Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9.UNGKAPAN RASA
Pagi hari di SMA Garuda Mulia diselimuti suasana riuh yang tidak biasa. Di sepanjang koridor dan area loker, bisik-bisik kasak-kusuk para siswa terdengar riuh bak sarang lebah.
Nadira melangkah menyusuri koridor dengan jantung yang bertalu kencang. Meskipun Abiyasa sudah menyiapkan alibi resmi melalui Mahendra Foundation, rasa gugup tetap saja merayapi dadanya.
"Nadira! Sumpah ya kamu!"
Sebuah tangan mendadak menarik lengan Nadira, menyeretnya masuk ke sudut tangga yang sepi. Sheila berdiri di hadapannya dengan mata membelalak lebar dan kedua tangan bersedekah dada.
"S-Sheila? Kenapa sih, datang-datang langsung narik?" tanya Nadira gugup.
"Kenapa kamu bilang?!" cecar Sheila, menunjuk-nunjuk wajah Nadira dengan telunjuknya. "Kemarin sore itu apa, Nad?! Mobil Rolls-Royce hitam legam di depan gerbang! Terus... terus pria tinggi ganteng yang pakai jas mahal itu siapa?! Kamu tahu nggak satu sekolah heboh bilang kamu dijemput konglomerat?!"
Nadira menelan ludah, berusaha mengingat kalimat alibi yang diajarkan Abiyasa kemarin malam. "O-oh... itu. Itu Pak Abiyasa, Sheila."
"Pak Abiyasa?! Pak Abiyasa Mahendra yang CEO Mahendra Group itu?!" jerit Sheila tertahan, menutup mulutnya sendiri. "Kok kamu bisa kenal sama orang sekelas dia?!"
"Kan aku sudah bilang, keluarga aku itu salah satu penerima binaan khusus Mahendra Foundation," jawab Nadira mantap, mencoba memasang wajah sepolos mungkin. "Kemarin beliau kebetulan lagi ada peninjauan fasilitas yayasan di dekat sekolah. Pas lihat aku kejebak hujan dan baru sembuh sakit, beliau cuma ngasih tumpangan. Berita resminya kan sudah ditempel di papan pengumuman sekolah pagi ini!"
Sheila menyipitkan matanya, menatap Nadira penuh curiga dari atas ke bawah. "Masa sih cuma ngasih tumpangan? Tapi cara dia megang pinggang kamu kemarin... itu protektif banget, Nad! Kayak cowok yang lagi ngejaga pacarnya!"
Wajah Nadira seketika memerah mengingat usapan dan tatapan Abiyasa kemarin sore. "Y-ya itu... beliau kan cuma formalitas menjaga anak binaan yayasannya! Kamu jangan mikir yang aneh-aneh deh, Sheil!"
"Aku nggak mikir aneh-aneh, tapi tatapan Pak Abiyasa kemarin itu dingin banget ke Kak Raka. Kamu lihat nggak mukanya Kak Raka pas Pak Abiyasa datang? Langsung pias!" Sheila memutar matanya.
"Nadira."
Suara bariton yang familier memotong percakapan mereka. Raka muncul dari balik tembok tangga. Wajah ketua OSIS itu tampak lesu, lingkaran hitam samar terlihat di bawah matanya—tanda bahwa ia tidak tidur nyenyak semalaman.
"Kak Raka?" gumam Nadira, refleks mundur setengah langkah.
Sheila yang paham situasi langsung berdeham canggung. "Umm... Nad, aku ke kelas duluan ya. Kamu selesaikan urusan kamu." Sheila menepuk bahu Nadira cepat lalu ngacir pergi.
Suasana di sudut tangga mendadak hening dan canggung. Raka berjalan mendekat, menatap Nadira dengan tatapan terluka sekaligus penuh tanya.
"Nad, aku mau bicara jujur," panggil Raka pelan.
"Soal apa, Kak?"
"Pria kemarin sore... pria dari Mahendra Group itu," Raka menghela napas panjang, menatap lurus ke dalam mata Nadira. "Hubungan kamu sama dia beneran cuma sebatas anak binaan yayasan?"
Nadira mengepalkan jemarinya di samping rok. "Iya, Kak Raka. Di papan pengumuman kan sudah jelas—"
"Aku nggak percaya sama surat pengumuman itu, Nad!" potong Raka cepat, suaranya sedikit naik. "Aku cowok, Nadira. Aku tahu persis arti tatapan mata seorang pria ke wanita. Pria kemarin itu... dia menatap aku seolah-olah aku ini ancaman buat dia. Dia menatap kamu kayak kamu itu milik dia yang paling berharga."
Jantung Nadira serasa berhenti berdetak sejenak. Apakah tatapan Mas Abi setransparan itu bagi orang lain?
