Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.
Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.
Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.
Ia salah besar.
Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:
**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**
Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.
Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.
Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.
Kali ini, dialah yang memegang pisau.
*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Dua Rumah, Dua Dunia
Di rumah sendiri, aku harus mencari tempat duduk.
Pagi itu Ibu meletakkan sarapan untuk Ayah dan dirinya di meja. Kursi Mbak Laras tetap kosong tetapi piringnya tersedia, seolah ia bisa pulang kapan saja dan rumah harus siap menyambut. Aku baru duduk ketika Ibu menyodorkan sapu.
"Teras belum dibersihkan."
"Aku ada wawancara daring jam sembilan."
"Sekarang baru setengah delapan. Sapu sebentar tidak bikin gagal wawancara."
Aku menatap piring kosong di depanku. Tidak ada nasi, tidak ada teh.
Ayah bangkit mengambilkan roti, tetapi Ibu lebih cepat berkata, "Dia bisa ambil sendiri. Sudah dewasa."
Aku menerima sapu. Membantah hanya akan menghabiskan waktu lebih lama.
Satu jam kemudian aku mengikuti wawancara dari kamar sempit dengan suara mesin cuci di belakang dinding. Pewawancara bertanya apakah aku bisa bekerja di bawah tekanan. Aku hampir tertawa. Sebagai gantinya, aku menjawab dengan kalimat profesional tentang tenggat, prioritas, dan komunikasi tim.
Saat panggilan selesai, Ibu membuka pintu tanpa mengetuk.
"Nanti siang cuci gorden ruang tamu."
"Wawancaranya baru selesai, Bu."
"Bagus, kan?"
"Belum tahu."
"Mbakmu dulu sekali wawancara langsung diterima."
Pintu tertutup lagi.
Aku duduk menatap layar gelap. Di pantulannya, wajahku terlihat seperti milik seseorang yang baru kalah dalam pertandingan yang bahkan belum diumumkan hasilnya.
Siangnya aku pergi ke warung dengan alasan mengembalikan sandal Bu Lina. Perempuan itu baru melihatku masuk sudah menaruh piring di kursi dekat kipas.
"Nasi setengah, rawon banyak, sambal satu," katanya.
"Aku belum pesan."
"Memangnya Ibu baru kenal kamu kemarin?"
Rangga menggeser helm dari bangku di sebelahnya. "Duduk sini. Tempatmu sudah dipesan sejak pagi."
"Siapa yang pesan?"
"Kari."
Anjing itu sedang tidur di bawah meja dan bahkan tidak membuka mata.
Aku duduk. Tak perlu meminta ruang, tak perlu menunggu orang lain selesai, tak perlu menjelaskan bahwa aku lapar. Di rumah Saputra, kesukaanku diingat tanpa dijadikan alat untuk menahanku.
"Wawancaranya?" tanya Rangga.
"Lumayan. Kalau suara mesin cuci masuk rekaman, mungkin mereka mengira aku punya pengalaman industri."
"Kalau mereka nggak menerima, berarti rugi sendiri."
Bu Lina menunjuknya dengan sendok. "Nah, begitu cara menyemangati orang. Bukan dibandingkan."
Aku menunduk agar mereka tidak melihat mataku memanas.
Pak Bambang masuk sambil melepas helm. Ia baru selesai mengantar penumpang ke stasiun. Setelah mendengar tentang wawancaraku, ia membuka aplikasi peta dan bertanya lokasi kantor.
"Kalau dipanggil tahap berikutnya, Bapak antar. Jam sibuk angkot sering penuh."
"Nggak perlu, Pak. Aku bisa naik ojek online."
"Bisa bukan berarti harus." Ia menaruh kunci di meja. "Kebetulan Bapak juga harus ke arah sana."
Rangga mendengus. "Bapak belum tahu kantornya di mana."
"Nanti setelah tahu, baru dibuat kebetulan."
Bu Lina tertawa. Aku ikut tertawa, tetapi kalimat itu menetap di kepalaku. Di tempat ini, orang-orang menciptakan kebetulan untuk memudahkanku. Tidak untuk memaksaku berutang. Tidak untuk mengatur ke mana aku harus pergi.
Ponselku berbunyi. Surel otomatis dari perusahaan lain memberitahukan bahwa mereka memilih kandidat berbeda. Rangga melirik layar, mengambil secarik kertas pesanan, lalu menulis alamat surel temannya.
"Satu pintu tutup, kita gedor pintu lain," katanya.
Kertas itu kusimpan di dompet, tepat di sebelah amplop Ayah.
Dua bentuk dukungan yang kecil, tetapi cukup untuk membuat punggungku kembali tegak.
Sore hari aku kembali ke rumah dan menemukan Mbak Laras di ruang tengah. Ia sedang memilih warna kebaya lamaran bersama Ibu. Dua potong kain terbentang di sofa.
"Sekar, menurutmu yang mana?" tanya Mbak Laras.
Aku menunjuk warna marun. "Yang itu membuat kulitmu lebih cerah."
"Aku juga pikir begitu."
Ibu mendecakkan lidah. "Yang champagne lebih mahal. Mas Damar pasti suka yang elegan."
Mbak Laras tersenyum kepadaku, lalu memilih kain champagne.
Aku membantu melipat kain marun yang tak jadi dipakai.
"Jangan terlalu dimasukkan hati kalau Ibu bicara," bisik Mbak Laras ketika kami berdua di dekat lemari. "Kamu tahu Ibu memang begitu. Jangan bikin beliau tambah marah."
"Kenapa selalu aku yang harus mengerti?"
Senyumnya goyah. "Aku cuma nggak mau rumah ini ribut."
Itulah perbedaan kami. Mbak Laras bisa menjaga kedamaian karena perang tidak pernah diarahkan kepadanya.
Menjelang malam, Ibu menepuk meja agar semua mendengar.
"Lusa Mas Damar datang. Kita bicarakan lamaran dengan serius. Rumah harus rapi. Jangan ada yang membuat malu."
Tatapannya langsung menuju kepadaku.
"Sekar, pakai baju yang pantas. Kalau tidak ditanya, jangan banyak bicara. Lebih baik bantu di dapur saja."
Ayah meletakkan gelas agak keras. "Sekar anggota keluarga, bukan pembantu."
"Siapa bilang pembantu? Aku cuma minta dia tahu diri di depan calon keluarga Laras."
"Bu, sudah," sela Mbak Laras. "Sekar pasti mengerti."
Semua mata menunggu jawabanku.
"Iya," kataku.
Malam itu aku mengunci pintu kamar. Bungkusan tisu berisi sisa bunga teh kusimpan di dalam kotak bekas ponsel. Pergelangan tanganku sudah hampir pulih, tetapi saat memejamkan mata, suara hujan kembali terdengar di kepala.
Kasur turun di satu sisi.
Satu telapak menahan tanganku.
Diam.
Aku bangun dengan napas terputus. Lampu kamar masih menyala. Tidak ada siapa-siapa, hanya daftar lowongan yang bergerak ditiup kipas.
Lusa Damar akan kembali masuk ke rumah ini.
Pikiranku belum mampu memastikan apa pun, tetapi tubuhku sudah memberikan jawaban lebih dulu.