Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.
Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.
Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6.Ada jarak
Sinar matahari pagi menembus celah-celah gorden sutra di kamar Aira, membiaskan cahaya keemasan yang hangat di atas lantai kayu. Aira terbangun dengan perasaan asing yang membungkus benaknya.
Cincin platinum yang melingkar di jari manisnya berkilau diterpa cahaya pagi, menjadi pengingat nyata bahwa seluruh hidupnya telah berubah total.
Gadis sembilan belas tahun itu segera bangkit, merapikan tempat tidur, dan mencuci wajahnya. Pukul enam pagi.
Sebagai anak yang terbiasa bangun awal untuk mengurus rumah dan ibunya, Aira tidak bisa diam saja. Setelah mengenakan pakaian santai berupa kaus katun longgar dan celana kain panjang, ia melangkah keluar kamar.
Kondisi lorong lantai dua masih sangat hening. Namun, saat Aira melewati depan pintu kamar Arka yang sedikit terbuka, ia mendengar suara gemericik air dan derap langkah kaki teratur.
Arka sudah bangun.
Aira menuruni tangga menuju dapur utama. Di sana, Bi Inah bersama dua orang asisten rumah tangga sedang sibuk memotong sayuran dan menyiapkan bahan makanan.
"Lho, Nyonya Aira sudah bangun?" Bi Inah terkejut saat melihat Aira sudah berdiri di ambang pintu dapur, mengikat rambut cokelatnya menjadi sanggul acak-acakan yang manis.
"Pagi, Bi. Panggil Aira saja kalau lagi bertiga begini," ujar Aira ramah, melangkah mendekat ke arah meja racik.
"Ada yang bisa Aira bantu? Aira biasa bikin sarapan buat Mama, jadi kalau cuma bantu masak atau bikin jus, Aira bisa kok."
Bi Inah panik kecil seraya mengibaskan tangannya. "Aduh, jangan, Nyonya! Den Arka bisa menegur Bibi kalau membiarkan Nyonya bekerja di dapur. Nyonya kan majikan di sini."
"Mas Arka tidak akan tahu, Bi," kekeh Aira pelan, mengambil pisau dan mulai memotong buah apel dengan sangat mahir.
"Lagipula Aira bingung mau ngapain kalau cuma duduk diam. Biarkan Aira bantu ya?"
Melihat kesungguhan dan kerendahan hati gadis muda itu, Bi Inah akhirnya luluh. Senyum hangat terkembang di wajah paruh bayanya.
"Ya sudah, Nyonya bantu potong buah dan siapkan roti bakar saja ya."
Selama tiga puluh menit berikutnya, suasana dapur terasa begitu hidup. Aira menyiapkan menu sarapan sederhana namun bergizi: roti bakar telur alpukat, jus apel segar, dan menyeduh teh hangat.
Saat Aira sedang menata piring di meja makan kecil, suara derap langkah kaki tegas berbunyi dari arah tangga.
Arka turun dengan tampilan yang selalu sempurna. Pria berusia 39 tahun itu mengenakan kemeja putih bersih tanpa dasi dengan dua kancing atas terbuka, dipadu celana kain hitam tailored. Rambut cokelat gelapnya disisir rapi ke belakang, memancarkan aura maskulin yang sangat dominan.
Aira refleks mematung sejenak, memegang pinggiran piring lebih erat. Gagah sekali, batinnya jujur. Namun, Aira dengan cepat menepis pikiran itu dan memasang wajah senormal mungkin.
"Pagi, Mas Arka," sapa Aira sopan namun tidak berlebihan.
Arka menghentikan langkahnya, menatap Aira dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapannya meneliti, dingin, dan penuh kalkulasi—khas seorang pengusaha sukses yang tidak mudah percaya pada siapa pun.
"Pagi," balas Arka singkat dengan suaranya yang berat dan dalam. Ia menarik kursi di ujung meja dan duduk.
"Kamu tidak perlu repot-repot bangun pagi dan menyiapkan sarapan. Tugasmu di rumah ini difokuskan untuk Elano, bukan menjadi pelayan."
Kata-kata itu diucapkan dengan nada datar tanpa bentakan, tapi cukup tajam untuk mengingatkan Aira akan batas posisinya di rumah ini.
Arka menekankan bahwa hubungan mereka adalah komitmen fungsional, bukan pernikahan atas dasar kasih sayang.
Aira tidak tersinggung. Ia justru menghargai kecakapan Arka yang menetapkan batasan sejak awal.
"Saya cuma bantu Bi Inah, Mas. Lagipula saya terbiasa bangun pagi. Daripada menganggur, lebih baik bergerak."
Arka tidak membalas lagi. Ia meraih cangkir teh hangat yang diseduh Aira dan menyesapnya perlahan. Matanya melirik singkat ke arah roti bakar telur di depannya, lalu mulai memakannya tanpa protes.
Tak lama kemudian, suara teriakan kecil khas anak-anak terdengar melengking dari lantai atas.
"MAMAAA! MAMA AIRAAA!"
