Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*
Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".
Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15: Anjing Liar di Lobi
"Kali ini gue mau lihat siapa yang sebenarnya bermain di balik meja itu."
Reno tiba di PE pukul dua siang bersama Bella dan dua anggota stafnya. Proposal program varietas dibawa dalam map hitam dengan logo Grup Sinema Halim tercetak sebesar mungkin.
Rani, petugas hubungan tamu yang berjaga di lobi, berdiri menyambut.
"Selamat siang, Mas Reno. Apakah sudah ada janji?"
"Sampaikan kepada pemilik baru bahwa Halim datang membawa kerja sama."
"Boleh saya tahu nama pihak yang ingin ditemui?"
Reno menatapnya seolah pertanyaan itu menghina. "Kalau gue tahu namanya, buat apa gue tanya? Panggil atasan lo."
Rani mempertahankan senyum. "Direksi sedang meninjau studio, Mas. Saya bisa menghubungi sekretariat dan..."
"Dari tadi jawaban lo cuma bisa menghubungi orang lain." Reno melempar map ke meja resepsionis. "PE mempekerjakan orang untuk berdiri atau untuk berpikir?"
Bella menyentuh lengannya. "Reno, tidak usah marah."
"Gue sudah menunggu dua puluh menit. Mereka sengaja membuat kita duduk di lobi."
Rani memeriksa catatan sekali lagi. "Maaf, Mas. Tanpa jadwal saya tidak dapat membuka akses ke lantai direksi. Itu prosedur keamanan."
"Prosedur?" Reno tertawa. "Kalau Grup Sinema Halim menarik layar, perusahaan ini bahkan tidak punya film untuk dilindungi prosedur."
Beberapa pegawai yang lewat memperlambat langkah. Rani menahan napas, tetapi tidak membalas. Ia baru hendak menghubungi Anindya ketika pintu lift utama terbuka.
Sekelompok kepala departemen keluar lebih dulu. Kepala produksi, pemasaran, legal, audit, dan teknologi berjalan dalam dua baris setelah meninjau studio inkubasi. Di tengah mereka, Arya berbicara kepada Anindya sambil membawa gulungan denah.
"Pak Arya," kata kepala produksi, "kalau dinding studio dua digeser, jalur evakuasi harus dihitung ulang."
"Jangan geser sebelum konsultan keselamatan menandatangani," jawab Arya. "Kapasitas boleh turun, pintu keluar tidak."
"Baik, Pak Arya."
"Pak Arya, kontrak kreator versi baru selesai sore ini," sambung kepala legal.
"Kirim ke Bu Anindya lebih dulu."
"Siap, Pak."
Sapaan itu datang berulang dari orang-orang yang dulu bahkan tak mengenal namanya.
Bella menatap Arya tanpa berkedip.
Reno berbalik perlahan. "Apa-apaan ini?"
Arya berhenti di depan meja resepsionis. Tatapannya jatuh pada map Halim yang tergeletak miring, kemudian wajah Rani yang menahan kesal.
"Ada masalah?"
Rani menjawab secara profesional. "Mas Reno ingin bertemu pemilik baru tanpa jadwal, Pak Arya. Saya sudah menawarkan pengajuan melalui sekretariat."
"Pemilik baru?" Bella mengulang dengan suara pelan.
Anindya berdiri di samping Arya. "Pak Arya memegang suara pengendali PE. Kalau ada proposal, prosedurnya melalui evaluasi bisnis."
Wajah Reno berubah dari bingung menjadi tidak percaya. "Lo?"
Arya menyerahkan denah kepada kepala produksi. "Sepertinya informasi yang kamu cari sudah didapat."
"Ini lelucon. Lo cuma suami kontrak Anindya."
"Dan wali sah lima puluh satu persen saham," ujar kepala legal. "Dokumennya efektif dan tercatat dalam administrasi perusahaan."
Reno memandang para kepala departemen, berharap seseorang tertawa. Tak ada.
Bella maju setengah langkah. "Sejak kapan?"
"Sejak setelah kita selesai," jawab Arya. "Hidup bergerak cepat."
Kalimat itu tidak terdengar sombong. Justru karena datar, rasa malu Bella menjadi lebih berat. Lelaki yang ia tinggalkan dengan satu koper kini berdiri di pusat perusahaan yang berusaha didekati Reno memakai nama keluarganya.
Reno mengambil map dan mendorongnya ke dada Arya. "Grup Halim menawarkan program bersama. Lo sebaiknya baca sebelum bertingkah besar."
