"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."
"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."
Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.
Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.
Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.
Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.
Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.
Namun Diandra sudah terlanjur terluka.
Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Tekad di Balik Luka
“Anak kemarin sore berani sekali menantangku.”
Tatapan Bastian mengeras. Dalam hitungan detik, emosinya meledak dan perkelahian antara dirinya dan Sean tak dapat lagi dihindari.
Suara keributan membuat para satpam, pembantu, dan tukang kebun berhamburan keluar. Serly pun ikut datang bersama Azzam dan Azzura. Kedua anak itu langsung ketakutan ketika melihat ayah mereka berkelahi.
“Jangan ada yang ikut campur!” bentak Bastian saat beberapa satpam hendak melerai.
Azzam dan Azzura yang ingin mendekati ayahnya segera ditahan oleh para satpam dan pembantu.
“Daddy!” teriak Azzam sambil menangis.
“Daddy jangan berantem!” Azzura ikut menangis ketakutan.
Namun Bastian seolah tidak mendengar apa pun. Perhatiannya hanya tertuju kepada Sean.
Bastian mencengkeram kerah kemeja Sean, kemudian melayangkan pukulan keras hingga Sean terhuyung dan jatuh ke permukaan jalan.
Belum sempat Sean bangkit, Bastian sudah kembali menghampirinya.
“Mana keberanianmu tadi?” geram Bastian.
Dari dalam mobil, Diandra menyaksikan semuanya dengan tubuh gemetar.
“SEAN!”
Ia spontan hendak membuka pintu, tetapi suara Sean terdengar dari luar.
“Jangan keluar, Diandra!”
Sean berusaha bangkit meski napasnya tersengal.
“Pergi dari sini!”
“Mas Bastian, cukup!” Serly akhirnya berani mendekat. “Kenapa kamu sampai seperti ini? Sean adik aku!”
“Jangan ikut campur, Serly!”
Bentakan Bastian membuat Serly terdiam.
Bastian kembali menatap ke arah mobil. Diandra masih berada di dalam sana, pucat dan ketakutan.
“Sayang,” ucap Bastian dengan suara rendah namun mengancam, “kamu masih mau bersembunyi di dalam mobil?”
Diandra menggenggam erat gagang pintu.
“Kalau kamu tetap tidak mau keluar, jangan salahkan aku kalau Sean yang menanggung akibatnya.”
“Jangan sentuh dia!” suara Diandra bergetar.
Sean segera menyela.
“Diandra, jangan keluar. Tolong.”
Bastian tersenyum tipis, tetapi tatapannya sama sekali tidak menunjukkan kelembutan.
“Keluar sekarang, Diandra.”
Diandra terdiam.
Ia takut pada Bastian. Namun melihat Sean dalam keadaan seperti itu membuat hatinya semakin tidak tega.
“Ayo, Sayang,” desak Bastian. “Datang kemari dengan baik-baik. Jangan sampai aku sendiri yang menghampirimu.”
Diandra memejamkan mata sejenak. Ia tahu, jika keluar dari mobil, mungkin kebebasannya akan kembali berakhir.
Namun jika tetap diam, ia takut Bastian akan semakin menyakiti Sean.
“SUDAH CUKUP!”
Teriakan Diandra akhirnya terdengar.
Bastian menghentikan langkahnya. Ia menatap mobil dengan sorot mata tajam.
Sementara itu, Diandra perlahan membuka pintu mobil. Tangannya masih gemetar.
“Aku keluar, tapi jangan sakiti Sean lagi.”
Bastian tidak menjawab.
Ia hanya menatap istrinya yang akhirnya keluar dari mobil—perempuan yang selama ini berusaha meninggalkannya, tetapi justru semakin membuatnya sadar betapa besar ketakutannya kehilangan Diandra.
“DADDY!”
Azzam tiba-tiba menggigit tangan satpam yang menahannya. Setelah berhasil melepaskan diri, bocah itu berlari sekencang mungkin menuju Bastian.
“Jangan dekat-dekat Mommy! Pergi dari sini Mommy!”
“Azzam, jangan ikut campur!” bentak Bastian.
Bastian mencoba menyingkirkan putranya, tetapi Azzam justru memeluk lengannya erat.
“Azzam nggak akan biarin Daddy menyakiti Mommy!”
“Azzam!”
Bastian mengerang ketika putranya kembali menggigit tangannya. Emosi Bastian semakin tersulut. Ia refleks mencengkeram lengan Azzam untuk melepaskannya.
“Azzam!”
Diandra panik melihat putranya diperlakukan seperti itu. Ia hendak turun dari mobil, tetapi saat itulah Sean yang sebelumnya terjatuh berhasil merangkak mendekati mobil.
