Sejak kecil Karina terbiasa melihat ibunya bekerja keras ditambah lagi setelah sang Ayah memilih pergi dengan wanita lain, oleh karena itu, Karina berjanji pada dirinya sendiri dimana dia ingin bebas dari kemiskinan, Sampai suatu hari, Karina bertemu dengan Adrian Mahardika pemuda Tampan. Berpendidikan. Pewaris keluarga konglomerat yang memiliki segalanya. Bagi Karina, Adrian bukan sekadar lelaki. Ia adalah jalan keluar dari kehidupan yang selama ini ia inginkan, yaitu kemewahan. Sejak saat itu, Adrian menjadi obsesinya. Akankah Karina mampu memenangkan Obsesinya atau malah membuat Hidupnya hancur dengan Obsesinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Karina berlari sekencang mungkin sepanjang koridor kantor, Adrian bebrapa detik hanya berdiri ketika melihat Karina pergi dari pandanganya, ia kemudian langsung melepaskan tangan Katrin yang berusaha mencegahnya, ia berusaha mengejar Karina yang semakin menjauh hingga karina berdiri didepan lift, dan kini Adrian dapat mengejarnya dan berdiri ditempat yang sama, sambil menekan tombol lift berkali kali karina berusaha menghindari kontak mata dengan Adrian, sementara Adrian kini berdiri disampingnya, sesaat ia melihat ke arah lift
"Karina...ada apa?" tanya Adrian yang merasa tidak terjadi apapun
"Tidak apa apa Adrian, anggap saja aku tidak melihat apapun." jawab Karina yang bersamaan dengan terbukanya pintu lift, dan ternyata di dalam lift terlihat ada beberapa orang, Adrian membiarkan Karina masuk, sementara dirinya hanya menatap wajah karina yang tampak terus menghindar dari tatapan Adrian, berlahan pintu lift tertutup, Untuk sesaat, mata mereka bertemu melalui celah pintu yang semakin mengecil, Adrian melihat wajah Karina yang penuh air mata, Adrian terdiam beberapa detik, hingga akhirnya memutuskan kembali keruanganya, sementara itu ketika telah sampai, pintu lift terbuka, karina keluar dari lift, dan melangkah keruangan kerjanya, tiba tiba seseorang memanggilnya
"Mba Karina, besok ada Acara talkshow disebuah stasiun televisi, kita akan datang kesana sekitar jam 10 pagi."Tomy berkata namun tidak mengetahui yang yang tengah terjadi pada karina, ia kemudian menatapnya sebentar, "Ada apa mba Karina?" kata Tomy lagi, iya melihat wajah Karina yang seperti habis menangis
"Apa Adrian akan ikut?" karina bertanya dengan penuh kekhawatiran
"Aku rasa tidak."
"Syukurlah." sahut Karina lebih tenang
"Tapi kita akan bertemu Katrin disana." sahut tomy
Karina tidak memperdulikan nya, ia hanya menganggukan kepalanya kemudian langsung berjalan meninggalkan Tomy, sementara Tomy melihat kearah Karina dengan penuh tanda tanya, tanpa berfikir lama kini dia menuju ruangan Adrian.
Karina duduk dimeja kerjanya, dia mengingat kembali ke tiga bulan terakhir, hubungannya dengan Adrian telah mengubah banyak hal, tanpa pernah benar-benar di sadari, jarak antara dirinya dan Adrian semakin lama semakin dekat. Tidak lagi sebatas hubungan antara seorang CEO dan model yang bekerja untuk perusahaannya, dirinya mulai terbiasa dengan kehadiran pria itu, Jika dahulu setiap kali Adrian mendekat, jantungnya berdebar karena gugup, kini perasaan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih, karina kini lebih merasa nyaman bersama Adrian, pria yang menjadi incaran nya sejak dulu, sebelum dirinya menjadi model, Ia bahkan mulai percaya bahwa pa Adrian, dan mungkin perasaan Adrian pun kini telah banyak berubah, dari yang sikapnya acuh, dingin, dan cuek kini lebih perhatian, Namun hari ini...semua harapan itu seperti kembali menjadi sesuatu yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan, dan kini kepercayaan pada Adrian dengan perasaannya mulai kembali meragukan nya. Dadanya mendadak terasa sesak bila ia teringat kejadian itu.
***
Diruangan Adrian, pintu terbuka, Adrian kembali masuk kedalam ruanganya, disana katrin masih berdiri tampak bersandar dimeja kerja Adrian sambil menyilangkan lengan nya, adrian melihatnya dan mencoba mengungkapkan kekesalan nya
"Aku rasa kau sudah dapatkan semuanya Katrin."
Katrin berjalan mendekat ke Adrian
"Yah kau benar..., dan aku merasa senang."
