Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.
Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 - Pijar Tengah Malam
Angin malam berhembus cukup kencang, membawa hawa dingin yang menusuk tulang hingga membuat mereka berlima harus mengenakan jaket berlapis. Langit di atas sana tampak bersih tanpa awan, terhampar luas dipenuhi jutaan bintang serta cahaya rembulan yang bersinar penuh.
Mereka tampak duduk melingkar di sekeliling api unggun yang menari-nari, diselingi derik suara hewan malam dari balik kegelapan hutan. Percakapan mereka yang semula ringan seputar hal-hal sepele mulai berbelok ke arah yang membuat sebagian dari mereka diam-diam resah.
"Tadi sore, kalian ngerasa ada yang aneh, gak sih? Kalo gak salah pas di pos terakhir sebelum sampe sini." bisik salah satu dari mereka.
"Apaan?" sahut yang lainnya serempak.
"Kayak ada sesuatu gitu... berdiri diem doang gak jauh dari samping jalur pendakian tepat sebelum kita ngelewatin pohon gede tadi. Atau... cuman perasaanku aja, ya?" lanjutnya. Suaranya sengaja direndahkan, tetapi terasa cukup jelas hingga membuat dua cewek di antara mereka saling merapat menoleh panik.
"Haduh, udah deh. Males aku kalo mulai bahas begituan," keluh salah satu cewek dengan wajah cemas, menarik ritsleting jaket tebalnya hingga ke dagu untuk menutupi rasa gelisah.
"Tau tuh. Gak sadar apa sekarang udah jam berapa? Kayak gak ada hal lain aja buat diomongin," sambung Wendy dengan raut masam seraya memeluk lututnya lebih erat.
"Bilang aja kalian takut. Emang dasar penakut," ejek Tama sembari melempar senyum jahil ke arah Fita dan Wendy.
Tanpa menunggu obrolan mistis itu berlanjut, kedua cewek itu langsung bangkit berdiri.
"Yuk, Fit. Mending kita tidur aja duluan. Nanti pagi kita harus jalan lagi buat liat sunrise. Awas aja kalian kalo sampe gak bangun-bangun!" seru Wendy, lalu melangkah tergesa masuk ke dalam tenda dan langsung merapatkan ritsleting pintunya rapat-rapat.
Kepergian mereka berdua menyisakan tiga cowok yang kini bisa duduk lebih leluasa, saling bertukar pandang di sekeliling nyala api unggun yang mulai meredup.
Suasana mendadak berubah jauh lebih tenang sekaligus sunyi. Api unggun di tengah mereka sesekali memercikkan letupan kecil dari ranting-ranting kayu yang menghitam, menciptakan bayangan-bayangan yang menari di wajah-wajah mereka yang duduk termenung melingkar.
Salah satu dari mereka, sambil mengaduk minumannya dengan sendok plastik, bergumam lirih, "Kalian tau gak? Pamali lho sebenarnya ngomongin hal-hal mistis di tempat kayak gini. Katanya bisa ngundang..."
Riki menyelanya pelan, menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. "Halah, udah tahun 2025 masih aja percaya gituan. Cuman tahayul doang."
Ucapan Riki disambut anggukan setuju dari yang lain. Obrolan pun bergeser perlahan tanpa mereka disadari, menjauh dari topik cerita mistis dan mulai merambah ke hal-hal yang lebih dalam. Lebih pribadi, lebih personal.
Udara gunung yang kian malam makin menusuk kulit tak menghalangi percakapan mereka yang justru terasa makin menghangat. Hanya tinggal mereka bertiga: Riki dan Tama duduk bersebelahan, sementara Duta di seberang meraka tetap duduk tenang dengan jaket terkancing rapat.
Suasana berangsur hening, hingga derik hewan malam terdengar makin jelas. Namun, justru keheningan seperti itulah yang membuka ruang nyaman untuk membicarakan hal-hal sensitif yang tak pernah sempat dibicarakan saat matahari masih tinggi.
Tak lama setelah keheningan menyela, Tama menyikut lengan Riki pelan dengan siku jaket tebalnya.
"Eh, Rik. Kau pernah gak sih, suka atau... ya mungkin ada rasa gitu sama cewek satu komunitas?" tanyanya setengah berbisik.
