Pantas saja dia tak diharapkan dan dibenci oleh keluarganya. Ternyata dia adalah anak yang lahir dari rahim orang ketiga.
Mutiara Anjani, Seorang gadis yang selalu terlihat kuat dihadapan orang lain. Tiada yang tahu bahwa gadis itu menyimpan rasa sakitnya seorang diri. Semua tertutup oleh sikapnya yang ceria dan terkadang angkuh itu.
Semua orang yang pernah dekat dengannya menjauh perlahan karena hadirnya orang baru termasuk sahabatnya sendiri. Dia menjadi sendiri, Hingga seorang pria hadir menjadi pendukungnya serta satu-satunya pria yang berjanji akan selalu menjaganya sampai nanti.
••••••
"Aku selalu merasa sendiri, Aku ingin melupakan segalanya dan tidak ingin mengingat rasa sakit ini lagi.." Mutiara Anjani.
"Tapi perlu diketahui, Bahwa akulah yang akan menjagamu sampai nanti.." Muhammad Al Ghazi Maulana...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran Galih dan Diandra
"Kamu mau menjelaskan apa, Hazel?
Gadis itu menunduk seraya meremas gamisnya. Gara-gara video yang ditunjukkan oleh teman-teman Kendra tadi, Pria itu mengetahui satu kenyataan. Bahwa Hazel tengah berbohong padanya.
Gadis itu mengatakan kalau Mutiara yang tak sengaja menumpahkan kuah panas itu. Namun pada kenyataannya, Dalam video tersebut Hazel lah yang mencoba mengusik Mutiara.
"Ken, Aku benar-benar gak sengaja. Kamu percaya deh sama aku. Mungkin divideo itu terlihat kalau aku yang sengaja mau nyiram laptop Tiara, Padahal sebenarnya enggak.." Ucap Hazel pada Kendra. Dia harus kembali membuat Kendra kembali percaya dengannya.
"Ya, Kalau kamu memang gak sengaja kenapa gak bilang? Kenapa kamu tadi malah bilang kalau Mutiara yang gak sengaja?" Hazel diam lagi, Apa yang harus dia katakan?
Hazel melingkarkan kedua tangannya dilengan Kendra. Gadis itu mencoba untuk bersandar dilengan pria itu.
"Maafkan aku ya, Ken.. Aku ngelakuin itu cuma mau cari perhatian kamu aja. Tapi, Aku janji setelah ini gak bakalan ulangi lagi.." Kendra hanya diam saja, Pria itu tidak menjawab. Entah kenapa ia mulai merasa ragu sekarang pada Gadis ini.
Masih dihari dan ditempat yang sama. Mutiara menemui Miss Anna diruangannya. Gadis tersebut memperlihatkan sebuah contoh skripsi yang telah ia tulis sejak dua hari yang lalu itu.
"Kamu memang ditakdirkan menjadi gadis yang genius Tiara.. Padahal ujian skripsi mu baru saja berlangsung. Bahkan banyak teman-temanmu yang telah lebih dulu memulainya.. Tapi lihatlah? Baru dua hari penulisan skripsi mu terlihat sangat sempurna.. " Puji Miss Anna yang begitu kagum dengan dengan kepintaran Mutiara.
Meski hampir satu bulan gadis itu tidak masuk kuliah karena melawan rasa traumanya. Yang jujur sampai sekarang trauma itu masih ada.
Mutiara tetap berusaha untuk melawan semuanya. Rasa trauma dan takut yang sewaktu-waktu selalu datang menghantuinya membuat gadis itu hilang kendali.
Bahkan sejak kejadian dihari itu, Mutiara sendiri takut pergi ke kamar mandi sendirian. Dia takut apa yang telah terjadi padanya akan terulang kembali.
"Aku ingin menyelesaikan ujian ini lebih cepat dari waktunya Miss.. Supaya aku bisa santai dan lebih tenang.." Tak dapat dipungkiri, Mutiara merasa sangat lelah sekali. Dia ingin segera menyelesaikan ujian ini karena Mutiara segera ingin menangkan otak dan pikirannya.
Miss Anna tersenyum, Ia genggam tangan anak didiknya itu.
"Kamu jangan khawatir. Kalau sewaktu-waktu kamu butuh saya, Langsung hubungi ya. Kamu jangan pernah simpan rahasia kamu seorang diri terus Tiara.. Kamu butuh teman sandaran selain saya sendiri. Ghazi, Menurutku dia pria yang baik.. Kamu bisa mencurahkan isi hati kamu yang berat itu sama dia.." Mutiara hanya diam tak menjawab.