Diandra segera membuka pintu.
“Sean, cepat masuk!”
Sean menahan rasa sakit dan masuk ke dalam mobil dengan susah payah.
“Diandra, kita harus pergi sekarang.”
“Tapi Azzam…”
Diandra menoleh. Azzam masih berdiri di antara Bastian dan para satpam, berusaha mempertahankan ibunya.
Serly pun mencoba menarik Azzam menjauh.
“Ayo, Azzam. Jangan begini. Ikut Mama.”
“NGGAK! Azzam mau sama Mommy!”
Sean segera menyalakan mesin.
“Diandra, kalau kamu tetap keras kepala, keadaan akan semakin buruk.”
Diandra menggigit bibir. Matanya berkaca-kaca saat menatap putranya dari balik jendela.
Azzam pun menatap balik.
Bocah itu mengangkat tangannya dan melambaikan tangan sambil tersenyum. Namun air mata yang terus mengalir di pipinya membuat senyum itu terlihat begitu menyedihkan.
“Mommy…”
Diandra mengangkat telapak tangannya dan menempelkannya pada kaca.
“Azzam…”
“Mommy hati-hati, ya. Azzam sayang Mommy.”
Dada Diandra terasa sesak.
“Maafin Mommy, Sayang. Mommy belum bisa menepati janji untuk membawa Azzam pergi bersama Mommy.”
Azzam menggeleng cepat sambil menghapus air matanya dengan ujung kaus.
“Mommy pergi aja. Azzam nggak apa-apa.”
Kalimat sederhana itu justru membuat hati Diandra semakin hancur.
Sean menggenggam kemudi lebih erat.
“Diandra, kita harus pergi.”
Diandra mengangguk dengan air mata yang akhirnya jatuh.
Mobil perlahan bergerak meninggalkan halaman.
“DIANDRA!”
Bastian baru menyadari mobil itu sudah menjauh. Dengan wajah penuh amarah, ia melepaskan tangannya dari Azzam dan berlari menuju rumah.
“Mas Bastian, jangan!” Serly mengejar dan berusaha menahan lengannya.
Namun Bastian tidak menghiraukannya.
“Aku harus mengejar mereka!”
“Mas, biarkan Diandra pergi. Kejar-kejaran seperti ini nggak akan menyelesaikan apa pun!”
Bastian tetap masuk ke dalam mobil. Beberapa detik kemudian, mobilnya melesat keluar dari halaman untuk mengejar Diandra dan Sean.
Serly hanya bisa berdiri terpaku.
“Ya ampun…” gumamnya kesal. “Katanya sudah nggak peduli. Tapi setiap Diandra benar-benar pergi, Mas Bastian selalu mengejarnya.”
Tangisan Azzura membuat Serly menoleh.
“Mamaaa…”
Serly segera menghampiri putrinya dan memeluknya.
“Sayang, jangan menangis. Daddy pasti pulang.”
Sementara itu, Azzam masih berdiri seorang diri di tengah halaman. Tatapannya kosong mengikuti arah mobil yang membawa ibunya pergi.
“Den Azzam…”
Bi Lastri menghampirinya perlahan.
“Ayo, Den. Kita masuk ke rumah.”
Azzam tidak menjawab.
Ia hanya terus menatap jalan yang kini sudah kosong.
Dalam hati kecilnya, ia hanya berharap Mommy-nya benar-benar menemukan kebahagiaan yang selama ini ia cari.
Dan untuk pertama kalinya, Azzam menyadari bahwa terkadang mencintai seseorang berarti harus rela membiarkannya pergi.
“Azzam yang menyuruh Mommy pergi, Bi… tapi sebenarnya Azzam nggak mau Mommy pergi.”
Suara Azzam bergetar. Ia menunduk, berusaha menahan tangis yang sejak tadi memenuhi matanya.
Bi Lastri mengusap kepala bocah itu dengan lembut.
“Bibi tahu, Den. Bibi juga berat melihat Non Diandra pergi.”
Azzam mengangkat wajahnya.
“Kalau begitu… Azzam masih bisa ketemu Mommy lagi, kan, Bi?”
Bi Lastri terdiam sejenak. Ia sendiri tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa.
“Bibi nggak bisa janji, Den.”
Mata Azzam kembali berkaca-kaca.
“Kalau nanti Bibi ketemu Mommy, bilang sama Mommy… Azzam akan selalu sayang sama Mommy. Azzam nggak pernah berhenti sayang.”
Bi Lastri mengangguk sambil menahan air mata.
“Iya, Den. Bibi akan menyampaikannya.”