Riki hanya mengangkat alisnya santai. Ia merentangkan bahu dan kedua tangannya ke atas, seperti baru tersadar dingin mulai merayap menembus jaketnya. "Hmm... gak ada sih. Mikir tugas aja udah ribet, apalagi kalo ditambah mikirin soal cewek."
Duta yang duduk melipat tangan di dada sembari memandangi kobaran api unggun ikut penasaran. "Jadi, gak ada yang menarik hatimu sama sekali gitu, Rik? Padahal banyak juga lho adik tingkat yang manis dan cakep."
Riki diam. Kali ini jedanya terasa cukup lama. Api unggun berkeretak pelan memakan ranting kayu, membuat bayangan nyala api menari-nari di pupil matanya yang menatap ke satu titik, entah menatap api unggun di hadapannya atau tenggelam dalam ingatan sendiri.
"Begitulah," ucapnya akhirnya dengan nada suara sedikit pelan. "Lagian, aku orangnya sadar diri kalo biasa-biasa aja. Gak cakep, gak banyak duit pula. Gak kayak empat temen kosku tuh yang pada cakep-cakep semua. Tapi, kelakuannya aneh semua. Beneran anomali, gak ada yang normal."
"Kayak gimana emangnya, Rik? Seru tuh kayaknya suasana di kosmu," tanya Duta dengan cengiran antusias.
Tama ikut memberikan tanggapan sembari mengusap kedua telapak tangannya yang kedinginan. "Beberapa kali aku main ke kosmu, kayaknya gak pernah liat ada satu pun temenmu deh."
Riki menghentikan ceritanya sejenak. Tangannya terulur meraih botol air minum di sebelahnya, lau meneguknya beberapa kali sebelum kembali lanjut bercerita.
"Ya emang gitu. Mereka emang jarang keliatan dan cuman muncul kalo pas saat-saat tertentu."
"Ohh..." sahut Tama manggut-manggut.
"Gini. Kami sekos itu satu angkatan semua dan ada dua temenku yang beda kampus. Yang satu, entah kenapa gak pernah keliatan mau dekat sama cewek dari awal aku kenal sama dia. Padahal ya, banyak banget cewek cakep yang naksir sama dia. Kurang apa coba? Badannya oke, rajin olahraga dan lari pagi, jago beladiri dan otaknya encer pula. Walaupun orangnya pendiem, tapi karismanya tetep kerasa banget. Minus sifatnya cuman datar banget dan mukanya lempeng gitu. Bagi orang yang belum kenal sama dia, mungkin bakal nganggep dia itu sok keren. Gitu lah palingan, padahal gak kayak gitu," jelas Riki.
Tama dan Duta diam, fokus menyimak cerita menarik itu.
"Dan yang kedua, ia juga keren sih. Aktif di organisasi kampus, pinter bergaul, dan ekstrovert parah. Punya cewek cakep, tapi kayaknya jumlah selingkuhannya dah gak kehitung lagi. Bener-bener playboy kelas kakap. Gak ngerti deh kenapa dia gak pernah ketahuan sama ceweknya. Selain itu, orangnya jarang di kos. Berangkat pagi, pulang malem. Paling seharian di kos kalo pas lagi tepar doang." lanjut Riki sembari menggelengkan kepala heran.
"Beneran menarik sih kayaknya punya temen kos gitu!" timpal Duta sembari tertawa.
Riki ikut terkekeh pelan, lalu melanjutkan ceritanya. "Ada juga yang super fokus sama kuliahnya. Cuman jadi kupu-kupu, kuliah pulang, kuliah pulang doang. Pinter banget sih sampe jadi kutu buku. Tapi, dialah yang paling jarang banget ngobrol bareng di antara kami berlima, kerjaannya cuman di kamar terus. Bener-bener tipe anak yang rajin parah."
Tama ikut tertawa pelan sembari melemparkan kerikil ke dalam kobaran api. "Beneran beraneka ragam temen sekosmu, Rik. Nah, yang satunya lagi?"
Riki nyengir tipis, lalu mengusap wajahnya.
