Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.
Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.
Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23
***
Pagi harinya, suasana di Mansion Elard dibalut oleh keheningan yang amat canggung. Sinar matahari tipis menerobos gorden sutra kamar utama, membiaskan cahaya keemasan di atas meja nakas yang dipenuhi oleh deretan termometer, pengukur tekanan darah digital, dan beberapa botol air mineral.
Usai perkelahian hebat dengan Kakek Hendra semalam, Kenzo memilih tidak berangkat ke kantor pusat Elard Corporation. Jas kerjanya tergeletak kaku di atas sofa, sementara pria tegap itu hanya mengenakan kemeja putih bersantai yang lengannya tergulung kaku hingga siku. Matanya yang memerah dan lingkaran hitam di bawah kelopak matanya menegaskan bahwa ia sama sekali tidak memejamkan mata sepanjang malam, diliputi oleh rasa bersalah yang terus menggerogoti dadanya.
Di atas ranjang king-size, Alana perlahan bergerak. Selimut tebal menyelimuti tubuhnya yang tampak kian tirus. Wajahnya seputih porselen pecah, bibirnya yang kering tanpa warna terkatup rapat.
Ketuk! Ketuk! Ketuk!
Suara ketukan pintu yang teratur memecah keheningan kamar. Pelayan senior mansion, Bibi Rika, melangkah masuk membawa nampan perak berisi semangkuk bubur ayam halus yang masih mengepulkan uap hangat, secangkir teh chamomile manis, dan segelas air hangat.
"Tuan Muda, Nyonya Muda... sarapan pagi dan nutrisi pemulihan sudah disiapkan oleh tim dapur," ujar Bibi Rika pelan, membungkuk sopan seraya meletakkan nampan perak itu di atas meja samping ranjang.
Kenzo mengangguk pelan, suaranya berat dan serak. "Terima kasih, Bi. Biarkan di sana."
Alana mencoba mendudukkan tubuhnya perlahan. Kenzo yang sigap langsung bergerak mendekat, menyangga punggung kurus istrinya dan menata dua bantal empuk di belakang kepalanya dengan penuh kehati-hatian—seolah wanita di hadapannya adalah patung kaca yang amat rapuh dan mudah hancur.
"Pelan-pelan, Alana..." bisik Kenzo dengan nada suara yang begitu lembut, hampir bagaikan permohonan. "Kamu harus makan sedikit pagi ini agar staminamu tidak terlalu drop."
Alana menatap Kenzo datar, tanpa mengeluh atau membantah. "Baik, Mas Kenzo. Saya akan menghabiskannya agar bayi ini mendapat asupan nutrisi."
Alana mengulurkan tangannya yang dingin, meraih mangkuk porselen berisi bubur hangat tersebut. Namun, tepat ketika aroma gurih minyak wijen, kuah kaldu, dan potongan daging ayam dari mangkuk itu menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya, perut Alana seketika bergolak hebat.
Glek.
Rasa mual yang teramat sangat, tajam, dan melilit mendadak membakar dasar dadanya. Efek trauma pendarahan bulan lalu yang belum pulih total, beradu dengan reaksi hyperemesis gravidarum—mual kehamilan tingkat parah yang dipicu oleh stres psikologis dan kecemasan tinggi—sekilas merobek pertahanan fisik Alana.
Wajah Alana seketika berubah pucat pasi, matanya membelalak kaget. Handuk kecil yang dipegangnya terlepas, dan mangkuk porselen di tangannya hampir saja jatuh jika Kenzo tidak menyambarnya dengan cepat.
"Ngh... uhuk!" Alana menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan, tubuhnya berguncang hebat oleh dorongan mual yang tak tertahankan.
"Alana?!" seru Kenzo panik, jantungnya serasa berhenti berdetak saat itu juga.
Tanpa menunggu hitungan detik, Alana menyibak selimutnya dengan gemetar, menyeret langkah kakinya yang tak bersendi bergegas menuju kamar mandi utama.
Brak!
Alana berlutut kaku di hadapan wastafel dan toilet marmer, membiarkan rasa mual yang membakar itu meluap.
"Uwekkk...! Uhuk... uhuk...!"
Rasa panas menyengat tenggorokannya. Namun, karena perutnya benar-benar kosong sejak semalam, tidak ada makanan yang bisa ia keluarkan. Yang muntah keluar hanyalah cairan asam lambung yang pahit bercampur uap liur, menyiksa dinding kerongkongannya yang kering hingga dada Alana terasa bagaikan terbakar belati tajam.
"Alana!"