Ia kemudian merangkul pundak Azzam.
“Sekarang kita masuk, ya. Jangan berdiri sendirian di sini.”
Azzam akhirnya mengikuti Bi Lastri masuk ke rumah, tetapi sesekali ia masih menoleh ke arah jalan, seolah berharap mobil ibunya kembali.
Di tempat lain, Bastian tidak berniat membiarkan Diandra pergi begitu saja.
Ia segera menghubungi salah satu orang kepercayaannya.
“Cari mobil dengan nomor pelat yang sudah aku kirim. Ikuti dari jarak aman dan laporkan setiap pergerakannya.”
“Baik, Pak.”
Panggilan berakhir.
Bastian langsung menginjak pedal gas lebih dalam. Wajahnya menegang ketika pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.
“Sean…”
Tangannya mencengkeram kemudi.
“Berani sekali kamu membawa Diandra pergi.”
Sepanjang perjalanan, Bastian terus mengikuti petunjuk yang diberikan orangnya. Ia tidak peduli dengan kecepatan mobilnya. Satu hal yang ada dalam pikirannya hanya menemukan Diandra sebelum perempuan itu semakin jauh darinya.
“Jangan kira kamu bisa menghilang begitu saja.”
Tak lama kemudian, informasi baru masuk.
“Pak, kendaraan yang Anda cari terlihat di depan. Kami akan mengarahkan kendaraan Anda ke sana.”
“Pastikan jangan sampai kehilangan mereka.”
“Siap, Pak.”
Bastian mempercepat laju mobil.
Beberapa menit kemudian, ia melihat mobil yang diyakininya milik Sean. Kendaraan itu melaju melewati sebuah persimpangan.
“Itu dia.”
Bastian segera mengikutinya.
Namun tiba-tiba mobil Sean berbelok ke arah lain dan menghilang di balik deretan kendaraan.
“Jangan main-main denganku.”
Bastian terus mengejar.
Tak lama kemudian, beberapa kendaraan milik orang-orangnya bergerak dari arah berbeda dan berhasil menghadang mobil yang dikejar.
Mobil Sean akhirnya berhenti.
Bastian mengembuskan napas lega. Ia segera turun dan menghampiri kendaraan tersebut.
Tanpa banyak bicara, ia mengetuk kaca jendela.
Beberapa detik kemudian, kaca mobil turun perlahan.
Sean duduk bersandar di kursinya. Kondisinya masih terlihat lelah akibat pertarungan sebelumnya, tetapi anehnya, sebuah seringai justru muncul di wajahnya.
“Halo, Bang.”
Bastian mengernyit.
Ia langsung melihat ke dalam mobil.
Tidak ada Diandra.
Tatapannya berubah tajam.
“Di mana Diandra?”
Sean hanya mengangkat bahu santai.
“Mana gue tahu.”
Bastian mencengkeram kerah bajunya.
“Jangan coba-coba mempermainkanku!”
Sean tetap tersenyum tipis.
“Kalau mau marah, silakan. Tapi satu hal yang harus lo tahu…”
Ia menatap Bastian lekat-lekat.
“Lo terlambat.”
Wajah Bastian seketika menegang.
“Diandra sudah pergi jauh sebelum lo sampai ke sini.”
Bastian menatap Sean penuh amarah. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa pengejaran ini mungkin tidak akan semudah yang ia bayangkan.
Bastian membuka pintu mobil dengan kasar lalu menarik Sean keluar. Tubuh Sean terdorong hingga punggungnya membentur sisi kendaraan.
“Kamu sengaja mempermainkanku?”
Alih-alih gentar, Sean justru terkekeh kecil.
Bastian mengangkat tangan, hendak melayangkan pukulan. Namun sebelum tangannya bergerak, suara deru sejumlah sepeda motor terdengar dari kejauhan.
Sean langsung tersenyum.
“Wah, kebetulan.”
Rombongan sekitar lima belas pengendara motor berhenti tidak jauh dari mereka. Salah seorang pria turun dan membuka helmnya.
“Bang Vincent!”
Sean melambaikan tangan.
Vincent, seorang dokter sekaligus teman dekat Sean dari komunitas motor, menghampirinya.
“Dari mana, Bang?”
“Dari tempat nongkrong. Kok malah ketemu kalian di sini?”
Tatapan Vincent kemudian beralih kepada Bastian dan beberapa pengawalnya.
“Ini ada masalah apa?”
“Bukan urusan kamu,” jawab Bastian dingin. “Pergi dari sini.”
Vincent mendengkus.
“Wah, gaya bicaramu seolah-olah jalan ini milikmu.”