"Nah, yang terakhir ini menurutku sih orangnya rada gak jelas. Kadang rajin, kadang ngilang. Kadang serius, kadang kocak. Kadang banyak omong, kadang diem kayak orang bisu. Dan paling jelasnya, dia itu bucin banget, tapi bego kalo soal cewek. Bayangin aja, udah PDKT sama cewek hampir dua tahun, tapi gak ada hasilnya sama sekali. Entah bertepuk sebelah tangan atau emang cuman jadi kayak hubungan tanpa status gitu. Tapi ya, menurutku dia adalah orang paling peduli, paling baik dan paling ramah di antara kami."
"Menarik, menarik. Tapi... masa kau gak kepengen punya kisah asmara pas kuliah gitu, Rik," celetuk Duta yang dari tadi masih penasaran soal hal yang sempat tertunda sebelum Riki menceritakan keempat temannya.
Riki terdiam sejenak. Ia kembali memandangi kobaran api di depannya. Suaranya akhirnya keluar, terdengar pelan. "Sebenarnya... ada sih. Satu cewek."
Tama langsung menyipitkan mata, menggeser duduknya dengan penuh rasa ingin tahu. "Siapa? Siapa? Kayak gimana orangnya, Rik? Buset, ternyata ada juga!"
Riki menghela napas ringan, mencoba menggali kembali kenangan yang perlahan memudar di kepalanya.
"Hmm... aku gak tahu namanya sih. Cuman beberapa kali gak sengaja ketemu di kampus. Dia kelihatannya kalem dan senyumannya..." Riki terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya pelan sambil tertawa kecil dan mengacak rambutnya. "Ah, kalau dipikir-pikir malah jadi kepikiran lagi."
Keheningan perlahan kembali turun diantara mereka. Obrolan di antara mereka bertiga itu mulai melambat, menyisakan bara api yang kian meredup.
Tiba-tiba, Tama mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Ia membuka galeri dan tanpa banyak bicara menyodorkan layar ponsel ke arah Riki. Tampak foto seekor kucing berbulu tiga warna—putih, hitam, dan oranye, sedang meringkuk manja di atas karpet.
"Ini namanya si Momo," katanya pelan, menatap foto itu penuh rindu. "Tapi udah gak ada dari tahun lalu, mati kena virus mendadak. Jadi sedih kalo keinget dia lagi."
Riki memiringkan tubuhnya mendekat, menatap layar ponsel yang menyala terang. "Lucu banget bulunya. Gembul gitu."
Duta hanya melirik sekilas, lalu meneguk habis sisa minuman di gelasnya.
"Kalo aku sih gak bisa deket-deket sama kucing," ujarnya ringan sembari meletakkan gelas kosongnya. "Alergi sama bulunya. Abis megang, pasti langsung bersin-bersin seharian."
Tama cuma terkekeh pendek sambil mematikan layar ponselnya. "Kasihan juga sih. Padahal lucu dan enak di elus-elus."
Riki tersenyum tipis, bayangan kucing tadi masih tertinggal di pikirannya.
"Nah, aku juga ada cerita kalo soal kucing. Tetangga kosku juga ada yang gila banget sama kucing. Udah dianggep kayak anak-anaknya sendiri. Tapi yang mengheran itu, kalo dia kalo ngasih nama selalu pake nama yang gak umum. Misalnya aja Arnold, Charlie, dan satu lagi apalah, lupa aku namanya. Susah pokoknya dibacanya."
Tawa kecil akhirnya pecah dari mereka bertiga.
Beberapa menit kemudian, suasana berangsur-angsur kembali hening. Nyala api unggun semakin lama semakin kecil dan meredup menjadi bara, menandakan bahwa mereka sudah cukup lama duduk saling mengobrol di sana. Duta bahkan sempat beberapa menguap lebar, menahan kantuk.
Ia meluruskan kedua kakinya ke depan, mendongak menatap langit penuh cahaya bintang-bintang di atas sana yang kini tampak jauh lebih terang dibanding sebelumnya. Pelan, ia membuka suara,
"Kalo kuliah kalian udah selesai, terus rencana kalian mau ngapain?"
Pertanyaan itu terdengar diucapkan dengan santai, tapi gaungnya menggantung cukup lama dan dalam di udara malam, membuat dua pasang mata lainnya reflek menatap ke arahnya.