Ghazi..
Dia memang pria yang baik. Akan tetapi sepercaya nya Mutiara pada pria itu, Tetap masih ada keraguan dalam hati Mutiara sendiri. Mutiara hanya takut kalau sewaktu-waktu pria itu juga berkhianat.
Kendra, Fathan dan Rio. Tiga pria itu dulu juga pernah berjanji akan menjaganya dan selalu berada disisinya. Mereka juga pernah mengatakan kalau akan ada disetiap Mutiara membutuhkannya. Tapi mana?
Semua yang mereka katakan hanyalah omong kosong belaka. Apa yang pernah mereka katakan, Apa yang pernah mereka janjikan, semuanya tidak terbukti sampai sekarang.
Mutiara mengenal tiga pria itu cukup lama. Bukan sehari dua hari, Bukan sebulan dua bulan, Bukan pula setahun dua tahun.
Bertahun-tahun Mutiara mengenal tiga pria itu. Semua sesuatu dari tiga pria tersebut Mutiara tahu. Apa saja favorit mereka, Makanan apa yang disuka dan yang tidak. Semua, Mutiara paham..
Namun apa? Mereka semua tetap berkhianat. Apalagi Ghazi yang baru Mutiara kenal. Entah pria itu benar-benar setia atau tidak belum ada yang tahu..
Mutiara bukanya tidak percaya, Dia hanya takut saja. Takut disaat dirinya telah menaruh harapan, Bisa jadi dikemudian hari dia akan dihempaskan.
"Mas Ghazi memang baik Miss. Saya percaya padanya. Tapi, Saya masih sedikit ragu.. Yang lama mengenal saya saja masih bisa berkhianat, Apalagi yang baru.. Saya hanya takut, Miss.. " Miss Anna semakin menggenggam tangan Mutiara seolah memberikan kekuatan pada anak bimbingannya ini.
"Saya yakin kalau kamu masih merasa ragu padanya. Tapi yakinlah, Bahwa dia adalah pria yang baik. Dan yakinlah kalau tidak semua pria seperti itu.." Mutiara tersenyum tipis, Gadi ms tersebut mengangguk.
Ya, Yang dikatakan Miss Anna benar. Memang banyak pria yang dengan tega berkhianat dikemudian hari. Akan tetapi tidak semuanya pria seperti mereka.
Tanpa dua wanita itu sadari, Bahwa Ghazi telah mendengar semuanya di balik pintu ruangan tersebut.
Pria itu tidak tersinggung sama sekali dengan apa yang dikatakan Mutiara. Ghazi cukup memakluminya, Karena dia mengerti apa yang dirasakan oleh gadis itu.
Mutiara hanya takut, Dia hanya trauma dengan apa yang telah terjadi sebelumnya. Namun satu hal yang perlu diketahui. Ghazi akan tetap menjaga serta berada disisi Mutiara. Mulai dari sekarang bahkan sampai nanti..
...****************...
Tak
Tak
Tak
"Selamat siang, Nyonya.." Sapa para karyawan pada Diandra yang siang ini datang kekantor suaminya.
"Hm.." Diandra hanya berdehem saja menjawab sapaan para karyawan itu.
"Suami saya ada diruangannya?
"Tuan sedang berada diluar Nyonya.. Mungkin sebentar lagi akan datang.." Diandra mengangguk. Wanita itu melangkah dengan anggun kemudian masuk kedalam lift. Dia akan menunggu Galih diruangannya saja.
Ceklek..
Diandra membuka pintu ruangan tersebut. Tidak ada siapapun disana, Hanya ada pemandangan yang selalu membuatnya sesak.
Bagaimana mungkin tidak sesak, Dalam ruangan itu tidak ada satupun foto dirinya disana melainkan foto Mutiara.
Disetiap sudut ruangan, Terdapat bunga mawar putih diletakkan kedalam vas. Bunga mawar putih itu adalah bunga kesukaan Anjani..
"Malang sekali percintaanmu, Diandra.. Kau hanya dinikahi, Tapi tidak dicintai. Kalian itu hanya tinggal bersama bukan hidup bersama.." Diandra bicara seorang diri. Ia menarik nafas panjang. Diandra mencintai Galih sejak wanita itu berusia tujuh belas tahun bahkan sampai sekarang.