Ia menarik Sean ke samping dan merangkul pundaknya.
“Dia teman gue. Kalau ada yang mau macam-macam sama Sean, berarti berhadapan juga sama gue.”
Vincent menoleh kepada belasan anggota komunitasnya.
“Kalian paham, kan?”
Mereka mengangguk serempak. Suasana mendadak menegang.
Sean menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Gimana, Bang? Masih mau lanjut?”
Bastian justru tertawa pendek.
“Kalian pikir jumlah orang sebanyak ini bisa membuatku takut?”
Ia melirik para pengawalnya yang berdiri di belakangnya.
“Aku nggak pernah mundur hanya karena dihadapkan pada banyak orang.”
Sean menghela napas.
Ia tahu Bastian bukan tipe orang yang mudah diintimidasi. Jika pertarungan benar-benar terjadi, keadaan bisa berubah menjadi jauh lebih buruk. Belasan anggota komunitas motor memang lebih banyak, tetapi beberapa di antara mereka sudah berkeluarga dan tentu tidak ingin masalah kecil berubah menjadi perkara besar.
“Kenapa diam?” tantang Bastian. “Kalau mau berduel, ayo.”
Sean mengangkat kedua tangannya.
“Tenang, Bang. Gue sebenarnya nggak tertarik ribut.”
“Lalu?”
Sean menatap Bastian serius.
“Gue justru mau kasih tahu sesuatu.”
Bastian mengernyit.
“Tadi gue memang pergi bersama Diandra. Tapi gue nggak bawa dia sampai ke tempat yang gue tuju.”
“Apa maksudmu?”
“Diandra gue turunkan di tempat yang menurut gue aman.”
Wajah Bastian seketika berubah.
“Di mana?”
Sean mengangkat bahu.
“Di pinggir jalan.”
Bastian langsung mencengkeram kerah bajunya.
“Kamu meninggalkan istriku sendirian?”
“Gue nggak punya pilihan. Dia harus menentukan sendiri mau pergi ke mana.”
“Di mana tepatnya?”
“Kalau gue bilang sekarang, lo bakal buang waktu berdebat sama gue.”
Sean menepis tangan Bastian dari kerahnya.
“Kalau lo benar-benar peduli sama Diandra, cari dia sekarang. Jalanan malam seperti ini bukan tempat yang aman untuk perempuan sendirian.”
Bastian terdiam beberapa detik.
“Kalau kamu memang nggak mampu menjaganya,” lanjut Sean, “jangan sok merasa paling berhak menentukan hidupnya.”
Rahang Bastian mengeras.
“Kamu nggak tahu apa-apa tentang hubungan kami.”
“Justru gue tahu cukup banyak untuk melihat kalau Diandra terluka karena lo.”
Ucapan itu membuat Bastian mengepalkan tangan.
Namun kali ini ia tidak meladeni provokasi tersebut.
Pikirannya langsung tertuju pada Diandra.
“Urusan kita belum selesai, Sean.”
Bastian memberi isyarat kepada para pengawalnya.
Mereka segera kembali menuju kendaraan.
Sebelum masuk ke mobil, Bastian menatap Sean untuk terakhir kalinya.
“Kalau sesuatu terjadi pada Diandra, kamu orang pertama yang akan aku cari.”
Sean hanya diam.
Bastian masuk ke dalam mobil lalu segera melaju meninggalkan tempat itu.
Di perjalanan, ia mengirimkan foto Diandra kepada seluruh orang kepercayaannya.
“Cari dia. Periksa setiap jalan yang mungkin dilewati. Jangan berhenti sebelum menemukan Diandra.”
“Baik, Pak.”
Bastian menggenggam kemudi erat.
Untuk pertama kalinya malam itu, amarahnya terhadap Sean tersisihkan oleh satu hal yang jauh lebih besar.
Kekhawatiran bahwa Diandra benar-benar telah pergi dari hidupnya.
“Itu tadi suami Diandra?” tanya Vincent setelah kendaraan Bastian benar-benar menghilang dari pandangan. “Yang dulu sempat terluka itu?”
Sean mengangguk.
“Iya, Bang. Makasih banyak sudah bantu gue tadi.”
“Ah, santai. Tapi sebenarnya ada masalah apa sampai suaminya mengejar kamu seperti itu?”
Sean menghela napas.
“Panjang ceritanya, Bang. Intinya, masalah rumah tangga.”
Vincent mengangguk pelan.
“Kalau begitu, hati-hati. Jangan sampai masalah kalian malah semakin besar.”
“Iya. Gue juga mau pulang dulu.”
Sean berpamitan kepada Vincent dan anggota komunitas lainnya, lalu masuk ke mobil.