Tama merilekskan badannya, lalu menjawab pertanyaan itu lebih dulu. "Aku sih pengennya langsung kerja aja. Mungkin di bank, atau ya... di kantor apa gitu. Yang penting kerja, dapet gaji, terus bisa hidup tenang."
"Karena anak manajemen keuangan?" celetuk Riki memotong, tersenyum setengah bercanda.
Tama mengangguk santai. "Iya. Lagian, gak pengen lah yang ribet-ribet. Kerja kantoran, jam kerja jelas, akhir bulan ada slip gaji. Udah cukuplah menurutku."
Duta mengangguk pelan, ikut memandangi bara api yang kian mengecil. "Kalau aku pengennya jadi PNS aja. Kerjaan stabil, jenjang karir jelas, dan... ya, bisa bikin orang tua bangga juga."
Setelah mengungkapkan mimpi masing-masing, mereka berdua lalu serempak melirik ke arah Riki, menunggu jawaban darinya.
Riki kembali merentangkan bahunya santai lalu tersenyum tipis. "Aku sih... pengen kerja di Jakarta aja kalo bisa."
"Jakarta? Jauh bener. Kenapa emangnya?" tanya Duta, alisnya berkerut penasaran.
"Karena... biar sekalian bisa sering lihat konsernya Vexia," jawab Riki gamblang dengan mata berbinar-binar.
Tama langsung tertawa lepas mendengar alasan itu. "Astaga, Rik! Niat banget anjir cuman demi liat idolamu!"
Riki ikut tertawa, merespon gelak tawa temannya dengan geleng-geleng kepala. "Gak cuman karena itu, lah. Tapi, aku ngerasa kalo di kota besar tuh lebih banyak peluang. Freelance pun gak masalah juga bagiku. Meskipun ribet dan padat, banyak hal seru yang akan bisa dikejar."
Duta mengangguk pelan menyimak keyakinan Riki, meskipun raut wajahnya terlihat sedikit ragu. "Kau yakin bisa bertahan di sana? Biaya hidupnya gila, Bro. Apa-apa mahal sekarang."
Riki menghela napas pendek, menatap ke langit luas. "Yakin gak yakin, dicoba aja dulu. Aku gak mau nantinya nyesel karena gak pernah coba. Mumpung masih muda."
Tama menatap api unggun yang sebentar lagi hanya akan menjadi arang. Ia berkata pelan, "Kita semua punya jalan masing-masing, ya. Jalan yang beda-beda."
"Iya.." sahut Riki, suaranya terdengar sedikit lebih dalam. "Kita gak tahu masa depan kita bakal kayak gimana. Yang penting, kita gak berhenti dan terus berjalan. Kali aja kelak kita bisa ketemu lagi."
Untuk sejenak, mereka bertiga kembali bungkam, membiarkan dinginnya angin malam dan suara alam yang mengambil alih. Api unggun di tengah mereka akhirnya benar-benar padam, tetapi sisa-sisa kehangatannya masih terasa di sela-sela percakapan yang baru saja usai.
Masa depan memang masih dan mungkin selalu samar. Namun, malam ini mereka tahu bahwa apa pun dan bagaimanapun jalannya, mereka sedang melangkah dan mempersiapkan diri dengan pasti. Pelan tapi pasti.
Malam itu di atas gunung bukan hanya menjadi tempat bertukar cerita, tapi juga ruang untuk belajar saling mendengarkan. Bahwa setiap orang membawa beban dan harapannya masing-masing. Dan sesederhana apa pun sebuah percakapan, selalu ada makna mendalam yang tersimpan di dalamnya.
Terkadang, bentuk kebaikan paling sederhana adalah sebuah senyuman tulus, sedikit waktu untuk mendengarkan, atau sepotong cerita hangat yang kelak mungkin akan menjadi kenangan yang paling lama tinggal dalam ingatan seseorang.
Dan mungkin, tanpa pernah disadari, sesuatu yang kita anggap kecil dan sepele bisa menjadi alasan bagi seseorang untuk tetap bertahan dan percaya pada dunia. Karena pada akhirnya, apa yang kita lakukan dengan tulus untuk orang lain adalah hal yang diam-diam ikut menguatkan diri kita sendiri.