biasa.
"Pria di sebelahnya?" tanya pengintai pertama.
Pengintai kedua terkekeh meremehkan dari balik kain penutup mukanya. "Hanya petani lemah. Tingkat mananya nol besar. Dia bahkan tidak menyadari kita sedang mengawasinya dari jarak jauh."
"Bagus. Arthur pasti bingung dengan lonjakan energi itu atau sengaja menutupi keberadaan Lady Alya, tapi itu tidak masalah. Pria sipil ini sama sekali bukan ancaman," simpul pengintai pertama penuh rasa percaya diri. "Malam ini kita laporkan ke Komandan. Besok pagi, saat si petani pergi mencari kayu bakar ke hutan, kita sergap gubuknya dan amankan Lady Alya dari luar pekarangan."
"Diterima. Misi ini akan sangat mudah."
Dua bayangan itu melompat mundur secara senyap, menghilang di balik kegelapan lorong atap tanpa meninggalkan jejak.
Perjalanan pulang menuju gubuk menyajikan pemandangan matahari terbenam yang memukau. Langit barat terbentang luas bagaikan kanvas yang dilukis dengan warna jingga, merah muda, dan keemasan.
Kayy berjalan berdampingan dengan Alya sambil menggenggam jemari istrinya. Keranjang bambu di punggungnya kini dipenuhi bumbu dapur, kain rajut baru, dan pisang pemberian Paman Pardi.
"Kayy?" panggil Alya pelan.
"Hmm?"
"Tadi di pasar... apa kamu merasa ada sesuatu yang ganjil?" Alya melirik ke arah pepohonan hutan yang mulai diselimuti bayangan malam. Sebagai mantan Saintess, kepekaan jiwanya cukup intuitif, meski ia tak bisa mendeteksi siapa atau di mana pengintai tadi berada.
Kayy hanya tersenyum hangat, mengusap punggung tangan Alya dengan ibu jarinya. "Mungkin cuma perasaanmu saja karena sudah lama tidak ke tempat ramai, Sayang. Ayo cepat pulang, sebentar lagi dingin. Kamu kan mau mencoba bumbu kayu manis baru ini untuk teh malam?"
Mendengar kata 'teh malam', mata Alya berbinar kembali. Kecemasannya menguap seketika. "Iya! Malam ini aku yang akan menyeduh tehnya untukmu."
Mereka kembali melangkah, menembus gerbang kayu pekarangan rumah yang memancarkan kehangatan Sanctuary Domain.
Begitu Kayy melangkahkan kaki menembus batas pekarangan dan menutup pintu pagar kayu gubuknya, perlindungan pasif Sanctuary Domain langsung kembali aktif membungkus area gubuk.
Tepat saat pagar dikunci, Kayy merasakan gesekan tipis di batas aura rumahnya—sebuah hawa asing berbau niat jahat yang sempat mendekati batas pekarangan beberapa waktu lalu saat mereka pergi.
Kayy melirik dingin ke arah kegelapan hutan di luar pagar untuk sebuil detik. Matanya yang biasanya santai mendadak berkilat tajam.
'Ada lalat luar yang berani mendekati rumahku saat kami pergi...' batin Kayy tenang. 'Kalau mereka cuma berputar-putar di hutan, aku tidak peduli. Tapi kalau sampai ada yang berani merusak kedamaian rumah ini... aku pastikan mereka tidak akan pernah bisa melangkah pulang.'
Suasana malam menyelimuti gubuk kayu dengan kehangatan yang syahdu. Suara jangkrik dan embusan angin malam melengkapi keheningan hutan. Dari dalam dapur kecil, aroma semerbak tumisan sayur segar dan rebusan kentang berpadu indah dengan wangi kayu manis yang mulai menguar.
Alya meletakkan dua piring kayu berisi sup kentang hangat dan tumis sayuran hasil kebun mereka di atas meja. Di sebelahnya, dua cangkir tanah liat berisi teh herbal kayu manis yang masih mengepulkan uap tipis telah tersaji anggun.
"Silakan dinikmati, suamiku," ucap Alya lembut sambil menduduki kursi kayu di seberang Kayy. Senyum bahagia terukir indah di bibirnya.
Kayy menyendok sup kentang hangat itu, menyuapnya perlahan. Rasanya gurih alami dengan sentuhan manis segar dari sayuran berkualitas tinggi milik kebun mereka.
"Enak sekali," puji Kayy tulus, menatap Alya yang pipinya mendadak merona mendengar pujian sederhana itu. "Masakanmu selalu jadi hal terbaik setelah seharian lelah berjalan."
"Ah, kamu ini... padahal aku cuma memasak bahan-bahan dari kebunmu yang luar biasa," sahut Alya malu-malu sambil menyeruput teh kayu manis buatannya. "Tapi... teh ini benar-benar harum. Bumbu kayu manis yang kita beli di pasar tadi sangat cocok."
Mereka menikmati makan malam dengan tenang, diselingi tawa kecil dan cerita-cerita sederhana tentang hal-hal sepele—tentang Paman Pardi yang suka bercanda, tentang sayuran kebun yang siap panen minggu depan, hingga rencana menata ulang rak kain di sudut kamar.
Setelah makan malam usai dan cangkir-cangkir kayu dibersihkan, Alya berdiri di tepi jendela teras sambil menatap rembulan malam yang bersinar terang. Angin malam berembus tipis, menyibak sedikit helai rambut pirang keemasannya.
Kayy berjalan mendekat dari belakang, menyelimutkan kain rajut hangat yang baru mereka beli di pasar ke bahu Alya. Ia melingkarkan kedua tangannya dengan lembut di pinggang istrinya, menyandarkan dagunya di bahu Alya.
"Dingin, jangan berdiri di sini terlalu lama," bisik Kayy pelan di dekat telinga Alya.
Alya menyandarkan kepalanya pada dada Kayy, menghirup aroma tubuh suaminya yang menenangkan aroma kayu pinus dan tanah segar yang selalu membuatnya merasa aman dari badai apa pun di dunia luar.
"Kayy..." bisik Alya pelan.
"Ya?"
"Terima kasih untuk hari ini. Dan... terima kasih sudah selalu ada di sisiku."
Kayy tersenyum tipis, mengecup lembut pelipis Alya. "Selalu, Alya. Tempatmu ada di sini, di sisiku."
Di bawah naungan rembulan dan perlindungan kokoh Sanctuary Domain, malam itu berlalu dengan penuh kedamaian. Mereka berdua terlelap dalam pelukan hangat, tanpa menyadari bahwa esok hari, bayangan kegelapan dari Kerajaan akan datang mencoba merobek kedamaian yang sangat mereka cintai ini.