Vincent memperhatikannya dengan khawatir.
“Lukamu sebaiknya diobati dulu.”
Sean terkekeh.
“Cuma luka ringan, Bang. Gue masih kuat.”
“Dasar keras kepala.”
Vincent mengacak rambut Sean sebelum kembali memasang helmnya.
“Hati-hati di jalan.”
“Siap.”
Sean pun pergi meninggalkan tempat itu.
Di sisi lain, Diandra berdiri bersembunyi di balik sebuah pohon. Berkali-kali ia menoleh ke kanan dan kiri.
Sean memang sudah meminta seseorang menjemputnya, tetapi hampir lima belas menit berlalu dan orang tersebut belum juga datang.
“Sean…”
Diandra menggigit bibir karena gelisah.
Ia takut Bastian berhasil menemukannya.
Suara kendaraan tiba-tiba terdengar dari kejauhan.
Diandra langsung menahan napas.
Sebuah mobil berhenti tidak jauh darinya.
“Diandra!”
Perempuan itu memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya menoleh.
Wajahnya langsung sedikit lega.
“Pak Vincent?”
Vincent turun dari mobil.
“Sean yang meminta saya menjemput kamu.”
Diandra mengangguk cepat.
“Iya.”
“Cepat, kita pergi dari sini.”
Vincent menunjuk mobilnya yang terparkir di seberang jalan. Ia berjalan lebih dulu, sementara Diandra mengikuti dengan langkah terburu-buru.
Namun sebelum mereka sempat masuk, Vincent melihat beberapa sorot lampu kendaraan dari kejauhan.
Instingnya langsung bekerja.
“Cepat masuk!”
Diandra terkejut.
“Ada apa?”
“Jangan tanya dulu. Masuk!”
Diandra segera masuk ke dalam mobil. Vincent menyusul dan langsung menyalakan mesin.
Beberapa kendaraan melintas dari arah berlawanan.
Diandra melirik ke luar jendela dan seketika tubuhnya menegang.
“Itu… mobil Bastian.”
“Tenang.”
Vincent menjaga kecepatan mobil agar tetap terlihat normal.
Ia tidak ingin menarik perhatian.
Ketika kendaraan mereka berpapasan, Vincent tanpa sengaja bertatapan dengan pengemudi mobil di sebelahnya.
Bastian.
Tatapan pria itu tajam dan dingin.
Vincent spontan menahan napas.
Namun beberapa detik kemudian, Bastian kembali memandang jalan di depannya.
Mobil mereka berhasil melewati kendaraan Bastian tanpa dicurigai.
Vincent baru berani mengembuskan napas.
“Sepertinya kita aman.”
Diandra menoleh ke belakang.
Mobil Bastian semakin jauh hingga akhirnya menghilang dari pandangan.
Tubuh Diandra perlahan melemas. Ia menyandarkan punggung ke kursi dan memejamkan mata.
Air mata mengalir tanpa mampu ditahannya.
“Kenapa semuanya berubah seperti ini…?”
Dadanya terasa sesak.
Kenapa pria yang dahulu begitu ia kagumi kini justru menjadi sosok yang membuatnya takut?
Dulu, ketika masih menjadi sekretaris Bastian, Diandra selalu bersemangat datang ke kantor.
Meski Bastian terkenal tegas, dingin, dan sulit didekati, Diandra diam-diam selalu menantikan kesempatan untuk melihatnya.
Bahkan sejak pertama kali mengikuti wawancara kerja, hatinya sudah tertambat pada pria itu.
Bastian adalah cinta pertama Diandra.
Saat itu, Diandra hanya berani menyimpan perasaannya sendiri.
Ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang dulu membuat jantungnya berdebar hanya dengan satu tatapan, kelak menjadi pria yang membuatnya menangis dalam perjalanan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Sejak pertama kali mengenal Bastian, Diandra selalu menyimpan kekaguman itu sendirian.
Ia bahkan pernah diam-diam mengambil beberapa foto Bastian saat pria itu sedang sibuk bekerja. Foto-foto tersebut tersimpan rapi di ponselnya. Ketika rindu, Diandra hanya perlu membuka galeri dan memandang wajah pria yang sejak dulu memenuhi pikirannya.
Diandra sadar, dirinya hanyalah perempuan biasa.
Ia tidak pernah berani berharap Bastian akan membalas perasaannya.
Sampai suatu hari, Bastian justru datang membawa tawaran yang tidak pernah Diandra bayangkan sebelumnya.
Sebuah pernikahan kontrak.
Diandra menerimanya tanpa berpikir panjang.