"Kak Raka salah paham—"
"Tolong jujur sama aku, Nad," pangkas Raka lagi, melangkah satu pijakan tangga lebih dekat. "Aku suka sama kamu. Aku udah pendekatan sama kamu dari semester lalu. Kalau memang kamu udah punya cowok lain... atau kalau pria itu punya hubungan khusus sama kamu, tolong bilang sekarang biar aku mundur."
Nadira menatap Raka. Ada rasa kasihan di hatinya melihat ketulusan Raka, tetapi ia tahu bahwa hatinya sudah terkunci rapat untuk pria lain. Pria dingin yang kini bertengger di puncak Mahendra Group.
"Maafkan aku, Kak Raka," ujar Nadira pelan namun dengan nada yang sangat tegas dan dewasa. "Aku nggak bisa balas perasaan Kak Raka. Apapun hubungan aku sama Pak Abiyasa, yang jelas aku nggak punya perasaan apa-apa selain menganggap Kak Raka sebagai kakak kelas."
Raka membeku. Penolakan yang begitu gamblang dan tanpa keraguan itu memukul dadanya telak. Wajahnya makin pucat, namun ia mencoba tersenyum getir.
"Jadi... aku beneran nggak punya kesempatan?" bisik Raka lirih.
"Maaf, Kak. Terima kasih atas perhatian Kak Raka selama ini," pungkasi Nadira seraya membungkukkan badan sedikit, lalu berbalik melangkah cepat meninggalkan Raka yang berdiri kaku sendirian di tangga.
Sementara itu, di kantor pusat Mahendra Group, suasana rapat direksi pagi hari berjalan jauh lebih santai dari biasanya.
Abiyasa duduk di kursi kebesarannya di ujung meja panjang. Pria itu mengenakan kemeja biru gelap dengan dasi bergaris perak. Hendra berdiri di sampingnya seraya menyerahkan laporan harian.
"Surat klarifikasi resmi ke SMA Garuda Mulia sudah diterima oleh pihak sekolah pukul tujuh pagi tadi, Pak," lapor Hendra pelan di sela-sela presentasi direktur keuangan. "Kepala Sekolah sudah mengonfirmasi bahwa tidak ada desas-desus miring yang berkembang di media maupun internal sekolah."
Abiyasa mengangguk pelan, jemarinya mengetuk meja dengan irama teratur. "Bagus. Bagaimana dengan anak laki-laki yang berdiri di dekat Nadira kemarin sore?"
Hendra tersenyum tipis—ia sudah menduga pertanyaan ini akan keluar dari mulut bosnya. "Nama siswa itu Raka Utama, Pak. Ketua OSIS sekaligus kapten tim basket sekolah. Ayahnya adalah salah satu manajer menengah di anak perusahaan tekstil kita."
Abiyasa menghentikan ketukan jemarinya. Alisnya bertaut tajam. "Anak dari manajer kita?"
"Benar, Pak. Menurut informasi, anak itu memang sudah beberapa bulan ini mencoba mendekati Nyonya Muda Nadira di sekolah."
Mata cokelat gelap Abiyasa memancarkan kilatan mengintimidasi yang dingin. "Pindahkan ayahnya ke cabang Papua minggu depan."
Hendra hampir saja tersedak liurnya sendiri. "M-maaf, Pak? Pindah ke Papua?"
Abiyasa menatap Hendra datar. "Saya bercanda, Hendra. Jangan terlalu serius."
Hendra mengelus dadanya lega dalam hati. Bercanda tapi mukanya seperti mau mengeksekusi orang, batin Hendra ngeri.
"Tapi," lanjut Abiyasa, "pastikan anak itu tahu batasan. Jika dia mencoba mengganggu atau menekan Nadira lagi di sekolah, saya tidak akan segan-segan bertindak."
"Baik, Pak Abiyasa. Saya mengerti," sahut Hendra patuh.
Tiba-tiba, ponsel pribadi Abiyasa di atas meja bergetar singkat. Sang CEO melirik layar. Sebuah pesan dari Nadira masuk.
[Nadira]: Mas Abi, makasih ya soal surat yayasan pagi ini. Di sekolah semuanya aman! Sheila sama temen-temen percaya kok.
Abiyasa meraih ponselnya, mengetik balasan dengan senyum tipis yang otomatis terukir di bibirnya.
[Abiyasa]: Sudah saya bilang, kamu tidak perlu khawatir. Bagaimana dengan anak laki-laki ketua OSIS itu? Dia mengganggumu lagi?
Di kelasnya, Nadira membelalakkan mata membaca balasan pesan dari suaminya. Ia cepat-cepat mengetik balasan.
[Nadira]: Enggak kok! Tadi cuma ngobrol sebentar dan aku udah tegesin ke dia kalau kita cuma sebatas kakak-adik kelas. Mas Abi jangan aneh-aneh ya! Awas kalau Mas Abi nyuruh pengawal datang ke sekolah lagi!