Kenzo berhamburan masuk ke dalam kamar mandi, menyusul di belakang istrinya. Pria tegap yang biasanya memerintah ratusan karyawan dengan keangkuhan dingin itu kini berlutut tanpa ragu di atas lantai marmer kamar mandi yang dingin.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Kenzo merengkuh tubuh kurus Alana dari belakang, memegangi dahi istrinya yang dingin dan penuh peluh dengan telapak tangannya yang hangat. Tangannya yang lain meremas lembut jemari Alana yang mencengkeram tepi wastafel.
"Uwekkk...! Ngggh... S-sakit..." erang Alana lirih, suaranya parau dan habis di tenggorokan. Tubuhnya berguncang hebat oleh dorongan kejang perut yang terus-menerus memukulinya dari dalam.
"Ssshh... keluarkan semuanya, Alana... keluarkan..." isak Kenzo dengan suara yang pecah. Air mata pria itu menetes tanpa bisa ditahan lagi, jatuh membasahi pundak gaun tidur Alana.
Kondisi fisik Alana begitu mengenaskan. Setiap kali dorongan mual itu datang, napas Alana tersengal-sengal, dadanya naik turun tak teratur, dan matanya memerah menahan rasa sakit yang luar biasa. Pendarahan parah bulan lalu telah menguras daya tahan tubuhnya, dan kini kehamilan muda yang dipaksakan oleh keadaan membuat raganya tak sanggup menahan siksaan biologi ini.
Melihat Alana tersiksa hingga lemas tak berdaya dalam dekapannya, sebuah pemikiran mengerikan mendadak menghantam kepala Kenzo bagaikan petir di siang bolong.
Apakah... apakah tubuh Alana sedang menolak janin ini? Apakah raganya begitu membenci saya dan pernikahan ini sampai-sampai tubuhnya menolak darah daging saya sendiri?
Pikiran itu merobek batin Kenzo hingga hancur berkeping-keping. Pria itu merasa bahwa penderitaan fisik, rasa mual yang membakar, dan kelemahan Alana saat ini adalah hukuman setimpal atas dosa-dosanya di masa lalu—atas bentakannya, atas tuntutan kewajiban ranjangnya, dan atas pembiarannya terhadap kekejaman ibunya.
"Maafkan aku... demi Tuhan, maafkan aku, Alana..." tangis Kenzo pecah seraya memeluk erat tubuh Alana yang terkulai lemas di dadanya. Pria itu menempelkan pipinya ke pelipis istrinya yang basah oleh keringat dingin. "Ini semua salahku... Ini dosa-dosaku yang menyiksamu seperti ini... Hukum aku saja, Alana... jangan siksa tubuhmu sendiri seperti ini..."
Alana bersandar lemas pada dada bidang Kenzo. Napasnya pendek-pendek dan terasa sangat panas. Manik matanya yang redup menatap bayangan suaminya di cermin wastafel.
Tidak ada kehangatan dari pelukan erat Kenzo yang mampu menembus hatinya. Alana menatap air mata Kenzo yang menetes di bahunya dengan pandangan yang benar-benar hampa.
"Saya... tidak membenci bayi ini, Mas Kenzo," bisik Alana sangat lirih, suaranya tipis bagaikan hembusan angin malam. "Tubuh saya hanya... lelah. Sangat lelah."
Kata-kata 'sangat lelah' itu diucapkan tanpa nada amarah, namun justru terasa seribu kali lebih membunuh daripada caci maki.
Kenzo menyeka bibir dan wajah Alana menggunakan handuk basah dengan jemari yang bergetar. Dengan lembut namun protektif, Kenzo mengangkat tubuh kecil Alana ke dalam bopongannya, memindahkannya kembali ke atas ranjang dengan sangat perlahan.
Kenzo berdiri tegap di samping tempat tidur, menyapu air matanya kasar seraya menatap nampan sarapan berisi bubur ayam dari dapur yang masih berdiri di meja nakas. Rasa curiga dan kecemasan obsesif mendadak meluap di dalam kepalanya.
"Bibi Rika!" bentak Kenzo dengan suara berat yang menekan ke arah luar kamar.
Bibi Rika terburu-buru masuk dengan wajah cemas. "Y-ya, Tuan Muda?!"
"Bawa keluar makanan ini sekarang juga!" perintah Kenzo tajam, matanya berkilat penuh intimidasi dan ketegangan. "Aroma kaldu dan minyak ini terlalu menyengat! Makanan dapur tidak ada yang boleh diberikan pada Alana lagi!"
"T-tapi Tuan... koki dapur sudah memasaknya sesuai standar nutrisi—"
"Saya bilang bawa keluar!" potong Kenzo dengan bentakan menggelegar yang membungkam pelayan itu seketika.
Bersambung...