Baginya, kesempatan untuk menjadi istri Bastian sudah lebih dari cukup. Ia yakin, mungkin setelah mereka hidup bersama, perlahan hati Bastian akan berubah.
Karena itu, Diandra bertahan.
Ia menerima sikap dingin, jarak yang sengaja dibuat, dan berbagai perlakuan yang membuat hatinya terluka.
Ia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa suatu hari Bastian akan mencintainya.
Namun waktu berlalu.
Satu tahun.
Dua tahun.
Tidak sekali pun Diandra mendengar Bastian mengatakan bahwa ia mencintainya.
“Dia suamiku…” suara Diandra terdengar lirih di dalam mobil.
Vincent yang sedang menyetir hanya diam, membiarkannya berbicara.
“Aku sangat mencintainya, Vincent. Tapi di saat yang sama, aku juga membencinya.”
Air mata mulai memenuhi mata Diandra.
“Aku ingin tetap bersamanya. Aku pernah membayangkan kami menua bersama. Tapi sekarang…” Ia menarik napas gemetar. “Aku bahkan nggak tahu apakah aku masih sanggup bertahan.”
Vincent menggenggam kemudi lebih erat.
Ia bukan orang yang berada di posisi Diandra, tetapi mendengar kisah perempuan itu membuat dadanya terasa sesak.
“Kamu mungkin berpikir aku perempuan bodoh.”
Diandra tersenyum getir.
“Menangisi laki-laki yang terus menyakitiku. Aku sendiri nggak mau menangis, Pak Vincent. Aku benci menangis.”
Air matanya jatuh lagi.
Diandra mengusap pipinya dengan kasar, bahkan mencoba menghapus air mata yang terus mengalir.
Namun Vincent segera menahan tangannya.
“Jangan digosok. Mata kamu nanti sakit.”
Diandra terdiam.
“Aku nggak pernah menganggap kamu bodoh,” lanjut Sean lembut. “Kamu hanya sedang terluka.”
Ia menarik napas panjang.
“Kalau kamu ingin menangis, menangislah. Nggak semua hal harus kamu hadapi dengan pura-pura kuat.”
Diandra menundukkan kepala.
“Banyak orang yang datang ke tempat kami karena sudah terlalu lama memendam masalah rumah tangga. Mereka terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi sebenarnya sudah kelelahan.”
Vincent menatap jalan di depannya.
“Jadi jangan merasa bersalah hanya karena kamu menangis. Air mata bukan tanda kamu lemah.”
Diandra menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
Entah kenapa, setelah mengeluarkan semua yang selama ini ia pendam, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Beberapa saat mereka hanya diam.
“Oh iya,” ujar Vincent kemudian. “Untuk sementara kamu tinggal di rumah saya dulu.”
Diandra langsung menoleh.
“Di rumah Pak Vincent?”
“Iya. Tapi jangan salah paham.”
Ia tersenyum tipis.
“Di sana ada Mama dan adik saya. Kamu nggak akan tinggal berdua dengan saya.”
Diandra mengangguk pelan.
“Baik, Pak. Terima kasih sudah membantu saya.”
“Anggap saja saya sedang membantu seseorang yang membutuhkan tempat untuk menenangkan diri.”
Sekitar setengah jam kemudian, mobil mereka memasuki sebuah kompleks perumahan elit.
Vincent tidak membawa Diandra ke apartemennya. Sejak memiliki pekerjaan dan penghasilan sendiri, ia memang lebih sering tinggal di apartemen dekat kantornya. Namun untuk situasi seperti sekarang, ia merasa rumah keluarganya jauh lebih aman dan nyaman bagi Diandra.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah besar.
Vincent mematikan mesin.
“Untuk sementara tinggal di rumah Mama saja, ya. Saya rasa itu lebih baik daripada kamu tinggal di apartemen saya.”
Diandra mengangguk.
“Iya, Pak. Saya mengerti.”
Ia menatap rumah di hadapannya, lalu mengembuskan napas panjang.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Diandra merasa mungkin masih ada tempat di mana ia bisa beristirahat tanpa harus takut.
“Terima kasih, Pak Vincent.”
Vincent hanya mengangguk.
“Masuklah. Kamu nggak perlu menghadapi semuanya sendirian malam ini.”
Dret... dret...
Suara dering ponsel membuat Bastian perlahan membuka mata. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum menyandarkan kepala ke jok mobil.
Tubuhnya terasa begitu lelah.
Sejak malam hingga menjelang pagi, ia tidak berhenti menyusuri jalanan. Seluruh pengawal yang dimilikinya bahkan sudah dikerahkan untuk mencari Diandra. Beberapa orang kepercayaannya juga ikut membantu.