"Kalau begitu pulanglah, dan kau tidak usah datang kembali ke sini."
katrin masih bisa tertawa dengan semua yang telah terjadi
"Apa kali ini kau benar benar mengusirku, Adrian?"
Pintu ruangan tiba - tiba terbuka, kali ini tampak tomy hendak masuk kedalam ruangan itu untuk berbicara dengan Adrian, namun ia kaget ketika melihat katrin juga berada didalam
"Ohh...maaf." sahutnya setelah melihat mereka dalam pembicaraan serius, tomy berinisiatif hendak pergi namin Adrian mencegahnya.
"Ada apa Tomy?" sahut Adrian kemudian ia duduk dikursi tempat kerjanya
"Apa kau sudah memberitahu Adrian untuk acara besok, Tomy?" karina menyela pembicaraan mereka
"Emmm...iya." jawaban singkat dari tomy
"Ya...baguslah, semoga kita bisa bertemu lagi Adrian." kata katrin kemudian langsung berjalan keluar, sebelum itu ia menyempatkan diri berjalan mendekat ke tomy lalu menepuk pundak Tomy
"Sampai jumpa besok Tomy." kata katrin sambil berjalan keluar dari ruangan itu.
Tomy termenung sesaat, ia kembali teringat dengan Karina yang baru saja dijumpainya
"Apa karna ini,ba Karina merasa sedih?" guman tomy dalam lamunan nya
"Ada apa Tom?" suara Adrian membuyarkan lamunan nya
"Besok kita ada acara talkshow disalah satu stasiun televisi, karina dan Katrin akan bertemu disana?"
Adrian termenung sesaat, lalu Tomy kembali melanjutkan
"Apa Pak Adrian akan datang?"
"Dia pasti ada disana kan? Adrian diam sesaat "Dialah yang membuntuti Karina waktu itu." kemudian melanjutkan nya
"Apa yang pak Adrian maksud, om Herman?"
"Iya...., ingat Tom, jaga Karina jangan sampai ia bicara pada nya."
"Baik pak." sahut Tomy sambil dirinya memikirkan sesuatu yang diucapkan adrian, namun ia akan tetap menjalankan perintah sang direktur muda itu.
***
Acara talkshow dimulai, Pembawa acara menyambut Karina sebagai wajah baru Mahardika Group yang sedang naik daun. Berbagai pertanyaan mengenai perjalanan kariernya mulai dilontarkan. Dari awal perjuanganya hingga sampai saat ini, dan karina begitu profesional menjawab semua pertanyaan, disesi kedua barulah Katrin dimasukan, ia berjalan menyalami host dan kemudian beralih ke pada Karina dengan gayanya yang anggun dan sopan ia melemparkan senyuman dengan ramahnya sambil langsung menyapa semua yang ada, dan dibelakangnya berjalan sang direktur perusahaan tempat katrin bekerja, dialah Herman, ia duduk tepat disamping Katrin tak jauh dari karina, sama seperti karina kini giliran mereka yang menjawab semua pertanyaan dari host televisi, suara katrin seperti wanita yang sangat profesional sambil terus menebarkan senyuman indahnya, sementara karina kini duduk dengan beribu pertanyaan dibenaknya dengan kedatangan Herman tak lain ayahnya sendiri, ia tak menyangka kalau katrin bekerja untuknya, dan kini menjadi saingan terberat, ia bahkan sempat kehilangan konsetrasinya disesi kedua ini, sementara Tomy tampak memperhatikan nya dari kejauhan, tomy menyangka kedatangan katrin lah yang membuat konsentrasi karina terganggu, namun karina kembali menampakan profesionalnya disesi ketiga, setelah selesai acara katrin mendekati Karina dan sempat bicara padanya, sementara tomy yang khawatir akan bertemu herman mendadak langsung membawa karina keluar dari studio,
"Kau lihat kan Karina, sekarang aku bisa mengalahkan mu?" kata karina sementara Tomy terus mengajaknya untuk segera pergi
"Iya kau benar, tamu kau belum menang." jawab karina kemudian berjalan berlalu membelakangi katrin, tomy mengikuti dari belakang, baru beberapa langkah karina berpapasan dengan sang Ayah, keduanya saling bertatapan kemudian sama sama saling memalingkan wajah seperti tidak pernah saling kenal, tatapan herman sangat terlihat jelas oleh katrin yang berdiri tidak jauh dari mereka, Untuk pertama kalinya, Katrin merasa ada sesuatu yang tidak ia tidak ketahui, dan jika dugaannya benar...
Persaingannya dengan Karina bukan lagi sekadar soal karier, Ada rahasia besar yang menghubungkan Karina dan Herman, Rahasia yang selama ini mungkin tersembunyi tepat di depan matanya dan disitulah katrin merasa akan mencari tau tentang mereka.