Sejak lahir, Maria Cecília Santana hanya mengenal satu hal: bertahan hidup.
Dibuang di depan gerbang panti asuhan, dibesarkan dalam lapar dan luka, ia belajar bahwa perasaan adalah kemewahan yang tak mampu ia miliki. Namun ketika ia akhirnya berani bermimpi tentang hidup yang biasa-biasa saja, takdir mempertemukannya dengan pria yang seharusnya tak pernah ia sentuh.
Paolo Salvatore. CEO yang dingin, tampan, dan tak tersentuh. Di balik kerajaan bisnisnya, ia adalah Dom—penguasa salah satu famiglia mafia paling ditakuti di Italia. Pria yang tak dilahirkan untuk mencintai, hanya untuk memerintah.
Satu tatapan. Satu sentuhan. Dan dunia keduanya mulai retak.
Tapi Cecília menyimpan rahasia yang bahkan tak ia sadari—sebuah masa lalu yang terkubur, sebuah nama yang hilang, dan kebenaran yang cukup berbahaya untuk menyulut perang antarkeluarga. Ketika bayang-bayang dari masa silam mulai memburunya, Paolo harus memilih: melindungi kerajaannya, atau melindungi satu-satunya wanita yang berhasil menembus dinding hatinya.
Dari yatim piatu yang tak diinginkan… menjadi ratu di sisi seorang raja kegelapan.
Cinta yang berbahaya. Rahasia yang mematikan. Dan seorang wanita yang menolak untuk sekadar bertahan hidup—kali ini, ia akan berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa yang Akan Datang
POV Paolo
Dua minggu.
Empat belas hari sudah cukup untuk mengubah hal-hal yang kubangun bertahun-tahun di dalam diriku. Atau, mungkin... untuk meruntuhkan tembok-tembok yang kupura-purakan tak terhancurkan.
Yang jelas, dalam waktu singkat, semuanya keluar dari poros.
Dan, anehnya... aku tak ingin semuanya kembali seperti semula.
Dua pasang kekasih.
Kalau ada yang melihat dari luar, mungkin akan mengiranya kebetulan. Tapi aku tahu bukan.
Pietro dan Ana Paula. Menggelora, lugas, tanpa takut. Seperti dirinya. Seperti dirinya.
Dan lalu... kami. Aku dan Maria Cecília. Pasangan yang paling mustahil. Atau mungkin... yang paling tak terelakkan.
Reaksi orang-orang hampir bisa ditebak. Terkejut. Terguncang. Curiga.
Aku melihatnya di tatapan mereka. Di komentar-komentar terselubung. Di keheningan yang muncul saat aku lewat dengan dia di sisiku.
Karena tak ada yang menyangka itu dariku. Tak seorang pun.
Aku dikenal karena banyak hal. Dingin. Penuh perhitungan. Menjaga jarak. Seorang pria yang tak melibatkan diri. Yang tak mengikat diri. Yang tak merasa.
Dan, tiba-tiba... aku berdiri di sana. Menggenggam tangan seorang wanita. Mengakuinya. Tanpa menyembunyikan. Tanpa menyangkal.
Dan lebih dari itu... berkata, tanpa ragu:
"Dia milikku."
Dan itu bukan sekadar kalimat. Itu sebuah kepastian. Berat. Final.
Maria Cecília Santana... adalah wanita yang kupilih.
Dan itu, dengan sendirinya, sudah mengubah segalanya.
Tapi, seperti segala hal yang melibatkan dia... tak ada yang sederhana.
Aku ingin ia bersamaku. Di rumahku. Dalam hidupku. Secara utuh. Alami. Seakan ia sudah menjadi bagian dari segalanya.
Dan, bagiku... ia memang sudah begitu.
Tapi, baginya... keadaannya berbeda.
"Ini tidak pantas, Paolo."
Cara ia mengatakan itu... Tenang. Tegas. Tanpa arogansi. Tanpa takut.
"Kita belum menikah."
Aku mengamatinya dalam diam.
Wanita lain mana pun... pasti sudah menerima tanpa berpikir. Tanpa mempertanyakan. Tinggal di rumah sang Dom. Memiliki segalanya. Kenyamanan. Kemewahan. Status.
Tapi ia tidak. Ia menolak. Sesederhana itu. Tanpa ragu.
Dan, alih-alih membuatku jengkel... itu justru membuatku makin menghormatinya. Mengaguminya. Makin menginginkannya.