Namun hasilnya tetap sama.
Tidak ada kabar.
Tidak ada jejak.
Bastian akhirnya tertidur di dalam mobil karena kelelahan.
Ketika terbangun, langit sudah mulai terang.
Ia langsung meraih ponsel dan membaca pesan dari kepala pengawalnya.
Belum ditemukan.
“Sial.”
Bastian mengusap wajahnya kasar.
Ia membuka galeri ponselnya dan menemukan foto Diandra yang sebelumnya dikirim kepada orang-orangnya.
Bastian menatap foto itu cukup lama.
Ada sesuatu yang membuatnya terdiam.
Ia baru menyadari bahwa hampir seluruh foto Diandra yang tersimpan di ponselnya selalu menampilkan Azzam atau Azzura.
Hanya ada beberapa puluh foto.
Tidak ada satu pun foto Diandra yang benar-benar sendirian.
Bastian memperbesar salah satu foto dan memperhatikan wajah istrinya.
“Diandra…”
Suara itu terdengar jauh lebih lemah daripada biasanya.
Untuk pertama kalinya, ia membiarkan rasa takut kehilangan memenuhi dadanya.
“Dulu aku pernah bilang, kan?”
Jarinya mengusap layar ponsel.
“Sekali kamu masuk ke hidupku, nggak akan mudah bagiku membiarkanmu pergi.”
Bastian mengembuskan napas panjang.
“Silakan bersembunyi sejauh apa pun. Aku akan tetap mencarimu.”
Tatapannya berubah serius.
“Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.”
Ponselnya kembali berdering.
Nama Serly muncul di layar.
Bastian segera mengangkatnya.
“Halo, Serly.”
“Mas Bastian, kamu di mana? Kenapa belum pulang juga? Aku dari tadi khawatir.”
“Aku masih di luar.”
“Masih mencari Diandra?”
“Iya.”
Serly terdiam sebentar.
“Mas, pulang dulu. Aku di rumah menemani Azzam dan Azzura. Mereka juga terus menanyakan kamu.”
“Aku belum bisa pulang.”
Bastian menatap jalanan di depannya.
“Aku mau lanjut mencari Diandra.”
“Mas…”
“Aku harus menemukannya, Serly.”
Nada suaranya tegas, tetapi ada kelelahan yang jelas terdengar.
“Diandra sepenting itu sampai kamu rela mencari semalaman?”
Bastian terdiam beberapa detik.
“Tentu saja.”
Jawabannya terdengar tanpa ragu.
“Dia istriku.”
Bastian mengepalkan tangan.
“Apa pun yang terjadi di antara kami, status itu tidak berubah begitu saja.”
Serly menarik napas di seberang telepon.
“Maaf, Mas. Aku nggak bermaksud membuat kamu semakin tertekan.”
Ia terdengar lebih lembut.
“Aku cuma khawatir karena kamu nggak pulang semalaman. Aku bahkan tidur di sofa ruang tamu supaya bisa menunggu kamu.”
Bastian memejamkan mata.
“Maaf juga tadi nada bicaraku keras. Aku sedang emosi.”
“Tidak apa-apa.”
“Aku hanya…” Bastian berhenti sejenak. “Aku takut sesuatu terjadi pada Diandra.”
Serly terdiam.
“Aku berharap dia baik-baik saja,” lanjut Bastian. “Aku cuma ingin menemukannya.”
“Aku juga berharap begitu.”
Serly kemudian berkata lembut,
“Mungkin Diandra hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Jangan terlalu memaksakan keadaan, Mas.”
Bastian tidak menjawab.
“Pulang dulu, ya. Istirahat sebentar. Azzura juga dari tadi menangis mencari Daddy.”
Bastian menghela napas panjang.
“Iya.”
Ia menyalakan mesin mobil.
“Aku pulang sekarang.”
“Baik. Hati-hati di jalan.”
Panggilan berakhir.
Bastian kembali menatap layar ponselnya.
Foto Diandra masih terpampang di sana.
Ia mengusap layar sekali lagi sebelum memasukkan ponselnya ke saku.
Ada banyak hal yang ingin ia katakan kepada Diandra.
Namun untuk pertama kalinya, Bastian mulai sadar bahwa menemukan istrinya mungkin bukan bagian tersulit.
Yang jauh lebih sulit adalah membuat Diandra bersedia kembali percaya kepadanya.
“Siapa lagi, sih…”
Sean mengerang pelan tanpa membuka mata. Tangannya meraba nakas di samping tempat tidur, mencari ponsel yang terus bergetar.