Elano berlari turun menuruni tangga dengan piyama dinosaurus yang masih melekat di tubuhnya, rambut bangun tidurnya mencuat ke segala arah. Bocah empat tahun itu langsung menubruk kaki Aira yang sedang berdiri dekat meja.
"Aduh, Mas Elano... pelan-pelan, nanti jatuh," ujar Aira cepat, berlutut untuk menyeimbangkan tubuh Elano.
"Kenapa berteriak-teriak pagi-pagi?"
"Elano mimpi buruk! Ada naga besar mau makan mainan Elano!" adu bocah itu dengan napas terengah-engah, wajahnya ditaruh di bahu Aira.
"Tapi terus Elano ingat kalau punya Mama Aira, jadi Elano bangun mau cari Mama!"
Aira tersenyum lembut, mengusap punggung kecil yang masih hangat itu dengan penuh kehangatan alami.
"Naga-nya sudah pergi. Sekarang Mas Elano cuci muka dulu, ganti baju, terus sarapan sama Mama dan Papa, ya?"
Elano mendongak, matanya yang bulat jernih menatap Aira. "Mama yang menyuapi Elano?"
Aira melirik Arka yang sedang mengunyah rotinya dalam diam, memperhatikan interaksi mereka dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Iya, Mama yang suapi. Tapi Mas Elano harus mandi dulu sama Bi Inah. Oke?"
"Siap, Mama Aira!" seru Elano riang, mencium pipi Aira dengan cepat sebelum berlari kembali ke arah Bi Inah yang sudah menunggu di dekat tangga.
Bekas kecupan liur Elano di pipinya membuat Aira terkekeh geli. Ia mengusap pipinya pelan, lalu berdiri kembali.
Ketika matanya tak sengaja beradu dengan mata Arka, pria itu masih memperhatikannya.
"Dia cepat sekali menempel padamu," kata Arka datar, meletakkan garpunya.
"Elano anak yang pintar dan butuh perhatian, Mas," jawab Aira tenang.
"Anak kecil bisa merasakan ketulusan. Kalau kita tulus menyayanginya, dia juga akan merespons hal yang sama."
Arka terdiam sejenak. Kalimat "anak kecil bisa merasakan ketulusan" seolah menyentil kesadarannya. Selama empat tahun ini, puluhan pengasuh berijazah tinggi telah ia sewa untuk Elano, namun tidak ada satu pun yang berhasil luluh di hati putranya. Sebagian besar dari mereka hanya menginginkan gaji besar atau berpura-pura baik di depan Arka demi menarik perhatian sang konglomerat.
Tapi Aira? Gadis sembilan belas tahun ini tidak mencoba merayu Arka atau bertindak berlebihan. Ia hanya fokus pada Elano.
"Bagus kalau begitu," tanggap Arka, kembali dingin.
"Raymond akan mengantarkanmu ke Rumah Sakit Medika Prima siang nanti untuk menjenguk ibumu.Saya ada rapat penting di luar kota sampai lusa, jadi saya tidak bisa menemani."
Aira merasa ada sedikit kelegaan mendengar Arka akan pergi ke luar kota selama beberapa hari. Berada di sekitar pria itu membutuhkan energi mental yang besar karena auranya yang begitu intimidatif.
"Terima kasih banyak, Mas. Hati-hati di jalan untuk pekerjaannya," kata Aira sopan.
Arka mengangguk pelan. Ia berdiri dari kursi, merapikan jas yang tersampir di lengannya, lalu meraih tas dokumen kerjanya. Sebelum melangkah pergi, Arka menghentikan langkahnya tepat di sebelah Aira.
Jarak mereka yang hanya berdua puluh sentimeter membuat Aira bisa menghirup aroma maskulin khas kayu cendana yang memabukkan dari tubuh Arka.
"Aira," panggil Arka dengan suara amat rendah.
Aira mendongak, menatap manik mata hitam pria yang kini resmi menjadi suaminya itu. "Iya, Mas?"
"Ingat perjanjian kita. Jaga Elano dengan baik, jaga dirimu di rumah ini, dan jangan pernah bertindak ceroboh yang bisa memicu rumor buruk di luar sana," pesan Arka tegas. Ada ketegasan tanpa kompromi dalam kata-katanya.
"Saya mengerti, Mas Arka. Saya tahu batas posisi saya di sini," balas Aira jujur dan tanpa ada rasa tersinggung sedikit pun.
Arka menatap mata Aira yang jernih dan jujur selama beberapa detik. Tidak ada kepura-puraan di sana, tidak ada godaan tersembunyi, hanya kepasrahan yang bermartabat.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Arka berbalik dan melangkah keluar dari rumah, meninggalkan Aira yang mengembuskan napas panjang.
Di balik status pernikahan megah dan angka dua miliar rupiah, Aira sadar sepenuhnya bahwa perjalanan hidupnya di rumah ini barulah sebuah permukaan. Antara dirinya dan Arka, ada tembok tinggi bertuliskan rasa trauma, perbedaan usia dua puluh tahun, serta batas kesepakatan bisnis yang tidak boleh dilanggar. Dan Aira berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah melompati tembok itu.
_Bersambung