Abiyasa membaca balasan itu seraya terkekeh pelan tanpa suara.
[Abiyasa]: Bagus kalau kamu paham cara menjaga diri. Nanti sore saya akan jemput kamu sendiri lagi. Tapi kali ini Pak Maman yang menyetir, dan mobilnya sedan biasa. Puas?
[Nadira]: Nah gitu dong! Baru namanya suami penurut 😜
Abiyasa menggeleng-gelengkan kepala melihat stiker ejekan yang dikirimkan istri kecilnya. Rasa hangat menelusuri dadanya, melenyapkan seluruh beban kerjaan yang menumpuk di mejanya.
Sore harinya, pukul empat tepat, sebuah sedan Toyota Camry hitam sederhana berhenti di tempat penjemputan dua blok dari sekolah—sesuai kesepakatan awal mereka.
Nadira berjalan cepat menghampiri mobil tersebut, membuka pintu belakang, dan langsung meluncur masuk ke dalam kabin sejuk.
"Sore Pak Maman—eh, Mas Abi?!" Nadira terperanjat saat mendapati Abiyasa sudah duduk di kursi penumpang belakang, mengenakan kemeja santai berwarna abu-abu yang lengannya digulung.
"Kenapa? Kaget melihat suami sendiri di mobil biasa?" goda Abiyasa datar seraya menutup laptopnya.
Pak Maman di kursi kemudi terkekeh ramah. "Sore, Neng Nadira. Pak Abiyasa tadi minta Bapak buru-buru jalan dari kantor biar nggak keterlambatan jemput Neng."
"Mas Abi sok sibuk deh," ujar Nadira, duduk di samping Abiyasa dan melepas tas sekolahnya yang berat.
Abiyasa memperhatikan wajah Nadira yang tampak sedikit lelah namun ceria. Tangannya terangkat, mengusap lembut puncak kepala Nadira yang tertutup helai rambut halus.
"Bagaimana sekolahmu hari ini? Ada masalah?"
Nadira menoleh, menatap mata hangat Abiyasa. Rasa canggung yang tadi pagi sempat ada kini menguap begitu saja saat merasakan sentuhan lembut pria itu.
"Enggak ada, Mas. Semuanya lancar. Sheila emang sempat kepo banget, tapi habis aku jelasin soal yayasan, dia percaya," cerita Nadira antusias, tangannya tak sadar menggamit lengan Abiyasa. "Terus... soal Kak Raka, aku beneran udah selesaiin semuanya. Jadi Mas Abi nggak usah cemburu-cemburu lagi, ya!"
Abiyasa menaikan sebelah alisnya. "Siapa yang cemburu?"
"Halah, kemarin sore yang mukanya kayak mau melahap orang pas ngelihat Kak Raka siapa coba kalau bukan Mas Abi?" cibir Nadira seraya memutar matanya.
Abiyasa diam sejenak, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Nadira hingga napas hangatnya berembus di kulit leher gadis itu. "Saya tidak cemburu pada anak SMA, Nadira. Saya hanya menegaskan hak milik."
Tubuh Nadira meremang seketika. Pipinya kembali memerah seperti buah tomat rebus. "M-Mas Abi! Ada Pak Maman di depan, ih!" bisik Nadira panik seraya menepuk dada Abiyasa pelan.
Pak Maman yang melihat interaksi manis itu dari kaca spion tengah hanya bisa tersenyum lebar, merasa bahagia melihat bos besarnya yang dulunya sedingin es kini bisa tertawa dan bermanja-manja dengan sang istri muda.
"Pak Maman, kita tidak langsung pulang ke penthouse," ujar Abiyasa mengalihkan pandangan, kembali menatap Nadira yang masih salah tingkah.
"Lho, mau ke mana dulu, Mas?" tanya Nadira bingung.
"Kita mau makan malam di luar. Hanya kita berdua," jawab Abiyasa mantap. Tangannya turun dari kepala Nadira, lalu menggenggam jemari kecil gadis itu di atas pangkuan mereka, menyatukan sela-sela jari mereka dengan sangat erat. "Hari ini kamu sudah menjadi anak baik dan menyelesaikan masalahmu dengan dewasa. Ini hadiah dari saya."
Nadira menatap genggaman tangan mereka yang hangat, lalu mengangkat wajahnya menatap Abiyasa. Sebuah senyuman paling manis dan bahagia terukir di bibirnya.
"Makasih ya, Mas Abi... suami es saya yang paling ganteng," bisik Nadira riang, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Abiyasa.
Abiyasa tidak membalas dengan kata-kata, ia hanya mengencangkan genggaman tangannya dan mengecup puncak kepala Nadira dengan lembut saat mobil perlahan melaju menembus senja Jakarta yang indah. Perjalanan pernikahan tanpa cinta ini kini telah menemukan arahnya yang sejati.