Sejak kecil, Keira hidup jauh dari keluarganya. Ketika akhirnya mereka kembali dan ia berharap menemukan kehangatan yang selama ini dirindukannya, kenyataan justru menghancurkan harapannya.
Di rumah itu, ada seorang anak yang diperlakukan bak permata, sementara Keira hanya dianggap sebagai seseorang yang kebetulan memiliki hubungan darah dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"Kasihan sekali..."
"Mungkin ia sudah dianggap tak berharga, atau justru ia yang dibuang oleh kedua orang tuanya sendiri."
"Siapa tahu ia adalah anak yang membawa sial bagi keluarganya."
"Benar, bukankah ia anak yang selalu berusaha mencari perhatian kemarin?"
"Memang begitu adanya... anak yang penuh kepura-puraan sekaligus pembawa sial. Pergilah saja dari sini, kau hanya merusak suasana."
"Mengapa kau tak membantah mereka? Mengapa kau diam saja seolah semua yang mereka ucapkan itu benar?" Keyna menghampiri saudaranya dengan amarah yang meluap. Ia tak sanggup menerima bahwa orang tuanya sendiri justru dikatakan telah tiada oleh mulut orang lain.
"Jawab mereka, Keira!!" bentak Keyna sekuat tenaga.
"Janganlah berteriak demikian, nanti jantungmu sendiri yang tak kuat menahannya," jawab Keira tenang, seolah tak tersentuh sedikit pun oleh amarah saudaranya.
"Jawab aku, Keira! Mengapa kau tak katakan kepada mereka bahwa kau pun memiliki Ayah dan Ibu?"
"Sia-sia saja," jawab Keira singkat.
"Apa maksudmu dengan kata sia-sia?" Keyna tak terima mendengar jawaban yang begitu pasrah.
"Mereka tak akan pernah percaya... Apa yang kau harapkan? Apakah mereka akan percaya begitu saja? Selama aku bersekolah di sini, tak pernah ada satu pun yang melihatku bersama orang tuaku. Bahkan saat mengambil rapor pun, aku sendirian."
Keira pun melangkah pergi meninggalkan saudaranya yang masih terpaku dalam diam, membiarkan kata-kata itu menjelma menjadi luka yang tak sanggup Keyna sembuhkan.
"Adek-adek.. saya sudah membagi kru dan juga membawa bendera lima. Setelah itu, kembalilah. Ikuti peraturan dan jangan sampai ada yang hilang."
"Keira, kamu ditempatkan di regu mana?" tanya Keyna dengan antusias dari sebelah Keira.
Keira melirik sekilas, lalu kembali menatap ke depan. "Regu A," jawabnya singkat.
"Kenapa bukan regu C? Aku malah masuk regu C!" Keyna terdengar kecewa, wajahnya merosot tak menyangka mereka tak bisa bersama.
"Hm," gumam Keira pelan, tak berniat menjelaskan.
"Jaga dirimu baik-baik," ucap Keira, lalu berjalan mengikuti kelompoknya.
"Kamu juga, Keira!" seru Keyna sambil melambaikan tangan.
"Tunggu aku, ya!" teriaknya sekali lagi, lalu menyusul anggota regunya.
"Keira, ada apa?" tanya Leon, salah satu teman satu kelompok Keira, saat melihat Keira tiba-tiba berhenti melangkah.
"Tak apa, ayo lanjut," jawab Keira. Sebenarnya, sejak tadi hatinya terasa tak tenang, entah karena apa.
"Baik, menurut peta, kita lewat jalan kiri," perintah ketua kelompok, lalu berjalan di depan.
Semua orang mengikutinya agar tak tersesat. Mereka sudah mendapatkan tiga bendera, tinggal dua lagi yang harus dicari.
Keira menatap sekeliling sambil terus berjalan mengikuti ketuanya. Jujur saja, hutan ini terasa sangat menyeramkan. Banyak hewan yang tak ia kenal, dan semuanya tampak berbahaya. Ia bahkan sudah menemukan beberapa ular di sepanjang jalan.
Padahal, tempat perkemahan seharusnya sudah diperiksa terlebih dahulu, apakah aman atau tidak, bukan malah langsung digunakan begitu saja.
Sia-sia saja sekolah memungut biaya mahal-mahal jika tak bisa menjamin keselamatan dan kenyamanan siswanya.
"Ambil bendera itu," ucap ketua kelompok Keyna dengan nada tidak suka.
"Tapi tingginya, Kak," jawab Keyna, wajahnya tampak takut.
"Ambil saja!" bentak ketua itu. Keyna terpaksa mengambilnya meski gemetar ketakutan.
Saat berhasil meraih bendera, tubuhnya didorong dari belakang. Ia terjatuh, dan lututnya langsung berdarah.
"Sakit," keluhnya pelan.
"Lemah sekali," ucap salah satu teman. Mereka pun pergi meninggalkannya sendirian. Sejak awal, mereka memang tak menyukai Keyna, mungkin karena iri dan menganggapnya lemah.
"Tunggu aku!" teriak Keyna sambil berusaha mengejar. Hatinya terasa perih. Ia tak pernah diperlakukan seperti ini sejak kecil.
Bendera itu ternyata tergantung di atas pohon, tepat di tepi jurang yang cukup dalam.
"Tapi di bawahnya ada jurang," kata Keyna pelan.
"Siapa peduli? Ambil saja!" bentak ketua, Dimas, dengan kasar.
Dimas sendiri sebenarnya ragu melihat bendera itu berada di tepi jurang. Tapi karena sudah lelah, ia memerintahkan Keyna untuk mengambilnya.
"Tapi.."
"Berisik! Cepat ambil!" bentak Dimas lagi, tak sabar.
"Baik, Kak," jawab Keyna pasrah. Ia berusaha menjangkau bendera itu. Namun saat tangannya hampir menyentuhnya, kakinya terpeleset. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh ke dalam jurang. Tubuhnya berguling-guling di lereng curam, hingga luka-luka menggores kulitnya.