Karena ia tak menginginkan apa yang bisa kutawarkan. Ia menginginkan... apa yang benar.
Dan itu... itu langka. Nyaris tak ada.
"Kamu keras kepala," kataku, dengan nada rendah.
Ia tersenyum tipis.
"Aku konsisten."
Dan aku tak membantah. Karena, jauh di dalam hati... aku tahu. Ia benar.
Maria Cecília tak seperti siapa pun yang pernah kukenal. Ia tak silau oleh kekuasaan. Tak terhanyut oleh kemewahan. Tak menunduk demi kemudahan.
Ia... berintegritas.
Dan itu, di dunia seperti duniaku... berbahaya. Tapi juga... membuat ketagihan.
Sore itu, aku berada di kantorku. Mencoba bekerja. Tapi, seperti hari-hari terakhir ini... pikiranku tak mau bekerja sama. Selalu kembali padanya. Pada caranya. Pada tatapannya. Pada sentuhannya. Pada cara ia membuatku merasakan hal-hal yang selalu kuabaikan. Atau kuhindari. Atau kusangkal.
Ketukan di pintu menarikku kembali.
"Dom?"
"Masuk."
Laura masuk. Postur sempurna. Profesional seperti biasa.
"Detektif itu sudah di sini."
Aku terdiam sedetik. Lalu teringat.
Tentu saja. Investigasi itu. Masa lalunya. Maria Cecília.
Aku telah meminta itu sebelum semuanya terjadi — meminta ia melakukan investigasi yang lebih menyeluruh. Sebelum aku tahu. Sebelum aku merasa. Sebelum aku... terlibat.
"Suruh masuk."
Suaraku keluar lebih pelan dari biasanya.
Laura mengangguk dan keluar.
Beberapa detik kemudian... ia masuk. Pria yang kusewa. Bijak menyimpan rahasia. Efisien.
Dan, pada saat itu... dengan ekspresi yang tak menyenangkanku.
Ia menutup pintu di belakangnya. Lalu mendatangi meja. Tanpa berbelit. Tanpa formalitas.
"Dom."
"Duduklah."
Ia duduk. Tapi tak bersantai. Dan itu sudah cukup untuk memicu peringatan dalam diriku.
Ia meletakkan sebuah map di atas meja. Perlahan.
"Biasanya saya akan mengirim ini lewat surel."
Jeda.
"Tapi... dalam kasus ini... saya rasa lebih baik datang langsung."
Rahangku mengencang.
"Kenapa?"
Ia menatapku lurus.
"Karena isi ini..."
Ia menyentuh map itu dengan jari.
"...adalah sebuah bom."
Hening. Berat.
"Dan, sejujurnya?"
Ia mendesah pelan.
"Darah saya sendiri sampai mendidih saat membacanya."
Itu bukan pertanda baik. Sama sekali tidak.
Aku tak berkata apa pun. Hanya mempertahankan tatapan tajamku.
"Semoga Anda dalam keadaan berkepala dingin."
Suaraku keluar pelan. Terkendali.
"Selalu."
Ia mengangguk. Mendorong map itu ke arahku.
"Kalau begitu... semoga berhasil."
Hening.
Ia bangkit.
"Pembayarannya sudah masuk ke rekening Anda," kataku, tanpa mengalihkan tatapan.
"Terima kasih."
Ia keluar. Pintu tertutup. Dan keheningan kembali. Lebih berat dari sebelumnya.
Aku menatap map itu. Tanpa menyentuhnya. Selama beberapa detik. Mungkin beberapa menit. Aku tak tahu.
Tapi aku merasakannya. Sesuatu di sana... akan mengubah segalanya.
Dan, kali ini... ini bukan soal bisnis. Bukan soal kekuasaan.
Ini soal dia. Maria Cecília.
Kuusap wajahku. Kutarik napas dalam-dalam. Dan berpikir:
Apa pun isinya... akan kuhadapi. Karena itulah yang selalu kulakukan. Menghadapi. Tanpa mundur. Tanpa lari.
Tapi, kali ini... berbeda. Karena ini bukan cuma soal aku. Ini soal seseorang yang, dengan cara tertentu... sudah menjadi bagian penting dalam hidupku.
Tanganku akhirnya bergerak. Menyentuh map itu. Membukanya. Perlahan. Merasakan bobot setiap detik. Setiap kemungkinan. Setiap jawaban yang mungkin ada di dalamnya.
Dan, pada saat itu... satu hal saja yang melintas di kepalaku:
"Biarkan permainan dimulai."