Namun selama itu, Tak pernah sekalipun Diandra mendapatkan cinta dari pria itu. Jangankan untuk cinta, Perhatian kecil pun tidak pernah.
"Ini apa?" Mata Diandra tiba-tiba saja tertuju pada sebuah berkas yang terletak diatas meja. Entah kenapa berkas tersebut menarik perhatiannya.
Diandra meraih berkas tersebut kemudian melihat isinya. Seketika mata wanita paruh baya itu membola begitu membaca isi dari berkas itu.
"Mas Galihh..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"DIAN!!
"DIANDRA!! DIMANA KAMU!!
Galih pulang kerumahnya dengan langkah panjang dan lebar. Wajah Papa Mutiara itu memerah seperti menahan amarah.
"Tuan.." Diruang tamu, Galih berpapasan dengan Bi Yani.
"Dimana, Diandra?
"Nyonya? Sepertinya Nyonya ada dikamarnya, Tuan.." Tanpa mengatakan apapun lagi, Galih pergi masuk kedalam kamarnya.
BRAAAK!!
Galih membuka pintu kamarnya dengan kasar. Disana, Diandra tengah duduk ditepi tempat tidur dengan menangis. Mata wanita itu bahkan sampai sembab. Mungkin saja saking lamanya wanita itu menangis..
Menyadari kedatangan sang suami. Diandra mengangkat kepalanya menatap pria itu.
"Aku yakin kalau kamu pasti akan pulang, Mas.." Galih masih berdiri diambang pintu. Nafas pria itu naik turun..
"Apa yang kau lakukan diruangan kantorku?" Di tanya seperti itu, Diandra hanya tersenyum sinis.
"Apa yang aku lakukan dikantormu, Mas?" Wanita itu kembali bertanya.
"Aku tidak melakukan apapun.. Awalnya aku datang hanya sekedar berkunjung saja, Mas. Tapi siapa yang menyangka, Kalau kedatanganku kesana menemukan sebuah barang yang mungkin sangat berharga bagi kamu.."
Ya, Awalnya Diandra datang ke kantor Galih memang hanya sekedar berkunjung saja. Tidak salah kan kalau istri berkunjung ke kantor suaminya? Memangnya siapa yang akan melarang?
Tapi apa yang dia temukan? Wanita itu menemukan sebuah berkas yang isinya adalah surat pengalihan harta sekaligus perusahaan atas nama Mutiara Anjani Wirawan.
Hanya nama Mutiara, Tidak ada nama putranya. Fakta tersebut tentu saja membuat Diandra murka. Ia bawa surat itu pulang kerumah lalu akan menanyakan masalah ini pada Galih nanti.
"Kenapa, Mas? Kenapa disurat pengalihan harta itu hanya ada nama Mutiara? " Galih menatap wanita itu..
"Karena Mutiara adalah anakku..
"MEMANGNYA ATTA BUKAN ANAKMU, GALIH!!??" Pekik Diandra penuh dengan emosi. Wanita mana yang tidak marah, Kalau pria yang merupakan suaminya ini lebih menyayangi anaknya dari wanita lain, Ketimbang anak yang lahir dari rahimnya.
"Atta juga anakmu!! Tapi kenapa kau justru lebih sayang pada anak haram itu!!"
"TUTUP MULUTMU DIANDRA! MUTIARA BUKAN ANAK HARAM!!" Disebut sebagai anak haram, Galih tentu saja ikut tersulut emosi. Mutiara itu adalah anaknya dari hasil sah dan bukan anak haram.
"Kalau bukan anak haram, Anak apa? Memangnya, Sebutan apa yang pantas untuk anak yang lahir dari rahim seorang pelakor? Mutiara itu hanya anak dari wanita murahan! Dia lahir dari rahim wanita yang kotor..
PLAAAK!" Kepala Diandra langsung tertoleh kesamping usai mendapatkan tamparan keras dari pria itu.
"CUKUP!! asal kau tahu saja, Diandra. Pertama, Mutiara bukan anak haram. Dan yang kedua, Anjani bukan wanita mura-han. Kalau bukan karena Anjani, Kau tidak akan....
Praakk!
•
•
•
TBC
😏😏😏 ,,
semoga ghazi bisa cepat menemukan mutiara ,
lanjut thor ditunggu kelanjutannya, semangattttt💪💪