Tubuhnya masih terasa sakit setelah pertarungan dengan Bastian semalam. Hampir seluruh tenaga terkuras, apalagi Sean tahu betul kemampuan pria itu.
Dulu, Bastian sendiri yang banyak mengajarinya cara bertarung.
Karena itu Sean sadar, menghadapi Bastian secara langsung bukan perkara mudah hingga akhirnya ia memutuskan untuk melibatkan teman-temannya.
Ia akhirnya membuka mata dan melihat nama ayahnya terpampang di layar.
“Halo, Pa.”
“Kamu di mana? Ini sudah jam berapa? Papa mau memperkenalkan kamu dalam rapat dewan direksi hari ini.”
Sean melirik jam.
“Jam sembilan?”
Ia langsung mengernyit.
Jadwal rapatnya memang pukul sembilan. Artinya, ia sudah terlambat.
Selain itu, dengan wajah dan tubuh penuh bekas pertarungan, mustahil ia datang ke perusahaan dalam keadaan seperti itu.
“Berarti aku sudah terlambat ke kantor.”
“Makanya Papa tanya, kamu serius nggak mau menggantikan Papa?”
“Serius, Pa. Aku benar-benar mau.”
Sean meringis saat mencoba duduk.
“Tapi hari ini aku ada urusan yang nggak kalah penting.”
“Urusan apa?”
Ayahnya terdengar curiga.
“Jangan-jangan lagi-lagi soal Diandra?”
Sean terkekeh kecil.
“Papa cenayang, ya? Kok bisa tahu?”
“Sean…”
“Maaf, Pa. Siang nanti aku ke kantor. Sekarang aku benar-benar harus menyelesaikan sesuatu dulu.”
“Jangan sampai kamu lupa dengan tanggung jawabmu.”
“Iya, Pa. Aku ingat.”
Sean mengakhiri panggilan setelah mengucapkan salam.
Ia menarik napas panjang sebelum bangkit perlahan.
Dada dan perutnya terasa nyeri.
“Bastian benar-benar nggak menahan tenaga semalam.”
Namun pikirannya segera beralih kepada Diandra.
“Diandra sekarang bagaimana, ya?”
Sebelumnya Vincent sudah memberitahunya bahwa Diandra untuk sementara tinggal di rumah keluarganya.
Setidaknya, di sana Diandra berada di tempat yang aman.
Sean kemudian memutuskan untuk segera mandi dan menyusul ke rumah Vincent.
Setelah selesai bersiap, ia mengenakan kaus hitam, celana jeans, dan jaket.
Saat mengambil jaket yang tergeletak di sofa, tangannya menyentuh sesuatu di dalam saku.
Sean mengeluarkan sebuah foto dan kalung.
Ia terdiam.
Barang-barang itu berasal dari ruang rahasia milik ibunya. Karena beberapa hari terakhir terlalu sibuk dengan urusan perusahaan dan masalah Diandra, ia bahkan lupa masih menyimpannya.
Sean mengangkat kalung tersebut dan memperhatikannya dengan saksama.
“Kenapa kalung ini mirip sekali dengan milik Diandra?”
Keningnya berkerut.
“Mungkin cuma kebetulan.”
Namun semakin lama ia memperhatikan, semakin kuat rasa penasarannya.
“Ibu bukan orang yang suka membeli perhiasan sembarangan. Apalagi kalau desainnya mirip.”
Sean menyimpan kembali kalung dan foto tersebut.
“Nanti aku tanyakan langsung kepada Diandra. Sekalian mengembalikan barang ini.”
Dengan menahan rasa sakit yang masih terasa di tubuhnya, Sean turun menuju basement apartemen.
Ia masuk ke mobil lalu melajukannya menuju rumah Vincent.
Bagi orang lain, mungkin keputusannya terlihat berlebihan.
Bahkan ayahnya mungkin menganggap Sean terlalu mencampuri kehidupan orang lain.
Namun Sean tidak peduli.
Melihat Diandra terluka dan terus hidup dalam pernikahan yang membuatnya menderita membuat hatinya tidak tenang.
Ia ingin membantu perempuan itu mendapatkan kembali kebebasannya.
Dan jauh di dalam hatinya, Sean menyimpan harapan yang bahkan belum berani ia ungkapkan sepenuhnya.
“Bertahan sedikit lagi, Diandra.”
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Kalau suatu hari kamu benar-benar bebas, aku ingin menjadi orang yang membuatmu percaya bahwa pernikahan tidak selalu berarti luka.”
Mobil terus melaju.
Sean tahu perjalanan itu mungkin tidak mudah.
Tetapi kali ini, ia tidak berniat mundur.