Indonesia
NovelToon NovelToon
BERANDAL

BERANDAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Urban
Popularitas:608
Nilai: 5
Nama Author: Denis Suhendar

JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya

***

"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."

***

Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."

Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Kehangatan di Balik Dinding Es

Gerbang besi belakang markas Black Cobra langsung bergeser menutup rapat begitu motor gede hitam milik Eksan dan rombongan inti faksi jalanan itu melesat masuk ke dalam area halaman gudang kontainer. Suara gemuruh hujan badai yang menderu lebat di luar sana mendadak teredam oleh tebalnya dinding bangunan industrial tua tersebut. Raka dan anak buah lainnya segera mematikan mesin motor mereka yang tampak basah kuyup, menyisakan keheningan yang sarat akan sisa-sisa ketegangan pelarian dari distrik utara tadi.

Eksan menurunkan standar motornya secara perlahan, namun gerakannya kali ini terlihat jauh lebih berat dan kaku dibandingkan biasanya. Napas pemuda tegap itu tampak memburu panas, mengeluarkan uap tipis di tengah dinginnya suhu ruangan udara markas. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Eksan berbalik dan mengulurkan tangan kasarnya untuk membantu Nasya turun dari atas jok belakang motor gedenya.

Nasya menerima uluran tangan itu, melepaskan helm hitam berlogo mawar berdarah dari kepalanya dengan jemari yang masih gemetar samar. Seragam sekolah putih abu-abu milik Nasya untungnya tidak terlalu basah kuyup karena sepanjang perjalanan tadi tubuh mungilnya terlindungi penuh di balik punggung bidang dan jaket kulit hitam besar yang dikenakan oleh Eksan. Namun, ketika matanya menatap wajah Eksan di bawah temaram lampu neon markas, jantung Nasya seketika berdegup kencang karena panik.

Wajah tegas sang raja berandal itu tampak sangat pucat pasi, dengan bibir yang sedikit membiru menahan hawa dingin yang menusuk. Yang paling mengerikan, noda merah segar dalam jumlah yang cukup banyak kembali merembes pekat di balik kain seragam sekolah putih Eksan, tepat di area perut kirinya. Keputusan nekat Eksan memeras tenaga demi mengendarai motor dalam kecepatan gila menembus guncangan jalan tikus tadi benar-benar telah membuat jahitan luka operasinya subuh tadi kembali robek untuk kesekian kalinya.

"Eksan! Tubuhmu... kau berdarah lagi dengan sangat banyak!" seru Nasya panik, secara refleks kedua belah tangannya langsung memegangi lengan kekar Eksan yang terasa sangat panas, mengindikasikan bahwa pemuda itu mulai terserang demam tinggi akibat infeksi luka dan hantaman air hujan badai.

"Aku tidak apa-apa, Gadis Kecil. Jangan berisik," bisik Eksan dengan suara yang teramat serak, berat, dan melemah. Ia mencoba melangkah maju, namun tubuh kekarnya mendadak limbung ke arah samping, memaksa Raka yang berada di dekat sana untuk segera berlari maju membopong tubuh pemimpin tertinggi mereka dengan wajah yang pucat pasi ketakutan.

"Sialan! Bos Eksan pingsan lagi karena demam tinggi!" teriak Raka panik kepada anak buahnya yang lain. "Raka, bantu aku papah Bos Eksan ke kamar atas sekarang juga! Ambilkan handuk kering dan panggil Dokter Aryo kembali ke markas ini detik ini juga!"

Dengan suasana yang kembali berubah menjadi sangat tegang dan kacau, tubuh tegap Eksan akhirnya berhasil dipindahkan ke atas kasur empuk kain hitam di dalam kamar atas terisolasi miliknya. Setelah Raka membantu mengganti pakaian Eksan yang basah dengan kaos hitam kering, pemuda gondrong itu terpaksa harus turun ke lantai bawah untuk mengatur garis pertahanan faksi Black Cobra karena mata-mata White Tiger dilaporkan mulai berkeliaran di sekitar kawasan industri luar.

Kini, di dalam kamar atas yang sunyi dan hangat itu, hanya tersisa Nasya yang duduk berlutut di atas lantai semen tepat di samping tempat tidur Eksan. Dokter Aryo belum bisa tiba dalam waktu cepat karena akses jalanan kota yang terendam banjir akibat hujan badai gila malam ini. Mau tidak mau, Nasya harus mengandalkan keberaniannya sendiri untuk merawat pemuda berbahaya yang telah mengorbankan nyawanya demi melindunginya siang tadi.