Arya tidak menerima. Map jatuh ke lantai.
"Proposal bisnis ditujukan ke tim kemitraan. Bukan dilempar ke resepsionis sambil menghina staf saya."
"Staf lo? Baru beberapa hari di sini sudah bicara seperti raja."
"Rani mengikuti prosedur. Kamu datang tanpa janji, berteriak di lobi, lalu mengancam perusahaan dengan layar bioskop." Arya mendekat satu langkah. "Kamu bukan mitra. Kamu seperti anjing liar yang masuk halaman orang dan menggonggong karena tidak dibukakan pintu."
Tawa pecah dari belakang. Seseorang segera menutup mulut, tetapi sudah terlambat.
Reno mengepalkan tangan. "Jaga mulut lo."
"Jaga perilakumu."
"PE akan habis tanpa Halim."
Arya menggerakkan dagu ke arah pintu. "Kita lihat siapa yang habis lebih dulu. Sekarang keluar."
"Lo mengusir gue?"
"Rani," kata Arya tanpa mengalihkan mata, "hapus Grup Sinema Halim dari daftar tamu bebas. Semua kunjungan wajib janji dan pemeriksaan keamanan."
"Baik, Pak Arya."
Dua petugas keamanan mendekat. Reno memandang Anindya, tetapi perempuan itu tidak memberi celah.
"Proposal resmi masih boleh dikirim," katanya. "Namun ancaman personal tidak akan diperlakukan sebagai negosiasi."
Reno menunjuk mereka bergantian. "Kalian akan menyesal. Dalam satu minggu, tidak ada iklan, tidak ada acara, dan tidak ada layar yang mau menyentuh proyek PE."
"Catat kalimat itu," ujar Arya kepada Rani. "Simpan rekaman lobi untuk legal."
Reno baru menyadari kamera berada tepat di atas kepalanya. Ancaman yang ia kira menunjukkan kuasa kini menjadi bukti niat menekan bisnis.
Pegawai kembali tertawa kecil.
Bella menarik lengan Reno menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh. Arya sudah berjongkok mengambil proposal yang jatuh, bukan untuk membacanya, melainkan menyerahkannya kepada Rani.
"Kamu tidak salah," katanya. "Prosedur tetap prosedur, siapa pun tamunya."
Mata Rani memerah karena lega. "Terima kasih, Pak."
Bella melihat para kepala departemen menunggu Arya melanjutkan tinjauan. Tidak ada kepura-puraan dalam hormat mereka. Gambaran tentang suami bodoh, miskin, dan bergantung padanya runtuh di depan mata.
"Ayo!" bentak Reno dari pintu.
Bella akhirnya pergi.
Anindya menunggu pintu kaca menutup. "Anda menyebut calon mitra distribusi sebagai anjing liar di depan satu lobi penuh staf."
"Dia bukan calon mitra."
"Proposalnya mungkin tetap bernilai."
Arya menyerahkan map kepada kepala kemitraan. "Evaluasi tanpa melihat nama pengirim. Kalau angkanya bagus, kirim rekomendasi. Kalau ada klausul penekan, tandai. Kita tidak menolak bisnis hanya karena pemiliknya tidak punya sopan santun."
Kepala kemitraan mengangguk. "Baik, Pak."
Anindya menatap Arya dengan alis terangkat. "Saya kira Anda akan merobeknya."
"Merobek kertas tidak merugikan Reno. Menolak proposal buruk dengan analisis tertulis akan merugikannya."
Rani dan beberapa staf mendengar jawaban itu. Tawa mereka berhenti, digantikan rasa hormat yang lebih serius. Arya bisa menghina lawan, tetapi keputusan perusahaan tetap bergerak melalui prosedur.
Di rumah Halim, Reno membanting pintu ruang keluarga dan melempar kunci mobil ke meja. Bu Meilani Halim yang sedang minum teh tidak terkejut melihat wajah putranya.
"Dia mempermalukan gue di depan semua orang, Ma. Ternyata Arya pemegang kendali PE."
Bu Meilani meletakkan cangkir. "Arya siapa?"
"Arya Bimasakti Adiwangsa."
Nama keluarga itu membuat matanya menyempit.
"Jadi anak buangan Wisnu sudah pulang," katanya pelan.
"Ma harus melakukan sesuatu."
Bu Meilani mengambil ponsel dan membuka daftar kontak eksekutif jaringan bioskop serta agen iklan.
"Tenang," ujarnya. "Besok, Mama beri kamu satu jawaban."