Dengan cekatan namun penuh kehati-hatian, Nasya mulai membersihkan noda darah di perut kiri Eksan menggunakan kain kasa steril dan cairan antiseptik dari kotak Obat. Setiap kali kain kasa itu menyentuh kulit perut Eksan yang panas membara karena demam, Nasya bisa merasakan tubuh tegap sang berandal refleks bergetar halus menahan perih di dalam ketidaksadarannya. Nasya juga meletakkan selembar handuk kecil yang sudah dibasahi air hangat di atas dahi tegas Eksan untuk meredakan panas demamnya.

"Kenapa kau selalu nekat bertindak gila seperti ini demi aku, Eksan..." bisik Nasya dengan suara yang mulai tercekat menahan haru yang mendalam. Air mata tulus perlahan-lahan kembali meluncur membasahi pipi polosnya, menetes kecil mengenai punggung tangan kanan Eksan yang berada di dalam genggaman erat jemari mungilnya. "Aku hanyalah gadis sekolah biasa yang tidak berguna, tapi kau... kau rela mengalirkan darahmu sebanyak ini hanya untuk memastikan aku tetap aman."

Tetesan air mata hangat milik Nasya rupanya sanggup menembus alam bawah sadar Eksan. Sepasang mata elang yang pekat itu perlahan-lahan mulai terbuka sedikit, memancarkan sorot mata yang tampak sayu namun mendadak kembali berkilat tajam penuh dengan kepemilikan yang absolut saat menangkap sosok Nasya yang sedang menangis tersedu-sedu di sampingnya.

"Sudah aku katakan... jangan pernah menangis lagi di hadapanku, Nasya," suara Eksan terdengar sangat lirih, serak, dan berat, memecah kesunyian kamar yang temaram.

Nasya terlanjur kaget melihat Eksan sudah siuman dari pingsannya. Ia buru-buru menyeka air matanya dengan lengan bajunya secara canggung. "E-Eksan?! Kau sudah sadar? Jangan banyak bergerak dulu, infus dan perbanmu baru saja aku bersihkan seadanya. Kau sedang demam tinggi!"

Eksan tidak memedulikan larangan dan kepanikan gadis itu. Tangan kanannya yang bebas dari perban dengan gerakan yang lambat namun pasti bergerak mencengkeram erat pergelangan tangan mungil Nasya, lalu menariknya secara posesif hingga tubuh ringkih Nasya terpaksa menunduk condong ke depan, membuat jarak wajah mereka kembali terkunci erat hanya tersisa beberapa sentimeter saja.

Nasya menahan napasnya seketika, seluruh tubuh polosnya mendadak membeku di bawah tatapan mata elang Eksan yang pekat dan dalam, seolah sedang menguliti seluruh isi jiwanya. Hawa panas dari deru napas demam Eksan menerpa permukaan kulit wajah Nasya, menciptakan debaran jantung yang berpacu luar biasa liar di dalam dadanya.

"Kau bertanya kenapa aku rela bertindak gila demi melindungi, hah?" tanya Eksan dengan nada suara yang bergetar penuh dengan penekanan posesif yang sangat kuat membelenggu jiwa. "Dengar baik-baik, Nasya. Di dunia jalanan yang hitam ini, semua orang mendekatiku hanya karena takut pada kekuasaanku atau mengincar posisiku sebagai ketua tertinggi Black Cobra. Hanya kau... hanya gadis polos sepertimu yang sudi menyentuh luka-lukaku dengan ketulusan dan menangis dengan tulus saat melihat darahku tumpah."

Cengkeraman tangan Eksan di pergelangan tangan Nasya semakin mengerat kuat secara perlahan, mengunci mati takdir dan pergerakan gadis itu agar tidak bisa menjauh seujung kuku pun dari dekapannya.

"Kau mungkin menganggap dirimu tidak berguna, tapi bagiku, kau adalah satu-satunya kehangatan yang tersisa di dalam dunia esku yang dingin ini," ucap Eksan dengan nada suara rendah yang sarat akan ancaman kepemilikan yang mutlak. "Jadi, berhentilah menangis dan tetaplah berada di sisiku seperti ini. Karena sekali aku mengklaim sebagai milikku di hadapan seluruh kota, maka tidak akan ada satu orang pun dari dunia luar—baik Red Wolf, White Tiger, atau hukum sekalipun—yang memiliki kekuatan cukup besar untuk merebut kembali dari dalam cengkeraman seorang Eksan Prasetya."

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semngat nulis nya k👍
Denis Suhendar: semangat ganbate 💪💪
total 1 replies
Rudik Irawan
sering² up Thor
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: mampir KA berikan ulasan agar aku bisa Berkembang
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!